
Aku terdiam dikamar. Anak-anak lain berkumpul dibawah menonton dvd drama yang dipinjam Cindy tempo hari. Pikiranku berkecamuk. Antara benar dan salah. Rumor dan fakta. Aaargh. Canvas yang tersender di dinding kucoret-coret marah. Sketsa yang tadinya tersusun apik tandas tertimpa sapuan kuas.
Kenapa banyak orang yang menyudutkan Sam. Apakah ia memang seburuk itu ? Baiklah jika itu katakanlah benar. Lantas apa mereka merasa dirugikan ? setiap orang membawa privasi hidupnya masing-masing. Aku melenguh berat ...
Akal logika diam-diam membenarkan. Tapi hatiku selalu membantahnya. Lagipula apa masalahnya. Toh kami hanya berteman. Kenapa ini seolah penting ? Aaargh aku bingung sekali. Jika terus menerus memikirkan ini, nilai-nilaiku bisa terjun bebas karena tak fokus belajar.
Harusnya memang mulai besok, aku harus mencari pekerjaan paruh waktu. Selain menghasilkan uang, setidaknya cara ini bisa mengalihkan perhatianku untuk berhenti memikirkan hal yang tak penting.
Aku masih terpaku saat kudengar sebuah mobil berhenti didekat flat kami. Siapa semalam ini yang bertamu kesini. Gorden berwarna pink kutarik pelan. Dari jendela kamar, seseorang nampak turun dari taksi. Wajahnya tak terlihat karena ia berdiri membelakangi. Sementara satu orang lagi mengikutinya. Tak salah lagi itu Eva.
Bukankah tadi sore ia pergi naik motor dibonceng Yama ? kenapa sekarang ia pulang diantar orang berbeda dengan taksi. Siapa lelaki yang bersamanya itu. Kulihat teman kencannya terburu-buru karena hanya mengantar Eva sampai halaman rumah, lantas kembali ke dalam taksi. Sayang, wajahnya tak bisa kukenali dengan jelas.
Weker diatas meja menunjukkan pukul satu dinihari. Ternyata sudah lewat tengah malam. Aku melangkah turun kebawah berniat mengambil segelas air minum di dapur. Lampu utama sudah dimatikan hanya tersisa lampu kecil uang menyala. Lengang.. sepertinya yang lain sudah tidur dikamar masing-masing. Terdengar derit pintu depan terbuka, Eva terperanjat mengetahui aku ada disana. Ia salah tingkah.
Belum sempat bertanya, Eva bergegas naik ke kamar. Aneh sekali, biasanya ia cuek saja membawa lelaki ke rumah saat pulang dari club. Tapi kali ini ia seperti ketakutan, seolah menyembunyikan sesuatu yang penting. Entahlah, makin aku curiga, semakin itu pula rasa penasaranku menjadi-jadi.
__ADS_1
Apakah temannya tersebut seseorang yang kukenal ? Seketika didalam pikiranku terlintas dua nama karena aku tak punya banyak teman lelaki. Ia memang cukup tinggi karena Eva terlihat hanya sebatas pundaknya saja saat berdiri. Tapi badannya tak sebesar Excell. Jadi jelas bukan dia.
Aku tercekat.
Apakah mungkin ...
Bisa saja, memang benar dia. Tapi bagaimana bisa menjanjikan bertemu denganku esok sore, sedangkan disaat yang sama ia berkencan dengan sahabatku sendiri. Lelaki macam apa yang melakukan itu ?! apalagi gelagat Eva juga aneh. Bukankah ia tahu betul aku tertarik dengan Sam ? Apakah ini semacam perasaannya yang belum tuntas dimasa lalu ? Mengapa ia seolah baik padaku, lantas menikung dari belakang ?
Ingin sekali tak percaya. Tapi semua tebakanku mengarah pada Sam. Aku memang tidak berhak marah, tapi setidaknya jangan repot mempertemukan kami kemarin jika ujungnya hanya bermain-main dengan perasaanku. Dan itu tidak perlu !
Aku masih ingat kala itu. Saat Eva menanyakan bagaimana perkenalan dengan temannya, Sam. Saat itu aku mengira jika ia memang tulus. Dan ternyata, aku saja yang bodoh. Bagaimana ia tega memanfaatkan teman hanya untuk menyelesaikan perasaannya sendiri yang tertunda pada lelaki itu. Ingin berkenalan ? denganku ? bullshit ! Setengah kesal, kulempar kuas dengan kasar.
Gawaiku bergetar. Sebuah pesan masuk. Tertera nama 'Handsome'. Nomor siapa ini. Rasanya aku tak pernah menyimpan kontak dengan nama aneh begini.
_Mana fotonya ??_
Degh.
__ADS_1
Sepertinya aku tahu siapa kunyuk yang mengirim pesan singkat tersebut. Iseng kulihat foto profilnya. Dari layar tampak seorang lelaki berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam. Berpose sok keren dengan lambang V dijarinya. Style apa ini. Apa ia mau kepemakaman. Aku tertawa. Tak lama kemudian ia kembali mengirim pesan
_Kau online dan langsung melihat pesanku, kenapa mengabaikannya !_
Kututup aplikasi percakapan berwarna hijau itu. Biar saja tak usah dibalas. Memang siapa dia menghubungiku selarut ini. Tak gentar, lelaki itu mengirim banyak pesan lagi berikut sticker disana. Kuacuhkan. Pasti saat ini ia sedang mengomel. Membayangkan ekspresinya saja membuatku tertawa geli. Ah benar, aku ingat masih menyimpan foto kami.
Kubuka foto-foto saat pameran di album galeri. Ketemu. Ada dua foto disana. Excell, bisa dibilang beruntung berpose dengan bagus. Sedangkan aku ? Hah, bagaimana bisa terlihat konyol seperti ini. Mata sayu dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut kilatan flash kamera yang tiba-tiba. Memalukan. Darahku mendidih saat mengingatnya. Orang yang disuruh Excell untuk memfoto kami, punya dendam apa denganku hingga fotoku bisa sejelek ini. Ah, sial, lebih baik kuhapus saja.
Jariku terhenti saat ingin menekan tombol dengan simbol tong sampah tersebut. Sejenak kupandangi foto itu baik-baik. Ia lumayan juga jika sedang diam seperti difoto ini. Sam dan Excell sama-sama tinggi. Tapi Excell terlihat lebih tegap karena badannya berisi. Bahkan lengannya begitu kuat saat kusenggol tadi.
Orang sekaya itu rutin pergi ke gym bukan perkara sulit. Dengan trainer andalan dan kartu member berlangganan tiap bulan pasti sangat mudah baginya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, dihuniannya yang luas terdapat fasilitas gym pribadi didalam rumah. Benar kata pepatah, siapa pun bisa keren asal ada dananya.
Tapi ia memang sedikit ganteng. Ingat, hanya sedikit ! Hidung mancung serta beralis tebal. Rambut cepak cocok sekali dengan lehernya yang jenjang. Struktur wajah bisa dibilang cukup sempurna dengan rahang yang proporsional.
Aku memukul kepalaku sendiri dengan bantal. Mungkin karena sedikit demam jadi pikiranku sedikit kacau. Hah ! Astaga ! Bisa-bisanya memuji musuh ! Apa karena aku terlalu baik menjadi orang. Kupukul-pukul guling dengan gemas sebagai pelampiasan.
Malam itu aku ribut sendiri. Sementara di tempat lain, kedua sejoli nampak gugup mengetahui kenyataan yang ada. Berusaha merahasiakan semua dengan rapat diliputi sejumput penyesalan. Mereka tak menyangka bakal serumit ini. Si wanita terlanjur jatuh hati. Namun tak ada pilihan lain selain mengakhiri, atau melanjutkan yang entah akan bagaimana pada akhirnya. Tapi tujuan mereka tetap satu, membereskan apa yang terjadi dan aku tak pernah tahu.
__ADS_1
pic by google