
Salsa menemui Marco yang sedang berkemas di kamar pemuda itu usai makan malam di ruang makan di lantai bawah.Gadis itu mengetuk pintu kamar tunangannya lebih dahulu untuk dapat izin masuk ke kamar pemuda yang sedang sibuk berkemas itu.
"Sa, Aku sedang sibuk untuk berkemas, jadi kau jangan pernah mengganggu aku dahulu." kata Marco di lantai kamarnya sendiri tanpa menoleh kepada Salsa.
"Aku cuma ingin membantu Kakak berkemas, itu saja kok." kata Salsa mengambil jaket di lantai depan pintu kamar tunangannya itu.
"Ahh, Aku akan pergi kerja ke Kalimantan Barat di mulai dari malam hari ini atas perintah dari Opa, jadi ku minta kau harus jaga dirimu baik- baik disini." kata Marco sambil melipat baju- baju di atas ranjangnya untuk di taruh di kopernya di atas lantai depannya.
"Iya, Kak.Kakak juga harus jaga kesehatan dan harus rajin bekerja supaya Opa tak marah lagi sama Kakak." kata Salsa memberikan jaket di tangannya kepada Marco.
Marco menganggukkan kepalanya sambil ambil jaket dari tangan Salsa lalu memasukkan jaket ke dalam kopernya yang langsung dikunci rapat olehnya. Ia segera berdiri dan meraih tas travel nya di atas ranjang usai memakai sepatu kets di depan Salsa.
"Kak Marco, Salsa ingin meminta sesuatu dari Kakak sebelum Kakak pergi kerja ke luar daerah pada malam hari ini." pinta Salsa secara tiba-tiba kepada Marco yang berdiri di depan pintu kamar.
"Apa yang kau minta dariku? " tanya Marco yang menutup pintu kamarnya dan menguncinya di belakangnya.
"Bukan itu.. " jawab Salsa yang menyelinap dari bawah kedua lengan Marco dengan cepat saat melihat Marco mendekatkan diri kepadanya.
"Mmm,lalu apa yang kau inginkan dariku?" tanya Marco yang meraih jemari tangan Salsa yang ditaruh di dadanya yang kekar.
"Jangan lupa untuk tidak genit sama cewek- cewek di Kalimantan Barat selama kakak kerja di sana karena Kakak sudah bertunangan dengan Salsa." jawab Salsa menarik tangannya dengan cepat dari genggaman tangan Marco.
"Emm, kau juga jangan centil dengan teman- teman cowokmu di sekolah mu dan si Eric jelek itu selama aku tak ada didekatmu." kata Marco yang merengkuh wajah Salsa dengan kedua telapak tangannya lalu mencium lembut kening Salsa.
"Hei, Kak Marco, kau tak boleh mencium Aku.." kata Salsa mengusap keningnya dengan sehelai saputangan miliknya sendiri meskipun dirinya itu merasakan debaran jantung karena Marco telah memberikan ciuman di keningnya.
__ADS_1
"Hmm, ciuman di kening tanda persaudaraan di antara kita berdua bukan tanda percintaan yang belum cocok untuk kita berdua sampai kau dan aku tahu arti cinta yang tak dipaksakan oleh aturan di keluarga kita." kata Marco nada ketus kepada Salsa sambil menyeret kopernya keluar dari kamarnya.
Salsa mengikutinya menuju ke lantai bawah atau lebih tepatnya ke pintu utama.Dimana Opa dan orangtua Marco juga sepupu mereka telah hadir untuk memberikan doa kepada Marco sebelum pemuda itu meninggalkan rumah untuk kerja di luar daerah.
"Mmm.. Opa, Mama dan Papa juga semua, aku pergi sekarang juga ke Kalimantan Barat." kata Marco yang menyalami Opa dan orangtuanya di depannya.
"Untuk Salsa, kau tak pamit kepada calon istrimu sendiri?" tanya Pak Hendri Salim kepada Marco dengan nada serius.
"Sudah, tadi di kamarku." jawab Marco dengan senyuman dibibirnya kepada Opa nya.
"Baiklah, kalau begitu kamu cepatlah berangkat ke Kalimantan Barat dan berikan laporan kerja mu dengan benar kepadaku di sini." kata Pak Hendri Salim dengan nada memerintah kepada Marco.
"Oke." jawab Marco dengan langsung menyeret kopernya keluar dari rumah Pak Hendri Salim.
Salsa kembali ke lantai atas untuk mengerjakan tugas sekolahnya di kamarnya namun di puncak tangga, ia jumpa dengan Dennis yang berdiri di puncak tangga menuju ke lantai atas.
"Maaf, Kak. Salsa harus kerjain PR sekolah untuk esok pagi di sekolah." jawab Salsa sopan kepada Dennis sambil melewati pemuda sepupu dari tunangannya itu.
"Sa, tunggu sebentar." kata Dennis menahannya di belokan menuju ke arah kamarnya.
"Kak Dennis.. "
"Sa, gimana kalau kamu kerjain PR di tempat Kak Dennis bermain bilyar supaya kamu tak merasa jenuh di rumah pada malam hari ini tanpa ada kehadiran Marco? " tanya Dennis menatapnya.
"Tidak, Kak Dennis.Aku tidak merasa jenuh kok lagipula Aku sudah di ingatkan oleh Kak Marco untuk tidak pergi dengan cowok manapun juga tanpa izin darinya." jawab Salsa cepat- cepat pergi ke arah kamarnya sebelum ada orang yang melihatnya berduaan dengan Dennis.
__ADS_1
Dennis menghela napas panjang dan wajahnya itu tampak kesal karena Salsa menolaknya demi mematuhi perintah dari Marco terhadap gadis itu.
"Aku tahu kamu tak mungkin suka dikekang oleh Marco yang playboy dan tak bisa dipercaya oleh mu, Salsa." batin Dennis.
Salsa membuka buku pelajaran biologi paket di atas meja belajarnya lalu mulai mengerjakan PR nya dengan serius di malam hari itu. Di tempat lain Marco berada di pesawat terbang yang akan mengantarnya ke tempat kerjanya yang berada di Ibukota Pontianak.
Dennis mengendarai mobil menuju ke klub bilyar daerah Jakarta Barat.Ia menghubungi teman- teman klubnya melalui HP di dasbor mobilnya yang canggih.
"Bagas, tolong kamu kumpulkan semua teman kita untuk kumpul di klub bilyar kita sekarang juga." kata Dennis pada temannya melalui hpnya.
Pesawat terbang yang mengantarkan Marco ke kota Pontianak telah sampai di bandara,dimana ia dijemput oleh seorang staff kantornya untuk diantarkan ke mess atau kostan di pabrik kayu.
"Astaga,Aku harus tidur di kamar sempit dan bau seperti kandang ayam." batin Marco usai melihat tempat tinggal sementaranya di kota Pontianak.
"Pak Marco, Anda akan bekerja sebagai staff di divisi pendataan kayu yang masuk ke pabrik ini." kata staf kantornya kepada Marco.
"Oke, di mulai pada besok pagi kan untuk Aku bisa mulai bekerja?" ucap Marco.
"Iya, Pak Marco." jawab staff kantornya sopan.
"Oke, sekarang aku mau istirahat dulu di kamar ku." kata Marco mengusir staff kantornya keluar dari kamarnya.
Marco meletakkan kopernya di samping tempat tidur lalu duduk di tepi tempat tidur dengan raut wajahnya begitu sendu sekali sebelum pergi ke kamar mandi.
"Ahh.Aku sungguh lelah dengan semua ini usai Aku pulang ke Indonesia atas perintah dari Opa Hendri Salim yang menginginkan Aku mewarisi kekayaannya dengan syarat aku harus mematuhi perintahnya dengan belajar dari awal lagi untuk aku bisa menjadi seorang yang mampu dalam menjaga perusahaannya di masa depan." kata Marco sambil menyelam di bak mandi di depan sepasang matanya.
__ADS_1
Bersambung!!