
Kediaman Wijayanto, Jakarta Utara.
Salsa mengunjungi rumah orangtuanya untuk ia bisa berkumpul bersama dengan keluarganya dan teman-temannya sebelum ia akan menikah pada esok harinya.
"Sa, ayo kita bersenang-senang sepuasnya pada satu hari ini."kata Ella, Ecca dan Astrid tiga orang sahabat sejatinya di taman bunga samping kiri rumah orangtuanya yang sederhana namun asri sekali.
"Rumah orangtuamu sangat cantik dan adem." kata Ecca yang memandang kagum dengan gaya arsitektur bangunan rumah Wijayanto tapi lirikannya ditujukan kepada Eric sepupu dari Salsa.
Eric yang merasa diperhatikan oleh seseorang itu menoleh ke arah belakang dan menemukan Ella yang juga sedang menoleh ke arahnya dan pemuda ini merasakan getaran cinta yang sudah lama tak pernah terjadi pada dirinya setelah ia gagal dalam cinta pertamanya terhadap Salsa.
"Hai.." sapa Eric ramah kepada Ella yang manis.
"Hai juga, boleh kita bicara dengan bebas tanpa ada gangguan siapapun." kata Ella yang ingin memperkenalkan Ecca kepada Eric.
"Iya, bolehlah." kata Eric ramah kepada Ella.
Ella memberikan isyarat untuk Ecca yang sigap langsung mengikuti langkah Eric pergi ke tempat lain di rumah Wijayanto.Sedangkan Ella sendiri membicarakan tentang Dennis Rodman kepada Salsa.
"La, Kak Dennis sudah punya pacar. " kata Salsa memberitahu Ella kalau sepupu dari calon suami nya itu sudah punya pacar supaya sahabatnya itu tidak berharap terlalu banyak.
"Dia baru punya pacar belum istri kan? " tanya Ella yang ternyata pantang menyerah untuk raih cintanya pada Dennis Rodman.
"Hmm, ya sih." jawab Salsa nyengir.
"Yang terpenting adalah dirimu,Sa.Apakah kamu sudah siap untuk menikah di usia muda pada esok hari? " Ella tersenyum memandang sahabat sejatinya yang cantik dan manis itu.
"Ya,siap atau tidak siap, Aku harus menerimanya sebagai takdir ku." jawab Salsa menghela napas panjang.
"Lalu apakah kamu ada perasaan cinta terhadap Kak Marco tunanganmu itu? " tanya Astrid yang duduk di kursi dekat Salsa sambil menikmati minuman soda rasa buah persik kepada Salsa.
__ADS_1
"Ada, sejak dulu Aku sudah menyimpan rasa di hatiku untuk Kak Marco hanya saja Aku harus sabar untuk menunggu hari ini akan segera tiba untukku bisa mendampinginya seumur hidupku." jawab Salsa tersenyum lebar.
"Syukurlah,Sa.Kamu tahu gak Aku hampir saja menduga bahwa pernikahanmu dengan Kak Marco adalah paksaan dari kedua belah pihak keluarga kalian bukan dari dirimu sendiri." kata Ella yang mengajak Salsa dan Astrid bersulang minum soda rasa buah persik.
"Minuman ini sangat segar sekali." kata Astrid.
Di tempat lain, Ecca menunggu Eric bicara pada dirinya namun Eric mengernyitkan kening dan sikap pemuda itu malah dingin dan terkesan tak suka dengannya.
"Maaf jika kamu tak mau berkenalan denganku, Aku juga takkan pernah memaksamu kok." kata Ecca yang segera berbalik untuk pergi dari ruang serbaguna.
"Tunggu, kata siapa aku tak mau berkenalan denganmu." kata Eric nada acuh tak acuh yang sangat jelas kepada Ecca.
"Nada mu itu yang menunjukkan bahwa kamu tak mau berkenalan denganku."jawab Ecca tak mau direndahkan oleh cowok ganteng di depan sepasang matanya itu.
Eric menyambar lengannya sampai gadis manis ini kaget dan otomatis menengok kepada Eric yang mendekatkan bibirnya pada bibir Ecca yang manis.
" Inikah yang kamu mau dariku yaitu sebuah satu ciuman pertama dari cowok ganteng sepertiku? "tanya Eric mengangkat dagu halus Ecca dengan sinar matanya begitu merendahkan Ecca.
Eric tertawa sendiri tanpa ada rasa bersalah di wajahnya yang tampan itu.Ia segera berhenti untuk tertawa ketika ia melihat Ella yang sedang berjalan menuju ke arah meja aneka makanan ringan.
" Ella.. "panggil Eric cepat menghampiri gadis itu yang mengangkat sedikit bibir kearahnya.
" Kau menghina sahabatku jangan harap kamu bisa mendekatiku."kata Ella nada judes kepada Eric.
"Ehh.. "
"Ehh, apa, ah?! "
"Semua salahmu yang menyuruh temanmu itu untuk berkenalan denganku padahal kau sudah tahu bahwa Aku ingin berkenalan denganmu bukan dengan temanmu."
__ADS_1
"Oke.Aku minta maaf kepadamu. Selesai urusan kita." kata Ella yang membatalkan niatnya untuk mengambil cemilan di meja itu dengan memilih pergi ke arah meja lainnya yang menyediakan makanan buah-buahan segar seperti salad buah.
Salsa duduk di sofa dekat Mamanya yang telah memanggilnya untuk berbicara dengannya di ruang keluarga.Dimana ia bisa melihat para tantenya, sepupu perempuan dan Kakaknya di ruang keluarga.
"Sa, kamu harus dengarkan kami sebagai saran atau bimbingan untukmu untuk bekal kehidupan mu setelah menikah dengan Marco pada esok hari." kata Mamanya memeluknya hangat.
"Iya, Mama."
"Ingat jaga kesehatan dalam dan luar tubuhmu untuk suamimu dapat nyaman didekatmu." kata Kakaknya yang bernama Zeva.
"Iya, Kak Zeva. Bagaimana denganmu dan suami kamu? " tanya Salsa tersenyum untuk Kakaknya.
"Baik selalu bahkan suamiku itu mengharapkan agar kami menambah momongan kami." jawab Zeva sambil menggendong balita usia dua tahun yang bernama Silvana.
"Bagus dong, Aku turut bahagia untukmu." kata Salsa tersenyum lebar untuk Kakaknya sambil ia membelai lembut keponakannya yang lucu itu.
"Sa, ingat mulai besok kamu harus mulai belajar untuk menjadi seorang istri, menantu dan cucu menantu Keluarga Salim dengan bijak dan baik terutama untuk Marco suamimu dengan kamu harus menghormati,merawat, mematuhinya dan selalu ada untuknya supaya hidupmu di rumah Pak Hendri Salim selalu bahagia seumur hidup kamu." kata para tantenya memberikan nasehat untuknya.
"Iya, Tante makasih atas nasehatmu." jawab Salsa tersenyum sopan kepada para tantenya.
"Baiklah, sebaiknya kamu cepat istirahat untuk esok pagi kamu bisa tampil segar dan cantik di hari pernikahanmu, dan jangan lupa untuk kamu harus minum vitamin kesuburanmu supaya kau bisa cepat untuk hamil setelah menikah." kata Mamanya yang mengantarkannya ke kamarnya.
"Iya, Ma. Aku lebih suka untuk minum susu dari minum vitamin ini." kata Salsa yang mengernyit karena aroma jamu di dalam gelas yang berada di tangannya.
"Emm, jangan membantah Mama untuk kamu tak mau minum vitamin ini untuk masa depanmu juga, nak." kata Mamanya yang memaksanya untuk minum vitamin.
"Eh, istriku kamu jangan sembarangan beri dia minum vitamin nanti berbahaya baginya." kata Papanya yang untungnya telah datang ke kamar tidurnya dengan tepat waktu karena Papanya ini ingin berbincang dengannya di malam terakhir ia sebagai seorang gadis muda sebelum menikah.
"Eh, ya Pa. Mama tahu kok mana yang baik untuk Salsa." kata Mamanya yang segera membuang jamu itu di wastafel kamar mandi dekat kamar tidur Salsa.
__ADS_1
Bersambung!!