Jatuh Ke Tangan Sang Idola

Jatuh Ke Tangan Sang Idola
3. Sampai di kediaman sang nenek


__ADS_3

"Aku sengaja ngasih uang itu biar gak usah kembalian, aku senang bukan main setelah berjalan 100 meter lebih, akhirnya menemukan bengkel. Bukan hanya itu alasan ku, orang itu ramah juga memberiku air mineral. Air mineral itu tidak di hitung padahal di bengkel-bengkel lain di hitung lima ribu rupiah." gumam Alisha seraya menyimpulkan sebuah senyuman di bibirnya.


"Aku senang dan terimakasih do'a dari mas tukang bengkel tadi,"


Di sisi lain ....


"Eh si Mbak nya mana? lah ini kembaliannya gimana? eh ada kertas nempel di sini (kaca ) dek adek coba apa tulisan ini!" seru pria tersebut.


"Mas makasih banyak yah? Mas ramah banget dan ini kembaliannya buat Mas aja. AKu lagi buru-buru. Makasih banyak do'a nya ya Mas, salam dariku. gitu katanya Mas, emang dari siapa?" setelah membacakan isi dari tulisan Alisha, adik tukang bengkel tersebut bertanya seraya tersenyum penasaran.


"Bukan dari siapapun, dari orang yang Mas tolong tadi. Ya Allah, makasih banyak Mbak semoga perjalanan Mbak selamat selalu di lindungi sang Maha Kuasa amin," ucap pria tersebut seraya melihat ke arah jalan.


Alisha pun akhirnya sampai di desa sang nenek setelah mengalami banyak hal.



"Assalamu'alaikum," Salam Alisha, seraya melepaskan helmnya dan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mbah Kakung atau Kakek.


Alisha pun menyalami mereka satu persatu, dari Bu Lek, Pa Lek dan sepupunya juga Mbah Putri dan juga Mbah Kakung yang sedang menyeruput teh.


"Loh, Mbah? Teng pundi Papaku kalih Mama kula Mbah? (loh Kek di mana Papa sama Mamaku Kek?)" tanya Alisha menggunakan bahasa daerahnya.


"Urung teko Ndok, sesuk terose wes ndang Koe bebersih terus istirahat to.( belum datang nak, mungkin besok katanya. udah kamu bebersih diri terus istirahat ya)." jelas Mbah Putri atau nenek.


'Huft ... untunglah mereka belum datang,' batin Alisha.


Alisha pun membersihkan diri lalu makan, walaupun sudah makan sebelumnya, namun karena di perjalanannya tadi di keroyok hingga ia mengeluarkan banyak tenaga dan menguras banyak energi, akhirnya kelaparan lagi.


Pagi hari ....


Brum .... Brum ....


Terdengar suara mobil yang tengah terparkir di depan rumah sang nenek, suara mobil tersebut adalah milik Papa Alisha yang baru saja tiba.


Alisha pun bergegas keluar segera menghampiri orang tuanya, terlihat ada mama Alisha juga adiknya yang juga ikut.


Alisha merasa senang ia berlari ke arah mamanya yang baru turun dari mobilnya.


"Mama, aku kangen banget sama Mama," ucap Alisha seraya memeluk tubuh Mamanya.


"Mama juga kangen banget sama Alisha, maafkan Mama yah?" jawab sang Mama seraya mengecup kening putrinya tersebut.


"Maaf untuk apa Mah?" tanya Alisha menatap mata sang Mama.


"Maafkan Mama, Mama gak pernah jenguk Alisha di asrama," ujar Mama Alisha seraya mengelus pipi putrinya.


"Nggak apa-apa Mah, lagian kan Alisha tau. Mama sibuk, lagian Mama menelpon Alisha setiap malam dan pagi itu sudah cukup." balas Alisha.


"Kamu gak kangen sama Papa?" tanya Papa seraya membentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Alisha pun melepaskan pelukan dari sang Mama dan berganti memeluk tubuh sang Papa.


"Hmmm ... ya sudahlah aku gabung aja," ucap remaja laki-laki yang berdiri di sisi pintu mobil.


Lalu laki-laki tersebut memeluk Alisha yang kini tengah berada di dekapan sang Papa.


Alisha menatap ke arah laki-laki tersebut dengan bahagia dan mengelus rambut laki-laki tersebut.


"Adikku sudah besar rupanya?" gumam Alisha seraya mengusap rambut Dimas dengan gemas.


"Lepas ah Kak, malu tau!" ujar Dimas dengan menyingkirkan tangan Alisha.


"Ih ciee ... dah gede nih yeh, jadi malu di pegang kakaknya sendiri? Oh yah, ngomong-ngomong kakak mau ketemu sama calon suami kakak," ujar Alisha dengan merangkul pundak adiknya itu.


"Hah? Kakak udah punya pacar? Udah pada tau Mama sama Papa?" tanya Dimas menatap penuh selidik.


"Nggak dong, makanya ini mau izin, do'akan yah? Semoga kakak kali ini di berikan izin," ujar Alisha seraya menjauh dari Dimas.


"Kali ini?" gumam Dimas seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Setelahnya mereka menyapa orang-orang di rumah, lalu dilanjutkan dengan membersihkan diri dan mengganti pakaian lalu di lanjutkan dengan makan bersama.


Jam kini telah menunjukkan pukul 7:25 malam ....


Alisha kini sedang mengerjakan soal dan skripsi, Alisha mengambil jurusan desain dan fashion.


Di tengah-tengah fokusnya Alisha, kedua orang tua Alisha mendekatinya, lalu duduk di kursi sebelah Alisha.


"Kenapa di tutup? " tanya Mama Alisha.


"Sudah selesai Ma," jawab Alisha.


"Gimana kabarmu sayang? Apakah masih ada yang suka mem-bully kamu?" tanya Mama dengan nada lembut, sembari mengelus rambut panjang Alisha.


"Baik Ma, dan alhamdulillah Lisa juga satu jurusan dengan Alisha jadi kami sering ketemu," jawab


"Sudah hidangan hidupku Ma, justru kalo tak ada yang mem-bully aku. Aku merasa bosan saat ini hehehe," sambung Alisha dengan tersenyum miris, ia mencoba menguatkan diri dan membuat Mamanya percaya bahwa ia kini sudah kuat.


"Iya nak, kau buktikan pada dirimu sendiri oke! kau lebih baik dari si pem-bully. Dan buktikan kau hebat! buat mereka kebakaran jenggot ahahha," ucap mamta seraya tertawa terbahak-bahak namun dalam hatinya tak tega dan sedih.


"Siap bu bos! itu sudah pasti Mah. cup," jawab Alisha dengan mencium pipi Mamanya.


Kini Alisha berganti melihat ke arah Papanya, Alisha pun mengeluarkan lembar kertas yang harus di tanda tangani Papanya.


Alisha menarik napasnya dalam-dalam, ia memberanikan diri untuk meminta restu.


"Emm ... dan satu lagi Ma, Pa ini ...." Alisha menyodorkan selembar kertas folio tersebut. "Korea?" tanya Papa Alisha setelah melihat isi formulir tersebut. Dan Papa Alisha menatap tajam ke arahnya, sekilas melirik ke arah Mama.


"Iya, Pa. Aku ingin ikut, aku bisa jaga diri kok. mohon izinin aku kali ini saja ya Ma Pa?" mohon Alisha meminta belas kasihan mereka.


"Tapi ini jauh nak. Ini ke luar negri," ucap Papa Alisha.

__ADS_1


"Aku tau Papa khawatir, tapi Pa ... aku bisa jaga diri dan percayalah sama anakmu ini, kasihanilah anakmu ini, aku nggak pernah camping atau kemah atau ikut kegiatan apapun, dulu pas ke Bali katanya jauh dan takut ini itu. Kini aku telah kuliah Pa, umurku sudah dewasa. Sampai kapan aku ... hikss hiks," Alisha tak bisa melanjutkan ucapannya, tak kala ia terlalu emosi. sehingga ia tak tahan untuk mengeluarkan air matanya, dan ini pertama kalinya bagi Alisha memohon dan membantah omongan orang tuanya.


Alisha sebenarnya merasa bersalah, dan ia juga emosi. karena selalu tak di perbolehkan ke mana-mana tanpa seizin Papa Mamanya.


'Walau ku tau untuk kebaikanku namun tetap saja aku merasa tak adil, teman-temanku camping dan ke Bali namun aku tidak di izinkan' batin Alisha yang kini tengah tertunduk seraya melihat lembaran kertas tersebut.


"Baiklah, jika Papa dan Mama tak izinkan aku. Aku tak apa jika tak ikut," ucap Alisha dengan senyumnya yang penuh tekanan, karena rasa sakit hatinya dan kecewa.


Namun sang Papa tiba-tiba mengambil lembaran kertasnya tersebut dari tangan Alisha, dan menandatangani. Sontak saja Alisha terkejut saat Papanya menyerahkan surat tersebut, kini Alisha pun tersenyum bahagia sekaligus tak percaya.


"Terima kasih Papa ... Hiks," ucap Alisha seraya memeluk Papanya, Nur Khalisa Mama Alisha pun ikut bahagia, melihat putrinya yang kini telah mendapatkan izin untuk kegiatan sekolahnya.


"Sama-sama, maafkan Papa selama ini selalu melarang kamu nak, Papa tau kamu anak yang baik. Kali ini Papa izinkan, asal janji kamu akan baik-baik saja dan pulang dengan selamat!" ujar Papa Alisha dengan mencubit hidung Alisha dengan gemas.


"Ia siap bos! Alisha janji sama Papa! Percayalah."


"Oke, memangnya kapan akan berangkat?" tanya Mama Alisha.


"Minggu depan Mah, ini di kumpulkan besok."


"Ya sudah, minggu depan Mama akan meluangkan waktu untukmu, Papa juga kan Pah?" tanya Nur Khalisa.


"Ia, tapi gak janji loh yah?" jawab Papa Alisha.


"Hmmm ... baik lah Pah," jawab Alisha seraya memasukkan lembaran kertas tersebut ke dalam rasnya.


Lalu Alisha pun bermanja-manja dengan Mama juga Papanya, melepaskan kerinduan antara anak dan orang tuanya.


Hingga jam telah menunjukkan pukul 4:30 pagi ....


Alisha di bangunkan oleh Nur untuk shalat subuh berjamaah, setelah itu di lanjutkan ngeteh pagi bersama keluarga besar.


"Alisha? Kamu mau ke asrama lagi?" tanya Bibi Sri.


"Ia, Bi. Alisha ada tugas soalnya," jawab Alisha.


"Oalah, wes arep lungo neh?" tanya Mbah Putri.


"Ia, Mbah. Alisha langsung saja ke kampus ya, Mama sama Papa juga langsung ke Jakarta kan?" tanya Alisha.


"Ia, nanti sehabis zuhur paling nak," jawab Papa Alisha.


"Ya sudah Alisha berangkat dulu ya Pah, agar nyampai ke sana tak terlalu siang." ujar Alisha seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Ia, hati-hati ya nak?" ucap Papa Alisha.


Alisha pun berpamitan kepada keluarga besarnya, satu persatu Alisha salami, lalu yang terakhir Mama Alisha dan mereka berpelukan hingga beberapa menit.


"Mah?" panggil Alisha.


"Hati-hati ya nak," ujar Mama Alisha dengan melepaskan pelukannya sembari mencium kening Alisha.

__ADS_1


__ADS_2