
Teman-teman kerja Marco mengernyitkan dahi mereka saat melihat sikap angkuh dan sombong Marco yang tak mau bergabung dengan teman -temannya di kantin.
"Siapa anak baru itu? sombong banget sih." kata salah seorang dari teman-teman kerjanya yang tak suka dengan sikapnya.
"Eh, dia itu ku lihat tadi juga datang ke kantor ini dengan mobil sport milik Bapak Billy Salim." Kata teman satu divisinya di lantai tiga dari gedung perusahaan Salim Kusuma.
"Oh, rupanya dia supirnya Pak Billy?" cemooh salah seorang dari teman kerja di divisi lainnya di kantin sambil melirik sebal kepada Marco.
"Pak Marco, bisakah kita bicara berdua saja di tempat lain? " pinta Sanusi ramah kepada Marco di tempat duduk di ujung kanan kantin.
"Emm." gumam Marco.
Marco mengikuti Sanusi untuk keluar dari kantin dan mereka makan siang di bawah pohon di dekat parkiran motor khusus untuk karyawan tingkat rendah di perusahaan tersebut.
"Pak, bisakah Anda bersikap bersahabat dengan para karyawan di bagian office boy, office girl, cleaning service dan sebagainya untuk hormati kami sebagai karyawan kecil dari perusahaan kakek Anda? " pinta Sanusi.
"Bisa, asalkan kamu minta Erika untuk tahu diri di depanku." jawab Marco membuang sisa makan siang ke tempat sampah.
"Bu Erika itu atasan kita, Pak." kata Sanusi.
"Masa bodoh, emangnya Aku pikirin dia itu siapa karena bagiku, dia itu tetap orang tak tahu diri berani untuk menyuruh Aku membersihkan toilet di lantai tiga." kata Marco mendelik tajam pada Sanusi.
"Lah pekerjaan dari Bapak Marco kan sekarang ini adalah membersihkan toilet, membersihkan ruangan di lantai tiga, Pak?" ucap Sanusi pusing menghadapi cucu dari pemilik perusahaan dari tempatnya bekerja sebagai kepala divisi OB.
"Aku tak mau tahu dan tak mau mematuhinya.. " kata Marco yang meninggalkan Sanusi di area parkiran motor menuju ke dalam gedung kantor.
Seorang Karyawati yang bertugas sebagai staf operator menatapnya heran karena dia meminta karyawati itu menghubungi Papanya yang kerja sebagai Direktur Utama PT Salim Kusuma di lantai sembilan. Tentu saja karyawati itu tak bisa mempercayai ucapannya itu bahkan memanggil satpam untuk mengusirnya dari gedung kantor.
"Kau dipecat dari pekerjaanmu." kata Erika yang mendapat laporan mengenai karyawan baru di divisinya yang amat songong itu.
"Uhh, pecat ya silakan kau pecat saja lagipula aku tak suka kerja di bawah kamu wanita bau.." kata Marco yang melemparkan seragamnya ke arah Erika sambil meninggalkan kantor.
__ADS_1
Billy Salim Kusuma yang mendengar laporan dari asistennya mengenai anaknya itu langsung pusing secara mendadak maka ia langsung saja menelepon Papanya yaitu Bapak Hendri Salim di rumah melalui hpnya.
Marco memilih untuk berkeliling Jakarta dengan grabbike dan tak sengaja melihat sekolah Salsa Angelica Wijayanto. Pria ini segera meminta supir grabbike untuk berhenti di depan gerbang sekolah untuk menunggu Salsa pulang dari sekolahnya.
"Pak, bayar dulu ongkos Grabbike saya? " pinta supir Grabbike kepada Marco.
"Ah, baiklah, berapa ongkosnya?" tanyanya.
"Lima ratus ribu rupiah. " jawab supir grabbike itu yang melihat Marco seperti orang asing yang tidak tahu bagaimana cara hidup di Jakarta.
"Emm, baiklah. " kata Marco yang mengeluarkan hpnya untuk bayar ongkos grabbike nya namun ia dikejutkan dengan limitnya tak sampai lima ratus rupiah.
"Eh, jangan bilang kalau kamu bule miskin yang pengen menipu aku? " tanya supir grabbike itu nada tajam kepada Marco.
"Siapa bilang aku akan menipumu? Nih, Aku bisa bayar ongkos grabbike mu dengan uang tunai ku saja." jawab Marco yang mengeluarkan dompet lalu memberikan uang tunai lima ratus ribu rupiah kepada supir grabbike.
"Wah, terimakasih banyak atas pembayaran dari Anda untuk grabbike ku." kata supir grabbike itu yang langsung menancap gas mengendarai motor meninggalkan Marco di depan gerbang sekolahnya Salsa.
"Kak Marco sedang apa kamu menunggu aku di sini? Dimana mobilmu? " tanya Salsa dengan terheran-heran kepada Marco.
"Menjemput kamu, mm ada di rumah." jawab Marco.
"Hmm, baiklah.Kita pulang naik grabcar saja." kata Salsa memesan grabcar dengan aplikasi di hpnya.
"Kau sudah makan siang?" tanya Marco dengan santai kepada Salsa melihat penjual siomay di depan pintu gerbang sekolah.
"Sudah, Kak." jawab Salsa sopan.
"Haus? " tanya Marco melihat penjual minuman di depan gerbang sekolah.
"Tidak, aku bawa botol air minum dari rumah." jawab Salsa sopan kepada Marco sambil angkat botol minumannya untuk diperlihatkan kepada Marco.
__ADS_1
"Oke.Mari kita masuk ke dalam mobil grabcar di depan jalan yang sudah menunggu kita." kata Marco menggunakan lirikan matanya kepada grabcar untuk Salsa.
"Eh, ya Kak Marco." jawab Salsa sopan kepada Marco sambil masuk ke dalam mobil grabcar di samping Marco.
Sesampainya Marco di rumah.Opa nya telah di ruang utama untuk menunggunya dengan sinar mata marah kepadanya namun Opa nya selalu tetap tersenyum ramah kepada Salsa yang telah disuruh untuk naik ke lantai atas lebih dahulu.
"Kau..? Ikut Opa ke ruang pribadi Opa.. " kata Pak Hendri Salim menyeret Marco dengan menjewer telinga cucunya itu.
"Opa sakit ihh!!" teriak Marco.
Di ruang pribadi, Hendri Salim memarahi cucu laki-laki nya itu yang tetap merasa tak bersalah apa-apa terhadapnya.Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim Marco kerja di luar daerah di Kalimantan Barat.
"Apa?? Ya benar saja Opa...? Tidakkkkk! Opa kau mau membuang Aku ke hutan..?! " teriak Marco di ruang pribadinya.
"Ya, supaya kau tahu betapa aku ingin mendidik kamu dari nol.. " jawab Hendri Salim dengan sinar matanya yang tajam kepada Marco.
"Ya, tapi jangan mengirim aku ke luar daerah.. " Kata Marco manyun.
"Harus." Kata Hendri Salim dengan tegas.
"Oke, Aku akan melakukannya jika itu kemauan dari Opa untuk Aku tapi ku tak mau jabatan aku sebagai OB lagi." kata Marco dengan sinar mata menantang Opa nya.
"Baik." jawab Hendri Salim yang merencanakan sesuatu untuk mendidik cucunya agar cucunya itu menjadi seorang pria dewasa yang dapat bertanggungjawab dengan baik dan benar.
"Oke, kapan aku akan berangkat kerja ke daerah Kalimantan Barat? " tanya Marco santai kepada Hendri Salim.
"Malam ini agar kamu bisa mulai bekerja pada esok pagi." jawab Hendri Salim yang geregetan terhadap cucunya itu.
"Oke, aku siap,sekarang aku mau menyiapkan keperluan ku dulu di kamarku." kata Marco yang langsung kabur dari ruang pribadi Opa nya tanpa permisi lagi.
Bersambung!!
__ADS_1