
Sepanjang perjalanan anak-anak yang lain bernyanyi riang. Tapi tidak denganku. Kejadian tadi benar-benar sedikit menggoyahkan pikiran. Ingat ! Lelaki kunyuk itu hanya musuh. Hati ini berdebar karena gejala hypotermia tentu saja efek udara begitu dingin. Yah ! benar ! Lalu alasan apalagi yang tepat selain itu ?! jatuh hati ? hahaha. Konyol ! Tidak mungkin ! Itu salah. Bukan seperti itu !
Aku terkejut saat kami melewati papan penunjuk kearah kota London. Mobil ini lantas mengikuti jalur yang tersedia disana. Apa kami akan ke London ? Kenapa bepergian jauh ?! walau hanya berjarak sekitar dua jam dari tempat kami, aku sedikit keberatan. Tapi bersama mereka setidaknya sedikit tenang. Lagipula Excell dan Malvin berasal dari kota ini, tentu kami tidak akan kesulitan atau tersesat selama disana.
Malvin memang berencana mengajak kami pergi ke Winter Wonderland yang terletak di Hyde Park.
Tempat pertunjukkan tahunan yang hanya digelar saat musim salju tiba. Dari yang kudengar festival disana juga luar biasa. Kebetulan Paman Malvin memiliki tiket bonus dari perusahaan untuk memasuki beberapa wahana. Sayang bukan jika dilewatkan begitu saja ?
Hari menjelang sore saat mobil memasuki Kota London. Kami disuguhi bangunan berjajar megah dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Aku takjub berada di kota metropolitan itu. Kota yang dinaungi monarki kerajaan, dengan geliat indah Sungai Thames disepanjang wilayah tersebut.
Hanya bisa takjub. Itulah ungkapan lumrah bagi orang yang baru menginjakkan kaki di kota ini. Lampu-lampu jalan nan artistik, mulai menyala terang. Kehidupan modern yang gagah. Saling bersambut dengan pola pikir masyarakatnya yang ikut maju. Dari dalam kaca mobil, aku masih berdecak kagum.
Dikiri kanan yang kami lewati, terdapat banyak pusat perbelanjaan. Hotel-hotel mewah. Pemandangan sebuah ibukota pada umumnya yang begitu rancak dan hidup. Orang-orang berlalu lalang. Begitu tertib dan terlihat nyaman. Tak heran ini tempat ini menjadi sasaran utama bagi para pelancong yang mengunjungi Britania Raya.
"Apa kau senang ?"
Excell membuka percakapan. Tampaknya ia penasaran kenapa mataku tak lepas dari jendela kaca mobil. Sementara yang lain tertidur dibelakang.
"Aku tahu London adalah salah satu ibukota besar didunia. Tapi aku tak menyangka jika kota ini seramai ini"
Mataku menyapu para turis manca yang asyik melenggang disepanjang citywalk.
"Welcome to London"
Ujarnya sambil tersenyum menatapku
"Menjelang libur tahun baru seperti ini sudah biasa jika jalanan padat dan macet. Jadi jangan heran"
__ADS_1
lanjutnya kembali. Aku hanya mengangguk.
"Dimana rumahmu ? Kata teman-teman kampus keluargamu tinggal di kota ini ?"
Excell terkejut. Ia hampir menabrak sebuah taksi. Anak-anak dibelakang ikut terbangun karena kaget. Aku sendiri juga tak kalah senam jantung.
"Ma...maaf"
Ucapnya pelan.
"Sepertinya senior capek karena menyetir sejak tadi. Sebelum ke lokasi kita makan dulu saja"
Usul Nina dari belakang. Yang lain ikut mengiyakan karena sejak tadi kami belum makan apapun. Excell mengangguk.
Satu hal yang baru aku ketahui dari mereka, London adalah negara multikultural. Tak heran banyak sekali restoran India bertebaran disana.
"Ah, hangat sekali disini"
"Thanks..."
"You're welcome"
Ia tersenyum manis. Malvin dan yang lain menggoda kami lagi. Kulirik Excell wajahnya masam. Tak kusangka ia segera merebut kursi yang hendak diduduki Adam disebelahku. Sementara disamping kananku ada Nina. Wajahnya yang tengil merasa menang. Adam mengumpat pelan.
"Kalian ingin makan apa ?"
Cindy bertugas mencatat menu makanan yang akan dipesan dikasir untuk kami.
"Aku mau burger chesse, wraps chicken, kentang goreng, dan... aduuuhh!"
__ADS_1
Nina melotot menginjak kakiku.
"Jangan kacaukan kencan butamu ! apa yang akan Adam pikirkan jika makanmu sebanyak itu !"
Ancam Nina.
Aku meringis saat mereka bertanya apakah aku baik-baik saja. Excell tersenyum mengejek saat tahu aku hanya memesan ayam goreng tanpa kulit. Sialan, hiks.
"Sayang, bukankah rumah pamanmu ada disini?"
Cindy memulai percakapan. Dari info yang kudengar Malvin berasal dari Manchester. Tapi sejak SMA, ia ikut pamannya disini.
"Benar, tapi mereka sudah pindah tugas. Rumah itu hanya rumah sewa, jadi sekarang sudah berganti pemilik"
"Yah sayang sekali. Kalau masih kan kita bisa mampir"
Sahut yang lain.
"Senior, bukankah rumah keluargamu juga berada disekitar sini ?"
Excell hampir tersedak mendengar pertanyaan Nina.
"Benar senior, bolehkah kami mampir ? Ah aku ingin tahu seperti apa rumah orang kaya"
Lanjut Cindy.
Excell pun beralasan jika rumahnya sedang ada pemugaran dibeberapa bagian. Menurutnya tentu hal ini akan membuat mereka tak nyaman dengan kondisi rumah yang sedang diperbaiki. Sementara yang lain menerima penjelasannya itu, tapi tidak denganku.
Entahlah, aku merasa ada yang ia sembunyikan dari kami. Seperti kejadian di lampu merah tadi. Excell sama terkejutnya saat ini. Apapun dibalik itu semua, sungkan rasanya bertanya lebih jauh. Mungkin ia sedang kabur setelah membawa warisan ayahnya dan kini buronan, atau menggadaikan barang-barang mewah dirumahnya. Ya, si kunyuk itu memang cocok sekali dengan tuduhan tersebut. Aku membayangkannya sambil menahan tawa.
Pic : by google
__ADS_1