Janji Cinta Sepupuku

Janji Cinta Sepupuku
Bab 10


__ADS_3

Ekspresi wajah Andreas sedikit kaku bagai es batu saat ia melihat jajanan yang ingin diberikan kepada Salsa cewek incarannya malah di ambil dan dimakan begitu saja oleh teman cewek yang diincar olehnya itu.


"Wah,trims ya, Dreas? Kamu baik banget deh sama kita-kita?"ucap Ecca dengan sikap manis dan wajahnya itu tampak santai sekali sambil menikmati jajanan Astor di depan Andreas.


" Iya, sama-sama Ecca."kata Andreas terpaksa harus memperlihatkan senyuman ramahnya di depan Salsa untuk Ecca yang cengengesan tak jelas di samping Salsa.


Andreas segera pergi ke tempat bermain untuk berkumpul bersama teman-temannya yang saat ini sedang bermain basket dilapangan basket di belakang sekolah mereka.


Salsa merasakan hpnya bergetar dari saku rok seragam sekolahnya lalu ia merogoh untuk ia bisa mengambil hpnya dan melihat pesan WA dari Marco Antonio Brown Salim cowok ganteng yang menjadi tunangannya sejak ia kecil.


"Sa, sedang apa kamu sekarang ini di sekolahmu di Jakarta? " tanya Marco di WA.


"Salsa sedang ngobrol sama teman-teman Salsa karena saat ini sedang jam istirahat pertama, Kak Marco." jawab Salsa di WA.


"Oh, ngobrolin apa aja nih? Apakah kamu sudah sarapan pagi di rumah sebelum kamu pergi ke sekolah pagi ini? " tanya Marco di WA.


Astrid, Ella, dan Ecca segera memandangi Salsa untuk menanyakan soal WA yang saat ini sedang menarik perhatian Salsa daripada obrolan yang sedang dibahas oleh mereka di taman sekolah mereka.


"Dari Mamaku. " jawab Salsa tak mau Astrid dan teman-temannya yang lain mengetahui tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Marco.


"Oh, bagus, cepat gih kau minta izin dari Mama kamu untuk ikut belajar bersama di rumahku pada siang nanti sepulang dari sekolah. " kata Ella dengan bisikan lembut di dekatnya.


"Oke, Ella." jawab Salsa memberikan jempolnya kepada Ella.


Namun di WA, Ia menulis lain untuk tunangannya itu tak menanyakan banyak hal tentang apa saja yang dikerjakannya di sekolah dan diluar sekolah atau lebih tepatnya di luar rumah Pak Hendri Salim Opa dari tunangannya itu.

__ADS_1


"Salsa, sedang bahas pelajaran, Kak." tulis Salsa di WA.


Lalu bel masuk ke kelas telah menyelamatkan Salsa dari berbagai macam pertanyaan yang diajukan oleh Marco kepadanya melalui WA di hpnya itu.


"Ahh, dia lebih bawel daripada Opa- nya. " batin Salsa.


Jam pelajaran berikutnya adalah pelajaran steno yang merupakan mata pelajaran menulis cepat ala sekretaris di kantor. Dan, Salsa kurang mahir dalam menulis tulisan steno yang ada goresan yang membingungkan baginya. Untungnya, Ecca temannya itu dapat membantunya sehingga ia tak terlalu kesulitan dalam mengerjakan soal steno.


*****


Pontianak, Kalimantan Barat.


Terik matahari dan udara yang gersang sungguh membuat Marco tersiksa untuk hidup di daerah yang cahaya mataharinya jauh lebih banyak dari daerah lainnya di Indonesia. Ditambah lagi, air putih di sana sangatlah minim sehingga ia luar biasa kekeringan pada tenggorokannya.


"Apakah disini tak ada sumber mata air mineral yang layak untuk dikonsumsi bagi kita? " tanya Marco yang duduk di kursi depan pabrik tempat dia bekerja kepada rekan kerjanya.


"Waduh, gimana kalian bisa bertahan hidup di daerah seperti ini? " tanya Marco penasaran.


"Ikhlas dan sabar untuk mengatasi masalah di dalam hidup kami." jawab rekan kerjanya yang bernama Yono sambil mengipas-ngipasi kepala berambut tebal dengan topi nelayan yang selalu dikenakan oleh Yono.


"Oke, Yono. Kau sepertinya bukan orang sini ya? Bolehkah Aku tahu darimana asalmu? Apakah kamu sudah memiliki keluarga atau kamu masih lajang? " tanya Marco dengan sikap ramah pada Yono.


"Aku berasal dari Semarang yang mendapatkan lowongan pekerjaan di daerah ini di Pontianak yang membuatku hidup di sini selama delapan tahun lebih dan mempunyai kekasih suku Dayak yang tinggal di kota ini juga. " jawab Yono yang menunjukkan foto kekasihnya kepada Marco melalui galeri di HPnya.


"Wah cantik juga pacarmu itu,Yono.Apalagi kuku tangannya runcing sekali." kata Marco menatap kuku panjang dan runcing di foto pacar Yono di HP milik Yono.

__ADS_1


"Iya, tradisi sukunya yang mengharuskan wanita memiliki kuku yang panjang dan runcing untuk simbol kecantikan mereka.Ohya, kalau Pak Marco gimana nih? Apakah Bapak juga sudah memiliki keluarga atau masih jomblo? " Yono pun menanyakan soal pasangan kepada Marco.


"Aku sudah memiliki tunangan yang masih SMA kelas dua belas." jawab Marco menghela napas dalam-dalam.


"Eh, bagus dong, seperti apa tunangan dari Pak Marco? " tanya Yono dengan senyum ramahnya kepada Marco.


Marco menunjukkan foto Salsa di hpnya kepada Yono yang mengangkat jempol kepada Marco di depannya.


"Cantik banget sih tunangan dari Pak Marco.Ini baru dari HP lho, gimana aslinya ya? Pastinya jauh lebih cantik dan manis luarbiasa." kata Yono memuji kecantikan Salsa di depan Marco.


"Ah,meskipun ia sangat cantik, dia tetap anak kecil yang kurang pantas untuk menjadi seorang tunangan untuk Aku yang sudah berusia dua puluh lima tahun pada tahun ini." kata Marco di depan Yono dengan mengernyitkan keningnya.


"Wah, tak apa, Pak Marco.Bertunangan sejak dini menunjukkan adanya pembelajaran untuk saling mengenal, memahami secara bertahap sebelum memasuki ke jenjang yang lebih serius yaitu ke jenjang pernikahan yang tentunya akan menjadi sebuah pernikahan yang paling bahagia untuk Pak Marco nantinya." kata Yono menghiburnya.


"Jauh lebih baik Pak Marco yang sudah memiliki tunangan di Jakarta daripada Saya Anton yang sudah berusia tiga puluh delapan tahun belum juga punya pasangan hidup." kata rekan kerjanya yang lainnya.


"Ahh,Pak Anton sih terlalu memilih jadi cowok." kata Yono dengan menggeleng kepala untuk Pak Anton.


"Kenapa kamu mengatakan bahwa Pak Anton itu seorang cowok pemilih banget? " tanya Marco yang tersenyum kecil mendengar godaan Yono untuk Pak Anton.


"Karena Pak Anton sudah sepuluh kali menolak perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya di Jambi untuknya sehingga ia sampai sekarang belum juga berkeluarga."jawab Yono yang pada akhirnya mendapatkan jitakan di keningnya oleh Pak Anton yang tampak kesal.


" Pak Anton, sabarlah kalau jodoh takkan pernah kemana-mana kok, "kata Marco ikut menjahili Pak Anton sambil melirik ke arah gadis cantik asal Palembang yang sedang duduk di kursi di depan pintu kantin pabrik.


"Siapa cewek cantik itu, Yono? "tanya Pak Anton yang juga telah melihat ke arah gadis cantik itu kepada Yono.

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2