
Bagaimana mungkin ?
Bagaimana bisa ?
Dari sekian teman Eva ?
Sam ? Jadi lelaki ini yang dari dulu ingin berkenalan denganku ?!
Antara kaget. Bingung. Syok menjadi satu.
Eva menyenggol lenganku.
"Memang beginilah dia, Sam. Anak ini suka sekali melamun. Hahaha"
"Benarkah ?"
Sam masih tersenyum melirikku.
"Hey, kenapa kau tampak terkejut seperti itu. Apa kalian sudah saling kenal ?"
Aku tergagap
"Be.. belum ..."
"Ini, untukmu. Selamat ya"
Sam mengulurkan sebuah buket bunga mawar.
"Te.. terima kasih"
Aku menerimanya dengan segan. Semoga mereka tak tahu tanganku gemetar.
Eva seperti menyadari, bahwa ia perlu memberi ruang pada Sam agar bebas ngobrol denganku.
"Sam, aku tinggal kedalam ya. Aku lupa belum mengucapkan selamat kepada Cindy"
"Ta.. tapi"
Eva melepaskan cengraman tanganku dibahunya. Ia berlalu sambil mengedipkan mata.
Hampir lima belas menit sudah, kami masih saling terdiam. Berdua menatap hamparan rumput hijau yang kini berselimut salju. Hening. Situasi macam apa ini, begitu canggung. Degup jantungku sudah menabuh genderang sejak tadi dan kini kami hanya ditinggalkan berdua oleh Eva. Aku bingung ingin memulai darimana. Tapi tidak dengan Sam. Ia terlihat lebih santai.
Aku masih tak berani menatapnya. Sungguh aku sangat gugup. Sampai tubuhku seperti mati rasa, padahal udara diluar begitu dingin.
"Kamu cantik sekali ..."
Degh.
Katanya tiba-tiba.
__ADS_1
Tak dipungkiri, aku sedikit tersanjung. Tapi sekaligus kesal. Apa dia terbiasa basa basi seperti ini, termasuk pada wanita lain yang baru ia temui.
"Te... terima kasih"
Ucapku lirih tanpa melepas pandangan dari jalan.
Sam mendekat, berhenti tepat disebelah. Aroma parfumnya dulu yang sangat kuhafal menyeruak. Persis kala itu. Aku masih tak percaya, ia adalah lelaki yang sama. Yang sebenarnya sudah tidak kuharap muluk-muluk, dapat berjumpa kembali dengannya.
Terdengar ia menghela nafas ditengah udara yang semakin dingin.
"Kamu seperti biasa saja bertemu denganku. Apa kamu tak suka ?"
Ada nada sedih diujung kalimatnya.
"Bu... bukan begitu. Aku hanya ..."
Kali ini aku sekuat tenaga berusaha melihat kearahnya meski hanya sebentar.
"Lantas, kenapa kamu bilang kita tidak saling kenal ?"
"Spontan saja. Aku bingung harus bilang apa"
"Apakah aku membuatmu tak nyaman. Kalau begitu aku pulang saja"
"Eegh, tidak ... bukan begitu"
Aku melenguh. Kuberanikan diri menatapnya. Mata biru itu. Ah, terlalu sempurna.
Giliranku memutar pertanyaan. Lebih tepatnya banyak pertanyaan muncul saat ini.
Ia mengangguk
"Kenapa saat itu tidak bilang ?"
"Ceritanya panjang"
"Aku siap mendengarkan"
Ia terkekeh sambil tangannya mengusap kepalaku pelan. Aku tersipu.
"Sebenarnya, sudah lama aku memperhatikanmu"
"Benarkah ? Sejak kapan ?"
"Aku sering melihatmu di cafe dekat taman. Ingin berkenalan langsung tentu kau akan berpikir macam-macam tentangku. Tak sengaja aku melihatmu bersama Eva saat disana. Jadi kupikir kalian teman akrab"
"Kenapa aku bisa tak tahu"
"Hidupmu hanya terfokus pada layar laptop dan ponsel. Begitu terus tiap aku melihat. Seperti seseorang yang sedang menunggu kabar entah dari siapa. Mungkin pasangan ? Apalagi kau berulang kali menolak saat aku ingin berkenalan. Jadi kupikir memang benar kata pepatah, saat orang jatuh cinta, dunia ini terasa milik mereka berdua saja. Jadi, aku tak ingin kamu terganggu"
Hmm...
__ADS_1
Jadi inilah jawabannya. Pantas saja, saat berada di kedai itu aku sering merasa seperti tengah diawasi seseorang.
"Maaf ... aku memang tidak peka.
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Sudahlah, itu bukan salahmu"
Ia tersenyum.
"Apa kau bosan ?"
Kulihat ia berdiri tak nyaman.
"Sepertinya ada yang tidak suka kehadiranku disini"
"Siapa ?"
Aku mengikuti ekor matanya. Excell tampak memperhatikan kami dari jauh. Karena tertangkap basah, ia membuang muka. Aku tertawa.
"Sudah, jangan dipikirkan. Orang itu memang suka mencari masalah kepada siapa saja"
Sam mengangguk.
Tak lama ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang.
"Sepertinya beberapa teman sempat melihatku tadi. Mereka menunggu ditempat parkir. Apa kau keberatan jika aku menyapa mereka ?"
"Tidak, silahkan saja"
"Baiklah. Kau harus segera kedalam karena ini pameranmu. Mmh, senin ada waktu luang ?"
"Hanya kuliah siang. Setelah itu sepertinya tak ada..."
"Baguslah. Aku akan menunggumu di cafe biasa jam lima sore. Bye"
Sam lalu pamit undur diri. Ia turun setengah berlari menemui teman-temannya. Padahal aku belum bilang bisa atau tidak. Bagaimana ini. Aargh.
Lily keluar mengagetkanku. Rupanya sejak tadi ia mendengarkan percakapan kami.
"Bagaimana kamu kenal lelaki tampan seperti itu ? Ah, Eva tak adil. Kenapa ia tak mengenalkannya padaku dulu"
See ? Bahkan semua orang dapat terpana dalam sekejap oleh pesona Sam.
Aku masih melihatnya dari jauh. Ia duduk di jok motornya sambil berbincang dengan beberapa teman yang sebagian kuhafal adalah senior disini.
Rupanya banyak juga yang mengenalnya. Ia nampak menyapa seorang wanita yang lewat. Wanita itu terlihat senang menyambutnya. Lagi, mereka tampak akrab satu sama lain. Si wanita bergelayut manja.
Bagaimana bisa dalam sekejap, ia membuatku terpana dan jijik dalam waktu bersamaan. Sungguh, aku muak melihatnya.
pic by google
__ADS_1