
Kring kringg
Papa Frans
" Juan kemana kakak mu dari kemarin susah sekali di hubungi, Ada apa dengan kakak mu ?!... "
Juan
"Kakak baik baik saja pap, cuman kemaren smart phone kakak terjatuh jadinya susah untuk di hubungi" ucap Juan berbohong dia hanya gak mau papa mamanya kuatir.
Papa Frans
"Kamu jangan bohongin kami Juan" nada Frans membentak.
Mama mu khawatir kamu awasi dan jaga kakak mu baik baik,dari semalamn mama mimpi buruk tentang kakak mu berkali kali di hubungi tidak di angkat.
Juan
"Baik pap, nanti coba Juan tanya kakak sampai kan pesan ke mama pap kakak baik baik saja."
Juan menutup telpon dan bersandar pada sofa berwarna hitam.
Saat ini mama papa nya sedang bertugas dinas ke suatu tempat selama beberapa hari.
Juan dan Defika hanya berdua di rumah di temani seorang bibi yang telah lama ikut bersama mereka.
"Bi..."
panggil Juan setengah berteriak karena rumah nya yang luas.
"Ya den Juan memanggil bibi yang selama ini bekerja bersama mereka".
Kata bibi menoleh ke arah meja makan panjang berwarna coklat dengan bahan ukiran jati di alas dan kaki meja itu terdapat enam bangku duduk dengan berwarna coklat senada dan penuh ukiran di sisi kaki kursi .Bibi menoleh karena saat itu dia berada di ruang khusus untuk menjemur pakaian.
Bibi meletak kan pekerjaan nya dan berjalan ke arah Meja makan di mana Juan duduk disitu.
Ruangan makan dan menjemur pakaian terdapat di lantai yang sama hanya saja untuk menjemur terletak paling sudut dan di ruangan terbuka.
"kakak bagaimana bi apa sudah mau makan! "
Kata Juan yang saat itu duduk di meja makan sendiri kesayangan nya memegang kopi dan meminum nya perlahan kemudian meletakkan nya ke meja kembali.
"Itu den masih sama seperti kemaren, makanan tidak habis den malahan nona teriak teriak den bibi takut ada apa apa sama non Defika."
"Non Defika ada masalah apa ya den gak seperti biasa nya?" bibi gak tega dengernya kalo nangis dan beberapa hari ini murung terus.
Kata bibi Ina dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Ohh iya den itu hampir setiap hari non Fina juga main ke sini den menanyakan non Defika tapi pintu kamar tidak pernah di buka kata non Fina Hp nya juga gk bisa si hubungi den".
"Siapa bi Fina? ucap Juan penuh penekanan.
"Iya den itu temen nya mkn Defika ,nama nya Fina " kata bibi lagi.
"terakhir kapan ke sini bi?"selidik Juan lagi.
"Semalem Den"kata bi Ina.
Tolong dijaga kakak bi aku pergi dulu ucap Juan sambil berlalu pergi ,Juan mendapatkan petunjuk.
Juan bergegas pergi keluar rumah menggunakan motor matic nya,karena di rasa jalanan yang padat akan memperlambat jalan nya ke rumah Fina.
Jarak tempuh juga lumayan empat puluh lima menit lamanya.
Juan berada di sebuah apartemen yang cukup mewah,selama ini Juan selalu tahu dengan siapa siapa saja kakak nya berteman diam diam dia mengawasi sesuai pesan papa nya.
TOKK TOKK TOKK
"Iya tunggu" Sepertinya itu honey baru saja telp beberapa menit cepat sekali sudah sampai. Ucap Fika.
Cekkreekk.
"Ju juan kau di sini,ada apa!?" Kata Fina nampak gugup lelaki itu berdiri di hadapan nya dengan wajah dingin.
"Ju juann kau Hhmm masuklah dulu" nampak gugup.
"Kau mau minum apa,biar aku buatkan " kata nya.
"Tidak usah repot, aku cuman sebentar Fina."
Wajah Juan nampak garang tatapan mata yang tajam seakan mampu menguliti setiap lawan nya.Fina panik dia bergegas masuk ke pantry.
Di sana fina bolak balik jalan kesana kemari seakan tak berusaha untuk menguasai diri nya agar tak nampak jika dia tau sesuatu.
"Aduhh gimana ini kenapa juga ada Juan, aku harus bilang apa bisa mati aku kalau bilang yang seharus nya?!"
"AARRGGHH ayoo ayoo Fina berpikiran ucapnya sendiri". menggigit kuku jari nya.
"Tenang Fina tenang kau harus bisa menguasai dirimu ayo tadik napas buang pelan tadik lagi buang pelan lagi" kata nya pada diri sendiri.
Fina kembali menghampiri Juan dengan membawa segelas jus jeruk.
"Minumlah dulu kau pasti haus Juan, udara di luar sangat panas ya ini pasti bisa sedikit membuat mu segar" ucap nya basa basi.
Juan meminumnya " trima kasih" ucap Juan.
__ADS_1
Pakaian atasan Kaos dipadu padankan jaket kulit dengan celana jeans biru dongker sepatu Phantovel hitam menyempurnakan penampilan nya dilengkapi juga kaca mata hitam kesayangan nya.
Kringgg kring....
Waktu berlalu sudah satu minggu Defika mengurung dirinya di kamar dirinya merasa kotor jijik seringkali karena frustasi Defika teriak di dalam kamar menyiksa dirinya sendiri memukul mukul badan nya berteriak menjambak rambut nya membenturkan nya ke lantai tanpa makan dan minum.
Badan nya tak terawat nampak kurus.
" Ada apa dengan kakak" ucap Juan terheran dia duduk jongkok di samping Defika yang membujur kaki nya di lantai sedangkan kepala nya bersandar pada tempat tidur.
Nampak rambut ecak acara tak beraturan.
Setiap kali di tanya kakak selalu menghindar pikir nya," aku harus menyelidikinya".
Ckriieekkk...jendela terbuka perlahan,setiap malam Juan diam diam masuk ke kamar Defika merayap lewat jendela kamar yang memang berada di lantai satu dan sengaja tidak terkunci.
Dengan seksama Juan memperhatikan sekitar kamar Defika berharap ada sebuah petunjuk.
Dari sudut kamar dilihat nya ada sebuah kamera yang pecah di bagian lensa di sudut kamar itu bahkan hampir tak terlihat karena posisi nya terjatuh menjorok ke dalam samping lemari.
"Apa itu,kenapa bisa ada di bawah?"
Ucap Juan dia berdiri dari jongkok nya dan mengambil kamera itu lalu meletak kan nya di meja.
Perlahan Juan mengangkat tubuh Defika dan meletak kan nya ditempat tidur, diusap nya kepala Defika perlahan.
"Kau kenapa kak,kenapa mengurung dirimu? ada masalah apa sebenar nya!" ucap Juan lirih.
Lalu Juan berdiri mengambil lagi kamera yang di letak kan di meja itu meraih nya dan keluar lewat jendela.
Dari dalam kamar nya Juan memperhatikan lagi kamera yang di temukan nya di lantai kamar Defika.
Juan membolak balik kan kamera itu mengamati nya sesaat dicari nya tombol on off klik tapi tak menemukan apapun.
Beberapa hari yang lalu saat Juan ke rumah Fina dia juga tak mendapatkan petunjuk apapun.
.
.
.
.
to be continue.
Budayakan vote like komen reader
__ADS_1
HAPPY READING