
Salsa mengantarkan kedua orangtuanya ke arah parkiran mobil sebelum kedua orangtuanya itu pulang dari rumah Pak Hendri Salim, dan ia bisa merasakan desiran angin dingin menerpa hati nya ketika Papa dan Mamanya meninggalkannya di rumah Pak Hendri Salim dengan mengendarai mobil keluarga Wijayanto.
"Sa, yuk kita masuk ke dalam rumah karena hari sudah hampir larut malam dan kau harus cepat tidur supaya esok pagi kau tak terlambat pergi ke sekolah." kata Marco disampingnya.
"Iya,Kak Marco. Tapi, tunggu sebentar Aku masih ingin menyendiri di sini."kata Salsa nada sendu kepada Marco yang cepat menundukkan wajah untuk melihat Salsa.
"Ya, baiklah tapi kau jangan terlalu lama disini karena Aku akan menunggumu di lantai tiga." kata Marco memahami perasaan Salsa.
Marco membiarkan Salsa berdiri seorang diri di parkiran mobil untuk Salsa dapat menenangkan hati dan pikiran usai ditinggal di rumah Pak Hendri Salim oleh kedua orangtuanya.Marco tak pergi jauh dari parkiran mobil melainkan pemuda ini menunggu Salsa di teras rumah Pak Hendri Salim dengan tersenyum sabar menanti gadis itu menemuinya.
Dennis memandangi Salsa dari balkon kamarnya di lantai dua dengan perasaan hatinya yang saat ini sedang galau karena Salsa akan menjadi istri dari Marco dalam hitungan hari saja.
"Salsa, akan menyelesaikan pendidikan SMA nya sekitar dua minggu atau tiga minggu lagi yaitu usai ia menyelesaikan ujian nasional,mengikuti wisuda kelulusannya dan acara perpisahan untuk selamanya dengan sekolah dan teman - temannya lalu ia akan menjadi istri dari si bodoh Marco.Uh, menyebalkan sekali." gumam Dennis.
Dennis saat ini sedang mabuk vodka karena pria muda ini ingin menghilangkan rasa sakit karena patah hati cinta pertamanya dengan gadis cantik sepupunya sendiri.
Marco menunggu Salsa dengan sabar sekali di teras.Ia tiada pernah bisa mengalihkan perhatian nya dari Salsa yang semakin cantik dengan sinar rembulan purnama di malam hari itu jatuh ke wajah manis gadisnya itu.
"Ahh, cantiknya tunangan kecilku sampai Aku tak sabar untuk merasakan kebahagiaan berada di pelukanmu untuk selamanya setelah akhir bulan ini kau akan segera menikah denganku dan jadi istriku untuk selamanya." kata Marco nada pelan namun terdengar oleh Salsa yang sedang naik ke teras untuk menemuinya.
Salsa semakin merasakan hatinya sedih karena ia masih ingin merasakan indahnya dunia di masa remajanya dan ia ingin tahu bagaimana cara bekerja untuk mendapatkan uang sendiri, bersenang-senang dengan teman-temannya, dan hal lainnya di dunianya yang seharusnya indah.
__ADS_1
"Kebahagiaan yang ku inginkan adalah ilusi yang takkan pernah menjadi nyata." batin Salsa.
Marco meraih jemarinya lalu mengajaknya ke arah lift untuk menuju ke lantai atas.Salsa dapat merasakan debaran jantungnya ketika Marco di sampingnya memeluknya dengan erat sekali di dinding lift.
"Salsa, kau malam hari ini sangat cantik sampai Aku tak pernah bisa melepaskan pandangan mataku darimu, gadis kecilku yang cantik." kata Marco nada lembut di telinga Salsa. Tangannya Marco menyentuh rambutnya dengan halus dan lembut sampai Ia menggigil karena debaran jantungnya sendiri.
"Oh, Salsa apakah kamu sudah jatuh cinta pada Kak Marco dengan secepat ini?" batin Salsa.
Marco mengajak Salsa masuk ke kamar tidurnya di lantai tiga yang terdapat lukisan pegunungan Himalaya, dan guci cantik motif bunga persik di musim semi terpajang di Koridor lantai tiga, dan kamar tidur Marco berada di belokan lorong kiri dari koridor dekat lift.
"Sa, mulailah untuk belajar menemaniku tidur di kamarku. " kata Marco yang mencium kening Salsa dengan lembut.
"Sa, ku perintahkan kamu untuk menemaniku tidur di kamarku." kata Marco nada keras dan tegas kepada Salsa yang kedua pundaknya di pegang oleh kedua tangan kuat Marco.
"Kak Marco jangan.. " pinta Salsa merinding saat Marco mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan di tempat tidur pemuda itu.
"Aku takkan pernah menyentuhmu kok sebelum kita resmi menikah. Aku cuma ingin kita berdua tidur di tempat tidur yang sama di kamar yang sama, itu saja Sa. " kata Marco nada lembut di telinga Salsa sambil berbaring di samping kanan Salsa.
"Eh, Kak Marco ganti baju dulu dengan piyama sebelum tidur." kata Salsa dengan cepat agar ia tak merasa malu karena tuduhannya terhadap Marco yang di kira olehnya akan melakukan hal itu kepadanya.
"Eh, ya Aku lupa. Aku mau mandi dahulu saja." kata Marco yang segera melompat ke arah kiri kamarnya yaitu kamar mandi.
__ADS_1
Salsa menggunakan kesempatan ini untuk lari dari kamar tidur Marco namun ia memekik kaget karena Marco telah mengunci kamarnya dengan menyimpan kuncinya di tempat yang tak bisa di temukan oleh Salsa.
"Ishhh, Kak Marco curang.. " kata Salsa dengan nada kesal sendiri.
Salsa juga dikejutkan dengan ruang pakaian di kamar tidur Marco yang lemari di sisi kanan ada pakaian, sepasang sepatu, alat make up, dan aksesoris milik Salsa yang rupanya telah Marco pindahkan semuanya ke kamar tidur Marco.
"Sa, anggaplah ruangan ini sebagai rumah baru kita nantinya." kata Marco yang melingkarkan kedua lengannya di pinggang kecilnya dari arah belakang tubuhnya.
"Eh, Kak Marco, Aku mau mempunyai rumah lain bukan disini. Apakah kamu mau memikirkan tempat tinggal yang lebih baik dari rumah Opa untuk kita berdua bisa hidup mandiri setelah kita menikah? " ucap Salsa halus supaya Marco bisa melepaskannya.
"Iya, bisa,karena aku juga menginginkan suatu kebebasan untuk menentukan masa depanku sendiri sebagai seorang pria dewasa yang tidak pernah bisa di atur terus menerus oleh mereka para orangtua." ujar Marco melepaskan Salsa dari pelukannya dan berjalan ke tempat tidur lain di ruangan yang mengejutkan Salsa sendiri.
"Ehhh, dia mengerjai ku?! " batin Salsa.
Salsa berdecak lidahnya sebelum pergi ke kamar mandi untuk berganti gaun malam dengan baju tidur motif hello kitty warna kuning lalu menuju ke tempat tidur.
"Sa, Aku bukan laki-laki dewasa yang kerjanya cuma memanfaatkan gadis kecil sepertimu. Aku bisa melakukan apapun dengan benar tanpa aku harus selalu diatur oleh Opa Hendri Salim dan Papaku yang selalu menganggapku seperti anak kecil saja." kata Marco dari ruangan lain kepada Salsa yang hanya mendengarkan keluhan yang dikeluarkan oleh Marco.
"Dia mabuk vodka juga rupanya namun ia masih ingat etika untuk menghormati seorang wanita sepertiku yang masih seorang gadis kecil dan belum pantas untuk menjadi calon istri dari pria dewasa seperti dia." batin Salsa.
Bersambung!!
__ADS_1