Jatuh Ke Tangan Sang Idola

Jatuh Ke Tangan Sang Idola
5. Kejahilan gengs rese


__ADS_3

Alisha untuk menuju universitas cukup dengan jalan kaki, karena memang hanya menyebrang jalan saja. Berbeda jika di asrama umum seperti yang di tempati Lisa, yang harus menggunakan kendaraan umum dikarenakan jaraknya yang lumayan jauh.


Alisha kini telah sampai di kampus, namun saat hendak memasuki ruang kelas Alisha di hadang oleh empat wanita rese, Alisha mencoba menghindari dengan mencoba jalan ke arah kiri namun lagi-lagi di halangi oleh Dea, Alisha pun menuju ke jalan ke sebelahnya namun lagi-lagi halangi oleh Fina. Entah apa maunya, namun Alisha tetap sabar dan ia mencoba menahan emosinya.


"Bisa minggir nggak!" ucap Alisha.


Namum mereka justru saling pandang dan tertawa terbahak-bahak, dan ketua dari gang tersebut melangkah maju ke arah Alisha, tiba-tiba ia mendorong Alisha ke belakang, namun Alisha tak sampai terjatuh, Alisha hanya memandang dengan tatapan matanya yang tajam lalu Alisha pun mendorong balik tubuh Fida hingga terjatuh ke lantai.


"Ahg ... kamu!" pekik Fida dengan menatap tajam ke arah Alisha, namun Alisha tak menghiraukan dan berjalan masuk ke ruang kelas dengan melangkahi tubuh Fida.


Alisha kini duduk dengan mencari sosok sahabatnya, Lisa. Hingga jam kelas pun tiba namun sosoknya belum juga datang, Alisha pun menelponnya, namun tak ada jawaban dari Lisa.


Alisha khawatir ia takut jika ini ada hubungannya dengan geng cewek resek, yang membuat ulah kepada Lisa hingga ia tak bisa masuk.


Setelah jam pelajaran habis, Alisha menghampiri Fida and the gang.


"Kalian apakan Lisa!" tanya Alisha dengan nada tinggi.


"Mau tau apa mau tau banget?" jawabnya dengan meremehkan Alisha, hingga membuat Alisha merasa emosi.


Namun masih berusaha untuk di tahan, asal mereka tak menyentuh Alisha maka ia pun tak akan menyentuh mereka semua.


"Hei ... beraninya kamu melototi kami! dan berani ya kamu mendorong Fida!" ucap Dea, sembari memegang rahang Alisha kuat-kuat. Alisha pun tak mau tinggal diam, ia memelintirkan tangan Dea ke belakang, hingga Dea pun meringis kesakitan.


Setelah mengalami kejadian malam itu Alisha kini merasa hilang kendali, dan emosinya meluap-luap.


"Ahg ... sakit sakit Alisha lepaskan! Sakit tau!" pinta Dea.


"Sudah Alisha! cukup ... lepaskan Dea!" perintah sang ratu iblis, siapa lagi kalo bukan Fida, Alisha pun melepaskan tangannya, namun dengan mendorongnya ke arah Fida hingga mereka pun tersungkur bersama.


Lalu kelas mereka di suruh untuk berkumpul di lapangan, karena ada yang akan di umumkan oleh ketua dosen.

__ADS_1


"Oke semua siap-siap yah buat besok, kita kumpul di lapangan jam delapan pagi. Karena jadwal terbang jam sembilan, dan bawa barang-barang secukupnya saja, jangan berlebihan yang menurut kalian penting-penting saja, baju juga secukupnya. kita di sana hanya satu minggu," jelas pak Rendika ketua dosen.


"Baik Pak ...." jawab para mahasiswa serempak.


"Ya sudah kalo sudah jelas, Bapak permisi. selamat siang!" ucap Pak Rendika seraya meninggalkan tempat.


Alisha masih kepikiran tentang keberadaan sahabatnya,Lisa. Alisha pun pergi menuju ke asrama Lisa.


°°°



Sampai lah di depan pintu asrama wanita, Alisha mengetuk pintu asrama yang di tinggali Lisa, setelah beberapa ketukan akhirnya di buka, namun yang membuka pintu bukan sahabatnya. Justru teman satu kamarnya Lisa. Lisa tinggal sekamar berlima. "Husna di mana Lisa?" tanya Alisha kepada gadis berhijab itu.


"Lisa tadi malam di telepon sama ibu-nya di Purwokerto, katanya bibinya meninggal. Jadi Lisa tadi pagi pulang, dan ada satu lagi katanya ada urusan keluarga juga. Memang kakak tak di kasih tau sama Lisa?" jelas Husna wanita berjilbab tersebut.


"Oh, begitu rupanya ... ya syukurlah, aku kira dia diapakan oleh geng rese, ya sudah makasih banyak ya? Maaf mengganggu kalian." jawab Alisha dengan senyuman manisnya.


"Ia, nggak apa-apa kok kak, kakak mau masuk dulu?" tawar Husna.


°°°°°°


Sesampainya di asramanya Alisha pun menelpon sahabatnya, yang pergi meninggalkan dirinya tanpa memberikan penjelasan apapun. Alisha menelpon hingga beberapa kali namun tak kunjung di angkat, namun Alisha tak menyerah. Dan panggilan ke 100 kalinya akhirnya di angkat juga oleh Lisa.


"𝘏𝘢𝘭𝘰 𝘢𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮?" 𝘴𝘢𝘱𝘢 Lisa dari sebrang 𝘴𝘢𝘯𝘢.


"Wa'alaikumsalam, Lisa kamu kok pulang nggak 𝘣ilang-bilang sih? aku cemas tau!" ucap Alisha.


"𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘯𝘪𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘷𝘪𝘢 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭, 𝘦𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘩𝘦𝘩𝘦 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩?" ucap Lisa


"Nggak lah massa ganggu sih ... kan kamu tau sendiri aku tuh jam lima sudah bangun, dan jam 5:30 aku juga udah keluar, cari sarapan sembari joging kan? Emang kamu keluar asrama jam berapa sih?" ujar Alisha.

__ADS_1


"𝘐𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘢𝘮 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘣𝘶𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢," Lisa 𝘮𝘦𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘭𝘢𝘪 napasnya dengan kasar.


"Ada apa Lis" tanya Alisha merasa khawatir dengan keadaan Lisa saat ini.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘰𝘬, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 ... 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘦 𝘒𝘰𝘳𝘦𝘢 𝘈𝘭𝘭," jawab Lisa dengan nada lemah.


Mendengar jawaban Lisa membuat Alisha merasa lemas dan tak bersemangat untuk pergi, ia juga sangat terkejut. bagaimana tidak, Lisa telah membayar semuanya, walaupun nanti uangnya balik lagi meski separuh, namun tetap saja Alisha merasakan kecewa yang berat, dan Lisa teman satu-satunya yang Alisha punya.


Alisha masih terdiam, ia tak mendengarkan ocehan Lisa dari balik ponselnya. "𝘏𝘢𝘭𝘭𝘰 𝘈𝘭𝘭? 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢? 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯? 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘵𝘶𝘥𝘺 𝘵𝘰𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶-𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬𝘶, 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪," jelas Lisa


"𝘏𝘮𝘮𝘮𝘮 ... nggak apa-apa kok. Aku bisa mengerti, kamu juga ada di kesulitan kamu sendiri, misal aku biayain berangkat ke Korea juga kamu pilih tinggalkan?" jawab Alisha dengan nada lemas.


"𝘐𝘢 ... 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵, 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬𝘶. 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘐𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘺𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘪𝘱𝘢𝘳𝘬𝘶. 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘈𝘭𝘭, 𝘣𝘢𝘣𝘪𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢," jelas Lisa.


"Ia nggak apa-apa," jawab Alisha.


"Ya sudah Lis aku tutup dulu yah," sambung Alisha.


"𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘈𝘭𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 kan 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯? 𝘖𝘩 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭 𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘶 𝘞𝘪𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘶𝘩, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵-𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘉𝘶 𝘞𝘪𝘥𝘪𝘢. 𝘔𝘪𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘦𝘯𝘨𝘴 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨. 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮-𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮. 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘨𝘰 𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘨𝘰𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘭𝘭𝘺 𝘥𝘪𝘦𝘮 𝘢𝘫𝘢," ucap Lisa mengingatkan Alisha.


"Hmmmm ... oke aku akan hajar mereka kalo mereka mem-bully aku nanti, ia sudah aku tutup dulu yah," jawab Alisha.


"𝘐𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 ... 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘯𝘥 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘺 𝘧𝘶𝘯. 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘺, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘰'𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢? " ucap Lisa


"𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩ku siapa aku nggak punya kekasih," tanya Alisha bingung, dan akhirnya Alisha pun tidak jadi menutup telponnya.


"𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘑𝘪𝘔𝘪𝘯 ...." Lisa tertawa lepas dari 𝘴𝘦𝘣𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘢 hingga Alisha mendengar suara Mama nya yang menegur. "𝘓𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘶𝘪 𝘭𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘞𝘰𝘯𝘨 𝘦𝘥𝘢𝘯


𝘤𝘦𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘤𝘦𝘬𝘪𝘬𝘪𝘬k 𝘥𝘦𝘸𝘦𝘬𝘢𝘯(𝘓𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘪𝘭𝘢 𝘤𝘦𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘬 𝘤𝘦𝘬𝘪𝘬𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯)" ucap Mama nya Lisa


"𝘏𝘢𝘩𝘩𝘢𝘢 ... 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘰𝘩 𝘉𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘦𝘭𝘱𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘢𝘯𝘤𝘢𝘯𝘦, 𝘴𝘪 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘢𝘳𝘦𝘱 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘤𝘢𝘳𝘦 𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘰𝘳𝘦𝘢 (𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘰𝘩 𝘉𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘦𝘯𝘬𝘶 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘒𝘰𝘳𝘦𝘢)" jelas Lisa ke 𝘐𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢.

__ADS_1


Terdengar suara Ibunya yang masih mengoceh, namun sudah tak begitu jelas lagi di ponsel Alisha,mungkin sudah rada menjauh dari Lisa.


"Amiin semoga saja yah hahaha ... setidaknya selpi bareng lah, eh gak boleh yah huft ... army kan nggak boleh selpi sama mereka," ucap Alisha kecewa.


__ADS_2