
Dingin menyergap tubuh. Samar-samar gemericik air terdengar dekat. Mataku masih berat terbuka perlahan. Pandanganku membentur gorden coklat tua keemasan yang tergantung anggun dikanan kiri jendela besar. Disampingnya terdapat furniture mewah dengan ukiran sempurna ditepiannya. Seolah aku baru saja terbangun ditengah sebuah istana megah.
Apakah aku bermimpi ? Tapi terlihat sangat nyata. Bahkan pori-pori kulitku menyerap sempurna penghangat ruangan yang berada disana. Tapi aku dimana ? tempat ini begitu jauh berbeda dengan flatku yang sederhana. Bagai bumi dan langit, dan kamarku masih dibawahnya lagi.
Kamar ?!!
Aku terperanjat menyadari sesuatu.
Bola mataku membulat. Angin dingin yang bertiup dari celah jendela semakin menguatkan jika memang aku tidak sedang bermimpi !
Yah !
Aku ingat sekarang !!
kami masih di London dan aku di kamar bersama ...
Astaga !
Aku yang panik langsung mengecek pakaian yang kemarin kukenakan. Hah ! lega rasanya. Untunglah masih lengkap menempel dibadan. Awas saja jika lelaki itu berani macam-macam saat aku tidur !
Tiba-tiba gagang kunci kamar mandi yang tak jauh dari tempatku duduk bergerak-gerak. Tak menunggu waktu lama, seseorang muncul dari dalam sana, bernyanyi dan berjoget pelan. Aku tersentak. Ia tak menyadari, seorang gadis tengah menatapnya yang sedang bertelanjang dada dengan handuk tertutup pada bagian bawahnya !
Sedetik, ia menatap
Aku menatapnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaarrgghhh....!!"
Kami menjerit bersama.
Cindy dan yang lain menahan tawa di meja makan. Aku dan Excell masih terdiam dan hanya saling menatap tajam. Akhirnya tawa Nina pecah karena sejak setengah jam lalu kami seperti ini terus.
"Hey, kenapa kalian tidak makan saja. Sarapan di hotel ini luar biasa"
Malvin membuka percakapan. Ia memamerkan steik sapi yang masih hangat.
"Iya, kenapa kalian seperti anak kecil"
Cindy menimpali.
"Hahahaha... kalian benar-benar lucu sekali"
"Betul. Kami kesulitan memihak, mana korban mana pelaku. Hahaha"
Yang lain ikut berkomentar. Pagi ini sungguh memalukan. Hmm. Tak bisa dibiarkan.
"Lelaki mesum ini tiba-tiba memamerkan dadanya yang seperti roti sobek kearahku ! Dia setengah telanjang hanya menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk ! Jelas-jelas aku korbannya. Ah sial kasihan mataku yang suci ini !"
Jelasku geram. Cindy dan Nina manggut-manggut.
Excell terlihat tak terima. Wajahnya melotot saat mendengar penjelasanku.
"Roti sobek ?! Enak saja ! Aku lah yang korban disini ! Gadis mesum ini tiba-tiba saja menatap bagian terseksi yang selama ini kulindungi dengan baik ! Jelas aku lebih rugi ! Ah, aku sudah tak suci lagi"
Ia membela diri. Kali ini giliran Malvin dan David manggut-manggut.
"Seksi kau bilang ?! Hey ! siapa suruh setelah mandi tak segera berpakaian ?!"
"Siapa suruh matamu jelalatan, hah ?!"
"Sudah, sudah... ini hanya hal sepele. Malu dilihat orang"
Cindy menengahi. Memang ada sebagian orang yang memperhatikan keributan kami. Aku mendengus kesal.
"Kalian manis sekali jika bertengkar. Kenapa tak berkencan saja ?! Kalian tak punya pasangan kan ?!"
Seru Nina tiba-tiba membuat aku dan Excell terbatuk. Sementara yang lain hanya tertawa.
"Aku dengannya ?! tak sudi !"
"Hey jangan besar kepala ! aku juga tak sudi seranjang dengan gadis yang tidur mendengkur keras dan berputar seperti baling-baling !"
"Tak mungkin aku seperti itu ! tanya saja Cindy dan Nina seperti apa aku dirumah !"
Wajah dua gadis itu terlihat bingung. Jika ingin berbohong tapi apa yang dikatakan Excell memang benar. Tapi jika jujur pasti mereka tak enak denganku.
"Dalam semalam kakimu bisa menendang punggungku ribuan kali ! Bantal, selimut porak poranda. Dan astaga, apa kau tidur dengan mata setengah terbuka ?! Hah, aku sangat kaget ! mengerikan sekali ! badanku sakit semua ! aduuuuhh... !"
Aku menginjak kakinya dengan keras. Excell meringis kesakitan. Enak saja bicara sembarangan seperti itu didepan teman-teman yang lain !
Tiba-tiba ponselku berdering. Lily.
"Halo, Ada a...?"
"Kenapa kalian belum pulang. Kenapa tak ada kabar apapun ?!"
Ia langsung nyerocos tanpa ampun.
"Maaf kemarin baterai ponselku habis. Kukira Cindy dan Nina sudah memberi tahu kalian"
Mendengar namanya disebut, mereka hanya tersenyum kecut. Apalagi jika bukan karena lupa mengabari orang rumah karena terlalu asyik dengan pasangannya sendiri !
"Kami khawatir karena berita ditelevisi tentang badai disana"
"Tenanglah... kami tak apa-apa. Maaf telah membuat kalian khawatir. Lily, apa di flat hanya ada kau dan Jenny ? Eva belum pulang ?"
Seperti kata Lily, Eva juga belum kembali. Terakhir ia mengabari jika masih sibuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Aku menghela nafas.
"Oh iya, sepasang lansia kemarin sore menempati flat sebelah. Tetangga yang baru pindah itu berisik sekali. Mereka juga sering bertengkar. Tapi apa kau tahu, mereka punya cucu tampan sekali. Kau pasti terkejut jika melihatnya ! aku yakin ! Hehehe"
"Harusnya kau menyapa mereka dahulu. Kalian kan lebih muda" Ejekku. Lily malah mengomel.
__ADS_1
Sebelum merembet kemana-mana, ide kencan gila lagi misalnya. Aku mengakhiri percakapan kami. Kasihan Lily. Menjelang libur akhir tahun ia masih harus ke kampus.
Rencananya setelah sarapan kami akan berkeliling ke pelosok kota ini. Jujur saja, aku sangat tertarik dengan cerita kastil-kastil indah yang ada disana, serta bangunan kerajaan nan artistik. Tentu akan seru sekali.
Tapi sayang mereka membatalkan acara. Awalnya Nina, ia ijin tak bisa ikut karena tiba-tiba kepalanya pusing. Sedangkan David harus menemaninya. Lalu Cindy, ia mendadak sakit perut dan beralasan harus ditemani Malvin.
Aargh !
Apa semalam suntuk bagi mereka belum cukup puas ? Hingga saat ini masih saja ingin berduaan dikamar ?! Membayangkan kelakuan mereka saja membuatku jijik. Aku jengah sekali.
Melihatku marah-marah, Excell mendorongku naik ke mobil. Belum tahu kami akan kemana. Sedangkan aku sendiri sudah pasrah. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan salju yang menumpuk diatap-atap rumah dan gedung sebagai dampak badai semalam. Untunglah tak parah. Hanya satu dua papan reklame yang terlihat hampir jatuh. Untung saja dengan sigap segera dibenahi pihak terkait.
Aku menghela nafas. Pikiranku masih terusik dengan kelakuan Cindy dan Nina.
"Kenapa wajahmu masam sejak tadi ? Apa kau lapar ?"
Tanya Excell saat mobil memasuki tempat parkir disalah satu mall besar di London.
"Kenapa kau selalu mengaitkanku dengan makanan ? Apa wajahku terlihat jelas seperti orang yang lemah dengan makanan ?!"
Jawabku ketus
"Karena hanya makanan yang bisa membuatmu lebih baik bukan ?"
Ia tertawa.
"Aku sedang malas berdebat denganmu. Aku hanya menyayangkan kenapa mereka tak menjalin hubungan lebih sehat dengan pacarnya"
Aku mendengus kesal.
Excell terdiam mendengarkan
"Kenapa mereka selalu seperti itu ? Apa mereka tak menghargaiku disana ? Kenapa mereka sangat santai ? Apa karena semua itu bagian kemajuan dari peradaban yang mereka pikir maju ? Apa melegalkan sesuatu yang seharusnya dijaga dengan baik dapat disebut modern ? Bahkan jika sesuatu itu dibenarkan secara bebas, lantas dimana essensi manusia yang memiliki akal dan dapat berpikir bukan dengan nafsu belaka ?"
"Kau tahu, aku bukanlah orang baik. Tapi aku juga tak bisa selamanya berbohong bahwa aku baik-baik saja melihatnya. Setiap memikirkan kelakuan mereka aku merasa sangat sedih. Aku memang kolot, dan aku juga tak berhak atas kehidupan pribadi mereka. Aku tak nyaman dengan itu semua... bahkan membayangkannya saja dadaku terasa sesak"
Excell menempelkan jari telunjuknya dibibirku karena aku yakin ia melihat mataku menggenang berkaca-kaca. Lelaki itu menatapku lembut.
"Aku tahu, kau begini karena menyayangi temanmu. Tapi mereka sudah membuat pilihan dalam hidupnya masing-masing. Kau tak salah. Jadi jangan membebani dirimu dengan orang semacam itu"
Excell berjanji kami akan pulang besok dan tak akan diundur-undur lagi. Ia memegang pundakku. Wajahnya terlihat serius.
"Awalnya aku hanya ingin sekedar mengenalmu. Tapi rasanya, aku memang tak salah pilih dengan keputusanku. Dan aku bangga dengan pola pikirmu. Kau sangat dewasa sekarang"
lanjutnya.
Ehm..
Kenapa lelaki itu berbicara hal aneh lagi. Ia memilih siapa dari siapa ? Aku menatapnya yang sedang salah tingkah.
"Ma...maksudku, memilih... ini...tempat ini..! Hahaha. Ayo, aku sedang baik. Aku akan membelikanmu baju bagus untuk ganti. Kau tidak membawa pakaian lebih bukan ! Hahaha"
Aku menghela nafas..
Excell memilih beberapa stel baju dan mantel. Ia lalu menyuruhku mencoba satu persatu pakaian itu. Hah, sangat merepotkan. Biasanya aku hanya membeli baju dipekan raya tak jauh dari flat, disana kami bisa memilih dengan bebas tanpa perlu dicoba seperti ini.
Apa para orang kaya serumit itu harus memikirkan detail dan lekuk tiap inchi dan harus pas ? Toh jika kami membeli di pasar bisa ditukar kembali.
Diantar seorang pelayan, aku memasuki sebuah ruangan cukup luas, dibanding di mall lain yang ruang ganti nya sangat sempit. Didalamnya bahkan terdapat sebuah kaca tinggi untuk mematut diri.
Excell menungguku diluar. Ia tengah duduk di sofa sambil membaca-baca majalah saat tirai terbuka. Aku keluar malu-malu. Ah, sebenarnya ini bukan sesuatu yang khusus. Tapi hatiku berdesir menantikan penilaiannya terhadap penampilanku.
Lelaki itu memandangku tegang. Matanya terpaku. Ia tak berkedip barang sedetik. Mulutnya sedikit membuka. Lama-lama aku khawatir melihatnya. Apa itu gejala cacingan ?
"Apa terlihat aneh ? Aku bisa ganti dengan stelan yang lain"
"Ti... tidak. Kamu can..."
"Kamu apa ??"
Aku menunggunya meneruskan kalimat.
"Mmh... ka...kamu pasti cangat lapal kan ?"
Hah ?
Excell terlihat gugup. Kenapa ia mendadak berpura-pura cadel. Si kunyuk itu pasti gengsi memujiku cantik !
"Excuse me, semua baju-baju itu saya ambil"
Ia memanggil pelayan.
Apa ?! Baju sebanyak itu ? Kami hanya menginap sehari lagi, bukan mau bertransmigrasi !
Pelayan itu lalu membungkusnya dengan gesit. Beberapa papper bag berjajar rapi di meja kasir. Aku menarik tangan Excell.
"Apa kau gila ?! Aku tak punya uang sebanyak itu hah ?!"
"Aku kan sudah berjanji membelikanmu baju yang bagus"
Jawabnya santai sambil memgemasi belanjaan kami setelah mengeluarkan kartu atm.
"Tak perlu ! Bagaimana bisa aku mendapatkannya cuma-cuma ! Biarpun miskin, aku masih punya harga diri !"
Ujarku tak kalah
"Kau keras kepala sekali. Ya ampun !"
"Nanti tolong kirimkan nomor rekeningmu. Walau belum bisa sekarang, jika sudah mendapat pekerjaan pasti akan kucicil !"
Ia menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku tidak mau uangmu. Tenang lah. Apa kau pikir aku memberikannya gratis ?"
"Maksudmu ?"
"Entahlah. Aku akan berpikir dulu. Hahaha"
"Hah ! Dasar kau ya !!"
Aku berlari mengejarnya. Ia tertawa-tawa. See ?!? You're psyco !!
Tiba-tiba langkahku terhenti. Seorang lelaki berjalan melewati kami dan naik ke eskalator disebelahku. Aku memang tak begitu yakin. Tapi sekilas ia mirip sekali dengan Kak Joe. Aku ingin memanggilnya namun Excell mengagetkanku.
"Kau kenapa ? Ada apa denganmu ?"
Tanyanya saat aku hanya terdiam mematung menatap eskalator
"Entahlah. Sepertinya aku salah lihat. Ayo makan ! Aku lapar..." rengekku.
Berada di toko baju berjam-jam membuat tenagaku habis. Ah, mungkin saat ini aku terlihat seperti mayat hidup. Lemas sekali.
"Astaga ! Benarkah hanya itu yang selalu ada dipikiranmu ?! Apa kau ingat sudah berapa banyak makanan yang kau habiskan tadi saat sarapan di hotel ?!"
Lelaki itu menggerutu. Aku tersipu malu. Rasakan. Ini resikonya mengajakku jalan-jalan ! Hahaha.
Mobil melaju meninggalkan mall. Mungkin ia takut jika tidak cepat mendapat makanan, aku akan berubah menjadi zombie.
Kami berhenti di restoran chinesse. Tak menunggu waktu lama, beberapa menu terhidang dimeja. Rupanya Excell memesan banyak. Mataku berbinar melihat Jiaozi, bebek peking, ifumie, dan ah ! ... masih banyak lagi !
"Wow, aku sudah rindu sekali makan nasi ! Tapi kenapa memesan sebanyak ini ?!"
"Hanya melihatmu makan dengan sangat lahap aku sudah senang"
"Kenapa kau berbicara aneh ? kata orang aku memang terlihat cantik saat makan"
Ujarku bangga sembari memasukkan satu persatu dimsum kedalam mulut. Biar saja, kapan lagi ya kan !
"Maksudku... melihatmu makan dengan bar-bar seperti itu sudah membuatku sangat KENYANG ! Ah sudahlah, susah bicara denganmu. Aku juga tak yakin ada orang yang memujimu seperti itu !"
"Apa kau mengejekku ?!"
"Hey ! Perhatikan makanmu ! Mulutmu sudah penuh masih saja mengunyah ! Apa kau ingin tersedak ?!"
Ia mengomel saat melihatku kembali melahap kwetiaw sementara dimsumku belum habis.
"Kenapa kau suka sekali makan?"
Excell menyeka noda diujung bibirku dengan tissue. Aku sedikit kikuk.
"Entahlah. Sejak kecil aku terbiasa hidup miskin. Makanan enak yang selama ini kumakan hanya mie buatan ibu"
Excell terlihat salah tingkah mendengar jawabanku. Ia merasa tak enak sudah bertanya.
"Ma... maaf aku sungguh tak bermaksud begitu" ujarnya ragu.
"Santai saja. Memang begitu kenyataannya. Itu bukan salahmu. Semua ini salah nya ! Ayahku !"
Aku menyandarkan punggung kekursi sejenak. Setiap mengingat orang itu, mendadak rasanya tak nyaman.
"Apa yang terjadi dengan ayahmu ?"
Excell tampak serius. Aku menghela nafas.
"Ia meninggalkan ibu. Dan sejak saat itu kami hidup menderita. Ah, kenapa aku jadi menceritakan ini"
"Apa kau pernah mencari tahu lagi tentangnya ?"
Excell seperti tertarik dengan kisah kelam keluargaku.
"Untuk apa ? Ia sudah sukses sekarang, tapi bukan berarti aku akan peduli dengannya !"
Jawabku mantap.
"Apa karena itu kau membenci orang kaya ?"
Ia bertanya lagi.
"Dan apa karena itu pula kau selalu berpakaian biasa padahal mampu membelinya ?"
Aku balik bertanya padanya. Ia tergagap.
"Sudah, jangan mengelak. Aku sudah lama memperhatikan itu"
Lanjutku.
Excell tertunduk. Mungkin ia tak menyangka jika aku menyadarinya selama ini.
"Maaf. Kupikir dengan begitu kau tidak akan membenciku seperti orang kaya lainnya"
"Jangankan kau kaya, kau miskin saja aku juga membencimu karena tingkahmu yang selalu usil ! Hahaha"
"Apa karena Sam ? Apa kau selalu menjaga jarak karena sedang dekat dengannya ?"
Raut wajah Excell berubah. Pandangannya berpendar tak tentu arah.
Degh.
Aku terdiam.
Kenapa mendadak ia bertanya seperti itu.
"Tidak ada hubungannya dengan dia. Ah Ayo kita lanjut jalan-jalan saja. Energiku sudah terisi penuh sekarang!"
Buru-buru aku meninggalkan restoran itu. Ada rasa tak nyaman mendengar nama Sam saat kami sedang bersama. Ia hanya tersenyum simpul, seolah ada yang mengganjal dihatinya.
__ADS_1
pic by google