
Excell mendatangi meja kami. Dadanya yang bidang dipadu jaket tebal terlihat tegap dan gagah.Tak ingin dia tahu, buru-buru kusembunyikan wajah dibalik dusbag belanjaan milik Eva yang masih tergeletak dimeja. Sambil mengatur nafas, berharap ia segera meninggalkan tempat ini karena sungguh akan melelahkan jika harus melayaninya berdebat.
Lily kusenggol pelan.
"Dia tak kesini kan ?"
Aku masih merunduk. Tak sekalipun mengangkat kepala. Belum ada jawaban. Kusenggol lagi. Tak kusangka lengannya jadi sekeras ini. Sejak kapan Lily suka berolahraga.
"Dia sudah pergi ?"
"Su... sudah"
Huft.
Sepertinya sudah aman. Si kunyuk itu rupanya tak melihat kami disini. Kusingkirkan tatanan dus bag didepan. Sekilas kulihat ia memang sudah tak ada. Yang kulihat hanya Lily tampak menghadapku disebrang meja. Ia mengedip-kedipkan matanya kearah sebelah kiri.
Ada perasaan tak nyaman yang menyergap tiba-tiba, saat kusadari bahwa Lily sejak tadi duduk disampingku bukan didepan. Yang kini dari ekor mata bisa kulihat nampak siluet seseorang yang tengah duduk disana menggantikannya.
Jantungku hampir melompat saat menoleh kesamping. Lelaki itu menopang dagu sambil menatapku. Dengan santai ia merebut soda milikku lalu meminumnya.
"Ah, badanku menggigil. Bagaimana dimusim seperti ini, masih ada yang minum soda dingin"
Si kunyuk itu mengejekku.
Aku meremas tissue.
"Dasar lelaki cerewet"
Umpatku kesal.
"Hey aku masih bisa mendengarmu ya !"
Alisnya yang tebal bergerak-gerak.
Huh. Kulirik Lily tertawa kecil. Matanya yang sipit masih memandangi lelaki itu dengan kagum.
"Tampan sekali..."
Pujinya. Aku hampir muntah mendengarnya.
"Ayo kita pergi"
Kuajak Lily beranjak dari tempat itu. Namun ia terasa berat meninggalkannya begitu saja.
"Kenapa terburu-buru. Sepertinya temanmu masih ingin berbincang denganku, hahaha"
Norak !
Sejak kapan Kunyuk itu menjadi sok akrab. Bodohnya, Lily mengangguk serta memperkenalkan diri sebagai junior di kampus. Mereka terlibat obrolan ringan. Aku cuek saja memainkan ponsel.
"Wah, LiLy... kau gadis hebat bisa makan sebanyak ini"
"Bukan. Bukan. Ini ide nya.. hehehe"
Eegh. Ia menyenggol lenganku. Aku melotot.
"Dia ? tak heran memang"
Excell berbicara setengah berbisik. Mereka tertawa.
Aku sedikit menggebrak meja. Mereka terdiam sesekali tertawa.
"Lihat, dia cemburu denganmu. Sepertinya ia baru menyadari jika aku cukup tampan untuk digoda wanita. Hahaha"
__ADS_1
"Hey !!"
"Kau bicara padaku ?"
Ia berakting seolah ketakutan.
"Cepat katakan apa maumu. Aku sedang lelah berdebat !"
"Tidak. Aku hanya mampir. Ingin memastikan siapa penguntitku tadi siang didekat toko kue. Ternyata memang ka**u"
Glekk.
"Penguntit kau bilang ?!"
"Lantas apa lagi ?!"
"Jangan mimpi !!"
"Tak usah malu"
"Lelaki gila !!!"
Aku buru-buru membereskan dus bag belanjaan kami. Lily mengikutiku dari belakang. Tak kupedulikan lagi ocehannya.
Halte bus tidak jauh dari sini meski harus beberapa menit berjalan. Excell mengikuti kami. Aku berjalan dengan cepat. Ia mengikuti lebih cepat lagi. Nafasnya terdengar ngos-ngosan.
"Astaga ! Kenapa kau mengikutiku lagi !"
Kudamprat ia saat sudah berdekatan.
"Aku ? Tidak !"
"Lalu ?!"
"Jangan besar kepala, nona ! Rumahku memang didaerah sini !!"
"Apa ?! Psikopat ?!"
Apa ??!"
Kalau dipikir memang ada benarnya. Aku ingat ia pernah mengatakan jika flatnya tak jauh dari sini.
"DIAAAAAAAAAM ... !!!!"
Kami terkejut. Setengah berteriak, Lily menatap kami satu persatu. Sambil menghela nafas berat, mendadak tersenyum aneh. Seolah akan mengatakan sesuatu yang penting.
"Senior mengikuti kemari, karena tertarik padaku bukan ??"
Kami melongo.
Aku tertawa keras. Kulihat wajah Excell pucat.
Lily lalu merapikan rambutnya. Matanya berkedip-kedip manja. Entah ia sedang kelilipan atau apa. Aku sungguh geli melihat gadis puber itu. Tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi sangat anggun.
Excell nampak ketakutan. Ia tadinya berdiri ditengah kami. Kini bergeser disebelah kananku seperti meminta perlindungan dari teror gadis ini.
"Aku tahu aku begitu cantik. Tapi senior jangan berbuat nekat seperti ini.. hikhikhik
Excell masih syok. Saat bus tiba ia langsung meloncat kedalam. Aku masih tertawa. Didalam bus, Lily menyusul ia dibagian belakang. Aku memperhatikan mereka hingga kaku mulutku karena terlalu banyak tertawa.
Excell berpindah ke depan. Ia menyusul duduk disebelahku.
"Minggir !"
"Tak mau ! Weeek !"
Ia menjulurkan lidah tanda mengejek. Aku melotot mengusirnya. Sekuat tenaga kudorong agar ia menjauh. Tak mau kalah, Excell bertahan diposisinya sambil memegangi sandaran kursi didepan agar tak goyah dan terjatuh. Penumpang pemilik kursi didepan kami menoleh tak senang. Sebelum diusir dari sini karena membuat keributan, akhirnya aku menyerah. Hah, hari melelahkan. Excell tersenyum menang.
__ADS_1
Karena tak enak dengan teman sendiri, kulihat Lily yang duduk dibelakang agak jauh dari kami. Tak nampak muka cemberut diwajahnya. Ia masih senyam senyum sambil mengkode jika sedang mengirim pesan ke ponselku .
_Kau lihat, ia terlalu malu sampai tak sanggup duduk disini denganku. Begitulah orang yang sedang kasmaran hikhikhik_
Kuperlihatkan pesan Lily kepada Excell. Ia menepuk jidat. Aku tertawa sampai kubungkam mulutku sendiri dengan tangan. Lelaki itu menggerutu.
"Kau yakin temanmu tak salah makan ?!" Dengusnya kesal. Aku hanya mengangkat pundak.
Aku fokus menatap jalan dari balik jendela kaca bus yang berembun. Langit makin menggelap, matahari telah naik keperaduan. Sore ini beranjak pekat. Dedaunan pohonan yang kami lewati bergoyang terbuai angin.
Beberapa kali aku mendengarnya berdehem, namun kuacuhkan. Gelagatnya seperti orang yang ingin menanyakan sesuatu, tapi ia pun masih ragu
"Jadi... sejak kapan kau dekat dengan nya ?"
Excell membuka percakapan. Aku menoleh.
"Lily ?"
Ia menggeleng. Terdengar nada suaranya berat,
"Sam..."
Ucapnya sembari menghela nafas.
Aku terdiam. Kenapa tiba-tiba menanyakan itu. Bukankah mereka juga tak akrab. Tak ada alasan baginya jika sekedar ingin tahu.
"Sejauh ini kami hanya berteman"
Jawabku singkat.
Entah ada motif apa si kunyuk itu. Yang jelas, ia lalu tersenyum. Dan sialnya, senyumnya manis sekali. Aku baru menyadari jika ada gigi gingsul disebelah kiri, diantara deretan giginya yang lain. Selama ini kami hanya sibuk bertengkar. Jadi hal semacam ini tak pernah terlintas dipikiranku.
Apa ? Manis ? Hiiiii... aku geli sendiri.
"Hey, Kenapa kau menggeliat seperti ulat ?! Ah aku jadi merinding !"
Ia berlagak seolah badannya gatal.
Egh. Aku tersentak. Excell membuyarkan lamunanku.
"Ulat ?! Katamu aku seperti ulat, hah ?! Rasakan ini !"
Kuambil dusbag-dusbag yang tadinya kutaruh bawah, kini dengan kasar kupindahkan ditengah tempat duduk kami. Ia nampak bergeser hampir tidak kebagian tempat duduk saking banyaknya belanjaan kami.
"Ah kau benar-benar wanita psikopat !"
Ia masih mengomel.
"Tenang, bersabarlah sebentar lagi. Diujung sana halte dekat flatmu kan"
Kataku santai.
"Hah ! benar-benar kau ya ! Bisa gila jika aku berdekatan dengan kalian berdua !"
"Kau sendiri cari masalah ! Weekkkk..."
Kujulurkan lidah kearahnya.
"Hey ! kau mau apa ?!"
Tubuhnya mendekat. Aku sedikit menyamping. Terpojok hingga pipiku menempel kaca. Jantungku berdegup kencang. Excell mendekatkan wajahnya ke telingaku. Ia terdengar seperti berbisik.
"Jauhi Sam jika hatimu tak ingin terluka. Aku tidak perlu mengatakan banyak, semua orang sudah tahu seperti apa dia. Dan ingat, segera kirim foto kemarin ke nomorku, nona pelupa !"
Setelah mengatakan itu, ia berdiri ke dekat pintu. Semakin lama bus berjalan kian melambat. Rem berdecit. Excell turun tak lama setelah bus berhenti. Aku terpaku menatapnya berlalu.
Pic by google
__ADS_1