JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
KEDAI KOPI


__ADS_3


Dosen menutup kelas sore ini. Aku dan Cindy berpisah didepan kelas. Ia berkata ingin menemui pacarnya seusai kuliah bersama Nina.


"Ah, kalian jadi sibuk akhir-akhir ini"


keluhku.


"Aku merasa tak enak denganmu. Harusnya kau punya pasangan jadi kita bisa pergi bersama. Bagaimana kalau kukenalkan dengan teman pacarku. Tak ada salahnya mencoba berkencan buta"


"Sudah.. sudah. Pasti idemu tak berakhir bagus"


Aku mendorongnya pergi menjauh. Ia tertawa sambil melambaikan tangan. Kami berpisah saat seseorang memanggilku dari gedung atas. Sudah bisa ditebak. Aku tak menoleh, dan langsung mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.


Terdengar ia berlari menuruni tangga.


"Hey ... tunggu. Hey !"


Seseorang memanggil dari belakang. Ah sial, dia mendekat.


"Hey !" Ia setengah berteriak. Nafasnya ngos-ngosan.


"Hah, apakah kau terbang. Aku hampir kewalahan mengejarmu"


"Apa maumu ?! Kenapa kau mengikutiku terus"


Tanyaku gusar. Akhir-akhir ia selalu menempel padaku. Sedang aku merasa risih dibuatnya.


"Kenapa tak membalas pesanku kemarin, nona pinguin..."


Tumben, ia bersikap manis tak seperti biasa. Tutur katanya juga halus. Mungkin karena aku terlihat sangat kesal.


"Aku sibuk"


Jawabku singkat.


"Aku hanya khawatir, kukira kau ada masalah"


"Sejak kapan kau peduli denganku ?"


Belum sempat ia menjawab, seseorang memanggil dari luar gerbang kampus. Sepertinya memang namaku. Aku mencari sumber suara


Degh. Sam ?


Ia melambaikan tangan kearahku. Aku melirik Excell, mukanya berubah masam.


"Baiklah, foto kan ? Nanti aku akan mengirimkannya. Aku duluan yaaa..."


Aku setengah berlari menghampiri Sam. Lalu menyuruhnya segera menjauh dari tempat ini. Ku dengar Excell masih memanggil-manggil dari seberang tapi kuacuhkan. Aku hanya tak ingin jika mereka bertemu. Apa jadinya jika dua lelaki tak akur berada ditempat sama ? apalagi jika bukan berkelahi. Bukankah mereka musuh.


Sam kudorong sampai sebrang jalan. Ia bingung melihat tingkahku. Sambil mengatur nafas aku meminta maaf berkali-kali jika tindakanku ini tak sopan. Ia malah tersenyum.


"Motorku masih tertinggal disana" katanya pelan. Astaga aku lupa.


"Nanti saja ya. Kita lebih baik disini dulu"


Nafasku masih terengah-engah.


"Kenapa ? Karena ada dia ? Tenanglah lelaki itu sudah tak ada disana. Wait ..."


Aku ingin mencegahnya. Tapi tak sengaja tanganku menyentuh bahunya.


"Ma...maaf"


Aku gugup sekali. Ia hanya menepuk-nepuk pundakku. Mata birunya menatapku


"Its oke, no problem"


Sam sedikit berlari mengambil motor sport kesayangannya.


"Naiklah"


"Aku ?


Ia mengangguk.


"Ah tidak. A... aku...naik bus saja"


"Please..."


Wajahnya terlihat menggemaskan saat cemberut. Aku masih terdiam. Apa yang harus kulakukan sekarang ? Kami ? pergi kemana ? Ia terus mengiba. Aku menyerah.

__ADS_1


Tunggu, motor itu terlalu tinggi. Selama ini aku tak pernah dibonceng orang. Sekalinya dapat kesempatan, dengan motor model seperti ini ? Mana bisa. Aku mulai darimana ya. Ah.. bagaimana ini.


Sam seperti paham. Ia mengulurkan lengannya.


"Peganglah.. "


Apa boleh buat. Aku terpaksa menurut. Ia meminjamkan lengannya untuk tumpuan tanganku. Sambil berpegang pada lengan itu, aku sedikit melompat. Hup ! ah ternyata tak begitu susah. Jika dipikir-pikir bukankah ini memalukan. astaga !


Sam mengulurkan sebuah helm padaku. Waw, pink ! warna kesukaanku. Saat memakainya aroma harum menyeruak. Aku sedikit terbuai karenanya.


Kami berputar. Pergi menjauh darisana. Aku tak tahu kenapa hatiku terus berdebar. Apa karena ini pengalaman pertamaku naik motor, atau karena dengan siapa aku membonceng ? entahlah. Tiba-tiba aku merasa buruk. Bagaimana bisa aku pergi dengan pacar temanku ? ah, harusnya aku bisa menolak ajakannya tadi.


Motor sport berwarna merah itu melaju cepat. Tapi jujur saja, ini sangat menyenangkan. Terasa bebas lepas seperti melayang. Udara dingin menyambut kami sore ini dengan lembut. Saat menuruni tanjakan, ia sedikit mengerem mendadak. Spontan karena kaget, tanganku menyentuh pinggangnya. Aku sendiri masih terkejut. Buru-buru kulepaskan kembali. Entahlah kenapa mendadak cuacanya menjadi gerah.


Sam menoleh. Aku hanya bisa melihat matanya yang biru menyipit karena tertutup helm full face. Sepertinya ia sedang tersenyum. Sam berusaha melingkarkan lenganku dipinggangnya kembali. Jantungku serasa meloncat. Kuhalau tangannya yang seputih susu itu pelan. Dengan hati-hati, aku sedikit menggeser tempat duduk ke belakang. Sial, sempit sekali jok motor ini. Biar saja jika dipikirnya aku sangat kolot.


Ia menoleh lagi. Lalu melanjutkan perjalanan. Entah kemana ia akan membawaku pergi. Tapi aku sangat mengenali daerah ini. Motornya berhenti setelah berada didepan kedai kopi langgananku. Beberapa pengunjung dan pegawai menyapanya. Betapa ia sangat popular, bahkan diluar kampus pun banyak orang mengenalnya.


Sam berjalan ke kasir memesan minuman. Sekumpulan gadis SMA memanggil namanya. Mereka saling menyapa. Aku mendengus kesal. Kenapa harus ada adegan seperti itu. Tak bisakah sebentar saja ia tak dikelilingi wanita ?


Aku memilih tempat duduk favoritku seperti biasa. Ia datang membawa dua cup coffee.


"Ini untukmu"


Ia memberiku moccachino. Wow, bagaimana bisa ia tahu minuman kesukaanku.


"Tadi pagi punyamu masih tertinggal di taman kan ?"


Aku tercekat. Apa maksudnya ? kenapa perasaanku jadi tak enak begini. Jangan-jangan pagi itu ia tahu aku disana ?! Oh tidak ! astaga ! apa sebaiknya aku pura-pura pingsan disini sekarang. Kenapa hal memalukan selalu menghantuiku saat berada didekatnya. Tuhan, tolong buat aku pingsan saja.


Ia tertawa kecil. Aku pun salah tingkah karena Sam terus menerus menatapku. Tak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dariku.


"Kenapa kemarin tak datang ?"


"Egh.."


Otakku blank. Tak ada alasan tepat untuk menjawabnya selain dengan kata 'Egh' kah ? Aaargh ! Bukankah aku terlihat kejam dan bodoh. Sepertinya tahu aku tak nyaman dengan pertanyaan itu, ia mengalihkan topik pembicaraan.


"Dua anak kecil yang dulu kemari, kupikir mereka anakmu"


Aku hampir tersedak. Sam menenangkanku yang terbatuk-batuk.


"Bu...bukan, mereka keponakanku"


"Ow, syukurlah"


Ia terlihat senang.


"Kenapa ?"


"Emm, tidak apa-apa"


"Ohya Sam, kenapa dulu kau berbohong saat mereka terkena tumpahan kopi?"


Rupanya aku masih penasaran alasannya saat itu.


Ia seperti berpikir. Sambil mengingat-ingat kejadian lalu.


"Owh, yang itu. Tidak. Aku hanya menyukai anak kecil. Aku paham bagaimana rasanya berada diposisinya. Saat itu kau terlihat sangat panik, aku hanya khawatir kau akan memarahi mereka"


Terang nya sambil tersenyum.


Aku takjub mendengar jawaban Sam. Semakin mengenalnya, makin aku dibuat terpesona olehnya. Di zaman sekarang, jarang menemukan lelaki yang menyukai anak kecil seperti dia.


"Ingin memesan cake ? Sepertinya kelasmu baru selesai, pasti kau belum makan"


Kata Sam kemudian membuyarkan lamunanku.


"Ah, ti...tidak usah"


"Jangan begitu, kau harus makan. Apakah kau mau sesuatu ? Aku merasa tak enak jika begini"


Jujur saja, sejak tadi pagi aku memang belum sarapan. Bahkan aku melewatkan jam makan siang karena terlalu sibuk mengerjakan project di kelas.


"Baiklah, seporsi salad sepertinya tak buruk"


"Kau yakin ? Hanya salad ?"


Aku mengangguk. Kenapa ia terlihat ragu setelah mendengar jawabanku ? Dan bodohnya, kenapa aku hanya memesan salad ? bukankah memang aku sangat lapar ? apa salahnya dengan semangkuk penuh makanan berat ? apa karena ingin membuatnya terkesan ? tapi kenapa ? untuk apa ? apa sebenarnya tujuanku ? sungguh, aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri.


Tak lama ia kembali ke meja dengan piring ditangan. Sam terlihat akrab dengan tempat ini. Kulihat tadi ia muncul dari pintu pantry. Ia menaruh satu piring didepanku, sedang satu mangkuk penuh didepannya.

__ADS_1


"Kenapa punyamu lebih banyak ?"


Tanyaku, ia tersenyum


"Aku hanya sedikit tak yakin kau bisa menghabiskan satu piring itu"


Glek. Sial


"Lihat. aku bisa makan ini"


Kataku dengan angkuh. Ah, rasa apa ini. Salad ini sungguh menyiksa. Namun aku terus mengunyahnya. Hampir saja aku menyerah karena memang tak enak.


"Kenapa ?"


Tanyaku lagi saat kusadari Sam belum menyentuh sama sekali mangkuk didepannya. Apa ada sesuatu diwajahku karena sejak tadi Sam hanya menatapku. Ia menggeleng.


"Entahlah, kau terlihat sangat menggemaskan"


"Uhukk... uhukkk"


Aku tersedak kesekian kalinya.


"Apa Eva tak apa jika kau disini denganku ?"


Aku bertanya memecah keheningan.


"Eva ? Kenapa dengannya ? tentu saja tidak. Kami tak berkomunikasi lagi setelah dipameran"


Hmm.. jelas saja. Bukankah memang sudah sikapmu ? Hanya akan menghubungi wanita sesuka hati saat kau butuh saja ! Umpatku dalam hati. Tapi tunggu. Jadi Sam bukan orang nya ?! Jika Sam tidak bersama Eva, lalu siapa lelaki yang dirahasiakannya dariku ?! Apa Sam berbohong ? Tapi setelah melihat matanya, aku yakin ia jujur.


Teka-teki ini semakin rumit. Ada perasan senang saat mengetahui lelaki misterius itu bukan Sam. Aku merasa sangat lega, jadi aku tak perlu merasa tak enak bukan pergi dengannya seperti saat ini ?


"Apa kalian dekat ? sepertinya kalian sering pergi bersama"


Sam balik bertanya.


Aku menghentikan aktifitas makan sejenak. Kuletakkan sendok itu dipiring. Makan dengan salad saja sudah cukup terlalu buruk, ditambah lagi membicarakan si kunyuk itu.


"Ah, tidak. Bahkan kami tidak berteman"


"Tapi ia terlihat mencemaskanmu tadi. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu kepada wanita"


"Benarkah ? aku yakin ia hanya kesal karena ditinggalkan lawannya berdebat !"


Kenapa Sam malah membahas dia. Huh.


"Jadi kalian sering bertengkar ?"


Sam terlihat menahan tawanya.


"Ia suka sekali menggangguku. Lelaki itu sangat cerewet saat marah. Matanya akan melotot seperti ini"


Aku memperagakan saat Excell mengomel. Sam tertawa melihatnya. Kami terlibat obrolan seru. Beberapa kali Sam mengeluarkan joke. Jujur aku tak mau kehilangan momen ini begitu saja. Meski aku paham, mungkin saja, ia akan bersikap seperti ini kepada wanita lain diluar sana. Sadarlah.. ia hanya bercanda. Harusnya aku hanya tertawa. Bukan jatuh cinta. Akal logikaku berulang kali berontak.


Tak terasa hampir dua jam kami disana. Kulihat dari dalam jendela kaca, langit sudah mulai gelap. Aku bersiap pulang karena takut kemalaman. Seorang pelayan menghampiri kami. Ia setengah berbisik. Sam nampak terkejut. Lalu menyuruhku menunggu sebentar karena ingin mengantarku pulang. Awalnya kutolak. Tapi Sam bersikeras. Aku menyerah.


Ia berjalan kedepan seperti ingin menemui seseorang. Apakah pacarnya tadi pagi ? Kenapa wajahnya nampak serius.


Diam-diam aku menyusulnya dari belakang. Sam berbicara dengan seorang lelaki. Tak jelas siapa. Tapi tamunya itu hanya sebentar. Kemudian masuk lagi kedalam mobil. Sepertinya aku pernah melihat mobil itu. Sam terlihat marah. Ia memukul angin. Mengetahuiku yang sedang menunggunya diluar, Sam terkejut.


"Ah kau mengagetkanku. Kenapa tak menunggu didalam. Disini sangat dingin"


Serunya berbasa basi. Aku yakin ia baru saja bertengkar.


"A**ku mencarimu hanya ingin berpamitan"


"Baiklah akan kuantar sekarang. Sebentar kuambil motorku"


Aku menggeleng. Kali ini aku menolaknya tegas karena masih ada yang ingin kukerjakan selepas ini. Sam khawatir aku pulang sendirian. Tapi dengan sigap kujelaskan jika aku terbiasa pergi sendirian. Ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Sam ?"


Aku menoleh sesaat sebelum meninggalkan teras.


"Ya ?"


"Janjiku kemarin sudah lunas ya"


Kami tersenyum. Siapa sangka, sekuat mungkin aku menghindarinya kemarin... nyatanya hari ini kami malah bertemu disini. Sam melambaikan tangan, aku berjalan menjauh dari kedai itu.


Langkahku terhenti menyadari sesuatu. Bukankah tadi mobil asisten ayah ? Mobil seperti itu memang banyak yang serupa. Tapi dalam keremangan lampu jalan, aku masih bisa mengenalinya. Sosok yang ditemui Sam sekilas mirip dengan sekretaris Frans. Lantas ada hubungan apa mereka ? Ah, sayang sekali wajahnya tak terlalu terlihat dengan jelas

__ADS_1


pic by google


__ADS_2