
Dengan gemetar Defika menggelitik singa itu “skin to skin” yach hanya itu yang ada di pikiran nya sekarang berusaha memberi kehangatan.
Alfin terkejut dia melihat ke arah Defika yang menatap nya lekat dengan mata sayu nya yang perlahan menutup.
“Maaf, I LOVE U” Ucap nya lirih bahkan hampir tak terdengar matanya terpejam.
Tubuh Defika bergetar bukan harga dirinya yang terpenting sekarang tapi nyawa lelaki yang di cintainya sekarang terancam hipotermia itu seakan berada diujung pintu maut.
“Oh my GOD ,No No don’t let me go honey” hiksss AAArrgghhh teriak nya merengkuh lelaki itu dalam dekapan nya.
“Fin fin"HHIIKSS Defika trusakdisamping lelaki yang nafas nya melemah perlahan itu.
Puk puk “Fin bangun jangan seperti ini”.
AAAAHHH Hhiikkss Defika histeris dia berteriak menggoncangkan keras menggenggam kedua pundak lelaki yang semakin melemah itu.
Seakan hatinya remuk berkeping dengan kejadian yang menimpanya kehormatan yang terenggut dan sekarang akankah kekasih hatinya pergi meninggalkan nya?
Akan kan kekasih yang dicintai nya itu pergi setragis ini?
Cinta yang sudah mulai tumbuh akan kah harus berakhir seperti ini memikirkan semua itu dada nya terasa sesak.
Malam semakin mencekam, di sekelilingnya berdiri berjajar pohon yang menjulang tinggi dari arah jauh sana terdengar suara nyaring air terjun yang entah dia sendiri tak tau di mana dia kini berada.
“Bangun sayang jangan tinggalkan aku sendiri aku takut” teriak nya semakin kencang.
Alfin tetap terdiam wajah nya pucat tangan nya memutih bahkan seperti nampak membiru napas nya semakin melemah.
“Kau bilang kau mencintaiku” teriak nya.
BUGG BUGG BUGG
“Bangun sayang” dipukulnya tepat di dada Alfin, dengan maksud menyadarkan nya mata nya terpejam Defika panik.
Dia menangis histeris melihat kekasih nya diam membeku di pelukan nya.
Tubuh Defika seketika melemas, kakinya bergetar dia meringkuk dengan paha terlipat ke depan, hawa dingin menusuk ke dalam tulang wanita itu BBEERR.
5 menit berlalu
10 menit berkalu
30 menit berlalu,
Defika nampak putus asa dia hanya menangis dengan memeluk kedua lutut nya.
UUHUUKK UUHUKK
__ADS_1
Defika terkejut lelaki itu terbatuk dan mengigau “dingin dingin sekali”katanya lirih.
“Kau sudah bangun syukurlah”Defika mendekatkan tubuh nya.
“Buka mata mu fin” ucap nya penuh harap.
Alfin tersadar dia membuka mata nya”dingin dingin” hanya itu yang terucap di bibir nya.
Dengan tubuh gemetar dia menangalkan penutup nya,lalu merapatkan dekapan nya .
“Sayang apa yang lakukan? Kata Alfin meringkuk wajah nya semakin pucat dia semakin bergetar hebat melihat kekasih nya itu.
“GLEKK, tidak kau nanti kedinginan” tangan Alfin memijat kepala nya yang terasa pusing.
Alfin menelan ludah kasar di hadapan nya kini terpampang kekasih nya yang begitu sempurna setiap lekukan itu mampu membuat darah Alfin perlahan mendidih.
Dada yang mendekap nya itu perlahan memberikan rasa hangat.
“Aku hanya menginginkan mu disini, temani aku jangan pergi lagi” ucap Defika lirih kata kata yang selama ini hanya disimpan di hatinya entah terucap begitu saja.
“Miliki aku seutuhnya Fin”ucap nya lagi kedua mata mereka saling beradu tenggelam dalam rasa yang mereka miliki, api itu semakin membara.
Jantung Defika seakan berpacu berdetak tak karuan, mata lelaki yang di cintai nya terus menatap nya sesekali dilihat nya lelaki itu menelan saliva nya.
Sayang bertahan lah pikir nya tangan nya kembali mengusap si singa yang tertidur.
Kini semua penutup dengan corak sama telah tanggal, tangan Defika menggenggam jemari Alfin yang memucat diatas kan nya lengan itu mendekap rapat tubuh nya sesekali gadis itu memainkan kelereng milik nya dan mencoba berinteraksi terus dengan kekasih nya itu.
Perlahan sentuhan tangan Defika menjelajah semakin intens bermain main dengan singa kecil itu.
“sayang aargghh”Alfin menggeliat.
pemandangan indah di depan nya itu menggoyahkan janji nya, janji yang hanya akan memiliki gadis yang dicintainya itu hingga saat nya nanti.
Semua janji itu memudar malam itu, sentuhan kekasih nya yang menjelajahi tubuh kekar nya semakin membuat nya mengingkari janji nya untuk menjaga bunga nya.
Dada mereka menempel saling bergesekan, kedua kelereng kecil itu menegang saat tangan kekar Alfin menangkup dengan kedua tangan nya menyesap nya dengan gairah menggebu terasa menggelitik desiran aneh itu menjalar di setiap tubuh Defika skin to skin.
“Arrgghh Alfin”lenguh Defika.
di tengah malam beralaskan pakaian Defika itu mereka melenguh bersama,mereka berpeluh di saat yang sama berbagi udara menyesap setiap manis madunya itu.
Alfin membalik kan tubuh kekasih nya”kau yakin” ucap nya dengan tatapan memburu.
“Hem... as you wish” tangan nya memeluk pundak lelaki itu kepalanya mengangguk disertai tetesan peluh.
Alfin menghentak kan singa kecil nya yang terbangun di sela lipatan kaki jenjang wanitanya itu dia mengecup setiap jengkal tubuh gadis itu bagi Alfin ini yang pertama untuk nya.
__ADS_1
Mereka menyatukan milik mereka dengan atas dasar cinta, sebuah pengorbanan untuk bertahan hidup di luar ikatan yang sah.
Defika menitik kan air mata nya, entah itu perasaan bahagia atau perasaan sedih kali ini dia melakukan itu lagi dengan orang yang berbeda, rasa itu tidak seperti saat bersama Rio.
Saat ini dia melakukan nya lagi dengan kekasih nya, nampak berbeda dipikirannya, kukira ini akan terasa menyakitkan untuk nya seperti yang dilakukan Rio dulu.
“Kenapa aneh begini, tubuh nya seakan meminta sentuhan lebih” ucapnya lirih.
Ketakutan dan rasa kotor yang melekat pada dirinya seakan terhapus malam itu, lenguhan dan pujian Alfin sentuhan lembut nya membawa Defika benar benar di bawa terbang.
Alfin melakukan itu perlahan bahkan dia memanjakan kekasihnya itu dengan sentuhan sentuhan terbaik nya, kuntum bunga yang tanpa diketahuinya telah mekar itu kini direnggut nya perlahan menerobos setiap sisi lembut kehangatan di sana, Alfin menjaga agar kekasih nya itu tak tersakiti karena ulah singa nya.
“I love u honey”, bisik nya lirih dengan luapan lahar panas yang menyirami rahim Defika.
Kata kotor yang telah melekat di pikiran Defika tentang dirinya selama beberapa hari itu seakan lenyap bersama lenguhan nya peluhnya yang menyatu dengan kekasih nya itu seakan menjadi kan diri nya seutuh nya menjadi wanita yang sangat dicintai, bukti persatuan cinta mereka dalam gelora yang menggebu tanpa paksaan kedua nya berpeluh pohon menjulang tinggi angin sepoi beralaskan langit malam menjadi saksi bisu percintaan sepasang kekasih ini.
Cukup lama peraduan mereka, senyuman nampak bahagia tersungging di bibir kedua nya mereka bercumbu saling memanggut lidah Alfin menjalar memenuhi setiap rongga bibir Defika menyesapnya penuh gairah.
Nafas keduanya terengah engah kegiatan mereka itu kembali membuat tubuh mereka perlahan menghangat.
Alfin meraih kening kekasih nya itu dikecup nya lembut dengan penuh cinta mengisi peluh di dahi Defika dengan telapak nya.
“Aku sangat bahagia” ucap nya sambil menatap kedua mata Defika.
CUP CUP di kecup nya kedua pipi Defika berulang ulang luapan bahagia nya.
Defika mengangguk sambil meletak kan kening nya hingga saling menempel“Jangan pergi lagi”.
Alfin meraih tangan kekasih nya itu dan di kecup nya berulang ulang, tangan satu nya lagi meraih pakaian Defika dan memakai kan nya.
.
.
.
.
.
to be continue
LIKE
VOTE
KOMEN
__ADS_1