
Hari Pameran Berlangsung.
Jam berputar seolah lebih cepat dari biasanya. Aku tak pernah menyangka akan datang terlambat seperti ini. Eva dan yang lain mendadaniku sedemikian rupa. Dan inilah hasilnya sekarang.
"Sempurna"
Eva berdecak kagum. Memuji dirinya sendiri yang pawai dalam merias. Ia puas selama dua jam itu mempertaruhkan skillnya memoles wajahku bak sebuah kanvas, penuh teliti pada setiap detail yang ia buat.
Sapuan bedak yang pas, lipstik merah muda, serta eye shadow berwarna peach kalem. Tidak berlebihan namun terlihat manis. Terakhir ia rapikan alis, dan memberi sentuhan warna putih keemasan pada ujung kelopak, hidung dan sedikit diatas bibir agar terlihat lebih segar.
Tak henti kupandangi bayangan yang memantul dicermin. Seperti bukan aku yang berdiri disana. Sangat menakjubkan. Siapa sangka Eva berhasil menjadikan angsa miskin menjadi angsa tetap miskin yang cantik. Hehehe
"Jangan lupa datang"
Pesanku sebelum berangkat. Kaki ini masih terasa kaku melangkah dengan sepatu high heels transparan serupa kaca.
"Tenang saja. Kami akan menyusul. Hati-hati dengan sepatunya. Itu koleksi terbaruku, awas jika rusak"
Ia mengacungkan tinju. Kami tertawa.
Pukul delapan malam. Pengunjung mulai berdatangan. Mungkin karena pameran ini hanya digelar satu hari saja. Tema yang kami usung, padat waktu tapi bermakna. Begitu rencananya.
Taksi yang kutumpangi
Berhenti tak jauh dari gedung. Namun harus sedikit berjalan untuk sampai kesana. Aku kerepotan karena sepatu ini sedikit kesempitan. Memang hanya Eva yang kakinya mendekati ukuranku. Sudahlah, tak kupikirkan lagi kaki yang mungkin lecet dibawah. Bukankah menjadi cantik butuh perjuangan.
Dari luar gedung, sudah ramai terlihat pengunjung berlalu lalang. Mungkin karena baru kali ini kami mengadakan pameran gabungan, sehingga banyak orang yang sepertinya penasaran. Apalagi bertepatan dengan akhir pekan sebagai pilihan waktu yang sangat tepat.
Lampu menyala terang diseisi ruang. Beberapa pilar besar yang bisa kami jumpai dari muka bangunan, menambah keanggunan disana. Beberapa teman nampak berkelompok terbagi beberapa blok. Kulihat gaun mereka bagus-bagus. Sedang lelakinya memakai kemeja dan jas. Tentu saja tak lupa mantel tebal karena salju turun sepanjang sore tadi. Kudengar Cindy lebih dahulu sampai karena kemarin ia tidak pernah ikut lembur bersama kami.
Aku berjalan tertatih. Gedung ini berdiri kokoh dengan desain yang lebih tinggi pada bagian depan. Sehingga untuk sampai pada teras saja, kita harus menapaki deretan tangganya yang berjajar lebar terlebih dahulu. Tak apa. Hanya untuk malam ini.
"Lambat sekali"
Kulihat siluet lelaki dari bayangan yang terpantul dibelakang. Aku menoleh. tak sengaja sepatuku membentur anak tangga. Hampir saja terjatuh jika ia tak memegangiku dengan cepat.
"Kenapa ceroboh sekali hah !"
Ya, Excell. Ia mengomeliku.
Aku masih meringis kesakitan karena tersandung.
"Jangan menangis disini, Nona Pinguin"
"Siapa yang mau menangis, hah ! Apa kau tak melihat aku kesakitan"
Jawabku kesal.
"Ayo kubantu"
Aku tak bergeming.
Ia lalu menarik tanganku paksa, lantas dilingkarkannya kepundak.
"Lepaskan. Aku malu"
"Sudah diam saja"
"Lepaskan !"
"Kalau kau tak diam. Aku akan menggendongmu sampai keatas !"
Agak ngeri juga mendengar ancaman Excell. Tentu hal ini akan mengundang perhatian banyak orang.
"Kenapa wanita selalu merepotkan. Apa mereka selalu melakukan hal aneh demi penampilan. Jika sepatumu kekecilan kenapa dipaksa"
"Lelaki sepertimu mana paham. Itulah kenapa sampe sekarang kau tak punya pasangan"
Ia berhenti
"Kau sendiri apa ?! Hey ! Kau juga tak punya pasangan !"
"Apa kau bilang ?!"
"Apa lihat-lihat ?!"
"Memangnya kenapa ?!"
"Bilang saja kau terpesona karena aku terlalu tampan"
Mataku melotot geram.
"Aargh. Kenapa aku bodoh sekali menolongmu"
"Ya sudah jalan saja jangan cerewet"
"*Kau sebut aku cerewet ?!"
"Kau memang cerewet* !"
"Dasar keras kepala ! Astaga ! Kau memang benar-benar ya ! Lihatlah badanku sakit semua memapahmu !"
Ia menggerutu sepanjang tangga.
Beberapa anak lelaki teman Excell yang tak sengaja berpapasan dengan kami, terlihat menggodanya.
"Sampai disini saja sebelum teman-teman yang lain tau"
Aku meminta lelaki itu berhenti.
Ekor mataku menyapu kesana kemari, berharap tak ada lagi yang melihat. Para penggemar wanita nya pasti akan histeris jika memergoki kami berduaan.
__ADS_1
"Kenapa ?"
Buru-buru kualihkan pandangan, karena saat ia menoleh wajah kami terlalu dekat. Bahkan, aku bisa merasakan dengan jelas hembusan nafasnya menerpa wajah.
"Ehemm..."
Excell terlihat salah tingkah. Dengan spontan ia melepaskan tanganku dari pundaknya.
"Hey pelan-pelan !"
"Astaga, aku berkeringat banyak karenamu ! Lain kali jangan menyusahkan orang. Ya sudah aku duluan"
Lelaki itu bicara dengan gugup. Suaranya yang parau terdengar sedikit bergetar. Apa ada yang salah ? Dasar laki-laki aneh !
Dengan susah payah akhirnya aku sampai diatas. Melihat teman-teman lain yang sedang berkumpul, aku turut bergabung bersama mereka.
"Aku bahkan hampir tak mengenalimu. Malam ini kamu ratu nya, cantik sekali !"
Nancy memuji penampilanku.
"Benarkah ? hehehe"
Mereka lalu bertanya, kenapa selama ini aku tak pernah berdandan seperti ini.
"Kau bisa popular nanti !"
"Ah, tidak. Aku hanya kurang terbiasa seperti ini hehehe"
Well, sepertinya aku berhutang banyak terima kasih kepada Eva. Hahaha.
Malam itu kami terbilang cukup sukses. Aku tersenyum menatap sebuah lukisan abstrak, hasil karyaku sendiri tergantung disana. Ada perasaan bangga bisa sejauh ini perjuangan kami.
"Ah, andai saja ibu bisa melihatku saat ini. Sedang apa ya dia saat ini..."
Aku dan Cindy mengitari tempat pameran sambil melihat-lihat karya lain. Langkahku terhenti melihat patung berbentuk unik. Aku ingat, dulu Hana dan Hara pernah membuat mainan dari tanah liat yang bentuknya hampir serupa dengan patung tersebut.
"Kamu kenapa ?"
Cindy penasaran karena sejak tadi aku tersenyum sendiri.
"Entahlah, patung yang satu ini terlihat aneh"
Cindy ikut mengamati. Ia mengangguk tanda setuju.
"Aku kesulitan menafsirkan pesan apa yang ingin disampaikan pembuatnya selain rasa frustasi"
Kami tertawa kecil
Tiba-tiba seseorang menyela dan ribut sendiri.
"Apa katamu ?! Kau memang tidak memiliki selera seni yang bagus. Sudah jelas ini adalah wujud kesempurnaan dari seorang calon maestro !"
"Oh jadi ini karyamu ?"
Aku terperanjat. Cindy diam-diam menarik diri dan menghilang entah kemana. Dasar tak setia kawan !
"Excell. Ayo berfoto"
Dari kejauhan salah seorang temannya memanggil.
"Tidak. Aku tidak mau"
Mereka pun berfoto tanpa Excell.
"Tahun ini bukankah tahun kelulusan kalian ? Kenapa menolak ?"
Tanya ku sedikit heran.
"Sudah kubilang aku tak terbiasa berfoto. Norak"
Ia melipat tangan. Songong sekali.
"Tidak ada salahnya membuat foto kenang-kenangan bersama teman. Lagipula ini pameran terakhir kalian disini"
"Apa gunanya ?! Lulus ya lulus saja. Tak ada hubungannya dengan berfoto. Hidupku terlalu sibuk mengurusi hal-hal tak penting"
Aku memicingkan mata dengan tingkahnya. Benar-benar tak bisa dipercaya ada orang semacam ini didunia kami.
"Hey ! Jangan bicara sendiri. Aku yakin saat ini kau tengah mengumpatku dalam hati !"
Sial.
Ia melirik sambil tersenyum mengejek. Excell menatapku dari atas kebawah. Sedikit risih dibuatnya.
"Jangan melihatku seperti itu !"
"Pantas saja tempo hari kau sangat pelit membelikanku burger. Ternyata sedang berhemat demi semua ini"
"Ah sudahlah, aku lelah berdebat denganmu"
"Tapi lumayan juga"
"Lumayan katamu ? Aku sudah berdandan hampir dua jam dan kau hanya bilang lumayan?"
Sahutku kesal.
"Awalnya, aku sudah ketakutan membayangkan kau akan kesini mengenakan kaos oblong seperti biasa dan sneakers. Hahaha"
Aku menepuk pundaknya keras.
"Sakit tau ! Lalu aku harus mengatakan apa ? Ah susah bicara dengan wanita. Hey, aku cuma bercanda. Kenapa kau sangat sensitif hari ini"
Ia nampak bingung menggaruk-garuk rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa aku selalu sial akhir-akhir ini bertemu dengan wanita psikopat"
"Enak saja !"
"Oke baiklah, kau memang berbeda hari ini. Sedikit lebih cantik. Ingat hanya sedikit"
Aku mengacungkan dua jempol sambil tertawa menang. Lelaki itu terlihat frustasi.
"Kemarikan ponselmu"
Katanya tiba-tiba.
"Untuk apa ?"
"Sudah berikan saja"
Entah apa lagi ide gilanya.
"Ini"
"Sebentar"
Ia lalu memanggil salah seorang pengunjung yang kebetulan berada tak jauh dari kami.
"Bisa tolong fotokan kami ?"
Pengunjung wanita itu tak keberatan. Excell mengeluarkan ponselnya juga.
Ia meminta pengunjung tersebut untuk memotret dua kali. Satu di ponselku, satu lagi di ponselnya.
Sedang aku hanya syok melihat tingkahnya.
"Ayo bilang, chessee..."
Katanya memberi aba-aba.
Baru mau bilang chessee sudah terpotret. Sial
"Hahaha... lihatlah. Ekspresi apa ini. Lihat wajahmu lucu sekali kalau sedang bingung"
"Bagaimana aku bisa bergaya dengan baik kalau tiba-tiba begitu !"
"Biar saja. Anggap ini kenang-kenangan. Lagipula kita jarang berpenampilan keren begini. Lihatlah, kau sudah memakai heels saja, aku tetap masih terlihat tinggi darimu..hahaha"
"Katanya kau tak suka hal norak semacam ini. Sudah hapus saja !"
Excell hanya menjulurkan lidah. Sial.
Ia mengetik sesuatu di ponselku.
"Aku sudah menyimpan nomor ponselku disini. Tolong foto satunya nanti kirimkan padaku"
"Kirimkan saja sendiri !"
Ia tertawa melihatku marah-marah.
Tampak dari jauh, aku melihat beberapa orang berjalan mendekat. Dengan girang kulambaikan tangan kepada mereka.
"Eva !"
"Hey !"
"Selamat ya. Antusiasme pengunjung sangat bagus. Kalian hebat. Ohya dimana Cindy"
Eva, dan anak-anak kost lain datang ke pameran. Mereka memelukku dan mengucapkan selamat atas pameran ini.
"Entahlah tadi disini. Mungkin di sebelah timur. Tadi aku melihatnya kearah sana"
Ia mengangguk. Lalu melirik lelaki disebelahku.
"Hai Excell"
Eva menyapa ramah. Sementara yang lain hanya berbisik-bisik mengagumi lelaki itu.
Excell pun ternyata mengenalnya. Wajar saja, Eva gadis popular. Baik diantara junior maupun senior. Siapa sih yang tak tahu si ratu pesta.
"Sejak kapan kalian saling kenal ?"
Ia bertanya penuh selidik. Aku hanya tersenyum.
Ponsel Eva berbunyi. Ia mengangkatnya. Sambil berbincang dengan orang diseberang telepon, Eva menyuruh Lily dan yang lain untuk menyusul Cindy. Entah apa yang mereka bicarakan karena sesekali ia melirikku.
"Excell, kami keluar sebentar ya"
Katanya setelah menutup telepon.
Excell mengangguk.
"Kita ? Kemana ?"
"Sudah ikut saja. Kau ingat lelaki yang dulu ingin kukenalkan ? Sekarang dia disini"
"Hah ?!"
Aku melongo saja, mengikutinya yang menggandeng tanganku keluar. Kata Eva, temannya itu sudah menunggu didepan.
Terlihat seorang lelaki berjaket navy tebal, dengan sebuah buket bunga ditangannya, tengah menatap jalanan.
"Ini dia yang ingin berkenalan denganmu. Sebenarnya sudah agak lama, tapi kamu selalu jual mahal hehehe"
Kata Eva lirih saat sampai didekat lelaki tersebut.
Ia berbalik kearah kami. Aku tercekat. Lelaki itu tersenyum lebar, menatapku lekat. Mata birunya berbinar ...
"Kenalkan, namanya Sam"
__ADS_1
pic by google