
Sinar mentari pagi menyinari cahaya nya menghangatkan bumi,sama seperti Defika kehadiran kekasih nya pagi ini membuat nya bahagia seakan semua kesedihan nya hilang.
Defika menggandeng tangan Alfin menuju meja makan, bibi terpaku dengan wajah Defika yang berseri karena pagi ini kehadiran kekasih nya setelah beberapa hari mengurung diri.
"Mari den di makan sarapan nya,bibi masak nasi goreng sama telor ceplok" kata bibi menghampiri meja makan menyiapkan piring sendok beserta nasi dan lauk pauk.
"terima kasih bi, bibi gak usah repot repot."kata Alfin sopan sambil tersenyum dia duduk disebelah Defika.
Defika Alfin sarapan berdua saling bercanda melepas rindu setelah beberapa hari mereka putus kontak.
Suara canda tawa mereka terdengar sampai di dalam kamar, Juan terbangun.
"Huaammm masih pagi siapa yang bertamu?"
karena di dengar nya suara lelaki dari arah ruang tamu.
Cekriiek...
Juan menuju ke arah suara,dari kejauhan dilihat nya Defika nampak tersenyum bahagia bercanda dengan kekasih nya tidak seperti semalam histeris seperti tanpa ada sesuatu kesedihan yang dialami nya.
Kalau kakak beberapa hari ini murung karena Alfin gak mungkin sekarang tersenyum dan secepat itu berubah kembali seperti semula Defika yang penuh perhatian dan periang.
Ada apa sebenarnya?!....pikir Juan tapi dia diam.
Juan bergegas masuk ke dalam kamar nya dan mandi beberapa menit kemudian dia keluar dengan menggunakan seragam dimana saat ini dia sedang menempuh pendidikan AKPOL.
Juan keluar menuju ruang tamu.
"Kau sudah bersiap Juan,ucap Defika" sambil tersenyum ke arah adek nya dia berdiri dan membetulkan dasi sang adek merapihkan seragam nya dan topi.
Alfin tersenyum dia memangguk kan kepala nya ke arah Juan " Kau nampak tampan Juan,pasti nanti akan banyak wanita yang berebut ingin menjadi pacar mu,ucap nya menggoda".
"Perkenalkan pada kami,dia pasti sangat cantik" ucap nya lagi sambil membetulkan letak duduk nya.
"Diamlah,kau ini kemana saja awas kalau ada apa apa dengan kakak ku"ucap Juan sambil melempar bantal ke arah Alfin dengan memasang wajah sok jagoan.
Alfin dan Juan adalah kawan sepermainan dari sejak jaman sekolah usia mereka yang terpaut jauh tidak membuat mereka canggung,memiliki hobi yang sama bahkan selera dalam beberapa hal mereka banyak sekali kesamaan.
Plak Defika memukul lengan Juan "Sudah selalu begitu kalian ini,makanlah dulu Ju ( panggilan kesayangan Defika untuk adik satu satu nya) bibi bikin sarapan nasi goreng kesukaan mu."
ucap Defika sambil geleng kepala melihat kedua lelaki di depan nya itu seperti anak kecil.
"Ya kak, sambil berlalu menuju meja makan dan melahap dengan cepat sampai habis tak tersisa".
Juan berlalu pergi setelah berpamitan .
"Sayang aku pulang dulu,nanti aku kabari lagi hari ini papa mengajak ku pergi ke suatu tempat" kata Alfin lalu berdiri.
__ADS_1
"Iya,berhati hatilah di jalan " kata Defika sambil memegang lengan Alfin dan mengatakan jalannya di depan pintu.
"Apa hari ini acara mu" kata Juan yang sedang mengenakan jaket yang di ambilkan Defika sebelum nya yang diletak kan di meja teras.
"Tidak ada,sementara di rumah aja kata bibi nanti papa dan mama akan pulang" kata Defika.
"Hemm baik lah nanti kalo om dan tante sudah datang kabari ya." kata Juan.
" Emang kenapa kata Defika lagi" penasaran pikir nya.
"Tidak ada apa apa,nanti juga kau tau sayang" kata Juan menggoda sambil tangan nya menyentuh dagu Defika dan mengecup pipi nya.
CUUPP Defika kaget karena perlakuan Juan,dia tersipu karena saat itu di taman ada bibi yang terus memperhatikan mereka sambil menyiram beberapa tanaman di sana.
"Ada bibi,ihh malu malu in dasar"ucap nya dengan muka memerah.
Bibi tertunduk senyum dan menggeleng gelengkan kepala nya karena melihat tingkah pacar majikan nya itu.
"Haa haa haaa" Alfin tersenyum senang sudah menggoda pacar nya
"masuk lah sana" kata nya.
"Iya " kata Defika.
"Alfin menyalakan starter motor nya tapi dia terdiam,Defika mengerutkan alis nya.
"Kau mengusirku hemmm" kata Alfin tak mau kalah sambil mengenakan helm.
"Tidak,bukan begitu" kata Defika mengelak.
"Lalu!" kata Juan lagi ingin menggoda Defika.
"Lama sekali,katanya sudah ada janji kenapa masih di sana" kata Defika.
"Ya ini juga mau pergi tapi..." kata Juan yang mencari sesuatu di dalam saku celana Jeans yang dikenakan nya tapi di urung kan nya.
"Kemana tadi aku taruh,sepertinya sudah aku bawa di dalam saku i ni,ucap nya dalam hati.Ahhh apa tertinggal tadi ?!.... "
"Tapi apa" kata Defika lagi.
"Sepertinya kau tak merindukan ku,kenapa kau suruh aku pergi cepat dari sini" ucap Juan sambil menaik kan ke dua alis nya.
"Apa?!!"Defika mulai jengkel.
"Kau sendiri yang bergegas akan pulang,kenapa aku yang salah".
Defika mengerucutkan bibir nya tangan nya di silangkan di depan perut nya.
__ADS_1
Alfin tersenyum dalam hati nya senang sekali melihat kekasih nya ini marah karena ulah nya.
"Kau ini menyebalkan."Defika membalik kan badan dan bergegas masuk ke dalam rumah Juan berlalu.
******
"Alfin sudah sampai di depan rumah nya dia memarkirkan sepeda motor jenis motor lelaki dan masuk kedalam rumah.
Di dalam rumah sudah menunggu papa Alfin yang duduk di ruang tamu dengan memegang sebuah buku laporan keuangan di tangan nya.
"Ayo pa berangkat,masih belum terlambat khan" kata Juan sambil melepas jaket nya karena dia akan pergi dengan papa nya menggunakan mobil.
"Bagaimana kabar pacar kamu,apa kamu sudah sampaikan kami akan segera melamar nya?!"
kata lelaki tua dengan kacamata yang hampir melorot melihat tajam ke arah Alfin kedua alis terangkat tapi tertahan di hidung nya dengan kepala plontos bagian depan dominan rambut tipis berwarna putih dan di tangan nya mengapit cerutu coklat.
"Belum pap,rencana nanti atau besok " kata Alfin singkat.
"Apa pacar mu baik baik saja" kata nya lagi?
"Baik pap hanya saja tadi om dan tante posisi masih di luar kota jadi aku pikir nanti saja bilang ke Defika,ucapnya panjang lebar."
"Kalian khan sudah lama kenal,papa harap kamu serius Alfin jangan buat malu keluarga kita.kata Reinhard dengan tatapan serius.
"Mereka dari keluarga baik baik dan tentunya bisnis kita akan semakin berkembang pesat kamu ingat itu."
"Papa ini apaan aku memilih dia karena memang kami saling mencintai pap, bukan semata mata karena bisnis.Ucapnya panjang lebar dan Alfin duduk berseberangan.
"Haahaahaa baguslah kalau begitu,kalian ini masih ingusan papa hanya perlu pernikahan mu secepatnya kau mengerti Alfin."ucap nya tegas.
Alfin yang sedari dulu hanya hidup berdua dengan papa nya saja,sebagai anak semata wayang dia tidak dididik manja .
Sikap Reinhard yang temperament dan keras membuat nya menjadi seorang anak yang selalu terpaksa mengiyakan kemauan papa nya tanpa pernah melawan.
Sedangkan ibu Alfin telah meninggal karena sesuatu hal dan itu tidak pernah di ceritakan kepada nya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue.