
Nampak asing buat Defika saat dia membuka mata nya.
Aku dimana ini?! batin nya sambil melihat sekeliling ruangan di sana yang nampak megah tapi sangat asing buat dia.
Siapa lelaki tampan itu?!pikirnya.
Perlahan dia mengingat semua tentang diri nya tapi kenapa aku tidak mengingat apapun?! batin nya lagi sambil sesekali dilirik nya lelaki di samping nya itu.
"Kau siapa?" kata Defika lirih mata nya terlihat sayu, dia bertanya pada seseorang lelaki yang membantu nya memegangi segelas susu hangat.
Nampak sekali senyum di wajah Rio saat wanita itu membuka mata dan ada dia di sisi nya.
Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta bagi Rio, mendekati Defika saat itu sangat susah sekali padahal dia lelaki yang memiliki segala nya dan ke egoan Rio berkata aku ingin memiliki gadis ini seutuh nya walaupun dengan paksa.
"Minumlah, kau pasti haus honey." kata Rio sambil memegangi segelas susu hangat itu.
Ucap nya lembut dengan senyum bahagia nampak di sudut bibir nya, bahagia sekali gadis itu sekarang di samping nya.
Dirasanya jantung nya berdetak sangat cepat jika berada di dekat gadis nya itu tapi dia tidak menyadari bahwa perasaan cinta nya itu sangat gila tapi dia terlalu masa bodoh akan semua nya.
Dengan penuh kelembutan Rio mendekatkan segelas susu hangat ke mulut Defika dan dia meminum nya hingga tak tersisa.
"Terima kasih" ucap nya lirih saat susu yang ada di gelas itu kosong tak bersisa.
Honey, kenapa dia memanggilku seperti itu?batin nya terus saja bertanya tanya.
Aaahh tidak tidak kenapa aku tidak ingat sama sekali batin nya lagi sambil menghela panjang nafas nya semua ini membuat nya sangat bingung.
"Aku senang kau sudah sadar honey?! aku merindukan mu aku sangat menghawatirkan keadaanmu ucap Rio sambil meletak kan gelas kosong itu di atas meja kemudian tangan nya menggenggam tangan Defika yang di letak kan di pangkuan nya.
Defika memperhatikan tangan nya yang di genggam itu, entah dia merasakan sentuhan itu sangat asing cepat cepat dia menarik tangan nya.
"Ma maaf" kata Defika lirih lalu meremas jemari nya itu
Sekilas dia memperhatikan kenapa dengan jarinya ini seolah ada yang mengganjal, perlahan di rabanya jemari nya itu.
"Cincin?!" kata nya lagi lirih namun masih terdengar oleh Rio.
Rio nampak memperhatikan gadis di dekat nya itu nampak bibir nya tersungging kedua alis nya terangkat.
"Apa yang kau pikirkan hem" ucap Rio sambil menggapai jemari Defika lagi.
"Lihatlah aku juga memakai nya honey".
__ADS_1
katanya sambil menunjuk kan jemari nya di mana ada cicin perak dengan mata berlian yang melingkar disana nampak juga ukir nama di samping cincin perak bermata berlian itu.
"Di sini sudah tersemat namaku dan juga di jemariku ada nama mu" kata Rio memperlihatkan ukiran nama dengan huruf Kapital bertuliskan tegak bersambung DR.
Defika hanya terdiam entah dia harus berkata apa, hati kecil nya seakan belum bisa menerima semua nya, dia sangat bingung.
"Kau pasti sangat gerah, sudah beberapa hari hanya berbaring di sini, nanti aku akan menyuruh fara menyiapkan air hangat dan memandikan mu ya?!kata Rio sambil tangan nya sesekali meremas lembut punggung jemari Defika.
Defika hanya terdiam sambil memandangi lelaki yang ada di dekat nya itu, dia menganggukan kepala nya saja.
Sungguh membingungkan pikir nya aku ini siapa?kalo kita masih bertunangan kenapa aku bisa ada disini?! dimana keluargaku?!pikirnya lagi itu semakin memvuat kepala nya berdenyut.
Beberapa saat mereka nampak hening di dalam ruangan itu dan tanpa sengaja kedua mata mereka saling menatap dengan begitu dekat.
DEGG DEGG DEGGG
Jantung Rio kembali berdetak saat mereka saling menatap dia mengingat betul saat dimana dia memaksakan keegoan nya merampas mahkota kebanggan gadis nya itu tapi dia juga memikirkan andai saja Defika tau lelaki ini pernah memaksakan nafsu bejad nya pada nya pasti Defika sangat membenci nya.
"Tidakk tidakk gadis ini milik ku dan aku akan membuat nya mencintaiku" pikir nya lagi.
Bibir itu, aahh bibir yang pernah dilumat nya dengan penuh gairah, dia sangat merindukan nya berada di dekat gadis itu benar benar membuat nya bisa lupa akan segalanya dia sangat gerah.
Ada rasa bangga di hati Rio karena dia yang memilikinya kadang juga ada rasa bersalah saat dia melihat wanita nya itu meringkuk dengan wajah pucat karena ulah nya juga.
"Eehhh ehh haii kau mau apa" kata Defika terkejut saat wajah mereka semakin dekat, dia pun memundurkan kepala nya perlahan.
"Tidak apa honey" kata Rio sambil terus mendekatkan wajah nya.
"A apa yang mau kau lakukan"
kata Defika lagi kini dia semakin panik dan dia memundurkan lagi kepalanya.
DDUUKKKKK
Hinggga kepalanya terantuk pada sandaran tempat tidur" AAAUUUWW !!"rintihnya wajah Defika semakin pucat.
Tapi Rio seakan tak memperdulikan nya dia semakin mendekat dan kini wajah mereka hanya berjarak satu senti saja.
"Stop stop.. kau mau apa" kata Defika semakin panik. Berada dekat lelaki ini memvuat nya benar benar tak nyaman tapi entah dia sendiri tak tau kenapa tubuh nya seakan bereaksi seperti itu.
KRUCUUKK KRUUCUUKKK
Suara di dalam perut Defika berbunyi.
__ADS_1
"UUPPPPSS" Defika terkejut saat perut nya berbunyi.
"Tu tuan anu itu" katanya terbata.
KRUUCUKK KRUCUKKK suara itu semakin keras meminta di isi setelah hampir satu minggu dia terbaring dengan hanya asupan infus Defika sangat lapar.
"Bunyi apa itu?"kata Rio terkejut karena suara itu kembali terdengar sangat nyaring.
KRUCUUKK KRUUCUUKK suara itu semakin berbunyi nyaring.
Defika hanya tertunduk, dia menghela nafas panjang dengan wajah memerah karena malu.
kata Rio sambil menatap mata sayu Defika dan membetulkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi gadis itu lalu menyingkapkan di belakang telinga nya.
"Hemmm" katanya sambil mengangguk kan kepala wajah nya seketika memerah menahan malu.
Uuhhh ada apa sih dengan suara perut ku ini, sungguh memalukan, gumam nya lirih dengan memeluk perut nya yang terus saja berbunyi.
"Tunggu sebentar" kata Rio lagi.
TTEETTT TEETTTT
Rio memencet bel yang ada di samping nya itu, tidak lama kemudian Paula datang dengan membawa semangkuk bubur hangat di tangan nya.
"Kenapa kau yang antar" kata Rio saat dia membuka pintu kamar itu.
"Aku yang ingin membawanya kemari, katanya pacar mu eehh tunangan mu sudah sadar yach aku ingin menengok nya" kata Paula dengan suara yang cukup keras dan Defika dapat mendengar nya.
"Tidak tidak jangan sekarang!!Dia masih lemas dan tak bisa di ganggu, pergi sana" kata Rio ketus.
BBRRUUKKK
Dengan sedikit keras dia menutup pintu kamar itu.
"Ada ada saja, suka nya mengganggu gumam Rio sebal lalu dia melangkahkan kaki nya mendekati Defika yang sedari tadi memandangi nya.
"Siapa dia, kenapa dengan mu?" kata Defika terheran karena sekilas dia mendengar kata tunangan, aaahh apa benar aku tunangan lelaki ini!!
Defika nampak berpikir keras kedua alis nya menyatu dengan mata sayu dia teruss memikirkan tentang dirinya tetapi dia sama sekali tidak ingat.
"aa makan lah ini bubur ayam kesukaan mu ayo buka mulut mu" kata Rio yang sudah duduk di samping Defika.
happy reading
__ADS_1