JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
PERTEMUAN


__ADS_3


Hari ini rasanya sudah cukup. Beberapa kotak susu, roti gandum, mie instan, soda, dan keperluan groceries lain. Karena berenam, tentu saja kebutuhan kami menjadi lebih banyak. Well, aku sedikit menyesal tidak menerima tawaran Eva berbelanja bersama. Troli didepanku sudah hampir penuh, sementara masih ada beberapa daftar belanjaan yang harus ku beli. Biarlah lain waktu saja.


Hampir terlewat. Kopi Moccachino ! Tapi dimana letaknya. Mataku menyapu satu persatu barang disana namun tak berhasil. Di rak sebelah mana ya. Biasanya hanya berbelanja di supermarket dekat rumah, kali ini aku nekat pergi ke salah satu dari empat swalayan besar di kota ini yang bagian marketnya tentu lebih besar dan luas. Sehingga untuk menemukan area minuman instan aku sedikit kesulitan.


Setelah bertanya kepada salah satu pegawai, rupanya rak kopi dan creamer tak jauh dari tempatku berdiri. Payah, bagaimana bisa aku tak tahu. Sembari menelusuri lorong, mataku menangkap deretan kotak kopi. Yas, itu dia !


Hmm, sebenarnya untuk secangkir moccachino dapat dengan mudah menikmatinya di kedai langganan. Tapi bukan ide buruk jika membeli beberapa kotak untuk stok di dapur. Kopi seenak ini memang pilihan tepat sebagai teman begadang lembur mengerjakan tugas.


"Sorry.."


Aku tercekat. Sebuah tangan juga ingin mengambilnya. Mata kami bertemu. Seorang lelaki, dengan wajah rupawan bermata biru. Tubuhnya yang jangkung, membuat ia berdiri lebih tinggi dariku. Kami dekat sekali, bahkan hanya berjarak beberapa inchi dari dadanya yang bidang tertutup sweater putih.


Apakah ia model atau artis semacamnya ? Kenapa dunia begitu pemilih. Sebagian orang dilahirkan dengan wajah setampan ini. Astaga, aku hampir tak berkedip. Matanya mengerling. Melihatku salah tingkah, ia tersenyum sambil memberikan kotak kopi itu padaku.


Awalnya, kukira orang ini juga ingin membelinya karena di rak merk itu hanya tersisa satu. Saat hendak kuulurkan, siapa sangka ia malah menolak.


"Aku melihatmu kesulitan mengambilnya. Jadi aku coba membantu"


Ujarnya dengan aksen british yang khas.


Ia tersenyum kembali. Memperlihatkan lesung pipi serta deretan gigi rapi seputih susu. Jantungku berdegup kencang tak beraturan.


"Te... terima kasih. Ma... maaf merepotkan"


Aku undur diri menuju kasir. Tak berani menatapnya walau sedetik. Harusnya kejadian ini terlihat romantis seperti di tivi-tivi. Tapi jujur saja ini sedikit memalukan. Apakah aku sependek itu hingga ia merasa perlu membantu ? Ah, sial. Aku tak berani menengok kembali. Apakah dia sudah pergi ?


Alba ditangan menunjuk pukul dua siang. Perutku memang tak bisa diajak kompromi jika sudah berurusan dengan makanan. Baiklah, aku mampir difoodcourt sekalian. Belum beranjak, gawaiku bergetar, rupanya dari Eva.


-Temanku ingin berkenalan. Kapan kamu bisa pergi bersama kami-


Ah, Apa ini penting sekarang ?


Aku mengacuhkannya. Eskalator membawaku keatas.


Lelaki tadi, apakah warga lokal ? Jika benar begitu, ia pasti akan sering mampir di mall ini. Tapi bagaimana caranya agar bisa menemuinya lagi. Tatapannya yang lembut, senyumnya, ah aku bisa gila ! Bagaimana bisa senaif ini. Bukankah itu hal biasa dan sangat wajar jika ada lelaki memberi pertolongan kepada orang lain yang sedang kesulitan. Ingat, ini hanya tentang sekotak kopi. Kenapa aku harus merasa istimewa diperlakukan demikian.


Setelah memesan makanan, aku menuju ke salah satu meja. Nampanku hampir tumpah. Aku terkejut. Seseorang disebrang melambaikan tangan dan berharap aku duduk satu meja dengannya. Orang asing itu !


Tanganku sedikit gemetar. Bodohnya kaki ini terus melangkah kearahnya. Ah, bagaimana ini. Haruskah aku pura-pura tak melihat. Terlambat, jangan... jangan mendekat. Tapi hati ini seperti tidak sinkron antara kaki dan otak.


"Maaf kukira kamu sendirian"


Sapanya saat aku berhenti didekat meja tempat ia duduk.

__ADS_1


Aku bingung harus mengatakan apa. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang asing dan bertindak seolah kami akrab. Biasanya tak begini. Sungguh. Aku bukan tipe yang suka membaur. Bahkan dikampus, aku sedikit membuat batasan dengan warga lokal. Terutama kepada seorang pria. Entahlah. Mungkin aku yang terlalu kolot dan berlebihan.


"Tak apa. Aku memang hanya sendirian"


Hah ? Apa ? kenapa bisa dari semua kata, hanya kalimat, 'HANYA SENDIRIAN' yang kutekankan disana ? Ia bisa berpikir macam-macam. Aku melenguh. Kenapa hari ini ceroboh sekali.


Oke tak masalah sepertinya. Hanya makan semeja berdua, sedikit berbincang basa basi dan tentu saja ingatan tentang hari ini akan dilupakan begitu saja seiring kami pulang ke rumah masing-masing ! Yah begitu konsepnya nanti !


Lelaki didepan berdiri, kemudian menarik kursi untukku. Begitu sopan. Hmm.. tapi sepertinya aku perlu merapikan sedikit riasan. Berbelanja di market beberapa jam tentu membuat wajahku kacau sekali seperti kilang minyak.


"Maaf aku ke toilet sebentar"


Ia mengangguk. Diam-diam aku berjalan sambil sesekali melirik ke arahnya. Waspada itu harus. Siapa tahu saat tak disana ia akan mencampur sesuatu dimakananku. Disiang hari ? Ditempat ramai ? Didekat CCTV ? aku memang mengada-ada. Siapa pula orang tak punya kerjaan yang ingin menculik gadis suka makan sepertiku. Aku menghela nafas.


Didalam toilet, bedak kusapu pelan sambil menepuk-nepuknya beberapa kali. Saat kutatap cermin, bayangan lelaki itu terlihat dimana-mana. Haish. Apa ada yang salah dengan mataku. Ah mungkin ini efek karena terlalu banyak tugas dari dosen sehingga pikiran jadi kacau. Setelah mengusap lipstik tipis ke bibir, kuputuskan bergegas kembali ke meja.


Langkah ini terhenti saat melihatnya berbincang dengan seorang pelayan. Mereka nampak akrab. Apa wanita muda itu pacarnya ataukah ia hanya teman ? Tapi apa peduliku. Apa sebaiknya pergi saja ? Tapi belanjaanku masih tertinggal disana.


Aku gontai menuju meja. Ia tersenyum. Pelayan itu menatapku tak suka sambil berlalu. Lagipula kenapa aku merasa tak nyaman. Barangkali memang benar ia teman wanitanya. Apa urusannya denganku. Benar, diantara kami tidak ada hubungan apa-apa. Harusnya aku bisa bersikap biasa saja.


"Maaf lama"


"No problem"


Kulirik ia makan salad. Hanya seporsi salad ! Sedangkan aku...


"Uhukkkk... uhukkkk..."


Hampir saja aku tersedak potongan daging steak. Bagaimana bisa orang nyaris tak bercela seperti itu, gaya hidupnya pun juga sempurna. Lantas apa kekurangannya ?


"Kau tak apa-apa ?"


Ia lalu memesankan minuman untukku.


"Its oke. Aku hanya tak terbiasa. Entahlah tiba-tiba hari ini ingin mencoba steak. Sebenarnya aku pun biasa memesan salad. Hahaha"


Ucapku berbohong. Jaga image adalah upaya peningkatan poin humanis dalam hubungan komunikasi bermasyarakat. Sehingga tak tepat rasanya hal ini dikelompokkan sebagai kejahatan serius bukan ? ehemm...


Tunggu, apakah minuman ini sudah dicampur sesuatu ? kenapa aku langsung meminumnya begitu saja? Kenapa berwarna kuning keruh seperti bir yang pernah kulihat dirumah milik Eva. Rasanya juga aneh. Masam beraroma jeruk dan sedikit pahit. Sungguh tak beres.


"Kau...kau... apakan minumanku ?!"


Sambil tergagap aku sedikit mundur. Lelaki itu tampak sama bingungnya.


"Tidak nona. Sepertinya kau salah paham"

__ADS_1


"Kau bohong kan. Kau ingin menculikku dengan menaruh bir atau obat bius semacamnya. Ah, aku merasa akan mabuk setelah ini"


Kataku panik.


"Nona, kau tak kan mabuk hanya karena minum jus jeruk"


Glek.


Hampir sepuluh menit kami terdiam. Gugup dan canggung hingga tak berani mengangkat wajah. Aku masih tak enak sudah menuduhnya. Sesekali ia tertawa kecil. Ah sial. Aku malu sekali.


"Maaf, kukira kau sudah pernah meminum jus lemon yang ditambahkan air jahe dan mint. Itu lebih bagus untukmu daripada memesan soda atau kopi"


Katanya memberi penjelasan.


Aku meringis. Salahku juga kenapa mengatakan menyukai salad. Mungkin ia berpikir, aku juga terbiasa dengan minuman sehat seperti ini. Tapi siapa yang meminum jus herbal disiang hari begini. Hah !


Tak lama seorang pelayanan lain datang mengantar pesananku sebelumnya yang sepertinya terlambat disiapkan. Dan bodohnya aku melupakan hal itu.


"Maaf membuat anda menunggu, ini pesanan anda"


Seporsi chicken cordon bleu, burger dan kentang terlihat penuh dinampan. Dear God... Aku sudah tak berani memandang lelaki didepan.


"Benarkah ? hahaha... Saya lupa jika memesannya. Barangkali itu milik yang lain. Hahaha"


Jawabku gugup.


Aku bertahan sekuat tenaga menolaknya. Jatuh sudah image ku dihadapan lelaki tampan itu. Pelayan setengah baya disamping meja menatapku tajam


"Hay, miss... bukankah benar ini nama anda ?!"


Ia menunjuk nama tertera distruk pembayaran. Lalu melanjutkan,


"... D**an saya masih bisa mengenali wajah anda dengan baik. Saya yakin benar !"


"Ta.. tapi.."


Pelayan itu pergi berlalu dengan kesal. Aku syok. Runtuh sudah semuanya. Lelaki didepanku nampak menahan senyum.


"Ternyata kau punya selera yang bagus untuk seorang yang sedang berdiet hehehe"


Ia tertawa kecil.


Eva, Lily, atau siapa saja, tolong buat aku pingsan. Aaaaarggh .... !!!


pic by google

__ADS_1


__ADS_2