
Pak Rudi Wijayanto yang baru pulang dari kantor melihat kehadiran Salsa di ruang makan dalam rumahnya tak bicara apapun kepada Salsa yang seperti diacuhkan oleh kedua orangtuanya.
"Selamat makan malam untuk Papa,mari kita makan malam bersama-sama dengan nyaman di ruang makan kita yang sederhana dan ceria." kata Salsa berdiri untuk menyendokkan nasi di piring untuk Papanya dari rice cooker.
Rudy mengambil piringnya tanpa mengucapkan terimakasih kepada Salsa.Ia juga menolak untuk diambilkan lauk-pauk oleh Salsa yang ingin Papa dan Mamanya selalu hangat terhadapnya.
"Duduk,dan habiskan makananmu lalu kau pergi ke kamarmu." kata Lisa Wijayanto dengan lirikan matanya kepada Salsa yang tahu isyarat dari Mamanya itu.
Salsa mematuhi perintah dari Mamanya lalu Ia pamit undur diri untuk tidur cepat di kamarnya.Ia tak sengaja mendengarkan pertengkaran antara Mama dan Papanya di lantai bawah yang telah disebabkan oleh dirinya.
"Ma, kenapa Mama mengizinkannya menginap di sini meskipun ia sudah diberikan izin dari Marco namun ia tetap harus mendapatkan izin dari Pak Hendri Salim?"tanya Papanya kepada Mamanya dengan nada keras.
"Karena Mama merasa tega kepada Salsa, Pa.Ia anak perempuan kita satu-satunya dan lagipula Marco sudah mengirimkan pesan WA kepada Mama yang menyatakan bahwa anak itu telah memberikan izin untuk Salsa dapat menginap di sini selama satu hari saja sampai esok pagi." jawab Lisa Wijayanto menunjukkan pesan WA dari Marco kepada suaminya.
"Marco melakukan hal itu supaya Salsa tak jadi sama dia,Ma.Asal Mama tahu saja Marco itu adalah anak muda yang selalu memberontak terhadap peraturan yang berlaku di rumah Pak Hendri Salim, dan kita tak boleh membiarkannya membuat Salsa menderita di rumah Pak Hendri Salim karena perilakunya itu, Ma."kata Rudy nada yang lebih keras kepada istrinya yang dinilainya terlalu lemah terhadap Salsa.
"Tapi, Pa?"
"Tak ada kata tapi,Ma."
Salsa menutup kedua telinganya mendengarkan pertengkaran antara Papa dan Mamanya.Gadis itu meneteskan airmata kesedihan karena Papa dan Mamanya tak memikirkan perasaannya.
*****
__ADS_1
Pabrik Kayu,Pamulang.
Marco dan Dennis mengundang para buruh dan Pak Yusuf makan malam bersama di restoran terbaik di Pamulang usai mereka menyelesaikan pekerjaan dengan kerjasama yang sangat baik.
"Pak Marco, terimakasih atas undangan makan malam untuk kami." kata Pak Yusuf mewakili para buruh lainnya.
"Sama-sama Pak Yusuf. Aku juga mengucapkan terimakasih atas kerja keras kalian untuk pabrik usaha keluargaku."kata Marco nada ramah dan bersahabat kepada Pak Yusuf dan para buruh pabrik.
Sesudah mereka menghabiskan waktu bersama di restoran tersebut. Marco dan Dennis kembali ke Jakarta dengan mengendarai mobil pribadi Marco.
" Sekarang sudah jam dua belas malam, Marco. Apakah kamu masih ingin berkeliaran di Jakarta setelah kita seharian kerja di Pamulang? " ucap Dennis di dalam jok mobil sebelah Marco yang menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Iya, Aku sudah muak untuk tinggal di rumah Pak Hendri Salim yaitu Opa kita.Karena aku ingin cari kebebasan di dalam hidupku,Den.Aku tak mau selalu diatur oleh Opa." ujar Marco.
Dennis tersenyum di dalam hatinya mendengar keluhan Marco terhadap Opa mereka.Pria ini di dalam hatinya memikirkan cara untuk membuat Marco tak disukai oleh Opa mereka agar semua kekayaan Opa mereka jatuh ke tangannya.
Marco mengajak Dennis pergi ke klub malam di salah satu daerah Jakarta Selatan.Di sana,kedua orang pemuda ini bersenang-senang bersama para wanita penghibur dan saling bersulang wine satu sama lainnya.
"Nona cantik siapa namamu?Maukah kamu ikut Aku berdansa di tengah-tengah ruangan ini?" ajak Marco dalam keadaan mabuk Wine kepada salah satu dari wanita penghibur di klub malam.
"Agnes,ya tentu saja." jawab wanita penghibur itu merangkul Marco dengan sikap genit.
Marco terkekeh senang mendengar jawaban dari wanita penghibur itu lalu Ia mengajak wanita penghibur itu berdansa di ruangan klub malam bersamanya.Dennis memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat video mengenai kelakuan dari Marco untuk dikirim kepada Opa mereka.
__ADS_1
"Coba saja kau menjebakku,Den."batin Marco di lantai dansa sambil melirik ke arah Dennis di meja bartender.
Marco merenggangkan tubuhnya agar menjaga jarak antara dirinya dengan wanita penghibur di depannya sehingga ia tak bersentuhan secara langsung dengan wanita penghibur itu.
" Agnes,bisakah kamu mengirim temanmu untuk menemani sepupuku yang duduk di depan meja bartender agar ia tak merasa kesepian?"pinta Marco nada sopan dan ramah kepada Agnes si wanita penghibur itu.
"Iya, tentu saja, Tuan Marco."Jawab Agnes yang menyadari bahwa pemuda di depannya itu tak menginginkannya untuk berdansa melainkan untuk membalas jebakan sepupu pemuda itu.
Agnes mengambil HP lalu mengirim pesan WA kepada temannya untuk mendekati Dennis yang duduk di depan bartender sehingga Marco bisa merekam Dennis sedang berduaan dengan Laila temannya Agnes yang juga sama-sama wanita penghibur.
" Sudah, "kata Agnes mendekati Marco supaya ia bisa melindungi Marco dari geraman Dennis di seberang mereka yang tertutup oleh para pengunjung klub malam.
"Terimakasih atas bantuanmu, Agnes.Suatu hari nanti aku pasti akan membalas budi baikmu itu kepada ku."kata Marco mengedipkan sebelah matanya kepada Agnes yang terkekeh senang mempunyai seorang teman seperti Marco.
Dennis menepis tangan Laila yang ingin meraih pipinya dengan sikap genit.Ia melotot tajam ke arah Marco yang masih berdansa dengan Agnes di lantai dansa. Karena Ia tahu bahwa Marco lah yang melakukan hal itu kepadanya untuk balas dendam terhadapnya.
" Aku akan hapus video mu dengan Agnes."desis Dennis saat Marco sudah kembali kepadanya di meja bartender dan mengambil secangkir wine di meja bartender lalu meminumnya dalam satu kali tegukan saja.
"Mm, berikan hpmu dulu kepadaku." kata Marco di depan Dennis dengan senyuman tajamnya.
Dennis pun mematuhinya dengan memberikan HP milik Dennis kepada Marco yang ternyata tak hanya mengutak-atik HP Dennis tetapi juga di celupkan ke dalam gelas wine milik Dennis di depan sepasang mata Dennis.
"Lain kali aku bukan hanya menenggelamkan HP mu di gelas wine melainkan dirimu yang akan ku tenggelamkan di sungai muara angke jika kamu tak pernah berhenti untuk mencoba menjelekkan namaku dan image ku di dalam penilaian Opa." kata Marco nada dingin kepada Dennis yang kini terpaku di kursinya.
__ADS_1
Marco mengabaikan Dennis di kursi depan meja bartender dengan ia memilih untuk pergi dari klub malam dengan Agnes dan Laila yang kini menjadi teman-temannya yang baru di Jakarta, Indonesia.
Bersambung!!