
Cindy takjub melihat penampilanku yang kacau balau setibanya didekat loker. Beberapa kali aku tersengal mengambil nafas.
"Astaga ! kau kenapa ?"
Ia sedikit tertawa. Lalu membantuku mengganti mantel yang kotor. Untung saja kami selalu menyimpan setidaknya satu cadangan disini untuk mencegah jika saja hal-hal absurd seperti tadi terjadi.
"Bayangkan ! aku berlari dari taman kemari !"
Tawanya meledak.
"Apa kau dikejar anjing ?"
Aku diam saja karena jika kuceritakan sebenarnya, hal itu akan menjadi bulan-bulanan anak-anak yang lain.
"Kau ke kelas saja. Aku mau ke kantin dulu. Haus sekali"
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, jangan sampai terjatuh lagi. Hahaha"
Sialan. Aku berjalan memutar.. Kulihat kantin masih lengang. Hanya terhitung satu dua orang saja. Kulihat Eva. Ia menyadari kehadiranku disana.
"Eva !"
Terlihat kikuk. Ia hanya membalas lambaian tanganku pelan. Aku berjalan kearahnya tapi ia terlihat gugup.
"Kukira kau ada kelas pagi. Kenapa berangkat pagi-pagi sekali?"
Tanyaku saat melihatnya malah santai disini bukannya berada di kelas.
"Ta.. tadi pagi aku ke perpustakaan. Dan oh untung saja kau ingatkan. Aku lupa jika ada kelas sekarang. See you baby..."
Mendadak Eva membereskan tasnya di meja. Seolah-olah ia terkejut melihat jam yang melingkar ditangannya. Aku tahu ia berbohong. Eva, aku tak masalah kau dekat dengan siapa saja. Tapi jangan merasa tak enak begini. Sampai kapan kau akan terus mengindariku. Dan, benar. Sam bukan lelaki yang baik. Bagaimana caranya aku bisa memberitahumu jika pagi tadi melihatnya bersama wanita lain. Aku termenung muram.
"Tadi senior kita kemari"
Kata Nancy sesaat setelah melihatku sampai kelas. Ia yang sebelumnya sibuk dengan projectnya sampai menghampiri mejaku
"Kalian dekat ya ? ah aku iri sekali"
Sahut yang lain.
Aku hanya menggeleng. Malas menanggapinya. Mereka nampak kecewa. Pasti Excell, siapa lagi kakak senior yang bisa membuat gadis-gadis itu sampai tergila-gila.
Beberapa panggilan dan pesan singkatnya sejak tadi memang kuacuhkan. Apalagi kalau bukan menanyakan foto kemarin. Apa pentingnya sih, dasar lelaki narsis.
Kelas siang ini berlangsung cepat. Hanya ada dua jadwal mata kuliah saja. Dosen pun keluar disusul mahasiswa lain. Sementara aku masih melamun di kelas. Suasana yang sebelumnya riuh berangsur sepi.
__ADS_1
Gawai ku bergetar. Sedikit takjub siapa yang menelepon dari sebrang. Kak Rose.
"Halo"
"Kakakmu disana ?"
Tanya wanita itu tanpa basa-basi.
"Tidak. Apa..."
"Ya sudah"
Setelah memotong perkataanku, ia lantas menutup telepon begitu saja. Tak punya sopan santun sama sekali ! Sedikit menyesal karena kupikir jika wanita itu menelepon pasti hal penting sedang terjadi. Siapa tahu jika ada hubungannya dengan ibu. Hingga aku tak punya pilihan lain selain mengangkatnya.
Lantas kenapa ia menanyakan sang suami. Apa Kak Joe sedang berada disini ? Bukannya jika urusan bisnis mereka akan pergi bersama ? Ada apa dengan iparku itu.
Aku masih dikelas. Jarum jam menunjuk pukul empat. Hah ! Memikirkan bertemu Sam hatiku tak karuan dibuatnya. Apakah tak jika tak datang menemuinya. Apa dia akan kecewa ? sepertinya tidak. Dan demi kebaikan bersama, persahabatan, serta menimbang baik buruknya. Sore itu aku sudah membuat keputusan yang tepat. Dengan mantap bangkit melangkah keluar kelas. Makin menjauh. Berjalan pulang menuju rumah
Sampai diflat, anak-anak rupanya sudah berkumpul seperti biasa diruang tengah menonton DVD. Dari yang kudengar, Cindy dan Nina mengencani dua lelaki penjaga rental disana. Oh, pantas saja hampir setiap hari mereka pulang membawa banyak kaset-kaset sewaan.
Aku mencari Eva karena sejak tadi tak terlihat bersama mereka. Kata Nina, ia menginap dirumah temannya. Temannya ? Siapa ? setahuku ia tak begitu akrab dengan siswi lainnya selain kami. Apa ditempat Sam ? Berdua saja ? seharian ?
Hmm. Ada sedikit rasa cemburu menelusup di hati. Pantas saja tadi pagi ia membawa tas lebih besar dari biasanya.
Rupanya benar. Aku tak datang pun juga sepertinya tidak berarti apa-apa untuk Sam. Di jam pertemuan kami, disaat yang sama pula ia menjanjikan waktu untuk wanita lain. Aku menghela nafas.
Jenny membuyarkan lamunanku. Anak-anak lain tertawa melihat kami. Aku tersenyum kecut.
Menonton film sudah tak konsen. Aku pun naik manghampiri Lily yang sedang mengerjakan tugas dikamar. Melihatku dimuka pintu, ia menyuruh masuk.
"Kau sibuk ?"
Sapaku
"Ah tidak. Apa yang membawamu kemari ?"
Tanyanya antusias. Ia memang suka berbincang apalagi kalau bukan mencari teman bergosip.
"Eva akhir-akhir ini sedikit aneh menurutku"
Jawabku sembari duduk dikasurnya.
Lily mengangguk. Bahkan, katanya Eva juga sudah dua kali ini bolos kelas.
"Bukannya kemarin ia datang ke kampus. Aku melihatnya makan siang dikantin. Katanya ada kelas pagi"
__ADS_1
Ia menggeleng
"Aku juga bingung dengannya. Ia kerap mengirimiku pesan lebih dahulu. Sekedar menanyakanmu berada di flat atau tidak sebelum ia pulang kerumah. Bukankah itu lebih aneh lagi ?"
Aku tercekat. Eva sampai kucing-kucingan seperti itu ?!
"Lily, apa kau lihat Eva sedikit berubah padamu. Atau kau merasa ada sesuatu yang Eva sembunyikan darimu ?"
Ia seperti sibuk berpikir, sesekali membenarkan kacamata bulatnya.
"Kami baik-baik saja. Hanya saja sebelum pergi ke rumah temannya, ia meminjam beberapa baju yang baru kubeli"
Fix. Eva memang hanya menghindariku. Dengan anak-anak lain sepertinya ia biasa saja.
"Bukannya ia juga sudah beli banyak barang waktu itu ?"
"Seperti tak tahu orang yang sedang kasmaran saja kau ini hahaha.. Mereka selalu bingung memilih gaun apa yang akan dikenakan sekalipun koleksinya sendiri sudah banyak. Aku yakin dia akan bertemu orang yang spesial"
Aku melenguh.
"Entah dengan siapa dia berkencan. Aku sering memergokinya tengah malam sedang menunggu telepon pacarnya. Apa mereka terpisah dikutub yang berbeda ? hahaha"
Ia tertawa. Aku hanya ikut tersenyum.
"Sekali-kali pergilah berkencan"
*Lanjutnya kemudian.
Aku melirik gemas*.
"Hey ! Kau sendiri apa !"
Sahutku kesal.
Sepertinya ia memang amnesia, sehingga lupa ia sendiri juga tak punya pasangan.
"Kita sudah jelas berbeda. Kalau aku sudah dikejar-kejar kakak senior. Hanya saja Excell terlalu malu untuk menyatakannya lebih dahulu. Hihihi"
Aku begidik ngeri.
Sebelum ia melantur kemana-mana, aku segera berbalik menuju kamarku. Ohya, sepertinya aku harus menelepon Kak Joe dan menanyakan langsung maksud dari telepon Kak Rose.
Panggilanku tersambung tapi tak dijawab. Bahkan ada yang direject. Mungkin ia memang sedang sibuk. Tiba-tiba aku mengkhawatirkan ibu. Apakah ia baik-baik saja disana. Aku masih ingat sore tadi, suara Kak Rose terdengar cemas.
Kuberanikan diri mengirim pesan kepadanya berbasa basi menanyakan kabar ibu. Tak ada balasan. Jam berapa sekarang disana ya. Apa mungkin mereka sudah tidur ? Kak Joe juga akhir-akhir ini jarang mengabariku tentang ibu.
__ADS_1
Hari semakin malam. Sementara mata susah terpejam. Denting pemberitahuan dari salah satu aplikasi berisi kumpulan foto dan video berbunyi. Nama Eva tertampil disana. Ia mengupload sesuatu. Dengan sedikit gemetar aku buka. Sebuah foto ruangan mewah. Ia berpose dengan handuk piyama berwarna putih. Rambutnya yang tergerai tampak basah. Itu bukan rumah temannya. Itu kamar hotel !