JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
BERSAMA TWINS


__ADS_3


Aku masih memikirkan perkataan Kak Rose tadi siang. Sementara hari beranjak sore dan Kak Joe bersiap pergi ke pertemuan perusahaan yang akan diwakili mereka disebuah kantor cabang di London.


Aku ? Dapat kiriman uang sebulan lalu ? Setauku Kak Joe mengabari bahwa itu titipan ibu. Apakah Kak Joe berbohong. Kalau dipikir-pikir memang uang hasil dari kedai ibu tak sebanyak itu.


Kak Joe sendiri memang kerap memberiku uang bahkan sebelum berada disini. Meski sering kutolak karena merasa tak enak. Tanpa Kak Rose ikut campur, sebenarnya aku cukup tahu diri. Aku juga tak ingin membebani keluarga itu, apalagi keperluan Hana dan Hara tentu kedepannya akan lebih banyak karena beberapa bulan lagi mereka mulai masuk TK.


Tepatnya setelah Kak Joe menikah, aku hampir tak pernah mau menerima uang pribadi darinya. Apakah mungkin karena itu, jadi Kak Joe berbohong ? Entahlah.


"Taksinya sudah datang"


Seru Kak Rose ketika mereka bersiap turun.


"Aku titip anak-anak ya. Dua hari lagi aku jemput.. tolong ya"


"Siap beres bos"


kataku sambil mengacak-acak rambut Hana dan Hara. Mereka nampak senang akan ditinggal ayah dan ibunya. Si kembar dititipkan disini karena selama dua hari jadwal meeting mereka padat. Dan tentu saja hal itu akan membosankan untuk anak-anak. Apalagi selama meeting, mereka hanya akan ditinggal dihotel.


Memang sejak kecil dua bocah ini sangat lengket denganku. Ibunya selalu sibuk bekerja dengan sang ayah disatu kantor yang sama. Aku kira, jika kami dekat, setidaknya Kak Rose akan sedikit merasa berterima kasih karena ikut mengasuh anaknya sejak balita. Tapi rasanya aku salah. Wanita itu lebih dingin bahkan dari sebongkah batu.


Setelah kami berpamitan. Taksi meluncur ke stasiun kereta. Sebelum pergi Kak Joe menyelipkan amplop ditanganku diam-diam. Sepertinya ia tak mau istrinya tahu. Aku hendak menolaknya. Tapi ia memberi kode, kalau itu juga untuk jajan si kembar selama dua hari disini. Akhirnya terpaksa kuterima. Si kembar ini memang sangat suka sekali makan. Lagipula dengan kemampuan finansialku yang pas-pasan, rasanya tidak akan cukup jika hanya mengandalkan uang saku bulanan.


Seharian kami hanya dirumah. Dua bocah ini baru aktif-aktifnya bermain. Berkali kali mereka merengek ingin bermain diluar tentu tak kuijinkan karena sejak pagi salju turun dengan lebat.


Tapi terus menerus berada didalam rumah juga bukan ide yang bagus. Entah sudah berapa banyak cerita dongeng anak yang kubacakan sejak semalam hingga bibir terasa kebas. Serta lantai bawah yang mungkin mirip kapal pecah. Belum coretan didinding, disofa, dipintu kamar, setidaknya ini PR yang bakal kukerjakan sebelum anak-anak kost sini kembali dari liburan tiga hari lagi.


"HANAAAA.. HARAAAAAAA.."


Teriakku saat tissue toilet berhamburan di lantai bawah, mereka gunakan bermain mummy mummy-an. Sissy, kucing Eva turut menjadi korban. Diberi kacamata hitam, tubuhnya dililit syal punyaku layaknya tengah fashion show.


"Oke, kalian menang. Nanti siang aunty ajak jalan-jalan"

__ADS_1


Dengusku kesal menahan marah.


"Asyiiikkkk..."


Mereka tertawa senang.


Jarum jam yang berada didekat almari kayu menunjuk angka dua siang. Sementara aku masih sibuk memakaikan mereka mantel. Jujur saja, ini pengalaman pertama kali si kembar ditengah cuaca dingin seperti ini.


Aaarrgh. Bagaimana bisa Kak Joe seceroboh itu. Setidaknya jika ingin bepergian keluar, minimal cari tahu diinternet sedang musim apa dinegara yang akan ia kunjungi. Jika memang tidak memungkinkan seharusnya dua bocah ini tak usah diajak. Tapi susah juga, ia hanya punya keluargaku. Ibuku sudah sibuk seharian mengurus kedai, sedangkan pengasuhnya bekerja hanya sampai jam lima sore dan tidak menginap. Jika ditinggal 3 hari tentu menjadi masalah serius.


Kak Joe adalah anak dari bibiku. Sejak usia lima tahun diasuh ibu karena kedua orang tuanya meninggal. Sang ayah, pamanku, terlibat kecelakaan kerja. Sedang bibiku, yang tak lain ibunya, meninggal karena sakit selang dua tahun kematian suaminya.


Kak joe ikut dengan kami. Karena bibi dan ibu hanya dua orang bersaudara. Tak ada harta warisan yang bisa ditinggalkan untuknya karena habis untuk membiayai hutang semasa hidup ayahnya yang suka berjudi. Joe kecil terbiasa membantu kedai kami hingga akhirnya ia dapat pekerjaan terbilang mapan dan bertemu istrinya disana.


Ibu selalu berpesan, biarpun Kak Joe sudah hidup lebih enak dari kami, tapi aku tidak boleh manja padanya. Aku harus hidup mandiri. Jangan membebani terlebih meminta uang. Itu sebab pula ibu menolak ketika dilarang Kak Joe berjualan karena merasa ibuku sudah berumur dan segala biaya makan kami dan pendidikanku akan ia tanggung karena sebagai wujud baktinya sudah dirawat ibu sejak kecil.


Tapi ibu menolak. Ia menganggap kasih sayang bukan alat untuk mengukur seberapa banyak orang bisa membalas jika yang ia beri adalah ketulusan. Melihat Kak Joe seperti sekarang, ibu sudah sangat bangga. Ia sudah cukup bahagia. Ya begitulah ibuku..


Angin dingin menerpa wajahku. Dingin sekali. Aku tak berani mengajak si kembar pergi terlalu jauh. Apalagi Hara terlihat menggigil meski ia masih sangat antusias berjalan-jalan. Ah, melihatnya aku malu. Bisa bisanya anak kecil itu berjalan lebih cepat daripada bibinya ini. Setelah menyusuri pertokoan, satu-satunya tujuanku adalah kedai kopi langganan. Aku ingat disana menyediakan cake tiramissu yang enak.


"Tunggu disini sebentar. Aunty pesan dulu ya"


Kataku saat kami sampai. Kupersilahkan dua bocah itu memilih tempat duduk mana saja yang mereka mau. Si kembar menuju kursi di dekat pintu masuk. Awalnya kularang, karena dipojok itu udara lebih dingin karena sejak tadi angin bertiup cukup kencang saat ada orang yang membuka pintu dari luar. Tapi mereka merengek, apa boleh buat.


"2 coklat panas, 2 moccachino, 3 cake tiramissu"


Setelah membayar bill, pelayan lalu menyiapkan pesanan. Lagi-lagi, perasaan ini. Seperti ada yang mengawasi dari jauh. Entah apa. Kuacuhkan saja setelah pesananku jadi.


"Makan pelan-pelan ya. Aunty mau ke toilet sebentar"


Kataku setelah sampai membawa nampan dimeja


"Siap aunty..."

__ADS_1


Kulihat mereka asyik makan. Sepertinya akan baik-baik saja jika kutinggalkan sebentar.


Aku kembali dari toilet saat melihat orang berkerumun dimeja kami. Dengan panik aku lekas kesana. Terdengar Hana menangis. Beberapa orang yang sedang berkumpul memberiku jalan. Nampak seseorang sedang mengobati tangan Hana.


"HANA.. apa yang terjadi ?? HARA, kenapa kakakmu ?!"


Aku peluk bocah yang masih menangis sesenggukkan. Hara tampak takut menjawab. Seorang lelaki yang mengobati Hana menoleh.


"Ada angin sedikit kencang tadi. Vas bunga nya jatuh menyenggol cangkir. Lantas menumpahi tangan anak ini"


Hara dan Hana menatap lelaki muda itu.


Segera aku berterima kasih karena merawat Hana. Lantas buru-buru membawanya ke klinik terdekat karena tadi hanya sekedar pertolongan pertama. Untung saja tidak terlalu parah sehingga mengakibatkan sesuatu yang fatal seperti bekas luka bakar yang parah. Karena minuman coklat yang menumpahinya sudah tidak begitu panas. Hanya sedikit memerah dan tidak begitu terlihat.


Kami masih antri menebus resep obat. Jujur saja aku sangat khawatir pada anak ini. Bagaimana bisa tidak becus mengurus mereka padahal baru sebentar. Belum lagi jika ingat kepercayaan yang Kak Joe berikan kepadaku terhadap kedua putrinya. Aku melenguh pelan


"Aunty..."


Hara mendekatiku yang tengah mengusap-usap rambut Hana.


"Ya, sweety ...?"


Aku merangkulnya agar lebih dekat


"Maafkan kami. Sebenarnya, aku dan Hana yang sudah bercanda kelewatan. Hingga tak sengaja menyenggol gelas Hana hingga tumpah ditangannya. Tapi kenapa om itu berbohong"


Aku menghela nafas pelan. Kupeluk mereka lebih erat. Giliran Hana berbicara,


"Aunty jangan sedih ya. Maafkan kami. Kami tahu hubungan auty dan ibu kurang baik. Jadi kami berjanji tidak akan bilang ibu dan ayah, biar ibu tidak memarahi aunty"


Oh Hana ... dua gadis kecil itu menatapku sendu. Bagaimana anak seusia mereka bisa membaca dunia orang dewasa yang begitu rumit. Termasuk intrik kepalsuan didalamnya. Entahlah...


pic by google

__ADS_1


__ADS_2