
Sudah seminggu ini Defika terbaring lemah pengaruh obat yang sengaja di berikan Livi mulai bereaksi dalam tubuh nya.
Rio menyerah karena wanita yang di sukai nya selalu menolak nya.
Dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya sebagai anak dari seorang mafia di kota itu,ke egoan Rio yang ingin memiliki cinta Defika memerintahkan Livi untuk menyuntik kan semacam racikan obat yang merangsang syaraf agar Defika lupa tentang diri nya di masa lalu.
Rio berharap saat gadis itu membuka mata yang pertama kali dilihat nya hanya dia seorang, aahh buat Rio apapun akan di lakukan untuk mendapatkan hati Defika yaa sekalipun itu dengan cara yang aneh tepat nya keterlaluan.
Setiap hari Rio selalu menemani gadis nya itu walaupun dirawat di mention mewah nya Rio memerintahkan Livi agar memberi kan pelayanan dan obat terbaik untuk nya.
"Bagaimana keadaan nya sus?" kata Rio yang saat itu duduk di ujung tempat tidur dimana Defika berbaring dengan jarum infus masih menancap di tangan nya sebelah kanan.
"Masih belum ada perkembangan tuan" jawab Fara terbata dengan kepala tertunduk dia meremas ujung baju seragam nya, karena buat Fara lelaki yang ada di hadapan nya itu sangat menakutkan.
" Apa saja yang sudah kalian lakukan!! "
Kata Rio dengan nada tinggi kedua matanya melotot dengan alis terangkat Rio heran selama ini belum ada perkembangan apa apa.
Seketika pikiran nya kacau kenapa bisa begini, dipegang nya kepalanya itu yang terasa berdenyut.
Batin nya gelisah kenapa susah sekali mendapat kan wanita nya ini?!
"AAAAHHHH teriak nya sebal sambil kedua tangan nya menjambak rambut nya sendiri, penantian nya selama beberapa hari ini sangat membuat nya gusar.
Entah lah , Rio merasa beberapa hari ini semenjak gadis itu menemani nya sekalipun dalam tidur panjang nya sudah mampu menggetarkan hati Rio, semakin hari dia semakin tak sabar menanti gadis nya itu membuka mata.
"I iya tuan, mohon bersabarlah nona pasti akan cepat tersadar" katanya lagi dengan gemetar namun hati dan pikiran nya pun sebenar nya juga tidak bisa menebak kapan nona nya ini yang dia rawat beberapa hari itu tersadar.
Ini kasus pertama kali untuk Fara menangani pasien yang shock karena suatu kecelakaan dan di saat keadaan nya dalam proses pemulihan gadis malang ini harus mendapatkan suntikan untuk syaraf nya dengan tujuan dia melupakan masa lalu nya,
"Huhhh kenapa menyedihkan begini nasib anda nona" gumam nya dalam hati.
"Aku sudah membayar mu mahal, aku hanya ingin Defika cepat sadar atau jangan jangan kalian salah memberinya suntikan HAHH!!" ucap Rio lagi wajah nya semakin meradang terlihat beberapa otot otot muncul di rahang wajah nya itu.
"Ti tidak tidak tuan, kami pastikan nona mendapatkan yang terbaik tuan" ucap Fara semakin gemetar saat hardikan Rio itu terasa memekakan telinga nya.
Seketika Fara merasa suasana yang begitu mencekam di kamar itu, ingin dia pergi berlari dari hadapan lelaki menyeramkan itu tapi kan tidak mungkin!!?
Mana mungkin dia meninggalkan pekerjaan nya itu?
"Cepat keluar" bentak Rio dengan tangan yang sudah mengepal dengan cepat Fara berlalu meninggalkan kamar itu.
Rio menarik nafas nya panjang lalu membuang nya ke sembarang arah, ditatap nya wanita yang terbaring lemah di samping nya itu wajah nya masih nampak pucat.
Defika mengenakan pakaian tidur kimono berwarna biru muda dengan rambut yang tergerai dan masih berantakan tapi kecantikan nya tetap terpancar di mata Rio.
Rio membelai rambut Defika dengan jemari nya , menyisir nya perlahan dan menata rambut gadis itu sehingga tertata rapi sambil kedua mata nya menatap lekat wajah Defika.
__ADS_1
"Honey, kau sangat cantik walaupun wajah cantik mu itu terlihat pucat cepatlah buka matamu " ucap Rio yang saat itu terbangun dari tidur nya dengan Defika di sisinya.
Dia menatap lekat Defika yang berbaring di samping nya, di usap nya perlahan wajah pucat gadis itu demgan badan yang agak condong ke bawah.
"Aku terpaksa melakukan nya honey, kau milik ku" ucap Rio lirih di telinga Degika yang masih saja terdiam.
Kini tangan Rio mengusap lembut bibir Defika, bibir hangat yang dulu pernah dia cumbu dengan paksa kini terasa dingin di jemari nya .
Ahhh rasa rindu itu kini datang di hati nya namun kesedihan dan harapan juga muncul di saat bersamaan di hati Rio, Rio menggapai jemari itu dan mengusap lembut punggung tangan nya.
"Maaf, maaf kalau kau terluka tapi aku ingin kau menjadi milik ku" kata Rio berbisik.
Entah mengapa hati Rio terasa begitu perihh, gadis itu seakan enggan melihat nya.
"Ayo bukalah mata mu honey bangun lah" ucap nya lagi.
Perlahan Rio mendekat kan tubuh nya dengan sedikit membungkuk, wajah mereka kini saling berhadapan dengan dahi saling menyatu " Bangun lah honey, aku sangat merindukan mu" ucap nya lagi lalu di kecup nya lembut bibir yang pucat itu, beberapa kali Rio mengulum lembut sesekali Rio berbisik.
" Bangun honey bangun kasih aku kesempatan buka mata mu!" ucap nya lagi entah lah Rio tiba tiba merasa sangat bersalah tapi semua sudah terlanjur.
Sekeliling nya nampak gelap gulita samar dari jauh dilihat nya sebuah titik cahaya, perlahan langkah kaki nya menyusuri lorong gelap itu semakin lama di rasa nya semakin menjauh.
Cahaya itu kini semakin terang tapi kaki nya terus melangkah mendekati arah cahaya.
"Ini di mana!" gumam nya.
"suara siapa itu, haloo siapa di sana" teriak nya sambil kedua tangan nya menangkup membentuk corong dan diletak kan di depan mulut nya itu.
Tapi suara nya itu hanya memantul kepada nya kembali membuat nya semakin bingung.
"Haloo, siapa di sana" teriak nya lagi semakin kencang kini ketakutan menyelimuti hati nya.
Samar dia masih mendengar suara itu memanggil dirinya dengan sebutan honey dia mengenali suara itu tapi di mana?!
Beberapa kali dia berkeliling mencari suara yang memanggil nya honey tanpa lelah entah dari mana suara itu, dia menghela panjang nafas nya panjang dia merasa lelah, lelah sekali lalu dia berhenti melangkah kan kaki nya itu dan memejamkan matanya.
Saat di buka mata nya lagi entah mengapa dia sudah berada di ujung lembah yang sangat curam.
" AAAAHHHHHHHH teriak nya begitu kencang di rasa nya hampir saja ujung kaki nya terpeleset di sana tiba tiba dada nya terasa begitu sesak dia menangkup kan kedua tangan nya di atas dada nya itu lalu melangkahkan kaki nya mundur.
BRUUKKKK dia terjatuh kaki nya melemas dengan nafas tersengal.
" HAAAHH HAAAHHH HAAHHHH to tolonggg" teriak nya sekuat tenaga sambil kepala nya menoleh ke kanan dan ke kiri.
" TO TOLONGGGG " teriak nya lagi semakin kencang tapi entah dia sekarang tak mampu mendengar suara nya sendiri ketakutan itu mendadak membuat suaranya tercekat.
TUKK TUKKK jemari itu bergerak perlahan seolah mencari suara yang memanggil manggil nama nya.
__ADS_1
TTUUKK TTUUKKK
Dengan perlahan dia membuka mata nya yang nampak berat , pelan di buka nya lagi ke dua mata nya tapi masih nampak kabur.
" Aku di mana?!!...." ucap nya perlahan lirih bahkan hampir tak bersuara.
Pandangan mata nya yang kabur itu perlahan mampu menangkap sesosok wanita bertubuh kurus dengan pakaian yang serba putih.
"Kau sudah sadar nona, syukurlah"
Fara begitu antusias saat Defika menggerak gerak kan jemari nya sesaat sebelum mata itu terbuka.
Rio menekan bel di kamar itu berulang ulangg
TEETT TETT TETTTT
Rio terkejut saat melihat jemari Defika yang ada di genggaman nya itu bergerak gerak, dengan cepat dia menekan berulangbulang tombol merah di samping bantal Defika.
Mata nya masih samar menatap sekeliling ruangan yang di sana, beberapa kali di kedip kedip kan lagi ke dua mata nya berharap pandangan mata nya bisa melihat dengan jelas.
"kau siapa? a aku....aku ada di mana" kata nya begitu lirih namun Fara masih bisa menangkap jelas ucapan nona nya yang sudah dia rawat intens selama seminggu atas perintah Rio.
Fara yang tadi nya berdiri setelah memeriksa botol infus yang masih tertancap di tiang sebelah kanan tangan Defika dengan cekatan melepas tusuk jarum yang menancap di punggung telapak nya lalu memasang perekat yang terdapat kapas di dalam nya, agar bekas jarum infus itu tidak mengeluarkan darah setelah sebelum nya dia memeriksa denyut jantung dan tekanan darah nya normal.
" Auuuwwwhhh .... Kenapa badan ku sakit semua sus?"
ucap Defika meringis saat dia memiringkan tubuh nya ke sebelah kanan dia melihat ada seorang lelaki berdiri di dekat nya .
"Sini Nona saya bantu" kata Fara sambil memeluk punggung Defika dan membantu nya perlahan untuk duduk.
"Haus sus,minum" ucap Defika dia merasakan tenggorokan nya tercekat.
"Honey,kau sudah sadar" kata nya.
Nampak sekali di raut wajah Rio ada senyuman saat melihat gadis yang sudah mencuri hati nya itu terbangun.
Dilihat nya suster itu memegang sebuah gelas berisi susu putih dan hendak di berikan kepada Defika.
"Pergilah sus biar aku yang melakukan nya" ucap Rio sambil mengambil segelas susu di tangan perawat itu dan kabari Livi sekarang suruh dia kemari.
"Baik tuan" ucap Fara lalu dia berlalu dati kamar itu.
Defika masih terdiam, diamati nya sepertinya dia sangat mengenal suara itu.
Ohh itu suara yang memanggil ku tadi batin nya " Kamu siapa dan aku siapa!?"ucap Defika sambil melirik ke telapak tangan nya yang terasa bergerak gerak.
HAPPY READING
__ADS_1
VOTE KOMEN LIKE readers