
Aku sibuk menyusun koper mereka kedalam bagasi. Kak Joe dan istrinya turun dari lantai atas. Hana dan Hara lebih dahulu menunggu diluar bersamaku.
Si kembar seperti tak ingin pisah. Beberapa kali aku harus membujuknya naik ke kursi mobil. Melihat Kak Rose turun, ingin rasanya aku menuntaskan pertanyaan terpendam tentang uang kiriman dan parfum. Baru akan menyambutnya, Kak Joe melesat cepat kebawah. Akhirnya kuurungkan.
Masih banyak yang ingin kutanyakan padanya juga, tapi mereka seperti terburu-buru mengejar jam terbang pesawat. Tadinya aku ingin mengantar mereka ke bandara, tapi Kak Joe melarang karena sudah malam. Lagipula mungkin ia takut akan pulang nyasar seperti ceritaku tempo hari saat meneleponnya hendak pergi ke perpustakaan kota. Aku memang payah membaca peta. Padahal kala itu gmaps sudah kunyalakan.
"Kami pamit dulu ya. Jaga diri baik-baik disini. Mungkin kakak akan lebih sering kemari karena urusan kantor walaupun tidak dengan anak-anak"
Aku mengangguk. Kak Joe mengacak-acak rambutku. Aku memeluknya satu persatu, hingga giliran Kak Rose. Ia nampak tengah menjawab telepon. Aku paham, wanita itu hanya berpura-pura.
"Jangan nakal dirumah. Titip salam buat nenek ya" Mereka memang memanggil ibuku dengan sebutan nenek.
"Baik aunty. Maaf jika kami sudah merepotkan"
Aku menatap nanar. Si kembar memelukku sekali lagi. Lebih erat. Seperti masih berat berpisah. Kubenarkan mantel coklat mereka. Disampingku berdiri Sissy kucing yang kemarin dikerjai Hana dan Hara. Ia menyibak ekornya pelan. Seolah mengucapkan selamat tinggal karena ikut merasa kehilangan.
Aku melambaikan tangan saat taksi yang mengantar mereka pergi makin menjauh dari jalan, ditelan terang lampu kota yang kian meredup.
"Ayo Sissy... ah kamu sekarang berat sekali"
Aku menggendongnya masuk kedalam. Kucing betina berwarna keemasan itu kembali mengibas-kibaskan ekornya.
***
Pagi buta, aku terbangun karena suara ramai dibawah. Kulirik jam weker pink diatas meja. Masih terlalu pagi. Dengan malas setengah hati menuruni tangga. Beberapa kali aku masih menguap karena semalam mengerjakan tugas dari dosen seni.
Kulihat Eva dan Lily sibuk membuka-buka tas belanja. Sementara anak-anak lain membongkar koper.
"Tuan putri sudah bangun"
Aku hanya tersenyum menanggapi celoteh Eva sambil melempar boneka sapi putih kearahnya yang kubawa dari kamar. Ia tertawa
"Kalian berisik sekali. Mana bisa aku tidur"
Gerutuku
"Hey, nona.. apa kamu menggelar pesta disini ? Pesta apa sampai dinding ruangan ini penuh coretan lipstik"
Tanya Eva dengan selidik. Sementara yang lain ikut mengedipkan mata mengejekku.
Ah, sial. Aku lupa membersihkan coretan Hana dan Hara.
"Kalian jangan berpikir macam-macam. Keponakanku berkunjung kesini dan semua itu ulah mereka"
Mereka terbahak seolah tak percaya. Karena kesal kutinggal kembali naik ke kamar. Kuliah dimulai dua hari lagi. Selama liburan memamg tak ada hal menarik yang bisa kulakukan. Huft. Dengan lemah kutarik selimut.
Jam setengah sebelas siang. Tidak terdengar aktifitas apapun dibawah. Mungkin mereka tidur kelelahan. Aku bangun hendak membuat kopi. Rencananya hari ini hanya kuhabiskan ke supermarket biarpun bukan jadwalku berbelanja. Lagipula tidak tega menyuruh Nina dan Cindy yang baru pulang liburan meski sekarang giliran mereka.
Setelah sarapan roti gandum dengan selai seadanya, kulihat Lily menuruni tangga menuju dapur.
__ADS_1
"Yang lain masih tidur ?"
Tanyanya saat melihatku sendirian.
"Kau sendiri kenapa sudah bangun"
Kulihat ia tengah sibuk mencari sesuatu didalam kulkas.
"Yah, susunya habis"
Aku hanya mengangguk. Mulutku masih penuh mengunyah roti. Karena memang kurir susu langganan dalam cuaca begini biasa akan terlambat dua tiga hari. Kami memaklumi. Siapa sih yang mau pagi-pagi mengantar susu ditengah cuaca dingin seperti ini.
"Nanti kubelikan disupermarket"
Kataku singkat. Lily menoleh sambil tersenyum manja mengacungkan jempol. Anak itu tidak bisa tidur nyenyak kalau sebelumnya tak minun susu panas. Kukira ia akan melanjutkan tidur, ternyata ingin bermain game online saja.
"Jangan bilang saat dirumah bibinya Jenny kau juga main game"
Selidikku. Ia tertawa.
"Disana membosankan. Aku tidak betah. Kami ingin pulang tapi tidak enak dengan Jenny" ia melenguh
Menurut cerita Lily, selama hampir sepekan itu ia habiskan dirumah bibinya Jenny ditemani Nina dan Cindy. Liburan itu jauh dari harapan mereka. Karena Jenny dan Eva lebih suka pergi ke tempat seperti pub dimalam hari dan pulang saat dini hari.
Aku hanya bisa diam. Begitulah Eva. Terkadang ingin sekali menasehatinya. Tapi ia seperti anak yang tidak mau dinasehati. Kami menjulukinya ratu pesta. Hampir tiap akhir pekan ia keluar malam, pulang dengan lelaki berbeda. Tentu saja dalam kondisi mabuk
"Kamu tahu, bahkan dia pernah tidak pulang. Kami sampai merasa tidak enak dengan Bibi nya Jenny"
Aku sedikit kaget. Lily mengangguk.
"Kata Jenny, ia sudah mengajak Eva pulang karena terlalu mabuk. Ia malah menyuruh Jenny pulang lebih dulu bahkan mereka hampir bertengkar disana. Eva bilang ia bisa pulang sendiri ke rumah dengan selamat"
"Apa tidak bisa dihubungi ?"
"Bisa tapi panggilan kami tidak diangkat. Siangnya ia baru pulang"
Aku menghela nafas. Sebenarnya dulu sudah coba kuperingatkan. Tapi ia tetap bebal. Eva selalu mengalihkan topik pembicaraan. Aku bukan orang baik, tapi aku paham apa yang dilakukannya bukan hal yang bisa disebut baik pula.
Lily kembali keatas. Aku masih termenung dimeja makan. Eva turun dari kamar. Ia menguap berkali-kali.
"Ah badanku sakit semua. Sepertinya aku akan demam"
Keluhnya menghampiriku.
Aku bergeming. Ada sedikit rasa kecewa pada Eva. Tapi mau bagaimana lagi. Itu hidupnya. Mungkin ia terlalu kesulitan menghamburkan uangnya. Terlebih, seperti kata Lily, pub yang didatangi Jenny dan Eva adalah pub mahal.
Hanya orang tertentu, serta bos bos yang mampu kesana. Sudah pasti seluruh akomodasi Jenny ditanggung Eva ketika masuk ke pub itu. Karena aku yakin, memang tempat itu tujuan utama nya kesana selama liburan.
Eva memperhatikanku dari atas kebawah.
__ADS_1
"Kamu mau pergi ?"
Aku mengangguk malas.
"Oh iya, aku lupa. Soal kemarin. Ada yang kuceritakan"
"Tentang apa?"
"Temanku ingin berkenalan denganmu. Tapi entahlah, sampai sekarang ia tidak menghubungiku lagi"
Jujur saja aku sudah lupa tentang itu. Tidak penting
"Eva, kata Lily kamu pernah tidak pulang ?"
Ia gelagapan. Sambil menatapku mimik mukanya mendadak berubah cerah. Ia menggeser kursinya lebih dekat.
"Aku sebenarnya mau cerita nanti. Tapi karena kamu terlanjur bertanya ya sudah aku akan cerita semua sekarang"
Ia berhenti sejenak. Tatapannya menerawang.
"Sepertinya aku mulai jatuh cinta"
"Ha ...?"
Aku tersontak kaget. Setahuku Eva bukan tipe orang yang bisa jatuh cinta dengan satu lelaki. Yang dia tahu hanya bersenang-senang dengan berganti pria.
"Tapi dia berbeda. Malam itu setelah dari pub, ia ingin mengantarku pulang. Karena aku malas setelah berdebat dengan Jenny, kuputuskan untuk ikut kemana saja dia mau membawaku. Tapi apa yang dilakukannya. Ia malah memesankanku sebuah kamar hotel dan kami tidur terpisah sementara ia disofa"
Ucapnya dengan mata berbinar
"Kamu kejar lelaki itu?"
Ia menggeleng
"Saat bangun, kamar sepi. Nampan sarapan sudah tersaji dimeja. Ada surat darinya. Kamu tahu apa isinya ? JAGA DIRIMU BAIK-BAIK. Ah, bagaimana aku tidak jatuh hati dengan lelaki manis seperti itu. Ia sungguh sangat berbeda dengan lelaki brengsek lain yang biasa kutemui di pesta"
Eva bercerita dengan sangat antusias.
Aku ikut tersenyum mendengarnya. Semoga saja itu akan membawa hal baik bagi dirinya.
"Aku berangkat dulu"
Ucapku kemudian.
"Mau kemana ?"
"Hanya ke supermarket sebentar berbelanja"
"Haruskah aku ikut ? Setidaknya aku ingin menjadi wanita pada umumnya yang berbelanja sayur dan memasak. Ah iya, lelaki itu nampak dewasa. Mungkin saja dengan begitu ia akan tertarik padaku"
__ADS_1
Aku tertawa. Eva belanja sayur ? Memasak ? Giliran belanja bulanannya saja ia selalu absen dan mempercayakan semuanya padaku. Belum lagi ide memelihara kucing ras australi, yang pada ujungnya juga aku yang disuruh merawat karena ia terlalu ribet dengan hal seperti itu. Ibarat kata, mengurus dirinya sendiri saja ia sudah nampak kesulitan. Lagipula kenapa harus repot, orang tuanya kaya. Hidupnya serba instan karena ada pembantu.
Sebelum bicaranya bertambah ngawur, kutinggal bersiap memakai sepatu boots. Ia berteriak-teriak kuacuhkan sambil tertawa. Benar, rumah ini selalu ramai dengan suara Eva. Aku tersenyum geli melangkah keluar.