JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
TAK TERDUGA


__ADS_3


Setelah menidurkan Hana dan Hara di kamar, aku mulai dengan membereskan ruang tamu terlebih dahulu. Selain karena disinilah pusat aktifitas kedua bocah itu, kami sebelumnya juga sempat memesan chinesse food melalui layanan pesan antar. Mereka bilang sudah kangen makan nasi karena sejak kemarin kami hanya makan pizza dan pasta. Setelah kejadian tadi siang, untuk memasak saja seperti tidak bertenaga. Cukup menguras emosi, hanya ingin istirahat rasanya.


Padahal pagi tadi, aku sempatkan membeli daging beku untuk barbekyu beserta bahan lain. Rencananya memang ingin kuhidangkan saat makan malam nanti jika Kak Joe dan istrinya sudah sampai rumah.


Jarum jam bewarna keabuan yang tertempel didinding menunjuk pukul empat sore. Harusnya tak lama lagi mereka datang. Sambil memunguti bungkus rice box yang isinya tandas, ponselku berdering diatas meja. Nomor tak dikenal. Awalnya hanya kuabaikan, tapi panggilan demi panggilan membuat penasaran pada akhirnya.


"Halo..."


Sapaku kepada penelepon diujung sana. Lama tak ada jawaban.


"Anakku ... Ka -.."


Degh.


Hatiku mencelos.


Belum sempat orang itu melanjutkan perkataannya, dengan sigap ku tekan tombol off. Suara itu. Ya tak salah lagi. Ayah ! Jantung berdegup tak beraturan sementar darahku mendidih diliputi emosi. Siapa yang memberi nomor baru yang bahkan belum satu bulan ini kubeli. Hanya orang terdekat yang tahu, Kak Joe dan tentu saja teman-teman kost disini.


Aktifitasku terhenti sejenak. Mendengar suara dari lelaki tersebut membuat suasana hatiku berubah buruk dengan cepat. Apalagi yang diinginkan lelaki itu, menyebut panggilan ayah saja rasanya begitu kelu. Belum cukupkah dengan apa yang kukatakan padanya puluhan tahun lalu. Belum puaskah ia menyakiti kami dengan menyia-nyiakan ibu. Membayangkan wajahnya saja kini membuatku mual.


Aku memang masih kecil kala itu. Tapi aku paham, kalau ibu menangis, pasti semua sedang tidak baik-baik saja. Hingga ayah sukses seperti sekarang, dan beberapa kali membujukku untuk tinggal bersama keluarga barunya dirumah yang megah selalu kutolak dengan kasar. Aku sudah tidak mau lagi mendengar kabar atau mencari tahu tentangnya. Apapun itu. Bagiku hanya ibu satu-satunya yang kumiliki sekarang.


Apakah aku peduli ? Tentu saja tidak. Dan sejak saat itu, beberapa orang berseragam hitam kerap mendatangi rumah kami dengan banyak bingkisan tapi selalu ibu tolak. Hingga akhirnya mereka tidak pernah datang lagi setelah ku telepon ayah untuk tidak perlu melakukan apapun terhadap keluarga kami.


Bel rumah berbunyi dan hampir tidak terdengar. Kak Joe telah kembali. Istrinya menggerutu kenapa lama sekali buka pintu sehingga mereka kedinginan diluar

__ADS_1


"Maaf.. "


Ujarku pelan. Hanya itu yang bisa kuucapkan karena pikiranku masih terbawa suasana. Ocehan dari wanita itu kuabaikan begitu saja.


"Sikembar dimana ? Baru dua hari disana sudah rindu rasanya"


Kak Joe menatap seisi ruang. Tanganku membuat isyarat diam agar suaranya tak membangunkan mereka yang tidur diatas.


Ia mengerti. Kak Joe lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa. Ia kelihatan begitu lelah. Aku membuatkan dua cangkir kopi. Sementara Kak Rose naik keatas berkemas. Rencananya nanti malam mereka akan pulang.


Kak Joe bagiku adalah family man. Figur seorang ayah yang hebat. Bahkan baru sebentar berpisah ia sudah merindukan kedua buah hatinya. Keluarga mereka terlihat akur dan hangat. Kak Rose juga biarpun terlihat galak, ia sangat mencintai suaminya. Jujur saja aku mengagumi mereka. Keluarga idaman yang nyaris sempurna. Beruntung sekali Hana dan Hara memiliki keluarga begitu harmonis. Sedangkan aku, bahkan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki sosok ayah.


Kak Joe sepertinya tahu aku sedang gelisah. Ia bangkit dari tidurnya dan kembali duduk.


"Are you okey ?"


Tanya nya nampak khawatir


Jawabku singkat. Ia terkejut.


"Kapan ?"


"Belum lama. Sebelum kalian datang"


Ia menghela nafas.


"Pak Han bilang apa ?"

__ADS_1


Tanyanya terlihat cemas melihatku.


"Dia hanya menyapa. Lebih tepatnya belum sempat berkata apa-apa"


Lelaki itu menatap iba.


"Sampai kapan kau terus begini. Sampai kapan kau akan lari darinya"


Kak Joe kembali menatapku lekat. Pertanyaan itu meluncur terasa berat.


Aku menggeleng pelan. Memang, ku akui, aku juga sangat lelah. Tapi kalau boleh memilih, aku tidak ingin lelaki itu hadir kembali di kehidupan yang bahkan baru kutata kemarin. Luka kami belum sembuh. Belum sempat mengering.


"Apa kau tak bisa memberi satu kesempatan sekali lagi kepadanya"


"Bukan aku, Kak. Tapi dia. Seharusnya dulu lelaki itu berpikir dua kali sebelum pergi menghancurkan semuanya"


"Tapi itu sudah lama sekali. Belasan tahun lalu. Barangkali Pak Han ingin memperbaiki dan menebusnya sekarang"


"Entah lah..." jawabku singkat


Melihatku yang keras kepala, Ia mengangkat bahunya. Isyarat menyerah. Suasana canggung itu pecah tatkala Hana dan Hara turun kebawah dengan gembira melihat ayahnya pulang. Mereka memeluk Kak Joe erat. Dipamerkannya padaku stelan baju berwarna merah bergambar wonder woman setelah membuka bingkisan tas oleh-oleh dari ayahnya.


Aku turut serta membongkar isi dari bingkisan-bingkisan itu. Tak lupa sweater hijau pastel oleh-oleh untukku. Hingga tak sengaja aku menjatuhkan tas Kak Joe lantai. Walapun isinya tak banyak, hanya dompet dan sedikit pocket dokumen berhamburan kelantai, mataku menangkap sesuatu tak asing. Sebuah benda berbentuk botol kaca yang sepertinya berisi parfum turut terjatuh dari sana. Dengan tergesa Kak Joe memungut semua. Ia tahu ekor mataku masih menatap benda mungil tersebut.


"Rose kadang memang suka menaruh barang sesukanya ke dalam tasku. Ah wanita memang aneh, kenapa harus membawa tas kecil jika tak semua isinya muat hehehe"


Ia mencoba melucu. Tapi pikiranku tidak fokus.

__ADS_1


Sepertinya aku pernah melihat parfum itu sebelumnya. Tapi dimana. Terasa dekat. Mungkin saja memang benar milik Kak Rose. Tapi... sejak kapan kami merasa dekat hingga parfumnya saja aku bisa mengenalinya. Padahal sudah jelas, kami bukan karib satu sama lain


pic by google


__ADS_2