
Hari minggu adalah waktu sempurna untuk beristirahat. Aku lelah sekali, persiapan pameran kemarin membuat kami harus lembur beberapa malam. Dan saat semua itu telah usai, betapa melegakannya.
Eva dan Lily mengajakku pergi ke toko sepatu siang ini. Kebetulan terdapat atm didekat sana, mereka sekalian ingin mengambil uang. Memang, pada awal bulan biasanya para orang tua akan mengirimi uang saku untuk satu bulan kedepan.
Setelah berpamitan dengan yang lain, kami pergi naik bus. Eva mengomel kenapa tidak naik taksi. Aku dan Lily hanya tertawa.
Saat winter, siangpun terlihat mendung disini. Jangan terlalu berharap dengan terang sinar matahari. Sepanjang yang kami lewati hanya terlihat pemandangan yang serba memutih.
Bepergian seperti ini nampak sederhana namun menyenangkan untukku yang memang jarang kemana-mana, selain kampus dan minimarket didekat flat. Serta sesekali ke swalayan besar, itupun hanya untuk belanja groceries yang letaknya beberapa blok dari tempat tinggal kami.
Bus disini terlihat bersih dan terawat. Sehingga tak heran, moda transportasi umum tersebut banyak digemari dikalangan kami karena cukup nyaman dan tentu saja murah. Beberapa kursi nampak lengang. Mungkin dimusim seperti ini membuat orang lebih senang menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga tercinta.
Aku tak menyadari jika Eva mengamatiku sejak tadi. Ia nampak bergeleng-geleng melihat bootsku yang sudah tampak usang.
"Nanti kau juga harus beli sepatu"
Aku menggeleng. Mataku masih sibuk melihat pemandangan dari dalam jendela kaca bus.
"Ini masih bagus. Lagipula masih berfungsi dengan baik"
Ia menghela nafas. Seperti sia-sia mengajak manusia keras kepala sepertiku berdebat. Bak orang yang kalah bahkan sebelum mulai berjuang.
Tak lama bunyi rem terdengar. Decit ban selaras dengan bus yang berhenti dikawasan Harborne. Kami turun, sembari berjalan mencari ATM terdekat. Eva dan Lily nampak bahagia. Mereka bernyanyi-nyanyi sepanjang pertokoan.
"Lihat, disana !"
Lily menunjuk sebuah ATM dekat toko kue. Kami segera menuju kesana.
Aku maju terlebih dahulu sedangkan Eva menunggu dibelakang. Matanya terbelalak saat melihat nominal yang tertera dilayar.
"Astaga ! kau punya uang sebanyak itu ?! aku benar-benar tak menyangka !"
Kulihat ia masih tak percaya hingga selesai kutarik kembali kartu dari mesin atm.
"Kenapa tidak diambil ?!"
Eva sangat penasaran melihatku hanya mengecek isi ATM saja. Aku tersenyum melewatinya. Ia tak bisa bertanya lebih banyak karena sudah gilirannya dan beberapa orang terlihat antri dibelakang.
Aku mencari kemana perginya Lily. Ternyata ia ada didepan seperti memperhatikan sesuatu. Dari gayanya 'sesuatu' itu cukup penting sehingga Lily tertarik berlama-lama disana.
"Kupanggil sejak tadi kenapa tidak menjawab!"
Protesku merasa diabaikan.
"Ssstt... sepertinya aku melihat senior kita"
"Siapa ?"
Tanyaku penasaran. Tangannya menunjuk kearah seberang. 'Sesuatu' itu sangat familiar. Excell !
Ia nampak berbincang dengan seseorang. Tidak begitu jelas. Mobil didepannya menghalangi pandangan kami. Lawan bicaranya mengenakan jaket tebal berwarna biru yang sepertinya pernah kulihat, tapi entah dimana.
Excell seperti mengetahui keberadaan kami. Aku menyuruh Lily cepat-cepat berbalik. Untung Eva segera keluar jadi kami langsung pergi dari sana.
Lily terlihat sibuk memilih-milih sepatu. Saat tahu model yang dipilih harganya mahal, ia akan pura-pura mencari warna lain yang tak ada disana dengan sengaja. Dasar anak itu. Hah... !
"Kenapa dia terus belanja barang yang tak pernah ia pakai"
Eva menggerutu sambil merapikan lipstik.
Jika dipikir-pikir, Lily memang anak yang unik. Salah satu tingkahnya yang membuat kami heran adalah, ia kerap berbelanja hanya sekedar mengoleksinya saja. Dan setelah sampai dikamar hanya dianggurkan menumpuk disana.
Pernah suatu kali kami tanya alasannya. Sambil mengeluh dengan ekspresi sedih, ia mengatakan barang-barang itu ternyata hanya terlihat bagus dikenakan modelnya saja. Sedang saat ia kenakan sendiri tampilannya jauh berbeda. Dibeli sayang, tak dibeli ia lebih menderita karena sepanjang malam terus memikirkannya.
Tapi dengan sikao anehnya begitu, kami cukup beruntung bisa meminjamnya bergantian. Aku geli sendiri mengingatnya.
"Uangmu banyak, tapi kenapa tak pernah kulihat membeli baju atau bersenang-senang semacam itu ?"
Tanya Eva sembari menghentikan aktifitas mencoba sepatu berwarna nude. Tangannya meletakkan kembali heels yang talinya menjuntai kederetan etalase kaca
Aku menganguk malas.
"Kenapa ? Sepertinya kau tak pernah menyentuh uang itu ?"
__ADS_1
Tatapnya selidik penuh curiga.
"Entahlah. Tapi beberapa bulan terakhir aku merasa sedikit aneh dengan uang tersebut"
"Aneh ? Kau yang aneh ! Kalau aku punya sebanyak itu, sudah habis kugunakan untuk bersenang-senang" protesnya.
"Bukankah sangat aneh. Ibuku hanya punya warung kecil, sedang tiap bulannya ia bisa mengirimi sejumlah uang dengan nominal yang fantastis"
Eva terlihat ikut berpikir.
"Bisa saja itu dari kakakmu yang kau ceritakan tempo hari ke rumah?"
"Maka dari itulah aku tak mau lagi mengambilnya. Setiap kali ibu mengirimi uang, ia minta tolong kakakku. Ibu bahkan tidak pernah ke bank sendiri karena menurutnya terlalu ribet. Jadi hal semacam itu dipercayakan kepada kakak. Aku hanya takut, jika uang itu terlalu dilebihkan kakakku"
Aku menghela nafas. Eva nampak kurang puas mendengar jawabanku.
"Lantas apa salahnya jika seorang kakak ingin membantu adiknya ?" Tanya nya gemas.
"Masalahnya ia hanya kakak keponakan, dan istrinya tak menyukai itu"
Eva seperti paham. Ia menatapku kasihan.
"Jadi kau kesulitan memilah, mana uang dari ibumu, dan mana dari kakakmu ? Kenapa tidak telepon saja dan menanyakannya langsung pada ibumu ? Ah aku pusing sendiri mendengarmu"
ia mengacak-acak rambutnya.
"Semua yang terhubung dengan ibuku harus melalui kakakku. Kau tau sendirikan bagaimana ibuku. Jika aku bertanya langsung pada kakak, aku yang tak enak padanya. Lagipula, istri kakakku ada benarnya. Sudah seharusnya aku tak merepotkan mereka terus menerus. Mereka juga punya keluarga kecil sendiri"
"Betul-betul ya istri kakakmu itu seperti ibu tiri di televisi. Jadi, selama ini, kau hanya hidup dari uang saku beasiswa ?"
Aku mengangguk. Ia terperanjat tak percaya.
"Sepertinya semester depan, aku harus mencari pekerjaan paruh waktu. Tak bisa seperti ini terus"
Eva menatapku sayu.
"Kenapa tak cerita pada kami ? Aku merasa buruk sebagai teman. Bagaimana bisa hal seperti ini terlewat. Ah benar-benar keterlaluan... aku sedih sekali. Sudahlah, sekarang kita harus beli sepatu. Ingat, kau juga ! aku akan membelikanmu sepatu yang bagus !"
"Tak usah. Sepatuku masih bisa dipakai. Lagipula hutangku yang kemarin belum sempat kubayar"
Jujur saja, aku tak mau merepotkan Eva terus. Apalagi untuk kebutuhan yang tidak begitu mendesak. Sepatuku juga masih bisa dipakai. Selama ia sudah banyak membantuku.
Kami keluar saat hari beranjak sore. Tak hanya toko sepatu, kami pun keluar masuk toko lain karena kata Eva banyak yang sedang mengadakan diskon.
"Ayo kita cari makan. Lututku hampir lepas rasanya"
Lily merengek.
Aku sebenarnya juga sudah kelaparan tapi tak enak mengganggu Eva. Ia masih sibuk memilih syal.
"Baiklah ayo.. kalau kalian pingsan aku juga yang repot. Pilih yang kalian suka, aku bayar semuanya"
"Horeeeee...."
Aku dan Lily mantap memasuki sebuah resto cepat saji. Jam makan siang sudah terlewat. Tapi kami tetap butuh makan bukan.
"Ah, aku mau paket itu dua porsi"
Kataku saat seorang pelayan menanyakan pesanan kami.
"Aku juga mau dua"
"Jangan lupa kentang gorengnya yang size besar semua"
Aku dan Lily terkekeh
"Hey ! Hey ! Mentang-mentang aku yang bayar kalian seenaknya ya !"
Kami berdua tertawa saat Eva marah-marah.
"Ckckck... kalian sekecil ini sanggup menghabiskan semuanya ?!"
Sampai di meja pun, ia masih mengomeli kami. Aku dan Lily sibuk mengunyah.
Kulirik Eva. Ia hanya sedikit makan karena rutin menjaga berat tubuhnya. Ia memang dikenal suka minum minuman keras. Tapi untuk makanan, Eva cukup berhati-hati. Terlebih jika kadar lemaknya tinggi. Waktu dirumah pun kami sering melihatnya hanya melahap seporsi salad tanpa dressing apapun. Bagaimana ia bisa konsisten menjalani hidup seperti itu ya. Hmm.. salad. Aku jadi teringat seseorang.
__ADS_1
Lily ijin pergi ke toilet. Banyak makan membuat perutnya terasa penuh. Eva melirik. Saat keadaan aman ia lalu menginterogasiku.
"Bagaimana semalam ?"
"Biasa saja"
sahutku sekenanya sambil menambahkan saus mayo kedalam burger.
"Ah, aku sudah menduga kalian tidak akan cocok"
Sial. Apa maksudnya tak cocok.
"Ia bilang mau bertemu teman-temannya. Aku heran, beberapa dari mereka senior kita dikampus"
Eva menoyor kepalaku. Aku mengaduh kesakitan.
"Ah, benar-benar kau ini seperti hidup didalam goa. Hal seperti itu saja tak tahu. Ia angkatan tahun yang sama dengan Excell !"
Aku terdiam. Satu angkatan ? Sam dan Excell ? Padahal semalam saat dipameran, seolah mereka tak saling kenal.
"Tapi kukira mereka tak dekat ?"
Eva menarik nafas. Ia hendak menyalakan rokok tapi ku cegah.
"Sudah kubilang berapa kali, jangan merokok !"
aku melotot.
"Ah kau lebih bawel dari ibuku"
Setengah sewot puntung itu dikembalikan lagi kedalam tas.
Dari cerita Eva, Excell dan Sam sudah berteman sejak kecil. Kemana-mana mereka selalu kompak bersama. Sam begitu peduli dengan Excell. Pjn sebaliknya. Bak kakak beradik.
Bahkan banyak yang mengira mereka adalah saudara kandung. Dimana ada Excell, disitu ada Sam. Entah ada masalah apa, suatu hari mereka bertengkar hebat. Sejak saat itulah rumor berkembang jika kini seperti musuh bebuyutan. Banyak yang menyayangkan hal itu. Terutama saat Sam memutuskan untuk berhenti kuliah.
"Mereka berdua sama-sama tampan. Cukup populer dan idola para siswi dikampus. Tapi sayang, Sam lelaki flamboyan. Ia tak bisa dekat dengan satu wanita. Lelaki yang tak suka berkomitmen!"
"Kalian, juga pernah dekat ?"
Eva berhenti sejenak. Diujung bibirnya yang tipis mengulum senyum.
Jujur saja, aku tak tertarik dengan jawabannya. Terlalu klise. Karena biar bagaimanapun, aku sedikit tahu seperti apa Sam. Tak bisa kuabaikan begitu saja kala itu saat kulihat dengan mata kepala sendiri, tatapan luwes Sam berbincang akrab dengan pelayan foodcourt swalayan dan wanita penjaga tempat bowling dulu.
Mendengar pernyataan Eva membuatku kian ragu. Dimana antara jijik dan terlanjur menyukai, rupanya berjarak hanya setipis ini.
"Benar kami pernah dekat sebentar. Tapi tenanglah, belum sampai berbuat sejauh itu"
Jawabnya seperti mengetahui maksudku.
"Awalnya aku kaget saat ia minta berkenalan denganmu. Sebelumnya ia tak seperti ini, wanita yang selalu datang mendatanginya lebih dulu"
Eva menggeser duduknya dekat denganku.
"Aku juga tak habis pikir, bagaimana bisa kau bersama Excell di pameran kemarin. Aku bingung sejak kapan kalian saling kenal ?" Tanya Eva penasaran.
"Entahlah... Aku pun tak mengerti kenapa ia selalu muncul. Padahal selama ini kami tak pernah akrab"
Kulihat ia terbahak. Menurut Eva, Lelaki itu sangat bertolak belakang dengan Sam. Excell, seorang berhati dingin sebeku es. Belum pernah ada yang melihat ia dekat dengan wanita selama ini.
"Ia nyaris sempurna. Selain tampan orang tuanya juga kaya raya"
Rupanya Eva sudah mendengar rumor itu. Darinya aku tahu jika ibu Excell sudah meninggal dua tahun lalu. Sedangkan ayahnya beberapa bulan ini sakit-sakitan. Dan sudah pasti, kelak ia akan menjadi pewaris tunggal keluarganya.
Aku hanya tertawa. Jika ia benar sekaya itu, kenapa dulu pernah minta traktir makan siang padaku sepaket burger murah. Bukankah hal seperti ini terlalu sepele dan sudah pasti kecil baginya.
Ponsel Eva berdering. Sepertinya ia melupakan janji dengan seseorang karena berkali-kali terlihat meminta maaf dengan si penelepon tersebut.
Ia buru-buru merapikan makeup nya.
"Astaga aku lupa ada kencan dengan Yama"
Yama mahasiswa asal jepang. Tingkat satu jurusan ekonomi. Ia junior di kampus kami. Astaga, Eva. Berondong juga ikut digasak.
Ia menitipkan tas belanjaannya kepadaku sebelum pamit pergi. Tak lama, Lily kembali dari toilet. Ia menanyakan kemana perginya Eva. Dia berujar harusnya tak meninggalkan kami mendadak seperti ini.
__ADS_1
Aku terperangah saat seseorang lelaki berjaket hodie warna marun muncul kedalam resto. Orang yang sama, dengan yang aku dan Lily lihat saat berada di ATM. Lelaki berperawakan tegap tersebut berjalan santai menuju ke arah kami.
pic by google