JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
ADALAH SAM


__ADS_3


Lelaki itu bernama Samuel. Ia bilang lebih nyaman jika hanya dipanggil Sam. Kuliahnya terhenti karena satu hal sehingga harus mengambil cuti. Hanya itu saja informasi yang bisa kudapat. Sementara aku yang bodoh terlanjur banyak bicara. Sam memang tipe orang yang pandai memancing obrolan. Siapapun pasti akan nyaman berbincang dengannya. Padahal aku bukan orang yang bisa cepat beradaptasi dengan teman baru. Terutama laki-laki.


"Mau bermain bowling?"


" Tapi aku tak bisa"


"Ayolah, ada aku. Apa kau mau liburanmu berakhir membosankan begitu saja"


Justru karena ada kamu Sam. Aku yakin akan mengacaukan semuanya.


Aku tertawa. Sepertinya aku memang sudah bercerita kepadanya terlalu banyak. Termasuk cerita menolak ajakan berlibur teman-teman dan memilih untuk diam dirumah.


"Baiklah, tapi bagaimana dengan belanjaanku ?"


"Tenang saja. Kita mampir dipenitipan temanku"


"Jauhkah ?"


"Hanya beberapa blok dari sini"


Aku mengangguk setuju. Ia nampak senang. Aku sudah lupa bahaya apa yang mungkin bisa mengintaiku didepan. Yang jelas sementara ini aku percaya pada Sam. Ia terlalu tampan untuk berubah menjadi joker.


Kami keluar dari mall, berjalan beriringan menuju tempat bowling. Sam menawarkan mengendarai motor temannya saat berada dipenitipan. Aku menolak. Anggap saja aku bisa memandangi dan menghabiskan waktu dengannya lebih lama.


Sampai ditempat bowling. Aku mengamati ruangan itu. Tidak terlalu ramai seperti bayanganku. Hanya terdapat dua kumpulan remaja tanggung bersama rekan-rekannya. Aku menunggu Sam. Ia tengah mengurus pembayaran dikasir. Kelihatannya lelaki itu nampak akrab dengan pegawai wanita disana meski ia mengaku baru pertama kali kesini.


Aku pura-pura melihat pengunjung yang sedang bermain, padahal ekor mataku tak lepas dari Sam dan wanita didepannya. Apa dia selalu begini ? Apa ia bisa begitu cepat akrab dengan orang lain ? Apa ia menggodanya ? Huh ! Belum ada setengah hari kenal dengan Sam, bagaimana bisa hatiku sepanas ini.


"Maaf membuatmu menunggu"


"Tidak .. santai saja"


"Kamu ingin bowling menggunakan mantel dan sepatu boots ?"


Sam tertawa kecil.

__ADS_1


Ah sial aku lupa. Buru-buru aku melepasnya. Karena grogi pada bagian legan agak tersangkut, sehingga aku nampak kerepotan sendiri. Salahku meminjam mantel Lily yang ukurannya sedikit pres dari tubuhku. Lily memang mungil. Tiba-tiba Sam membantu.


Dari belakang ia meraih mantelku. Hatiku berdesir. Aku maju, sedikit membuat jarak. Tak butuh waktu lama mantel itu diloloskan dengan mudah. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku malu sekali. Ia pasti berpikir berat badanku naik dengan cepat sehingga membeli mantel baru yang sesuai ukuran saja tidak sempat.


"Waw... ramai sekali ya hari ini. Hahaha"


Kataku coba menutupi rasa grogi.


"Tidak juga. Biasanya tempat seperti ini penuh dihari libur"


Aku tercekat. Sial. Tak lama kulirik ia mengambil bola setelah berganti sepatu. Lelaki tampan itu mengambil sikap sempurna. Berlari pelan, lantas meluncurkan bola dengan indah. Bak atlet profesional, STRIKE !


Riuh area itu, seakan redam tak terdengar. Semua pikiranku terfokus pada Sam. Beberapa anak remaja perempuan yang sedang bermain disana, ikut melihatnya sambil berdecak kagum. Ku pelototi mereka yang saat beralih melihatku seperti tak suka.


"Kamu mau mencoba ?"


Tanya Sam mengagetkan


"Hah ?.. aku.. ?"


Sam mengangguk. Baiklah akan kucoba. Lagipula hanya melempar bola apa susahnya. Dengan percaya diri aku mengambil salah satu bola disana. Eeggh... berat juga ternyata. Bagaimana bisa orang-orang dengan mudahnya melempar bola seberat ini seperti tak ada beban.


"Oh tidak. Hehehe"


Kulirik sekumpulan anak-anak itu. Mereka juga terlihat hebat. Jadi rasanya aku pun bisa. Hmm.. tarik nafas. Tinggal sedikit melompat dan ... aargh. Jangankan meluncur dengan sempurna. Bolaku menggelinding tak beraturan. Satupun tak mengenai sasaran.


Baiklah, akan kucoba lagi. Lagi. Dan lagi. Tunggu, sekali lagi. Sudahlah.. sama saja tak berhasil. Nafasku terengah-engah. Peluh membasahi keningku bahkan disaat udara sedingin ini aku bisa berkeringat. Berkali kucoba, berkali pula gagal. Kenapa susah sekali. Apakah Sam melihat ini. Tentu saja. Menyetujui bermain bowling sama saja mengantarku bunuh diri disini. Aaargh bagaimana ini.


Saat ingin melempar untuk kesekian kalinya, seseorang menahan bola ditanganku. Seseorang yang berdiri tepat dibelakangku lagi. Dadanya yang bidang itu seolah akan merengkuhku. Parfum dari tubuhnya menyeruak begitu maskulin. Jantungku berdegup kencang. Dadaku bergemuruh. Seperti orkestra nyaring mengalun berirama hebat. Saking dekatnya, mungkin ia sampai bisa mendengar nafasku yang tak beraturan. Aku mematung.


"Pertama kamu harus fokus. Bidak didepan bukanlah tujuan utama. Kamu hanya perlu memperlakukan bola ini seperti teman"


Aku tidak bisa mendengar intruksi dari Sam. Kata-katanya pecah dikepala. Tidak tahu bagaimana, tapi pusat duniaku seakan berhenti saat dekat dengannya.


Aku hendak menjauh. Karena grogi, tali sepatuku tak sengaja terinjak. Padahal sebelumnya dengan yakin sudah menalinya erat. Keseimbanganku goyah. Aku berjalan terhuyung. Mataku terpejam sudah pasrah jika terjatuh dengan memalukan disini. Tidak apa, paling kepalaku hanya sedikit membentur lantai serta sedikit amnesia. Paling tidak hal itu akan membantu untuk melupakan kebodohanku karena terlalu ceroboh.


Tiba-tiba dengan sigap Sam menahan tubuhku. Aku bisa merasakan tangannya yang kuat menopang bahuku. Wajah lelaki itu hanya berapa inchi dari wajahku. Mata kami kembali bertemu. Ia tersenyum.

__ADS_1


"Hati-hati..."


Tak menjawab aku hanya memalingkan muka. Berharap ia tak melihat wajahku yang bersemu merah.


"Ah aku lupa waktu. Sepertinya sudah mulai sore pasti teman-teman khawatir"


Hanya ini yang bisa keluar dari mulutku berusaha memecah rasa canggung tersebut. Sam melihat jam ditangannya. Kesempatan ini ku gunakan untuk sejenak lepas darinya


"Baiklah aku akan mengantarmu"


"Tidak. Jangan. Tidak perlu. Aku akan mampir dulu mengambil baju dari binatu"


"Kalau begitu baiklah. Tapi ijinkan aku memesankanmu taksi"


Tadinya aku hampir menolak. Tapi ini juga bukan ide yang buruk. Lagipula dengan belanjaan sebanyak ini tentu akan kerepotan.


Sam mengantarku kedepan. Sebenarnya ada rasa kecewa berpisah disini dengannya. Apalagi setelah keseruan tadi, lebih tepatnya setelah hal-hal konyol dan memalukan yang kualami. Salju turun perlahan. Dalam diam kami hanyut dengan pikiran masing-masing. Siapa sangka liburan yang tampak membosankan bisa berubah dengan kejutan tak disangka. Perkenalanku dengan Sam bukanlah sebuah kebetulan. Mungkin ini takdir buatku. Sebuah jackpot manis penutup hari.


"Sepertinya kamu memang tidak ingat"


Sam membuka percakapan.


"Tentang ?"


Aku menoleh.


"Ini bukan pertama kalinya kita bertemu"


Ia menatap jalanan. Mata birunya menyelusuri atap-atap yang memutih pada bangunan diseberang.


Belum sampai ingatanku mencerna, taksi yang kami tunggu muncul dan berhenti tepat didepan. Sam membantuku menaikkan tas belanjaan di jok belakang.


"Naiklah"


Aku mengangguk. Kulambaikan tangan kearahnya. Ia membalas. Taksi membawaku menjauh darisana. Didalam, aku berpikir cepat. Benarkah kami pernah bertemu sebelumnya ? Tapi dimana.


Dengan gusar kuketuk-ketuk jemari dikaca mobil. Embun menebal karena hantaman hawa dingin dari luar. Kuusap-usap kaca menatap kota itu yang beranjak malam. Melewati Oak Park aku terkejut menyadari sesuatu. Apakah ia lelaki itu. Apakah Sam yang menolong Hana dan Hara dikedai kemarin. Mungkinkah itu dia. Benar. Tak salah lagi. Lelaki itu adalah Sam.

__ADS_1


pic by google


__ADS_2