JASMINE Loves

JASMINE Loves
Hilang kendali


__ADS_3

Semakin tinggi para layang itu membawa dua sejoli yang lagi kasmaran itu menikmati pemandangan kota , hari mulai petang dan semakin indah pemandangan lampu kota yang terlihat dari atas, cukup lama mereka di sana berputar putar.


WUSSHHH WUUSSHH angin semakin kencang tiba tiba cuaca memburuk.


Pandangan yang tadi nampak nya indah dan memanjakan mata kini berubah menjadi pemandangan yang sangat mencekam seakan siap untuk menghantar ke dua sejoli ini ke alam maut


KRAKKKKK


"Alfin kenapa ini" Defika ketakutan saat tubuh mereka terguncang hebat mereka kini terombang ambing di atas angin.


Hanya dalam hitungan sepersekian detik badai angin mengamuk memporak porandakan apa saja yang bisa di gulung nya.


Beberapa pohon nampak melambai bahkan beberapa pohon nampak tumbang di bawah sana, asbes yang terpasang di beberapa padepokan ikut melayang seiring putaran angin badai, semua diluar dugaan.


Alfin panik namun dia berusaha tenang sambil terus menahan arah kendali nya itu hingga dia merasa kelelahan yang teramat sangat.


Mulai di rasa nya kedua lengan kekar nya seakan mati rasa kaku sulit untuk di gerak kan.


"Bertahan lah sayang, pegang kuat tali yang mengikat mu" dia berteriak sekuat tenaga.


Hati nya seakan getir sesaat melihat kebawah wanita yang dicintai nya histeris ketakutan.


Dari bawah sana nampak riuh saat beberapa pemain paralayang dengan segera mendarat kan paralayang mereka dan satu persatu mereka mulai meninggalkan area landing karena cuaca semakin memburuk.


"Bro..broo lokasi?!"


"teess teess... posisi!"


"Mendarat lah cuaca memburuk tess tes"


Beberapa kali komando dari bawah sana mencoba memanggil manggil lewat HT yang terhubung dengan Alfin tapi tak ada jawaban.


"Loss kontak" kata seorang lelaki kepada beberapa sekawan yang ada di sana.


Beberapa orang lagi nampak tak mengalihkan pandangan nya menggunakan teropong.


"Barat daya, arah hutan terlarang" teriak seorang lagi.


"Cepat kirim anggota kesana sebelum terlambat" kata seorang lagi dengan bertariak.


WUSSHH BRAKK BRAKK


Suara angin semakin kencang beberapa pohon nampak tumbang menindih beberapa sepeda motor yang terparkir di sana.


Dari bawah, mereka nampak panik karena parasut yang digunakan Alfin robek dan itu berakibat pada tekanan udara sehingga paralayang itu akan sulit dikendalikan, cuaca dan badai angin semakin membahayakan buat mereka bahkan mengancam keselamatan Alvin dan Defika.


"Semua akan baik baik saja percayalah" ucap Alfin berteriak berusaha menenangkan kekasih nya itu yang nampak ketakutan.


"Fin apa kita akan celaka?!"HHIIKKSSS.


Teriak Defika panik badan nya bergetar hebat dia lemas ini pengalaman baru dan pertama kali buat nya terbang dengan paralayang "kenapa jadi begini" perasaan nya mulai tak tenang dia ketakutan di atas sana.


"Aaaahhhh" Defika berteriak semakin kencang dia menangis tersedu gemetar melihat angin menggoncang hebat tubuh mereka dari atas.


SSRRRUUTTT badan mereka semakin cepat terjun ke bawah membuat hati Alfin dan Defika seakan berhenti berdetak.


Wwuusshhh Wuuussshhh kadang angin yang berputar butar di atas secara mendadak tiba tiba mengguncang tubuh kedua nya kekanan kekiri dengan suara gaduh badai angin yang berhembus benar benar membuat mereka melayang dan semakin menjauh dari jangkauan.


"Sayang tutup mata mu saja kalau takut, kita akan baik baik saja percayalah padaku"ucap nya lagi sambil berteriak.

__ADS_1


Alfin berusaha tenang sekalipun ini juga sudah di luar kendali nya, tetapi dia berusaha membuat tenang kekasih yang berada di bawah nya karena tali yang mengikat erat tubuh mereka kini mengendur hingga membuat Defika melorot beberapa centi di bawah nya.


HHIIKKSSS, Defika menangis tersedu.


"TOLONNGGG TOLONGGG"teriak nya lagi namun tak ada hasil suara badai angin itu benar benar meredam jeritan suara Defika yang semakin pucat dan nampak lemas di atas sana,hari semakin petang.


GROOJOKK GROOJOKK GROJOKKK perlahan terdengar suara air yang begitu deras.


"Hutan terlarang" pikir Alfin suara air terjun itu salah satu arah petunjuk dia berada di mana.


"BRAKKK"


"KRATAK"


"TAKKK" suara benturan memekakan telinga.


"Aaaaarrgghh" teriak Defika saat di rasa tubuh nya berayun sekitar dua meter dari atas tanah.


Di bagian kanan paha nya membentur dahan pohon yang patah.


KRATAAAKKK


Defika perlahan membuka mata nya melihat sekeliling nya,mata nya sayu.


"Alfin alfin kau di mana?" dia merancu melemah merasakan sakit di sekujur tubuh nya.


"Aauw di rasanya lengan sebelah kirinya basah mengucur deras segar dan robek pakai an nya sebatas pundak.hhiikss


"sayang kau mendengar suara ku" teriak Alfin yang ada beberapa meter di atas Defika.


Tak ada jawaban." Sayang kau masih mendengar ku.


Defika mendengar jelas suara kekasih nya itu tapi dia masih terdiam, mulut nya seakan tertutup rapat menahan dingin nya hawa yang menusuk nusuk di sekujur tubuh nya.


"Sayang kalo kau masih mendengar ku, coba kau lepas pengikat di pinggang mu


lalu kau bisa meloncat ke semak semak itu." kata Alfin berteriak.


Dengan sisa tenaga dia berusaha melepas pengait seat yang di pakai nya itu seperti petunjuk Alfin dengan sisa tenaga dia loncat setinggi 2 meter dari atas tanah yang dilihat nya semak semak itu ddukkk Defika jatuh dengan posisi telungkup."aarrghhh,hhiiks" Detik meringis di rasanya sekujur tubuh nya kini berasa tanpa tulang.


SSSIIUUTTT,


dengan keahlian yang di punya nya dengan mudah Alfin bisa bergelayut pada tali tali yang mengikat tubuh Defika tadi dan dia mendarat tepat di samping Defika yang terkulai lemas.


PLUKK PLUKK "sayang bangun lah", kata Alfin merengkuh tubuh Defika dalam pelukan nya dan menepuk nepuk berulang kali pipi Defika yang sudah tak sadar kan diri itu.


Beberapa saat kemudian Defika membuka mata nya di rasa kan tubuh nya sedikit menghangat.


Dilihat nya dirinya sekarang bersandar pada tubuh Alfin yang sudah tak mengenakan baju itu dan bersandar pada sebuah batu yang sangat besar.


"Alfin apa yang kau lakukan?" kata nya melemah dan kaget karena bibir kekasih nya sekarang membiru.


"Pakai lah ini kau pasti kedinginan dengan melepas baju mu" ucap Defika panik.


"Kau sudah sadar sayang, syukurlah kau lebih membutuhkan nya sayang jangan dilepas" kata Alfin tersenyum melihat kekasih nya sadar.


"Kita ada di mana kenapa gelap sekali" kata Defika.


"Kita ada di hutan tapi mereka pasti menemukan kita bersabar lah."

__ADS_1


ucap Alfin sambil membeli rambut Defika dan mengecup nya berulang ulang.


Diberikan nya alat GPS ke pada Defika yang sedari tadi di selipkan di bagian celana panjang di saku belakang nya.


"Sayang bertahan lah, mereka pasti menemukan mu" kata nya lagi "pegang lah ini baik baik,kau harus bertahan maaf kan aku tak bisa menjaga mu" ucap nya lagi.


"Kau ini bilang apa, jangan menakutiku" kata Defika menoleh ke arah suara itu.


"Kau pucat sekali bibir mu membiru fin, katakan apa yang bisa ku lakukan" kata Defika panik.


Digosok gosok kan tangan kekasih nya itu dengan telapak nya agar terasa menghangat.


"Tidak ada,aku baik baik saja" kata Alfin semakin bergetar.


Dengan cepat Defika melepas baju Alfin yang di gunakan nya tadi dan di pakai kan kembali ke tubuh kekar lelaki itu mata Alfin terlihat sayu.


"Alfin sayang bangun lah buka matamu aku takut" puk puk puk menepuk pipi Alfin berulang kali.


" Hhiikss bangun fin aku takut" cup cup berulang kali dia mengecup bibir kekasih nya itu dahi mereka saling menempel dan hidung mereka sangat dekat.


CUUP CUPP


" HHIIKKSS HHIIKS Jangan pergi fin aku takut sendiri,ucap Defika terisak"


Dilihat nya sekujur tubuh Alfin, dilihat nya telapak kaki sebelah kiri nya membiru bengkak bekas di patuk ular, karena ada ikatan kain yang sudah melilit kaki nya itu.


"Kaki mu kenapa" kata Defika lagi.


Apa kau di patok ular sayang katanya lagi sambil menggosok gosok pipi Alfin agar tetap tersadar.


Alfin manggut manggut saja.


Ketakutan seketika menghampiri perasaan Defika" bukan kah itu sangat berbahaya" pikir nya.


Dia berpikir keras bagaimana cara nya agar Alfin tetapi harus sadar sampai bantuan datang.


"Aku akan melakukan itu fin" ucap nya berbisik.


" Hemm, sayang bertahan lah, mungkin beberapa saat nanti aku tak sadarkan diri. kata nya lagi.


"Tidak kau harus terus menemaniku fin, jangan pingsan aku takut sendiri" rengek Defika.


Tanpa pikir panjang Defika meremas lembut singa kecil milik Alfin di balik celana itu


Alfin terkejut dia melihat ke arah Defika yang menatap nya lekat.


.


.


.


.


jeng jeng jeng, pantengin ya beb.


Happy reading.


VOTE LIKE KOMEN nya donk hiks😥😥pembacanya pasif....tinggalkan jejak readers, bingung ini mau dilanjut pa gak ya readers?!.....

__ADS_1


__ADS_2