JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
KUNJUNGAN PAGI


__ADS_3


Udara menjalar dingin memenuhi setiap tengkuk leher. Entah rencana apa yang akan kulakukan pagi ini. Harusnya weekend adalah waktu yang tepat untuk bersantai. Sejak bangun tadi, pikiranku hanya terfokus pada tugas dosen yang harus dikirimkan lusa. Ah sial, betapa menyedihkannya.


Rupanya dari semalam, perutku belum terisi apapun selain kopi. Rasa lapar melilit perih. Ingin rasanya memasak, tapi berjalan kaki ke pasar tradisional seperti Bullring Markets diujung jalan begitu malas. Layanan pesan antar hanya membuat uang saku bulanan berantakan. Memang mie instan adalah pilihan terbaik disaat-saat seperti ini.


Aku bangkit menuju dapur dilantai bawah. Tiba-tiba terdengar bel pintu depan berbunyi nyaring. Siapa ya yang bertamu sepagi ini.


"Wait, please"


Langkahku makin cepat menapaki anak tangga dengan motif kayu berwarna coklat muda itu. Apakah Eva dan yang lain ? Bukankah mereka bilang lusa baru akan kembali.


Aku terperanjat saat membuka pintu. Mataku membulat senang. Entah angin apa yang membawa mereka kemari. Seperti mimpi. Tapi mimpi apa yang datang sepagi ini.


Didepan berdiri satu keluarga yang tentu saja sangat kukenal. Kak Joe, dan istrinya, Rose. Tak lupa ikut serta si kembar Hana, Hara. Dua bocah berusia lima tahun itu pun langsung berebut memelukku dengan riang. Lesung pipi dan tubuh gempal mereka begitu menggemaskan.


"Surprise... hehehe"


Aku terharu. Kak Joe dan keluarganya jauh-jauh datang mengunjungiku kesini tanpa kabar apapun. Benar-benar sebuah kejutan besar. Meski aku tahu tak semua merasa bahagia dan sehangat mereka, wanita disampingnya itu nampak tak ramah seperti biasa, Kak Rose.

__ADS_1


"Kenapa tak memberi kabar dulu, kan bisa ku jemput. Mana cuaca dingin begini"


Selorohku sambil menyuruh mereka masuk. Aku buru-buru ke dapur membuatkan mereka beberapa cangkir coklat panas sambil menaikkan suhu pemanas ruangan. Hanya itu saja yang bisa dihidangkan disini karena memang tak ada kudapan atau snack karena kami belum berbelanja.


"Sengaja kok, si Hana bilang mau bikin kejutan buat aunty nya. Mumpung dari perusahaan ada urusan kesini sekalian ajak anak-anak. Lagipula bonusnya lumayan, cukup lah buat berangkat sekeluarga. Kapan lagi ya kan hehe. Tadinya aku mau ngajak bibi, tapi ya kamu tau sendiri kan ibumu bagaimana. Pasti alasan repot ngurusin restoran nya itu hahaha"


Hihihi aku geli mendengarnya. Ibu memang begitu. Kedai kecil miliknya dengan bangga selalu ia sebut sebagai restoran. Ibu tidak pernah memandang remeh hal kecil. Meski didalam kedai itu hanya tersusun beberapa bangku usang, dan dekor seadanya, berikut lukisan dinding yang kubuat sendiri disana.


Setidaknya setiap sudut ornamen kami buat berkelas bukan dengan bendanya.


Tapi penuh perasaan tulus dan kasih, sehingga kedai mie ibu tidak pernah sepi pembeli. Dan pastinya karena rasa yang memang enak.


Uniknya, ibu selalu menolak menjawab teleponku.


"Lebih baik uangnya kamu simpan daripada buat telepon ibu. Biaya disana mahal. Sudah jangan telepon ibu. Fokus belajar disana. Pulanglah kalau program mastermu sudah selesai. Ibu tidak akan pernah lupa untuk selalu mendoakanmu. Jaga diri baik-baik. Jangan khawatirkan ibu. Jangan lupa minum vitamin yang banyak"


Aku tahu, itu bukan alasan. Ibu adalah orang yang memiliki perasaan emosional tinggi semacam itu. Beliau takut jika terlalu lama berbincang denganku membuatnya gampang menangis karena rindu. Ia tak ingin hal seperti itu hanya akan menambah kesedihanku merantau di negeri orang. Ia ingin aku menjadi anaknya yang kuat tidak cengeng. Hmm... aku menghela nafas pelan


"Tapi kabar ibu baik, Kak ?"

__ADS_1


"Tentu saja, siapa coba diusianya yang masih begitu gesit kalau bukan ibumu"


kami tertawa. Hana dan Hara mengikutiku ke dapur. Rupanya mereka juga rindu sekali denganku.


"Flat mu bagus, pasti mahal"


Ucap Kak Rose ketika aku kembali dari luar mengambil layanan pesan antar untuk makan siang kami. Tentu saja Kak Joe yang membayar. Sementara sang suami tengah menidurkan anak-anak dikamar, wanita itu mulai membuka suara tanpa melihatku sedikitpun. Tatapannya sibuk membuka-buka isi majalah dimeja.


Aku masih terpaku, ada rasa tak nyaman mendengar perkataannya yang sarkas. Tanpa sadar tangan ini meremas tas kresek pelan.


"Flat ini disewa patungan. Perbulannya bahkan lebih murah dari sewa biasa. Kebetulan saja temanku pintar bernego dengan agen properti nya. Jadi anggap saja kami sangat beruntung"


Jawabku tegas sebelum kalimat satire itu merambat kemana-mana.


Wanita itu menoleh. Ia bangkit lalu berjalan mendekat. Setengah berbisik ia kembali bernada sinis,


"Aku hanya ingin kau sadar posisimu. Joe memang keponakan ibumu, tapi tolong berhenti merepotkannya. Aku tahu, bulan kemarin ia mengirimimu uang kan ? Sampai kapan kau akan menjadi benalu dalam keluarga kami"


Selepas mengucapkan itu, dengan santai ia naik keatas menyusul Kak Joe dan anak-anaknya. Tentu saja dengan senyum palsu yang dibuat-buat.

__ADS_1


pic by google


__ADS_2