JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
RIAK-RIAK RASA


__ADS_3


Jalanku gontai memasuki kedai chicken and chips tak jauh dari flat. Hanya berjarak beberapa blok saja. Astaga aku sangat kelaparan. Sengaja kutolak tawaran Sam karena sebelum pulang aku ingin mampir kesini terlebih dahulu. Tak langsung memesan, kurebahkan bahuku disandaran kursi. Lelah sekali. Aku dikagetkan suara yang sangat kuhafal.


"Kau baru saja berkencan dan pulang membeli makanan. Hahaha. Apa lelaki itu tak menawarimu makan malam"


Siapa lagi kalau bukan si kunyuk Excell. Aku terkejut ia berada disekitar sini.


"Apa kau juga hantu yang selalu muncul seenaknya dan dimana saja , hah ?!"


Ia terkekeh.


"Kau pulang ? Syukurlah. Kukira akan ikut ke flatnya"


Aku melempar tempat tissu kearah kunyuk tersebut.


"Hey ! Aku bukan wanita seperti itu !"


Sepertinya ia begitu mahir membuat orang geram. Mataku melotot. Ia tersenyum senang. Dasar psikopat !


"Baiklah. Aku minta maaf. Saat kau pergi dengannya tadi sore aku sempat khawatir. Berkali-kali kucoba menelepon tapi tak ada jawaban"


Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Benar. Puluhan panggilan darinya.


"Kau khawatir padaku ??"


Aku menatapnya, merasa ganjil.


Ia berdehem beberapa kali. Salah tingkah dengan ucapannya sendiri.


"Bukankah kau ingin makan ? pesanlah makanan kesukaanmu nanti kubayar" jawabnya mengalihkan perhatian.


"Hey ! kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa khawatir ? Apa kau cemburu ?!"


Kulihat mukanya merah padam.


"Aku ?! cemburu denganmu ?! hahaha jangan mimpi ! Lagipula kenapa kau selalu membentak ? apa sekasar ini bersikap dengan seniormu !"


"Kenapa kau jadi sensitif begini ? aku kan hanya ber**tanya !"


Kenapa dia menanggapinya serius. Aku juga tahu diri. Sama sekali tak terpikir jika ia akan bereaksi seperti ini. Kenapa dia galak sekali. hiks.


Lama kami ditelan hening. Aku kesal dengan perlakuannya yang arogan. Dasar anak orang kaya ! mereka muncul dan mengganggu sesukanya. Giliran ditanya balik marah-marah.


"Sudah sana pesan sebelum aku berubah pikiran"


Ucapnya lembut.


"Selera makanku sudah hilang"


jawabku ketus. Gengsi. Tapi cacing didalam diperut berteriak kelaparan. Bunyinya lumayan nyaring. Ah, Sial. Si kunyuk didepanku itu pasti juga mendengar.


"Sepertinya suara petir"


Ujarku pelan. Berharap tak mendengar. Perutku berbunyi lagi.


"Ah, suara rolling door sebelah"


Sial. Sial. Sial. Aku berusaha menyembunyikan suaranya.


Ia tertawa.


"Kau yakin tak ingin makan ?"


Aku menyerah.


Kuminta kartu atm nya, ia seperti berat memberikan. Dengan sekali sahutan, kartu sakti itu sudah berpindah ditanganku.

__ADS_1


"Kalau urusan begini kau memang jagonya ya !!"


Tak kugubris. Aku dengan santai memesan makanan apa saja yang kusuka. Kapan lagi ada tawaran menguntungkan seperti ini. Excell kaget melihat isi nampanku sangat penuh dengan makanan.


"Hey ! Aku menyuruhmu membeli kesukaanmu. Bukan memborong seisi kedai. Astaga ! Apa kau seperti orang yang akan mati kelaparan !"


Ia berulang kali menepuk jidatnya. Aku terkekeh. Nah, inilah yang dinamakan makan. Sejak tadi sore, salad hanya menyiksaku dengan rasanya yang aneh.


Melihatku makan ia sepertinya tertarik. Beberapa kali kulihat si kunyuk itu menelan ludah.


"Kau mau ?!"


"Tidak ! Aku tak mau jadi serakus dirimu"


Ejeknya sinis.


"Jangan menatapku terus-terusan seperti itu. Lama-lama kau bisa suka padaku"


Excell tergagap saat aku memergokinya yang dari tadi hanya memperhatikanku. Sambil membuang muka ia pura-pura berdehem. Kenapa mendadak grogi begitu. Entahlah, yang penting aku tak kelaparan malam ini.


Jam sembilan kurang kami keluar dari kedai. Selama itu pula Excell hanya memesan kopi dan menungguiku makan.


"Ah kenyangnya..."


Kataku riang sambil mengusap-usap perut yang terasa penuh.


"Baru kali aku merasa ngeri melihat seorang wanita makan seperti beruang yang akan berhibernasi"


Excell tersenyum meledek.


Aku mengurungkan niat untuk membalasnya. Perhatianku tersita oleh sesuatu. Langkahku sedikit mundur kebelakang, kuperhatikan penampilannya dari atas kebawah.


"Ke... kenapa ?" Tanyanya grogi.


"Sepertinya pakaianmu masih sama saat dikampus tadi. Jangan bilang kau belum pulang dan sengaja menunggu dua jam disini"


Ia terpojok. Kulihat tas gendongnya pun sama dengan yang digunakannya kuliah sore tadi.


"Pulanglah.. kau lelah sekali hari ini"


Excell mendorongku berjalan menuju flat. Sejak kapan ia tahu aku tinggal disekitar sini.


Tiba-,tiba terdengar suara beberapa orang memanggilku dari belakang kami. Cindy dan Nina ! Sepertinya juga baru pulang. Mereka terlihat masih berbunga-bunga. Apakah berkencan bisa membuat orang sebahagia itu ? aku iri sekali.


"Wah, ada senior"


Cindy dan Nina menyapa riang, begitu senang melihat Excell disana. Bukankah mereka sudah punya pasangan ? kenapa masih bersikap genit seperti itu.


"Egh.. hai.. "


Excell terlihat salah tingkah. Aku tahu, ia hanya berbasa basi karena tahu Cindy dan Nina adalah temanku. Biasanya ia tak pernah seramah itu dengan wanita.


"Kenapa senior bisa disini ? apa apartemen kakak tak jauh dari sini ?"


Tanya Nina dengan lembut. Padahal kami tahu dirumah suaranya lantang seperti rock and roll


"Ah tidak, hanya mengunjungi seorang teman"


Teman ? apa aku temannya ? enak saja ! Cindy dan Nina melirikku. Mereka tersenyum penuh arti. Apa-apaan ini. Kenapa bersikap begitu


"Hey, kau tak lupa bukan ajakanku besok ?"


Cindy membuka percakapan saat kami berempat berjalan menuju flat bersama.


"Tentang apa ?"


aku memang tak ingat apa-apa

__ADS_1


"Ah kau memang pura-pura lupa ! besok siang temani kami ya. Malvin masih punya dua tiket gratis dari pamannya. Sayang kalau hangus. Aku sudah janji akan mengenalkanmu dengan temannya"


Aku terkejut


"Kencan buta ?!"


Sahutku dan Excell hampir bersamaan.


Cindy mengangguk.


"Tadi sore kan sudah kuberitaku. Lagipula besok kita free tidak ada jam kuliah. Teman Malvin juga sudah setuju. Tenanglah, besok kau tak akan sendirian. hehehe"


Cindy dan Nina terkekeh. Mereka memang tak suka melihatku hidup tenang. Mereka selalu menilai Me Time ku membosankan karena hanya mendekam dan seharian tidur di kamar.


"Hey ! tapi aku kan belum bilang setuju !"


Ujarku marah-marah. Cindy dan Nina paham. Sebelum sepatuku melayang dan menjadi sasaran amukan kemarahan, mereka lari terbirit-birit sambil terbahak. Ah, sial ! mereka lolos.


"Kau kencan buta ??"


Excell masih menemaniku berjalan. Tentunya dua wanita tadi sudah lebih dahulu sampai di flat, setelah berhasil memaksaku untuk ikut rencana konyol mereka.


"Entahlah. Padahal aku belum bilang setuju"


"Jangan, tidak usah !"


Ujarnya mantap


"Kenapa ?"


Alis tebalnya bergerak-gerak. Ia seperti bingung mencari jawaban.


"Aku yakin ini tak akan berhasil. Sudah tidak usah saja. Teman kencanmu pasti akan syok melihat nafsu makanmu yang besar"


Jawabnya sambil tertawa. Aku menginjak sepatunya. Ia menjerit kesakitan. Biar saja !


"Hey, semakin kau melarangku, semakin malah membuatku ingin ikut. weeek !"


Aku menjulurkan lidah karena kesal mendengar ocehannya.


"Kau memang susah diberitahu ya. Bagaimana jika dia bukan lelaki yang baik ?! kau tak pernah melihat berita kriminal di tivi hah ?!"


"Daripada dengan nya, aku lebih takut berada disini bersamamu !"


"Apa ?! kau pikir aku p**reman ?!"


Aku tertawa melihatnya mengomel.


"Lagipula mau menculikku ? pasti ia akan berpikir ribuan kali jika tak ingin bangkrut"


"Hemm, benar juga. Baru kali ini aku kasihan dengan penculik. Hey !! awas !!!"


Aku terkejut mendengarnya berteriak. Sebuah motor hampir menyerempetku di gang kecil ini. Dengan spontan tangan Excell menarikku kearahnya. Nyaris terlambat sedikit saja, tubuhku bisa terlempar ke aspal.


Ia mendekapku erat. Nafas lelaki itu masih tersengal. Aku terpaku. Jantungku seperti meledak. Excell melepaskan tangannya. Lagi-lagi ia salah tingkah. Sementara aku masih bingung dengan apa yang terjadi barusan.


"Sudah kau masuk duluan, jangan menawariku mampir. Aku bukan lelaki gampangan hehehe"


Excell ingin meredakan kegugupan kami. Tapi ia memang tak bakat melucu. Canggung sekali.


Setelah mengucapkan itu, ia mencubit pipiku. Kejadian ini cepat sekali. Ia pun pamit. Sambil berjalan menjauh ia terlihat sangat senang. Aku masih syok didepan pintu.



Mendadak pintu terbuka. Kulihat Lily mengenakan sheetmask berwarna putih diwajah. Aku hampir pingsan karena kaget. Masih setengah sadar, rupanya ia baru terbangun karena bermimpi mendengar suara Excell diluar. Kutinggalkan ia sendirian sambil diam-diam masuk kamar.


Hah. Kurebahkan tubuh dikasur sambil memegangi pipi. Kenapa rasanya aneh. Hatiku sedikit berdebar. Ah mungkin aku kecapaian karena kegiatan hari ini terlalu padat. Aku berlari ketoilet. Sambil mencuci wajah dengan sabun muka, kuusap kasar. Tapi setelah dibasuh air, perasaan itu masih ada. Kuulangi sekali lagi siapa tahu kali ini berhasil. Dan, masih saja seperti sebelumnya !

__ADS_1


Huh, Aku bingung sekali... perasaan apa ini... Kutatap pantulan dicermin toilet, kenapa wajahku bersemu merah.


pic by google


__ADS_2