JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
DEBARAN HATI


__ADS_3

Jam berdentang tepat pukul dua belas malam. Aku masih terjaga. Tak ada yang tahu jika hari ini ulang tahunku. Biasanya, jika dirumah... ibu adalah orang pertama yang akan mengecup keningku ditengah malam buta dan berdoa untuk kelancaran semua urusan hidup diusiaku yang baru.


Tapi ditempat rantau, aku hanya orang asing yang mengadu nasib. Tak penting bagaimana merayakan dengan kesepian. Sekuat apa bertahan, nyatanya rasa sunyi ini tak bisa kusembunyikan. Aku menelan seluruh ego berada dinegeri yang jauh dari tempat tinggalku. Bahkan disaat seperti ini aku rindu bubur merah buatan ibu yang akan tersaji disetiap pagi, pada hari kelahiranku ditiap tahunnya. Tapi tidak kali ini.


Airmataku mengalir deras. Mengurai semua kerinduan yang terasa sesak. Sedu sedan yang hanya bisa kubagi sendiri. Aku menyapu bulir-bulir bening itu kala seseorang mengetuk pintu kamar. Siapa yang selarut ini mencariku.


Begitu pintu terbuka, terlihat anak-anak berkumpul didepan kamar. Melihatku yang kebingungan, Cindy, Lily, dan anak-anak lain menumpahiku tepung terigu dan telur. Sebagian lagi meniup terompet mini. Aku benar-benar sangat terkejut dibuatnya.


"Happy birthday ..."


Ucap mereka kompak sambil tertawa. Tak lupa Nina mengabadikan momen ini dengan video ponsel.


Hah ! Aku sangat berantakan. Piyama kotor penuh tepung dan lelehan bau anyir telur. Mereka senang rupanya melihatku begini. Jenny maju membawa satu loyang kue tart dengan lilin diatasnya.


"Make a wish"


Pinta yang lain.


Sambil menutup mata, tangis mengalir begitu saja tak berhasil kubendung. Aku terharu sekali. Tak pernah terpikir semua ini akan terjadi karena tak berharap pula diperlakukan begini. Bagiku, bisa diterima sebagai bagian dari mereka aku sudah sangat bersyukur.


Setelah membuat permintaan, Jenny menyuruhku untuk segera meniup lilin karena tangannya sudah pegal memegangi kue sejak tadi. Kami tertawa mendengar omelannya. Setelah prosesi ala kadarnya tak lupa kami berfoto bersama. Ah tentu mataku bengkak karena banyak menangis. Jujur saja aku masih tak menyangka jika mereka menyiapkan surprise semacam ini.


Lily mengambilkanku handuk. Aku lanjut membersihkan diri di toilet. Sementara yang lain sibuk memakan kue dikamarku. Sial memang, saat kembali hanya tersisa beberapa potong saja. Sebenarnya yang sedang berulang tahun siapa sih ? Aku mengumpat geli.


Setelah mengeluh kenyang, mereka satu persatu pamit tidur karena besok ada kuliah pagi. Aku memaklumi, tak lupa kuucapkan terima kasih untuk hari ini. Cindy masih dikamar menemaniku.


"Kenapa kalian repot begini"


Kataku saat kami tiduran dikasur.


"Ah tak apa-apa. Lagipula mahasiswa rantau sepertimu yang paling jauh dari keluarga. Kami bisa menengok sebulan sekali ke kota sebelah. Tapi kau ? Tak ada siapapun keluargamu disini"


Aku tersenyum.


"Nanti siang ikut ya. Please. Aku memang sengaja mengajakmu jalan-jalan karena ini hari ulang tahunmu. Aku ingin kau terkesan nanti"


Aku tak kuasa menolak. Mereka memang sudah begitu baik kepadaku.


"Ohya, aku penasaran. Kenapa kau bisa bersama senior tadi ?"


Ia bangkit memandangku penuh selidik.


"Kami tak sengaja bertemu dikedai dekat gang"


"Tapi aku merasa aneh dengan sikapnya. Kenapa ia sangat terkejut mendengarmu kencan buta ?"


Aku menggeleng.


"Sudahlah ayo tidur saja. Tolong matikan lampunya"


Cindy cemberut.

__ADS_1


"Ah, kau tak seru !"


Ia pun menurut sembari menarik selimut.


Rupanya hari yang tak kuharapkan akhirnya tiba. Jam sepuluh pagi Nina membangunkan kami. Jenny dan Lily sudah berangkat kuliah pagi. Aku masih mengantuk memeluk guling, sementara ia sudah ribut berdandan. Rencananya, kami akan berangkat jam dua siang selepas pergantian shift pacar Cindy.


"Aduuuuuuh !"


Nina melempar boneka sapi saat melihatku hampir tertidur lagi. Dengan malas aku menuju kamar mandi. Cindy kembali ke kamarnya bersiap-siap. Padahal masih beberapa jam lagi, tapi mereka sudah seheboh ini.


Jam setengah dua siang, suara klakson sebuah mobil berbunyi didepan rumah. Oh, rupanya pacar mereka sudah datang. Cindy buru-buru turun sementara tangan kanannya masih membawa catok rambut. Padahal ia berias sejak aku mandi tadi. Sampai sekarang masih terlihat kalang kabut menyiapkan diri.


Aku mengintip dari celah gorden. Sedikit terkejut melihat mobil yang terparkir di muka rumah. Mini bus lawas bercat kuning pastel. Kendaraan itu terlihat tua dan usang. Papan nomor platnya saja nampak ringkih. Apa mereka yakin mobil itu akan baik-baik selama diperjalanan nanti ?


Nina menjerit. Ia memijit keningnya sendiri setelah syok melihatku hanya mengenakan kaos panjang dan jeans.


"Kenapa pakai baju itu ?! Apa kau mau ke kampus ?!"


Aku melongo. Cindy dan Nina memaksaku duduk dikursi depan kaca rias. Mereka mendandaniku sambil mengomel. Cindy menyelinap ke kamar Lily. Apalagi jika bukan meminjam baju. Sementara Nina memoles wajahku. Apakah ini tidak berlebihan.


"Kami hanya akan kencan buta bukan ?"


"Sudah diam saja ! Penampilan adalah hal pertama yang dilihat lelaki !"


Aku menutup mulut. Siang ini mereka terlihat galak sekali.


Cindy kembali ke kamar dengan membawa beberapa potong model dress namun tetap casual. Kemudian ia memilih baju yang kiranya akan cocok kukenakan nanti. Lumayan juga seleranya.


Cindy berlalu.


"Beres. Tinggal berganti pakaian saja. Hmm.. kau cantik juga rupanya. Kenapa tidak pernah berdandan ?"


"Aku hanya sering pergi ke kampus. Kenapa harus memakai riasan ?"


Nina tampak manggut-manggut. Tak lama ia memukul kepalaku gemas dengan sisir.


"Hey paling tidak kau harus mengenakan lipstik, Nona ! Ah susah bicara denganmu. Kalau sudah ganti baju turun ke bawah ya. Kami tunggu"


Aku meringis.


Diruang tengah tiga orang lelaki sedang bercakap-cakap dengan Nina dan Cindy.


"Ah itu dia. Tuan putri sudah turun"


Seru Cindy saat melihatku turun. Mereka tersenyum. Ia lalu mengenalkanku pada Malvin pacarnya, David pacar Nina. Serta seorang lelaki yang ia gadang-gadang sebagai calon teman kencan butaku, Adam.


"Kau cantik sekali"


Adam memujiku. Ia mengulurkan tangan memperkenalkan diri, kubalas sekenanya. Aku kaget saat ia berusaha mencium punggung tanganku, langsung kutarik spontan. Sepertinya ada yang salah dengan lelaki ini. Bagaimana bisa ia tak sungkan berbasi basi. Empat orang yang menyaksikan disana tertawa menggoda kami.


Dari segi wajah dan penampilan lelaki itu memang tergolong lumayan. Dari Cindy aku tahu ia anak jurusan ekonomi di kampus kami. Rambutnya coklat sedikit berombak. Matanya jernih. Pantas berulang kali Cindy meyakinkanku jika lelaki itu tak buruk.

__ADS_1


"Baiklah kita berangkat sekarang ?"


Sela Malvin.


Kami pun keluar menuju minibus didepan. Entahlah aku akan dibawa kemana. Cindy dan Malvin duduk didepan, Nina dan David ditengah. Sementara aku dan Adam di jok belakang.


Adam masih sibuk memandangiku. Jujur saja aku dibuat risih olehnya. Sangat jelas ia tipikal lelaki yang aktif dan sedikit mesum. Aku sampai harus menempatkan tas diantara kami sebagai pembatas karena beberapa kali Adam sengaja memepet dudukku padahal tempat disebelahnya masih luas.


Setengah kesal, mobil tua ini tak segera jalan. Aku membuka jendela kaca karena terasa pengap. Deretan kursinya kotor dan terdapat sampah kaleng bir. Dikanan kiri sekat pintu.


Sebenarnya tak masalah jika ini mobil tua asal terawat dengan benar. Tapi pada kenyataannya sangat tak terurus. Mataku menangkap disudut jok, sebuah kain menjuntai mirip pakaian dalam wanita terdapat disana. Hiii... menjijikkan. Entah mobil ini sudah digunakan untuk apa saja oleh pemiliknya.


Malvin tampak kesulitan menghidupkan starter mobil. Sekalinya berhasil, baru sedikit bergerak mati lagi. Jalannya pun tersendat-sendat. Ia lantas turun mengecek mesin. Dari raut wajahnya, sesuatu yang tak baik tergambar jelas.


Ia kembali ke kursi depan sambil mengabarkan jika acara hari ini mungkin gagal karena mobil tak mau menyala. Mereka mengeluh kecewa. Terurama dua wanita didepanku yang sudah berdandan habis-habisan. Bahkan mereka terlanjur meminjam kamera milik Jenny kemarin.


Dari jauh sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat disamping kemudi. Nina melonjak senang saat kaca mobil tersebut dibuka.


"Butuh tumpangan ?"


Kemunculan Excell yang tiba-tiba, mengagetkan kami. Ia bak pahlawan kesiangan. Baru kali ini aku bersyukur mengetahui ia datang, jujur saja ada nyaman jika ada dia diantara orang-orang asing ini.


"Senior ??"


Seru Cindy dan Nina bersamaan. Ada rasa tak suka diwajah pacar-pacarnya.


Sambil melepas kacamata hitam, Ia turun lalu melongokkan kepalanya dari jendela kaca. Excell melirik kebelakang melihatku. Ia tersenyum. Wajahnya berubah aneh saat menatap lelaki disebelahku.


Tak ada pilihan lain, kami harus pindah mobil. Excell membukakan pintu depan untukku. Aku sedikit tersanjung. Sebenarnya aku sungkan berada disini, sedangkan teman-teman lain dibelakang. Terdengar riuh suara mereka mengomentari desain mobil mewah yang dilengkapi fasilitas penghangat udara ini.


Excell yang kulihat saat ini sangat berbeda dengan ia yang kutemui di kedai kemarin. Lelaki yang duduk disampingku ini nampak keren dengan kemeja berwarna biru laut itu. Padahal di kampus ia hanya mengenakan kaos oblong.


Ia tertawa kecil karena sejak tadi aku kesulitan mengenakan sabuk pengaman. Aku memang jarang naik mobil. Itupun hanya beberapa kali saat menumpangi mobil milik Kak Joe atau pun taksi.


"Sebentar ..."


Katanya kemudian


"Ha ?"


Aku masih tak mengerti. Ia melepas sabuk pengamannya lalu mendekat. Aku sedikit mundur karena kaget. Tangan kokoh itu lalu melingkar, merengkuh selt belt yang ada disebelah kiriku. Jantungku berdegup kencang. Bahkan lehernya yang putih terlihat jelas didepan mata. Aroma wangi dari parfumnya menyeruak. Menghirupnya memberiku sensasi aneh.


Excell menoleh. Ia terlihat lebih tenang. Tak gugup seperti sebelumnya sambil terus memandangiku lekat. Tubuhku terasa kaku tak bisa menghindar. Kini, wajahnya tepat didepan wajahku sekarang. Kami diam saling menatap. Matanya yang cokkat bergerak-gerak menghujam jantung. Seolah waktu terhenti beberapa saat. Dadaku berdebar hebat. Hidungnya yang mancung hanya beberapa centi dari hidungku. Sangat dekat. Hembusan nafasnya terasa menerpa pori-pori muka.


Egh..


Aku melengos sebelum anak-anak yang lain menyadarinya. Excell berdehem beberapa kali. Ia kembali pada posisinya semula bersiap menyetir.


Sejak kejadian semalam saja aku masih grogi setengah mati. Hari ini perasaan asing itu malah terulang kembali. Jujur saja, bertengkar dengannya lebih menyenangkan daripada harus merasa canggung seperti ini.


Tapi kenapa tiba-tiba Excell muncul diantara kami ? hal itu membuatku yakin jika ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Lelaki itu pasti sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2