JASMINE Loves

JASMINE Loves
Sandiwara Rio


__ADS_3

Budayakan vote like komen .HAPPY READING


"Besok saat kamu terbangun,hari harimu dan otak mu akan selalu ada namaku sayang.


"Haaahaaahaaaaa sekarang kau milik ku Defika."


Rio merayakan keberhasilan nya pergi ke sebuah club dengan beberapa wanita yang menemaninya meninggalkan Defika di apartemen nya sendiri yang terkulai lemas karena ulah binatang nya.


Matahari menampak kan sinar nya menyusup ke celah gorden kamar menyilaukan mata Defika yang terlelap dalam tidur nya.


"Aaauuwww kenapa badan ku sakit semua" Defika meringis merasakan area sensitif nya nyeri.


"Aku dimana ini?!...."dia terheran melihat sekeliling kamar nya tak ada siapapun.


"Ini kamar siapa?!wajah nya celingukan di sana dia tak menjumpai ada seseorang, perasaan nya mulai tak tenang banyak pikiran berkecamuk dalam otak nya yang nampak bingung.


Defika hendak bangun dari tidur nya rasa sakit itu menyiksanya.


"Kenapa aku tak memakai baju,ada apa dengan ku!!"


Mendadak tubuh Defika bergetar hebat,dengan susah payah dia meletak kan kaki nya di lantai dan melangkah tertatih menyusuri setiap sudut kamar hendak mencari tau siapa pemilik kamar itu.


Seprei yang di tidurinya nampak kacau berantakan seperti kapal pecah baju yang dikenakan semalam berhamburan ke mana mana.


Di ambilnya selimut menutupi tubuh polos Defika perasaan nya kacau ketakutan melanda hatinya ia menjerit tanpa suara,menggigit bibir bawahnya terisak atas nasib malang yang di alami nya.


Dinding berhias wallpaper silver dengan hiasan batik sebuah tv led 32 inci mengantung di sana.


Defika memperhatikan di atas meja terdapat sebuah pigura foto nampak seorang lelaki mengenakan kemeja dengan bawahan jeans.


Defika melangkah kan kaki nya mendekat.


Defika menggapai foto itu tangan nya gemetar air matanya tumpah wajah nya pucat pasi.


Diambil nya bingkai foto itu.


"RIOO TIDAK " mata nya melotot hatinya sangat hancur Defika merasa kotor dengan tubuh nya sendiri .


Ini ka kamar Rio, semalam jadii!!"


PRANGGG foto itu terjatuh tangan nya gemetar hebat .


Dilihat nya ke bawah seprei yang di pakai nya terdapat bercak merah yang sama dengan yang dia lihat tadi bercak yang sama dengan di pangkal paha nya.


Bibirnya bergetar semakin hebat kedua kaki nya melemas, dia berusaha mengingat semalam iyaaa Rio hanya menawarkan untuk mengantar kan nya pulang tapi kenapa aku bisa ada di sini.


Memikirkan semua yang menimpanya semakin membuat kepalanya terasa pusing.


Defika ambruk bersimpuh menyandar di dinding kamar itu.


"Aaarrrggggg hhhiikksss".


CKLAKKK,pintu terbuka.


Rio dengan santai nya berjalan mendekati Defika yang bersimpuh kedua tangan nya di masuk kan ke saku celananya.


BUUGG BUGG

__ADS_1


"brengsek kau Rio" melihat pria yang menodainya semalam ada di depan matanya Defika menggila.


"Aku sangat bahagia Defika,ternyata aku yang menikmatimu pertama,kau sangat menggairahkan semalam heem apa kau lupa!" kaya nya dengan begitu bangga.


Rio mendekatkan wajah nya ke wajah Defika tangan nya mengapit wajah itu dengan sangat erat menekan nya kuat.


"Aaaarrrgghhh" Air mata nya terus semakin deras pipinya terasa panas tapi tak sepanas hati Defika, dirinya merasa sangat kotor.


Mahkota yang di bangga kan nya direnggut paksa lelaki yang tak dicintai nya menyerah kan nya dengan paksa an.


Berkali kali dipukul nya bahu Rio meninjunya menendang nya dengan posisi terduduk, goncangan tubuh nya seakan ikut menggerak kan seluruh badan nya dan Sprei yang melekat di tubuh polos nya.


Rio tertawa terbahak bahak, diangkatnya tubuh Defika dilemparkan nya ke atas tempat tidur.


Defika mengamuk semakin jadi dia berontak di atas gendongan Rio,menendang nendangkan kaki nya ke udara tangan nya memukul mukul punggung Rio.


Arrgghh turun kan aku ... turun brengsek...ARRRGGGHH teriak nya semakin keras.


"Hhhuussstt diamlah aku mau menunjukkan sesuatu pada mu sayang".Rio mengambil Handycam yang di simpan di tas nya.


HHIIKKSS HHIIKKSS


Defika menangis meronta,tangan nya semakin menggenggam seprei yang menutupi tubuh nya,merutuki kesialan nya berada di depan lelaki yang sudah menghancurkan depan nya.


Aku harus pergi dari sini gumam nya dalam hati perlahan Defika menggeserkan badan nya hendak turun dari tempat tidur.


Ceklikkk.


Rio duduk di belakang Defika mengunci pelukan nya memaksa gadis itu melihat semua rekaman nya.


"Rio hheemmm sini temani aku sayang"


"Kau lihat kan,kau yang menggoda ku sayang Cuuppp di cium nya kasar tengkuk Detik.


Haahhh...tidak .... tidakkk dia tak percaya apa yang sudah dilihat nya.


Defika nampak pucat dia menggeleng gelengkan kepalanya, sekujur tubuhnya seakan melemas, tangis nya semakin keras.


Defika nampak frustasi dia meremas rambut nya dan menjambak sekuat tenaga,tampilan rekaman yang ada di vidio itu benar benar membuat dirinya menyalahkan diri sendiri.


"Gakk gak mungkin itu bukan aku,aarrrgghhh tidak "hhiiikkssss,


"Kau masih tak percaya aku tidak pernah memaksa mu" Rio nampak puas menikmati sandiwara nya.


"Tidak aku gak mungkin serendah ini menjijik kan" hiksss.


Defika merebut handycam yang masih berputar itu di tangan Rio.


Dengan sigap Rio merebut kembali handycam nya bahkan menarik keras tangan Defika.


Defika terkejut dia berteriak.


"Arrgghh berikan itu padaku Rio,aku akan menghancurkan nya."


"Tidak semudah itu ******," ini semua salah mu.


"Apa maksud mu!"

__ADS_1


"Kalau dari dulu kau mau menerima ku dan tidak mempersulit ku ini semua ini tidak akan begini.


Rio mempertegas nada suaranya,mematikan tombol on off dan melempar nya ke atas tempat tidur.


Rio mengangkat kedua alis nya bibirnya menyeringai penuh kemenangan dipikirnya semua akal licik nya berhasil menjerat gadis di depan nya.


Defika melihat ke arah handycam itu hendak mengambil memori card dan menghancurkan nya, pikirnya.


Defika dengan cepat berusaha meraih handy cam itu lagi namun lagi lagi dia terkejut Sprei yang menutupi tubuh polos nya terlepas karena Rio menarik nya sangat kencang.


Tubuh Defika terhenyak sebelum handycam itu di genggam nya,


"No Rio,Defika menutupi bagian dada dan area sensitifnya dengan kedua tangan nya dia panik saat Rio dengan tatapan dingin menghampirinya.


Rio melepas kan genggaman tangan nya melepas ikat pinggang hingga tubuh nya pun polos.


"STOP Rio jangan jangan aku mohon" Defika memelas dia mundur menghindari Rio.


"Kau sangat menggoda sayang,aku menginginkan mu lagi,kemarilah. Sekarang kau jadi milik ku.


"Tidak Rio aku mohon" hiks Detik semakin panik.


Rasa sakit di bawah sana belum juga hilang kini Defika semakinntersiksa dengan rasa sakit nya.


Rasa sakit yang di rasa Defika semakin menyiksa nya, kini dalam keadaan sadar dia merasakan jijik dengan tubuh nya sendiri.


Dengan brutal dan wajah dingin beringas Rio memaksa nya melakukan hasrat iblis nya,menghujani area sensitifnya menghentak hentak kan nya.


Kedua tangan nya menggenggam tangan Defika.


"Arrgghhh No Rio air matanya semakin deras dia terisak bibirnya di hujami gigitan sesekali tamparan di terima nya.


"Brengsek Rio,aku membencimu"


Defika merintihh kesakitan sakit yang teramat sangat,dengan sisa tenaga dia mendorong tubuh Rio.


Semakin Defika menghindar bukan nya membuat dirinya menjauh malahan Rio semakin melancarkan aksinya di atas tubuh polos nya hingga menyatu.


Tak bisa dihindari semburan lahar panas itu tertanam dalam rahim Defika.


Aaarrggghhh Defika nampak panik dia terus meronta.


Saat Rio melonggarkan genggam nya Defika berontak segera bangkit dia meraih seprei di tangan nya tak lupa Handycam itu cepat cepat di ambil nya dia berlari keluar kamar.


Rio terdiam melihat gadis itu pergi meninggalkan nya.


Defika terus berlari melilitkan seprei itu di tubuh nya,dia berlari memasuki lift yang sudah terbuka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2