
Hari mulai petang saat aku menuju flat. Excell sudah terlebih dahulu bertolak ke rumah sewanya didaerah Harborne. Yah, disana memang terkenal kawasan lingkungan elit.
Aku terkejut saat membuka pintu. Diruang tamu sudah ada Cindy, Nina, Lily, dan Jenny. Semua berkumpul disana. Tapi aku tak melihat Eva.
Mereka memberondongku dengan satu pertanyaan : bagaimana bisa mengenal Excell. Memang, bisa dibilang aku tak punya pengalaman merayu pria apalagi kakak tingkat. Popular pula.
"Ah, kau melukai hati kami..."
Seru Jenny. Ia berharap itu hanya gossip belaka.
"Mana aku tahu. Aku pun tak berharap mengenalnya. Kami tidak berteman. Hanya kesalah pahaman saja"
"Kalau begitu, bisa tolong bantu aku berkenalan dengannya ?"
Aku ? mak comblang ? aku sendiri tak punya pasangan. Cindy terlihat memohon. Bisa-bisanya mereka merengek untuk lelaki seperti itu.
"Sungguh, aku tak dekat dengannya. Bukan aku tak mau. Aku memang tak bisa karena kami belum cukup untuk dibilang berteman. Sudah ya, aku lelah sekali"
Tak ku hiraukan mereka yang meracau dibawah. Masih banyak urusan penting yang belum kuselesaikan. Setelah mandi dengan air hangat, badanku sedikit segar. Aku masih mencari Eva. Tentu apalagi, sudah pasti mau pinjam uang.
Pintu kamarnya sedikit terbuka. Sepertinya ia tengah menelepon. Ku intip sedikit, ia bergulung kesana kemari tertawa kecil diatas kasur seperti remaja yang baru kasmaran. Sesekali ia juga menepuk gemas boneka sapinya.
"Ehemm ..."
Aku berdehem. Ia sangat terkejut. Aku masih menunggunya sembari duduk di kursi dekat meja belajar. Kuperhatikan sekeliling ruangan ini. Terasa sedikit mewah bagi kalangan pelajar seperti kami.
Semua perabotan dibeli baru, padahal dari penyewa sudah disediakan meja, lemari, kursi dan tempat tidur. Untuk meja kutampung di kamarku. Karena memang membutuhkan tempat tambahan untuk menaruh beberapa alat penunjang praktik saat membuat project tugas. Sementara perabotan yang tersisa ditampung ke kamar anak-anak lain.
"Aku tidak suka model dan warnanya, terlalu kuno"
Jawaban Eva saat kutanya kenapa ia harus membeli perabotan baru yang tak murah.
Pun saat kutanya, kenapa ia tak menyewa apartemen pribadi. Sedangkan ia malah memilih bergabung bersama kami dirumah yang tak besar.
Katanya ia penakut. Ia pernah hampir pingsan saat mati lampu dan tak menemukan seorang pun dirumahnya. Eva phobia gelap. Sebenarnya bukan tanpa alasan aku bertanya. Aku hanya merasa risih saat ia tak sungkan memasukkan lelaki ke kamar sewaktu malam hari seusai pesta.
Saat ditegur ia hanya bilang,
__ADS_1
"Jangan terlalu kolot"
Kami yang malas ribut akhirnya memilih diam. Tak hanya Eva, kini Cindy dan Jenny seperti pun ikut-ikutan. Kalau sudah begitu, jika belum terlampau malam kutinggal saja mereka pergi ke kedai kopi langganan.
Sepertinya ia sudah selesai menelepon.
"Siapa ?"
Wajahnya bersemu merah penuh kemenangan.
"Lelaki itu, yang tempo hari bertemu di London hehehe"
"Bagaimana bisa ?!"
"Siapa dulu dong ! akhirnya aku bisa punya nomor teleponnya"
Ia terlihat bangga. Jatuh cinta membuatnya nekat. Eva pun terlihat jarang pergi ke pesta setelah pertemuan dengan lelaki itu.
"Hanya saja, ia sudah berkeluarga"
Aku terperanjat mendengar penuturannya. Eva pun membela diri saat melihat air mukaku yang keruh dan merah padam.
"Tetap saja, jangan bermain api ! Segera putuskan, memilihmu atau memperbaiki keluarga bersama istrinya"
Eva mengangkat bahu. Jika membahas hal seperti ini, seperti membelah cermin sendiri, melihat relung hati paling dalam, belasan tahun lalu. Seorang anak yang ditinggalkan ayahnya demi mengejar wanita lain. Hal paling menyesakkan dada adalah tiap kali menemukan ibu menangis diam-diam, dan seolah tegar seperti tidak terjadi apa-apa. Anak yang beruntung, akan lebih cepat menerima apapun keputusan orang dewasa. Tapi bagi kami yang punya impian sederhana terhadap sebuah bayangan keluarga utuh dan sempurna selamanya, bagai menginjak pintu neraka.
"Eva, kamu cantik, kaya, dan pandai bergaul. Termasuk hal kecil, bisa mendapat lelaki manapun dengan mudah. Tapi percayalah, tak ada lelaki baik yang meninggalkan keluarganya. Jika pun ada, tak mungkin ia melakukannya demi seorang wanita"
Ia terdiam. Aku tak bisa mengaturnya memilih hal baik dan buruk. Memilih jalan benar dan yang salah. Tapi aku yakin ia akan mulai berpikir.
Lama kami terdiam. Aku sungguh berhati-hati dalam memilih kata. Karena sedikit saja tersinggung, ia bisa mendiamkan kami berbulan-bulan.
"Ohya, kamu sampai kemari pasti ada masalah"
Eva membuka percakapan. Memecah kesunyian dalam suasana canggung tersebut.
"Eegh, sebenarnya. Ah, jangan membuatku tak enak. Berpura-pura sajalah tidak tahu" jawabku kikuk. Ia tertawa kecil. Sial.
"Kita hampir satu tahun disini bagaimana bisa tak mengenal gelagat klasikmu. Ayo cepat katakan ada apa"
__ADS_1
Aku menatap Eva. Menumpahkan kegusaranku yang terpendam sejak tadi. Kugeser kursi didekatnya.
"Eva, sesuai keputusan besok, kami harus memakai dress code. Dan aku belum punya gaun satupun sejak berada disini"
"So ?" Ia mendelik
"Bolehkah aku meminjam uang ? Sepertinya Charity Shop bukan pilihan buruk. Kata Nina, di kawasan High Street, Harborne, banyak baju-baju cantik dan tentu saja murah"
Aku tersenyum manja merayu Eva.
"Pameran tinggal besok malam, dan kamu baru mencari gaun besok siang ?!"
Sambil menepuk jidat. Diomelinya aku dengan puas. Ya sudah.. aku tak punya pilihan selain mendengarkan.
Ia lalu berjalan kearah lemari. Menatapku dari ujung kepala ke ujung kaki sambil terlihat berpikir. Lantas dikeluarkan beberapa item baju. Aku melongo melihat begitu banyak koleksinya. Dari yang polos, hingga model glamour berpayet sana sini. Semua terlihat mahal.
"Pilihlah salah satu. Apa kau sanggup meninggalkan kampus selama mempersiapkan pameran ? Waktumu tak banyak jika pergi ke Charity. Belum lagi harus membawanya ke binatu terlebih dahulu"
Aku melenguh. Benar juga. Hal sepenting itu tak terpikirkan olehku sebelumnya. Kali ini aku akan menuruti perkataan Eva. Lagipula selera fashionnya juga bagus. Malah terlalu modis. Ia tidak pernah ketinggalan baju seri terbaru. Jangankan gaun, bahkan itu hanya untuk satu set dalaman berbeda musim dengan harga fantastis.
Hampir satu jam kami memilih baju yang pas untukku. Jika aku cocok, Eva mengernyit. Jika dia cocok, aku yang tak suka. Sampai satu lemari kami obrak-abrik.
"Sampai kapan kamu akan menyiksaku, hah ?!. Lihatlah... hampir semua koleksi sudah kukeluarkan. Astaga, bisa-bisa meledak isi kepalaku karena ulahmu"
Lily yang kamarnya berdekatan dengan Eva turut bergabung ketika melewati kami.
Jujur saja, aku kurang cocok dengan gaun milik Eva yang rata-rata semua model terbuka. Bagaimana bisa aku memakai baju seperti ini ke kampus. Lily pun menawarkan opsi. Dress dari Eva dipadukan dengan semi jacket darinya. Terlihat formal namun tetap chic seukuran anak muda. Awalnya aku menolak, tahu sendiri kan tragedi apa yang terjadi saat ditempat bowling saat meminjam mantelnya.
"Cobalah dulu. Ini sedikit lebih besar dari ukuran tubuhku" Lily yang berbadan mungil itu membantuku.
Aku pun mencoba dress Eva, dan jacket Lily bersamaan. Sambil mematut, well... ini tak buruk juga. Tunggu, tapi rasanya seperti ada yang kurang.
"Apalagi ?!"
Seru Eva ketus melihatku tak sabar.
"Aku lupa. Selain gaun, harusnya aku juga menyiapkan sepatu. Tapi yaaah... aku baru ingat jika memang belum sempat membelinya, hehehe"
Kulirik mereka menggeram gemas. Siap menerkam apa saja. Sebelum terjadi hal tak diinginkan, aku berlari menyelamatkan diri. Tak lupa dengan sekotak kardus sepatu yang masih terlihat baru dari kamar Eva. Ia berteriak-teriak kesetanan. Aku tertawa puas.
__ADS_1
pic by google