
"Kau senang ?"
Excell bertanya padaku.
Aku hanya tersenyum. Kami menghabiskan senja, berjalan menyusuri tepian sungai Thames. Sungai nan eksotik, yang mengawali sejarah kota ini berdiri. Hamparan air yang tenang, terlihat beriak saat beberapa kali River Cruise hilir mudik membawa rombongan penumpang tur. Sesekali angin bertiup membelai mesra. Dinginnya cuaca sore ini tak menghalangi kami menikmati keindahan disana.
Langit lembayung mulai berwarna kemerahan menaungi tempat dimana kami berdiri. Pesona London Eye dan gedung-gedung tinggi menarik siapa saja untuk tak lepas memandangnya.
"Kata orang-orang sunset disini sangat menakjubkan. Apa masih lama ? "
Aku balik bertanya padanya. Excell melirik jam yang melingkar di tangan.
"Sebentar lagi"
Kami lebih banyak diam.
"Bisa fotokan untukku ?"
"Apakah kau senarsis itu ?!"
Aku hanya menjulurkan lidah, tak peduli ocehannya. Segera kuberikan ponselku padanya.
"Bergaya bagaimana ya... ah, view disini bagus semua"
"Tak usah bergaya, kau terlihat sama saja"
Aku memukul bahunya, Excell meringis. Namun ia tetap meraih gawaiku dan mulai memfoto. Sesekali mengecoh, bukan jepretan kamera melainkan rekaman video. Kami bercanda seru. Rasanya menyenangkan jika sudah lama tak saling ledek begini.
"Wah kau bisa tersenyum manis rupanya. Kenapa tak seperti itu terus setiap hari ?"
Aku menggodanya.
"Wajahku memang sudah ganteng sejak lahir!"
Ia melengos. Air mukanya memerah tersipu malu. Aku tertawa. Lelaki itu pura-pura sibuk menghabiskan kopinya yang kami beli sebelum sampai kemari.
"Ada yang ingin kutanyakan kepadamu"
Ujarku kemudian.
"Tentang apa ?"
Aku tak yakin, tapi entahlah. Aku merasa harus bertanya. Penasaranku mengalahkan segalanya.
"Mmh.. Kau dan Sam, kalian dulu berteman akrab. Kenapa sekarang tidak ?"
Excell terdiam. Mungkin ia bingung darimana ingin memulai.
"Kau sungguh ingin tahu ?"
Lelaki itu terlihat ragu. Aku mengangguk.
"Kami dulu satu panti asuhan"
Aku terperanjat.
Sungguh fakta yang mengejutkan. Ia bukan anak kandung ?? Excell tertunduk menatap tanah.
__ADS_1
"Kami sama-sama keturunan Asia. Mungkin itulah yang menyebabkan kami dekat dibanding dengan anak-anak lain. Tapi ayah Sam orang eropa."
Ia berhenti sejenak.
Hmm ... Jadi itu alasannya, mata Sam berwarna biru karena garis keturunan sang ayah.
"Lalu, kenapa kalian bisa sampai di panti asuhan yang sama ?"
Aku tertarik dengan informasi tentang mereka.
"Ibu Sam telah lama meninggal. Ayah nya sendiri yang meninggalkan Sam didepan gerbang panti kami. Sementara aku lebih dulu dipanti itu. Hanya saja, nasibku lebih beruntung darinya"
Excell terdiam menarik nafas.
"Apa yang terjadi ?"
Ia beralih menatapku. Perlahan tangannya membenarkan letak syal dileherku. Aku gugup.
"Aku diadopsi pasangan pengusaha kaya. Kami terpukul harus berpisah karena mereka hanya ingin mengambilku tanpa Sam"
Katanya pelan. Ada kesedihan terpendam disana.
"Pasti tidak mudah untuk kalian"
Excell mengangguk.
"Aku mengusulkan kepada orang tua angkatku untuk mengadopsinya juga. Tapi mereka hanya mengambil Sam untuk diurus asisten rumah tangga kami. Kukira selama ini baik-baik saja. Kami masih bisa saling bertemu karena tinggal di dalam rumah yang sama. Tapi itu hanya bom waktu saja..."
Excell berhenti. Ia menghela nafas panjang. Lengannya bertumpu dipinggiran pagar.
"Bom waktu ?"
"Suatu hari Sam mendengar jika ayah angkatku ingin menjodohkanku dengan putri kandung nya"
"Kau ? Dijodohkan ?!"
Ada rasa aneh saat mendengar kata itu.
"Sejak ibu angkat meninggal, kesehatan ayah memburuk. Ia ingin memberi seluruh warisan itu kepada anak perempuannya. Disisi lain beliau telah mempercayaiku sepenuhnya dalam pengelolaan perusahaan mereka, tapi disisi lain beliau juga ingin garis keturunannya ikut andil didalamnya"
"Hah.. rumit sekali kisahmu. Lantas apa hubungannya dengan Sam ?"
"Sam mendengarnya. Kami bertengkar hebat. Kenapa dari sekian orang harus selalu aku yang beruntung. Ia merasa lelah harus selalu ada dan berpura-pura mengalah. Selama ini aku tak tahu jika Sam menyimpan perasaan seperti itu. Aku tak menyangka, ia berubah hanya karena uang"
Aku melenguh. Hidup mereka lebih aneh dariku. Ternyata harta tak serta merta membuat segalanya nampak mudah. Ah, bahkan aku bersyukur dengan keadaanku sekarang meski sering berkekurangan tapi hidupku lebih tenang.
"Lantas kenapa sampai sekarang kau belum menikah ?"
Tanyaku sejurus kemudian. Ia menoleh. Angin mempermainkan rambutnya berulang kali.
"Sudah sejak lama aku mencari gadis itu. Beberapa waktu lalu kami tak sengaja bertemu. Sebenarnya aku tak tertarik dengan wasiat ayah, aku hanya ingin tahu saja seperti apa dia"
"Hubungan kalian berlanjut ?"
Aku makin penasaran. Excell mengangkat bahu.
"Entahlah.. Ia jauh dari ekpetasiku dan aku merasa tak yakin ini akan berhasil. Gadis itu sangat cuek, serta berkepribadian aneh. Jujur saja, aku kewalahan menghadapinya. Tapi semakin mengenalnya... aku malah semakin tertarik. Ia sangat berbeda dengan wanita lain dengan segala keunikan yang dia miliki, aku merasa... aku jatuh cinta kepadanya"
Lelaki itu menatap lekat. Aku membuang pandangan.
__ADS_1
Ia ... jatuh cinta ... kepada seorang wanita ? dan, rupanya bukan aku.
Ada rasa tak nyaman.
Tak rela yang berujung perih, seolah luka tersiram garam. Kenapa aku tak suka mendengar ia dekat dengan gadis lain. Padahal saat aku tahu Sam bersama dengan banyak wanita, perasaanku tak segaduh ini.
"Aku makin gusar saat Sam yang pada awalnya hanya ingin mematahkan wasiat itu dengan merebutnya dariku, semakin kesini ia terlihat juga sungguh-sungguh menyukai gadis itu"
Sam dan Excell berkompetisi ? Lalu apa arti diriku untuk mereka jika ternyata ingin mengejar wanita lain ? Apa aku memang tak berarti apa-apa ? Lantas kenapa mereka menunjukkan perhatian sebanyak itu selama ini kepadaku. Suaraku tercekat ditenggorokan.
Lalu,
Kenapa aku begini ? mendadak tak senang ? Bukankah baik Sam dan Excell juga belum mengatakan apa-apa padaku. Lantas untukiapa aku marah ? Apa karena aku berharap lebih ?
Selama ini aku sudah bertahan mengabaikan perasaanku untuk Sam, begitu pula kepada Excell. Aku pura-pura tak tahu arti perhatian mereka.
Tapi nyatanya, mereka menganggapku hanya teman.
Rasanya aneh membayangkan ia bersama wanita lain. Hati ini terasa sakit. Hancur. Seharusnya mereka jangan datang terlalu pagi. Sehingga aku tak terburu-buru mencintai. Dan kini, terasa sakit saat perasaanku hanya berbalas angin.
Excell bercerita hal lain, namun aku sudah tak bisa menanggapinya dengan baik.
Apa karena aku terlalu serakah, sehingga salah mengartikan tatapannya ? Setiap kata yang keluar dari mulut Excell menguliti perasaanku hidup-hidup. Kenapa sampai sekarang ia masih bisa bersikap seperti biasa.
"Kenapa kau diam saja ? Kenapa matamu merah ?"
Tanyanya saat menyadari sejak tadi aku hanya termenung.
"Tidak. Tidak apa-apa. Ini hanya terkena debu"
Excell panik mendengar jawabanku. Padahal ini hanya hal kecil. Kenapa ia bertindak yang membuat hatiku selalu terkesan dibalik perhatiannya seperti ini
"Apa sakit ? Basuhlah dengan air. Sebentar, aku ingat ada botol mineral di mobil biar kuambilkan"
Matanya celingukan mencari kran atau apa saja.
Ia lantas setengah berlari menuju mobil. Bahunya yang bidang hampir tenggelam dari pandangan, sebelum aku memanggilnya kembali.
"Tunggu...!"
Bibirku bergetar. Excell menoleh saat ia sudah beberapa meter dariku.
"Tolong... tolong jangan berbuat apa-apa. Kumohon..."
Tolong jangan membuatku berharap kembali. Tolong berhenti bersikap baik dan perhatian. Tolong jangan menyakitiku dengan semua itu. Tolong jangan berbuat apa-apa untukku. Ujarku lirih.
Matahari telah sempurna naik ke peraduan. Lelehan airmata yang memburai dipipi, tertutup dengan baik oleh malam yang beranjak gelap. Sementara lampu-lampu kota masih mengerjap belum sempurna. Ia berlari kesini... tangannya ingin meraih pundak tapi kutolak, aku takut ia melihatku menangis. Excell terlihat bingung dengan sikapku yang berubah dingin.
Pernyataan Excell tadi tanpa sengaja membuatku sadar, bahwa dalam sehari aku tak menyangka telah ditolak dua lelaki. Mereka, mencintai gadis lain...
Lagipula aku siapa ? harusnya aku bisa sadar diri. Tak ada yang bisa kubanggakan untuk membuat mereka tertarik. Wajahku biasa saja, inner beauty atau apalah namanya itu juga tak punya. Yang pasti dari sekian banyak orang yang mengagumi mereka, aku sangat jauh dibanding wanita-wanita disekeliling Sam dan Excell yang tentu saja lebih menarik. Lantas kenapa aku berani menyukai dua lelaki itu ? apa aku terlalu bodoh hingga harus merasa sakit dulu untuk menyadarinya.
Disepanjang tepian sungai Thames kisahku berakhir bahkan belum sempat dimulai. Wajah bulan tengadah diatas langit temaram, cahayanya menerpa hamparan air menjadi berwarna keperakkan. Malam membuat sungai terlihat lebih sunyi. Sesuram perjalanan cintaku saat ini.
Aku menghela nafas. Dadaku masih terasa sesak.
Kami hanya terdiam sepanjang perjalanan, kembali menuju hotel dengan pikiran berkecamuk dalam hati masing-masing.
pic by google
__ADS_1