
Pagi ini cuaca masih seperti biasa. Mendung dan rasanya ingin terus berlama-lama dibalik selimut. Beberapa kali gorden tertiup angin. Aku menggeliat pelan. Dibawah tak terdengar aktifitas apapun. Sepertinya anak-anak ada kuliah pagi.
Kukirik kalender. Hmm... hari senin. Sebenarnya ada janji bertemu dengan Sam sore nanti. Tapi setelah berbagai petunjuk terhampar didepan mata, jujur saja... aku sudah jengah. Terlebih, sudah dua hari sejak pertemuan kami dipameran, ia belum menghubungiku sama sekali. Ya, aku tidak mengharapkan sebenarnya. Sedikit sih. Tapi paling tidak, kupikir ia akan sedikit berbasa basi setelah itu.
Aku melangkah keluar. Sepertinya Eva juga tengah bersiap ke kampus karena menenteng tas besar. Sembari mengunci pintu kamar, ia terlihat gugup. Aku ingin menyapanya saat kami bertemu ditangga, tapi ia seolah terburu-buru. Apa Eva ada kuliah pagi ?
Mandi dicuaca seperti ini adalah sebuah rutinitas malas yang harus dijalani. Tapi apa boleh buat. Sambil terus menggosok gigi, aku berencana pergi ke kampus lebih awal dan berniat mampir ke kedai kopi lebih dahulu karena stok dirumah sudah habis sejak kemarin. Persediaan roti di dapur juga kosong. Sup instan dan kornet daging serta makanan kaleng lainnya juga tak terlihat dikulkas. Mie yang biasa diletakkan dikabinet atas, hanya tinggal dus nya saja.
Ah, sejak Cindy rajin pergi ke tempat rental, persediaan makanan dirumah cepat habis. Biasanya sambil menonton DVD, mereka akan mengunyah apa saja yang ada disana. Dasar, kumpulan zombie. Padahal sudah kuperingatkan jangan terlalu boros. Astaga, bukankah aku juga berbelanja belum lama ini ?!
Kulihat jam dinding diruang tamu. Masih ada waktu senggang sebelum kelas dimulai nanti siang. Setelah mengunci pintu dari luar. Aku menuju kedai langganan yang terletak tak jauh dari flat.Kami memang sudah biasa tak sarapan, tapi menikmati kopi dipagi hari pantang dilewatkan
Langkahku terhenti saat melihat sebuah kertas tertempel di dinding kaca kedai. Sepertinya sebuah info lowongan pekerjaan. Ah benar ! bak gayung bersambut, disana tertera lowongan paruh waktu sebagai pelayan ditempat tersebut. Cocok sekali ! Tak ada salahnya dicoba bukan.
Dengan riang aku bergegas menanyakannya kepada kasir. Menurut kasir, kedai itu memang sedang membutuhkan personil tambahan untuk menggantikan sementara pelayan mereka sebelumnya yang sedang cuti hamil dan mengharuskannya bedrest selama dua minggu.
Tak apalah hanya sebentar, anggap saja sebagai pengalaman. Lagipula banyak dari teman kampus yang memiliki pekerjaan sampingan dan mereka tak keteteran dengan tugas kuliahnya. Aku pun mengajukan diri.
"Tinggalkan nomor telepon disini. Nanti akan kami diskusikan lebih dahulu dengan bos. Jika beliau setuju, anda akan dihubungi"
Aku mengangguk senang.
Pagi itu suasana hatiku sedang bagus. Semoga saja kabar baik menanti. Sambil berjalan santai, kuputuskan saat itu untuk mengikuti kemana kaki melangkah. Kulirik jam, kelas dimulai masih lama. Jika menunggu dikampus tentu membosankan. Mungkin berjalan-jalan ke taman sebentar bukan ide buruk.
Udara dingin menyergap pelan, tapi aku tak menyerah. Sepertinya aku mulai menyukai kota ini. Bahkan tak seperti sebelumnya, yang tiap kali salju turun badanku menggigil tak karuan.
__ADS_1
"Hmm.. segar sekali"
Aku menyeruput moccachino panas dari kedai tadi sembari duduk di salah satu spot Selly Oak Park. Taman ini memiliki fasilitas penunjang bagi siapa saja yang mau berolahraga outdoor. Tapi saat ini tak kulihat seramai biasanya karena sebagian besar areal disana berselimut salju. Hanya anak-anak kecil nampak bermain sambil berkejar-kejaran.
Aku bangun. Menyusuri taman ini yang serba memutih. Jika tidak sedang winter, pemandangan berbeda akan kita temui disini. Hamparan rumput yang luas dan hijau, cuaca lebih hangat dengan semburat matahari yang berkilau nyaman. Bukankah kebahagiaan bisa sesederhana itu.
Pandanganku menyapu ringan kepenjuru taman hingga tak sengaja, mataku tercekat menangkap dua bayangan manusia berbeda jenis itu berada dibalik pohon tak jauh dari tempatku berdiri.
Mereka terlihat bertengkar satu sama lain yang pada akhirnya si wanita sedikit tenang setelah dipeluk sang lelaki. Tunggu. Aku mengenalinya. Jaket itu ! Ya jaket itu memiliki motif dan warna sama persis dengan yang dikenakan teman Excell kemarin siang. Dan ya ! Aku ingat ! jaket biru itu pula yang dipakai Sam saat datang ke pameran lalu. Jadi orang itu, adalah Sam... ?!! mataku membulat.
Aku masih belum paham kenapa bisa memergokinya kembali sepagi ini dan sudah bermesraan disini !
Wanita itu adalah orang yang sama, dengan yang kulihat menemui Sam ditempat parkir pameran dulu. Cantik sih. Dan menurutku ia lebih segalanya dari aku dan Eva. Tubuhnya proporsional, dengan rambut pirang yang tentu bisa menarik siapa saja untuk mengaguminya.
Apakah wanita itu pacar lamanya ? ekspresi mereka tak terlihat sekedar rekan one night stand seperti yang biasa diceritakan teman-teman dikampus. Si wanita bereaksi sangat emosional, seolah menumpahkan ketulusan didalamnya. Tapi bukankah kata Eva, Sam tipe orang yang tak mau terlibat hubungan mengikat semacam itu.
Disatu sisi aku kasihan dengannya. Tapi disisi yang lain Sam juga tak salah, karena sedari awal ia tak suka hubungan serius. Jika pada akhirnya si wanita menaruh harapan, harusnya ia segera sadar jatuh hati kepada siapa. Tapi tetap saja, pola pikir yang seperti itu bagiku sangat menjijikkan.
Hey ! Aku sedang menasehati siapa ?! Aku sendiri saja, juga masih bingung dengan perasaanku kepadanya. Ah, dasar bodoh.
"Kenapa ?"
Wanita itu bertanya saat Sam melepasnya dengan cepat.
__ADS_1
Ia seperti menyadari jika tengah diperhatikan. Kepalanya bergerak menoleh kepenjuru taman. Sial, aku harus sembunyi dimana sekarang. Tempat ini lapang dan begitu terbuka tanpa sekat. Akan kacau jadinya jika Sam menemukanku disini. Bisa-bisa aku dikira penguntit.
Panik, kulihat dewi fortuna dari ujung sana. Keberuntungan masih ditangan. Terlihat sepasang kakek nenek berusia lanjut berjalan kearahku. Sepertinya mereka akan menuju kesebelah barat dan keluar dari area taman. Yas ! Kesempatan bagus. Ide brilianku muncul.
Sambil berlari kearah mereka. Dengan harapan agar tak terlihat oleh Sam, apalagi badan kakek ini cukup tambun. Aku bisa bersembunyi dengan berjalan disampingnya. Kebetulan tempat Sam dan wanita itu berdiri tak jauh dari sini. Jika menunggu ia pergi, bisa-bisa terlambat ke kampus karena kelas akan dimulai sebentar lagi.
Tinggal berjalan sedikit lagi aku akan terbebas dari tempat ini. Tiba-tiba si nenek menyadarinya. Ia mendorong bahuku sehingga aku terhuyung menjauh dari suaminya. Ah sial ! Apa-apaan ini.
Rupanya hal ini memancing perhatian Sam. Dengan sigap, aku setengah merunduk dan berjalan disamping kakek itu lagi. Mengetahui hal ini, si nenek semakin emosi. Ia menarik tas ranselku untuk menjauh.
"Hey ! Apa yang kau lakukan nona muda ! Kau ingin menggoda suamiku kan ?!"
Gertaknya lantang. Si kakek tertawa geli. Ia pasti merasa bangga seolah diperebutkan dua wanita.
"Bu... bukan begitu..."
"Jangan-jangan kau orang itu ! Wanita yang sering meneleponnya tengah malam ya ?!!"
Serunya dengan mata melotot.
Aku ? Menggoda suaminya ? Kakek-kakek tua ? Apakah nenek ini bercanda. Kulirik semua orang menatap kearah kami. Aku mengumpat dalam hati. Astaga. Kuraba hodie yang menutup kepala. Sial, terbuka.
Kepalang tanggung. Sebelum si nenek mengamuk dan menghancurkan seisi kota dengan sengatan laser. Serta demi masa depanku yang suci nanti akan tercemar dengan kabar berita : seorang mahasiswi tertangkap basah menggoda kakek-kakek genit, kuputuskan untuk menyudahi keributan ini.
Aku segera berlari dari area itu. Dari jauh masih kudengar si nenek marah-marah. Hari memalukan paling bersejarah yang kualami saat ini... sebutan penggoda kakek-kakek masih terngiang jelas ditelinga. Mengingatnya kembali membuatku merinding.
Tak lama, seseorang berjalan mendekat dan menyadari sebuah cup kopi yang terjatuh tak jauh dari keributan kami tadi. Kemasan cup tersebut sangat familiar baginya. Sementara sisa isi moccachino didalamnya nampak tercecer disekitar. Ia pungut cup itu dan tersenyum saat membaca namaku tertulis disana.
__ADS_1
pic by google