JASMINE Loves

JASMINE Loves
Defika Frustasi 2


__ADS_3

"Hiks aaahhh hikssss"Defika histeris saat terbangun dari tidur nya mimpi buruk atas perlakuan Rio membuat nya tersiksa dan selalu datang di setiap mimpi Defika,ancaman Rio yang merekam aksi binatang nya membuat Defika ketakutan.


"pergii pergii jangan ganggu aku hikss" Defika menjambak rambut nya berguling guling di atas kasur itu hingga kusut.


"Non non kenapa?" ucap bibi yang saat itu duduk di samping Defika yang sedari tadi memperhatikan anak majikan nya, bi Ina membelai rambut Defika dan menyisir dengan jemari nya.


Defika sesenggukan menutup kedua matanya dengan posisi masih berbaring hikss "aku kotor bi"kata Defika kata pertama Detik selama berhari hari hanya itu yang bisa di ucap kan nya.


"hhiiks aarrgghhh" Defika semakin keras berteriak menjambak rambut nya Defika tersisak.


Bibi panik melihat Defika histeris, non kenapa non yang sabar Non!!


Bi Ina terisak hatinya ikut sedih ,bibi duduk mendekati Defika yang terbaring di usap nya punggung nya sesekali memijat lembut.


"Non tenang Non ada bibi di sini jangan begini non nanti non bisa sakit" sambil sesekali memijat lengan Defika membetulkan rambut kecil yang menutupi wajah Defika.


"Juan yang saat itu baru pulang dari kampus mendengar suara teriakan dari kamar Defika,dia berlari tergesa melemparkan tas nya pada lantai ruang tamu.


Nampak butiran air mata bibi jatuh melihat anak majikan nya terpuruk diam dan sering menyiksa diri nya selama beberapa hari ini.


"Kenapa bi"kata Juan dari depan pintu kamar.


"Non Defika den".kata bibi sesenggukan mengusap pipi nya.


Juan melihat pipi bi Ina basah dan sesengguk an, "bibi istirahat saja" ucap nya sambil membuang nafas.


"bi,malam ini biar aku yang menemani kakak".


Juan memasuki kamar kakak nya dan memandangi Defika yang nampak rambut acak acakan.


"Iya den"kata bibi.


"Saya mau buatkan teh hangat dulu den sama makan den buat non Defika" ucapnya sambil berlalu pergi.


"Iya bi" Juan mengangguk. Bi Ina berlalu.


Ruangan kamar yang cukup luas terdapat sofa dinding bercorak pink dengan kamar mandi dalam,lemari kaca bercat putih terlihat sederhana dan nampak luas.

__ADS_1


"Kakak sudah makan Juan mendekati kakak nya membelai rambut Defika yang duduk di ujung tempat tidur."


Defika melihat sendu ke arah suara tapi dia hanya diam.


"Kak...mama papa menanyakan mu, kakak kenapa ada masalah apa jangan buat kami sedih melihat mu seperti ini".


Bibi datang membawa bubur dan teh hangat, Non di makan dulu masih hangat.


Juan mengambil Bubur dan minum di tangan bibi dan menyuapi Defika, Defika menurut dalam diam.


"Bi siapin air mandi hangat, tolong bibi bantu kakak mandi ya bi"kata Juan karena melihat Defika sudah bisa mulai tenang setelah beberapa hari menutup diri.


"Ya den"Bibi bergegas menyiapkan air hangat dan memandikan Defika memakaikan baju mengeringkan rambut nya


Defika tetap diam bersandar pada sandaran tempat tidur memeluk bantal dengan wajah tanpa ekspresi.


Selesai mandi Juan menghampiri Detik menyuapi nya makan bubur yang sudah di siapkan bibi.


"Kak" Juan mendekatkan wajah nya dan menggenggam jemari Defika hati Juan teriris sangat sakit melihat kakak nya menderita tapi Juan tak bisa berbuat apa apa.


Bulir air mata Defika terjatuh,dia menggenggam jemari Juan, Defika terisak tak lama dia tertidur.


Juan menatap mata Defika Juan memeluk kakak nya dengan kasih sayang.


"Kau kenapa kak,apa yang terjadi dengan mu?!"Juan membelai rambut Defika saat kakak nya sudah terlelap.


Malam ini Juan sengaja menemani Defika tidur di dalam kamar nya, merebahkan diri di atas sofa di kamar itu,mengamati kakak nya semalam malaman.


Dimana smart phone kakak mungkin ada petunjuk lagi disitu gumam nya dalam hati sambil kedua tangan nya mencari di bawah kolong tempat tidur tidak ada di dalam lemari juga tidak ada di bawah sofa juga tidak ada.


Setiap sudut ruangan di carinya tidak di temukan smart phone itu.


Juan menyerah dia lelah,lalu membaringkan tubuh nya di atas sofa di kamar itu,saat hendak mengangkat kaki nya untuk membujur di sofa kaki Juan menatap benda tumpul yang terselip di antara lipatan sudut sofa.


"Apa ini?" katanya Juan terbangun dan memasuk kan jemari nya di antara lipatan sofa"Smart phone kakak, "ahh ini yang aku cari."


Di ambil nya smart phone itu dan dinyalakan nya nampak beberapa panggilan telpon yang tak terjawab beberapa pesan whats up masuk.

__ADS_1


Dilihat semua pesan di buka nya, di baca nya satu persatu namun tak lagi di temukan nya jawaban, Juan tertidur.


Malam berlalu Defika terbangun dari tidur nya mata nya nampak bengkak tapi perasaan nya mulai tersentuh saat dia lihat adik satu satu nya Juan tertidur di sofa di dalam kamar nya.


"Kasihan Juan, mama papa pasti mengawatirkan ku aku gak mau kalian sedih karena memikirkan ku"ucapnya dalam hati lalu Defika beranjak dari tempat tidur dan menuju ruang makan, nampak bibi Ina di sana.


"Non sudah bangun" Bibi terkejut tapi raut wajah nya nampak senang.


"Sini non bibi buatkan sarapan". ucap nya nampak tersenyum karena senang melihat Defika tidak mengurung diri di kamar."


"Iya bi, aku gak papa bi." ucap nya lirih Defika duduk di meja makan mengambil selembar roti dan mengoles nya dengan selai peanut coklat dan memakan nya.


"Tolong buatin Teh tanpa gula bi" ucap nya lagi.


Beberapa menit kemudian " Ini non silahkan".


Ohh ya Non bibi senang non sudah sehat nanti sore papa dan mama Non akan pulang, mereka menghawatirkan non terus.


Kata bi Ina sambil meletak kan teh tawar yang di pesan tadi.


TOKK TOKK, biar saya yang buka bi,


Kata Defika sambil beranjak dari duduk nya.


Saat di buka pintu Defika terkejut karena kekasih nya yang datang.


Lelaki yang sudah satu tahun ini menjalin kasih dengan nya


"Haiii honey, kau baik baik saja khan?! ucap nya saat yang membuka pintu itu Defika dia tersenyum".


"Masuk lah Alfin,sejak kapan kau pulang?."kata Defika mata nya nampak berbinar bahagia seakannlupa dengan kesedihan nya karena seminggu ini semenjak kejadian itu Alfin pergi keluar kota bersama kedua orang tua nya.


"Aku merindukan mu" ucap Alfin menatap mata Defika dan mengecup kedua pipi nya.


Defika tersipu malu, bahagia karena lelaki yang di cintai nya ada di depan nya.


"Kau sudah makan, masuk lah ke dalam bibi masakin buat sarapan" kata Defika dengan wajah memerah menahan malu.

__ADS_1


__ADS_2