
Marco mengajak Salsa makan siang di restoran makanan ala Jepang di salah satu mal mewah di Jakarta dan membelikan beberapa pakaian juga tas dan sepatu yang cocok untuk Salsa.
"Kak Marco, kakak tak perlu membelikan aku pakaian, tas dan sepatu sebanyak ini. " kata Salsa merasa tak nyaman kepada Marco yang duduk di jok depan setir.
"Tak apa, Salsa. Aku suka kok mendandani gadis secantik kamu. " kata Marco tersenyum ramah kepada Salsa.
"Hmm, ya baiklah Kak Marco, terimakasih ya." kata Salsa membalas senyuman Marco.
Setibanya mereka di rumah Opa mereka yang di daerah Jakarta Pusat.Marco membukakan pintu mobil untuk Salsa sambil membantu gadis itu membawa tas belanjaan.
"Wah, kalian berdua sudah saling kenal dan akrab ya dengan cepat? " ucap Pak Billy Salim yang bertemu dengan mereka di tangga menuju ke ruang utama rumah mewah Salim.
"Ya, Pa. Kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan secepat ini berkenalan dan akrab. " kata Marco sambil melewati Papanya.
"Ya, O'om Rudi. " jawab Salsa sopan.
"Baguslah, Papa sangat menyukai keakraban di antara kalian berdua untuk mempererat apa yang seharusnya terjalin diantara kalian berdua untuk masa depan keluarga kita. " kata Pak Bily dengan senyumnya kepada Marco dan Salsa.
"Iyalah, kita 'kan saudara sepupu yang memang harus saling kenal dan akrab dong." kata Marco yang sudah melangkah masuk ke ruang utama.
"Kita bukan sekadar saudara sepupu tetapi kita adalah sepasang tunangan sejak kecil oleh kedua orang tua kita. " kata Salsa dengan nada pelan sambil berjalan di belakang Marco menuju ke lift.
"Baiklah, Sa. Kau bisa kan bawa belanjaanmu ke kamarmu sendiri karena aku harus menemui Opa di ruangannya. " kata Marco menyerahkan tas belanjaan kepada Salsa di lift.
__ADS_1
"Iya, Kak Marco. " jawab Salsa sopan menerima tas belanjaan dari Marco yang sudah berbelok ke kanan yaitu koridor menuju ke ruangan Opa mereka.
Di ruangannya yang luar dan tertata dengan rapi sekali.Pak Hendri Salim sudah menunggu Marco dengan sabar di ruangannya sambil menonton film kesukaannya dan makan kue donat yang di letakan di piring di atas meja depan sofa santai yang didudukinya itu.
"Marco, kemarilah dan duduklah di sini dekat Opa. " kata Pak Hendri Salim tanpa mengalihkan perhatiannya pada TV di depannya.
Marco menghampirinya dengan duduk di dekat Pak Hendri Salim lalu menunggu Opanya bicara kepadanya sembari menonton film yang tak menarik baginya sama sekali.
"Yang benar saja aku disuruh datang ke ruangan ini cuma untuk menemaninya menonton film kuno yang membosankan ku..? " pikir Marco.
"Marco, bagaimana menurutmu tentang Salsa sepupumu itu? " tanya Pak Hendri Salim dengan senyum penuh arti kepada Marco.
"Cantik, baik dan pintar. " jawab Marco.
"Lalu apakah kamu ada sesuatu yang membuat kamu merasa nyaman dan tertarik dengannya? " tanya Pak Hendri Salim lagi dan kali ini seperti seorang pria tua yang penasaran.
"Bukan, kalian berdua bukan sepupu, Marco. Dia dari keluarga Wijayanto yang merupakan kerabat jauh dari keluarga Salim yaitu keluarga kita. " kata Pak Hendri Salim membenarkan kata-kata Marco.
"Ya, terus ada hubungan apakah denganku? " tanya Marco yang tertarik dengan pembicaraan tersebut.
"Tunangan sejak kalian berdua masih kecil sekali yang sudah lama diputuskan oleh kedua pihak keluarga kita, Marco. Karena itu baik kamu maupun Salsa dilarang untuk memiliki kekasih lain dan kamu dimulai dari besok harus rajin bekerja sebagai karyawan diperusahaan Opa untuk masa depanmu dan Salsa karena Opa dan keluarganya telah memutuskan untuk kalian berdua menikah setelah Salsa lulus dari sekolah nya agar kamu bisa memiliki perusahaan yang Opa dirikan. " Jawab Pak Hendri Salim yang mengejutkan Marco.
"Eh, yang benar saja, Opa? Masa iya aku harus menikah dengan anak kecil seperti dia??? " tanya Marco tak pernah percaya bahwa dizaman yang sudah globalisasi masih ada perjodohan yang seperti dizaman kuno.
__ADS_1
"Benar, harus,Dan jika kamu tak memenuhinya maka kamu akan Opa coret sebagai ahli waris perusahaan Opa dan namamu belakangmu akan dibuang dari surat kartu keluarga Salim. " jawab Pak Hendri Salim dengan nada tegas kepada Marco.
"Astaga, Opa.Aku seorang Marco Antonio Brown Salim harus bertunangan dan menikah dengan seorang gadis kecil yang sudah menjadi sepupu ku selama ini...? Apa kata dunia nanti tentangku yang sudah terkenal sebagai seorang pria yang memiliki petualangan luas tentang wanita yang bagaimanapun jenisnya harus melakukan hal yang tidak masuk akal sehat bagiku??? " Marco menatap Opanya dengan tak percaya sama sekali.
"Ah, apa dunia ini menanyakan soal kehidupan mu? " tanya Pak Hendri Salim dengan nada yang menyakitkan hati Marco.
"Tidak sih, "
"Kalau tidak, untuk apa kamu memusingkan soal dunia yang tidak pernah mempedulikanmu dan menanyakan bagaimana cara hidupmu di dalam keluarga Salim yang terhormat. " kata Pak Hendri Salim yang membungkam mulut Marco.
"Emm, Opa jahat banget sih sama Aku cucumu sendiri? " ucap Marco manyun.
"Jahat bagaimana yang menurut penilaianmu itu terhadap rencana untuk masa depanmu sendiri? " tanya balik Pak Hendri Salim dengan nada keras kepada Marco.
"Ya, menggunakan persyaratan untuk menjadi seorang ahli waris perusahaan Opa adalah aku harus bertunangan dengan Salsa dan menikah dengan gadis itu setelah gadis itu lulus SMA nya begitukah? Ah, apakah Opa tidak merasa iba atau kasihan kepadanya untuk menikah muda dengan seorang pria playboy seperti aku? " Marco semakin berang dengan keputusan dari Opanya itu.
"Salahkan saja dirimu yang selalu hidup tak jelas dengan kamu membangun perusahaan yang tak pernah berkembang dan hanya membuang- buang uang dan waktumu saja juga kamu ini memiliki gaya hidup yang berantakan dengan kamu selalu berpacaran dengan sejumlah gadis tak jelas asal-usulnya dan perilakunya." kata Pak Hendri Salim yang tak mau dibantah lagi oleh Marco.
"Opa, beri aku waktu untuk mempertimbangkan kembali rencana mu itu dengan aku berjanji untuk mulai dari awal lagi untuk membangun pola hidup yang sesuai dengan keinginanmu dan keluarga Salim yang terhormat. " pinta Marco.
"Baik,asalkan kamu bisa mengubah cara hidup mu itu dengan membuktikan bahwa kamu bisa menjadi seorang pria dewasa yang mandiri dan penuh tanggungjawab. " kata Pak Hendri Salim menyetujui permintaan dari Marco.
"Terimakasih Opa, sekarang aku harus pergi ke kamarku untuk istirahat secepatnya. " kata Marco sopan untuk pamit keluar dari ruangan Pak Hendri Salim.
__ADS_1
Di kamar lain, Salsa mengerjakan tugas sekolah dengan fokus sekali sampai gadis itu tidak lihat atau dengar suara dering hpnya yang tergeletak di ranjangnya di belakang kursi belajarnya.
Bersambung!!