
Sejak sampai dihotel aku selalu menghindari Excell. Beberapa kali ia berusaha mengajak berbincang namun kuacuhkan. Selesai bersiap, kami dan teman lainnya berkumpul di lobby menunggu Nina. Gadis itu memang pemegang rekor dalam berdandan. Padahal jika terlambat sedikit jalanan yang padat akan macet karena pesta perayaan tahun baru biasanya sudah dimulai sejak pukul tujuh malam.
Cindy memperhatikan baju dan mantel yang kukenakan. Ia menggoda kenapa penampilanku malam ini terlihat berbeda. Terlihat berkelas dan mahal !
"Senior pilih kasih. Kenapa aku tak dibelikan juga"
Ujarnya menggoda sembari memegang-megang mantelku yang berwarna kuning kenari. Aku berpura-pura fokus pada layar ponsel.
"Itu tugas pacarmu"
Sahut Excell sekenanya. Ia memainkan kunci mobil ditangan.
"Tapi kau juga bukan kekasihnya"
Malvin menimpali.
Tiba-tiba kunci mobilnya terjatuh dilantai. Terlihat lelaki itu sedikit kaget. Excell salah tingkah. Mereka semua tertawa. Ia lalu melirikku. Aku bersikap seolah tak mendengar apa-apa. Jam delapan lewat Nina baru turun kebawah. Setelah mengomelinya, kami bersiap menuju mobil yang telah terparkir dihalaman.
"David, bisakah kau duduk didepan ? aku ingin ngobrol dengan Nina"
Lelaki bertubuh sedikit gempal itu baru akan membuka pintu mobil. Ia mengalah. Menurut David malah menyenangkan bisa duduk dikursi depan. Mereka tak curiga sama sekali, karena aku beralasan ingin menanyakan tentang make up yang dikenakan Nina. Gadis itu memang ahli dalam berias. Dari sudut mata, aku melihat Excell tak nyaman. Aku memang sengaja tak ingin duduk disampingnya lagi. Sesekali ia mencuri pandang dari kaca spion.
Kami meluncur ke jantung kota London. Seperti dugaan awal, jalanan padat merayap. Ribuan orang berkumpul bersuka cita menyambut kembang api akbar malam ini. Hanya setengah jam dari hotel, mobil berhenti di kawasan Westminster yang terletak di kompleks bangunan bersejarah di Inggris, dimana diantaranya terdapat gedung parlemen dan jam raksasa Big Ben. Salah satu landmark terkenal di kota ini selain London Eye.
Tak jauh dari sana, juga terdapat Westminster Abbey. Gereja tua tempat dilangsungkannya pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Berulang kali kami takjub bagai tersihir. Biasanya hal semacam ini hanya bisa disaksikan ditelevisi.
Tak peduli sedingin apa malam ini, meski suhu kisaran dibawah lima derajat celcius, London selalu mempesona bagi para pengunjung. Kemeriahan jelas mewarnai tiap sudut kota. Pub, Cafe, dan restoran buka lebih larut dengan menyuguhkan live music serta hiburan malam lainnya.
Tak ketinggalan pula bagi yang ingin melihat indahnya pesta kembang api dari Sungai Thames, mereka dapat menikmatinya diatas kapal dengan makan malam romantis nan mewah disana.
Lampu-lampu menyala terang. Semakin malam, kota ini semakin hidup. Hilir mudik orang bercengkrama dengan keluarga, rekan maupun pasangan terdengar riang sembari menunggu pesta pergantian tahun. Semua tampak gembira, kecuali aku...
Beberapa kali Excell mengikuti dari belakang, namun aku selalu berjalan menyusul Cindy. Meski ia tak semudah itu menyerah. Kami berhenti dan duduk-duduk dipinggir taman. Malvin dan David datang membawakan kopi. Mereka mengeluh karena pertokoan dan swalayan tutup lebih awal sehingga tak membawa cemilan apa-apa.
"Hey, apa kalian lihat postingan terbaru Eva ? Fotonya baru diunggah beberapa waktu lalu. Sepertinya ia juga sedang disini"
__ADS_1
Nina memecah kesunyian. Aku pun segera meraih gawainya. Benar sekali. Ada background jam besar Big Ben walaupun tidak begitu jelas karena sedikit blur. Apakah ia juga berlibur di London selama ini ?
Aku mengembalikan ponsel Nina. Akan seru jika Eva bergabung bersama kami disini. Lagipula sudah lama tak berjumpa dengannya. Nihil. Beberapa panggilanku tak dijawab padahal tersambung. Apa ia tak mau diganggu ? Hmm...
Malam semakin larut. Anak-anak mengajak untuk mendekat ke festival musik didekat sana. Pesta tak kunjung usai. Konser band terdengar menghentak-hentak panggung. Beberapa dari pengunjung mulai mengikuti ritme irama dan bergoyang. Nina dan lainnya ikut terhanyut. Aku memutuskan untuk sedikit menyingkir karena tak terbiasa dengan bau alkohol.
Tapi tempat ini penuh sesak. Aku kesulitan saat mencari celah jalan. Salah seorang pengunjung yang mabuk tak sengaja menyenggol bahuku saat berpapasan. Aku terhuyung hampir jatuh saat dengan sigap Excell menarik tanganku.
"Hati-hati..."
Ucapnya pelan. Namun aku hanya menatap sekilas sambil melepas dengan kasar tangannya sambil berlalu pergi.
Aku sibuk mencari tempat duduk saat sebuah bangku kosong terlihat dari sini. Ah, dewi fortuna ! Kakiku pegal karena terlalu lama berdiri sejak tadi. Perutku juga terus menerus berbunyi karena lapar. Rupanya sudah lewat makan malam. Saat kembali tadi sore dari Sungai Thames, anak-anak lainnya sudah lebih dulu pergi ke restoran cepat saji didekat hotel meninggalkanku.
Ah, biasanya Excell yang selalu muncul dengan tiba-tiba sambil membawa makanan saat aku kelaparan. Tapi sekarang aku harus terbiasa mengabaikannya. Tunggu, kenapa masih saja memikirkan lelaki itu ?! Hah, kupukul kepalaku pelan. Tapi dimana dia ya. Apa dia marah ? apa aku terlalu ketus kepadanya ? aargh.
Disebelah, tampak sekelompok gadis muda. Beberapa dari mereka tengah asyik merokok yang membuatku tak nyaman. Mereka tertawa sambil sengaja terus mengepulkan asap rokoknya kearahku ! Sial. Mungkin aku terlihat kuno karena usia mereka jauh dibawahku dan bisa merokok. Hah, dasar para remaja labil !
Sebuah pesan singkat dari nomor asing membuat ponselku bergetar. Aku terlonjak senang saat membacanya. Lamaran kerja paruh waktuku di kedai langganan tempo hari sudah di ACC bos mereka ! hah, aku bersyukur sekali. Yah ! Berharap dengan begini, akan lebih mudah untuk melupakan Excell dan Sam. Baiklah, rasanya tak sabar segera bekerja disana.
Aku masih meringis kelaparan. Perutku terasa melilit. Sementara para gadis muda itu berbisik-bisik saat siluet seseorang berjalan mendekat. Mereka tampak mengagumi orang itu karena kudengar berulang kali menyebut kata-kata tampan dan seksi. Aku ikut menoleh. Bayangan lelaki tinggi berbadan tegap tengah berlari. Ditangannya membawa beberapa bungkus kotak yang ditenteng dengan hati-hati. Lelaki itu tersenyum kepadaku. Para gadis labil disebelah menatapku sinis. Mereka lalu pergi menjauh dari sini.
"Excell ?"
"Hah, akhirnya aku menemukanmu ! aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku takut sekali. Jangan pernah pergi dari tempat yang tak bisa kulihat"
Tatapnya nanar. Aku masih diam terpaku. Ia mengulurkan sebuah kotak. Excell, masih mengkhawatirkanku ?
"Makanlah. Aku tahu kau pasti belum makan"
Ia masih sehangat kemarin. Tak berubah meski berulangkali kuacuhkan. Bahkan tak segan aku berbuat kasar dan ketus kepadanya. Lelaki ini, terbuat dari apa hatinya. Ia tetap baik. Sungguh beruntung wanita yang dicintainya itu.
"Tidak, aku sedang diet"
Jawabku datar
"Hey, tidak ada diet dengan perut lapar. Makanlah... aku juga akan makan"
Excell membantu membuka kotak-kotak makanan yang masih panas sambil menyiapkan sendok dan sumpit saat melihatku tak bergeming.
__ADS_1
"Ayo, bukankah kau menyukai masakan chinesse. Lihat aku khusus memesan porsi double untuk nasimu"
Lanjutnya sambil bercanda.
Bahkan Excell tahu apa makanan kesukaanku. Ia juga begitu perhatian jika sejak tadi aku belum makan apa-apa. Excell selalu datang saat aku membutuhkannya bahkan meski aku tak pernah meminta. Bagaimana aku bisa menjauh jika ia selalu berbuat sebanyak ini. Ia masih tersenyum riang seperti biasa. Aku memandanginya yang tengah makan.
Excell hampir menyuapiku. Aku menyerah. Lagipula aku memang lapar. Gengsi tak akan memperoleh kemenangan apa-apa.
"Aku bisa sendiri !"
Excell tersenyum.
Makanan kukunyah pelan. Butir-butir nasi yang hendak kutelan tercekat ditenggorokan seiring isak suara yang tertahan. Bibirku bergetar. Bulir bening dikelopak mata yang sejak tadi menggenang, menetes perlahan.
Lelaki ini, benarkah aku menyukainya ? atau aku hanya sekedar merasa kagum karena kebaikkannya. Tapi duduk didekatnya seperti ini, kuakui membuat hatiku terasa nyaman.
"Ayo, kita kesana. Sebentar lagi pesta kembang api dimulai !"
Ia berseru saat selesai makan. Kami pun membereskan sampah lantas menuju lokasi. Aku sedikit kesusahan karena begah. Tiba-tiba Excell menarik tanganku dan berlari agar lekas sampai. Keriuhan terhenti sejenak. Aku memandangi tangannya yang menggamit tanganku. Perasaan gugup ini selalu muncul kembali. Bahkan ia masih memeganginya saat kami menghitung mundur detik-detik pergantian tahun didepan menara jam Bigben.
"...Tiga, Dua, Satu ... Happy New Year !!"
Kami semua berteriak senang saat lonceng Great Bell berdentang keras. Bunyi terompet bersahut-sahutan nyaring. Letusan kembang api besar membumbung diangkasa. Langit gelap mendadak bersinar terang menyilaukan. Bunga-bunga api itu membuncah hingar bingar. Kilatan dimana-mana tersebar diseluruh penjuru kota.
Malam ini kami dibuat takjub. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Pukul dua belas malam lewat beberapa menit, tiba-tiba Excell meraih pundakku. Kami saling berhadapan. Ia menatap lekat. Aku sampai tertegun dibuatnya. Mata yang setajam elang itu bergerak-gerak. Excell terlihat putus asa.
"Aku memang tak tahu apa salahku hingga kau semarah itu. Tapi aku akan tetap meminta maaf. Aku tak tahan melihat kita seolah orang asing dan saling mengabaikan. Jadi tetaplah bersama"
Wajahnya memandang penuh harap. Mungkin aku terlalu kejam, tapi itu yang terbaik yang bisa kulakukan untuk kebaikan kami. Tapi melihatnya seperti itu juga akan membuatku merasa bersalah. Aku memang egois, bukankah menyukai orang bukan kesalahan ? lantas kenapa aku memaksanya untuk menyukaiku ? dia berhak memilih wanita yang disukainya sendiri.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Excell terlihat bahagia. Ia hampir melompat-lompat girang. Aku masih tersenyum melihat tingkahnya yang kekanakkan. Yang lain melihat sikap kami merasa aneh.
Well, Aku tak akan lari lagi dengan perasaanku. Aku akan menghadapinya. Aku menyukainya dalam diam. Dan aku akan mengatasinya pula dalam diam. Aku tak bisa menjamin bahwa aku tak akan cemburu atau sakit hati lagi. Aku hanya berusaha mendewasakan perasaanku dengan segala prosesnya nanti.
__ADS_1
pic by google