
"Ya Mah, ya sudah Alisha pergi ya Mah. Assalamu'alaikum," pamit Alisha seraya mencium pipi Mamanya.
Alisha pun menggunakan helmnya dan siap untuk pergi menuju Universitas.
Universitas ....
Jam telah menunjukkan pukul 8:00.
Alisha datang tepat waktu, ia bergegas masuk ke ruang kelasnya. "Huuuft ... tepat waktu," gumam Alisha.
Alisha mengeluarkan formulirnya, dan ia menatapnya dengan penuh kebahagiaan. Lisa yang melihat sahabatnya tersenyum bahagia ia segera menghampiri sahabatnya tersebut.
"Hei, kok kaya lagi seneng banget sih? ceritain dong?" tanya Lisa yang kini duduk di sebelah Alisha.
"Hehehe ... nanti juga tau," jawab Alisha.
Fida and the gang pun menghampiri Alisha, dan merebut formulir tersebut. Terlihat jelas dia tak suka, Fida membulatkan kedua matanya dengan sempurna, ketika melihat kertas itu telah di tanda tangani oleh orang tua Alisha.
Alisha tersenyum penuh kemenangan, lalu merebutnya kembali dari tangan Fida. Ibu Widia memasuki ruang kelas tersebut. " Assalamu'alaikum semua? Selamat pagi?" sapa Ibu Widia sembari melihat jam tangannya.
"Baik, kumpulkan semua formulir kemarin," Bu Widia menatap ke arah Alisha, ia sudah paham betul Alisha tak mungkin di izinkan oleh Papanya.
Kini giliran Alisha yang maju dan memberikan lembar kertas tersebut, dan Bu Widia langsung membacanya, ia menatap Alisha seraya tersenyum.
"Selamat yah! kamu di izinin," ucap Bu Widia Alisha pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu kembali ke tempatnya semula.
"Akhirnya dari mulai SD sampai saat ini aku kuliah, masuk universitas pun ini pertama kali aku di izinkan oleh Papa Mamaku," gumam Alisha, namun masih terdengar oleh sahabatnya, Lisa yang mendengar gumaman sahabatnya ia juga merasa bahagia.
"Oke, semuanya tenang. Duduk di tempat masing-masing, jadi hari jum'at kita berangkat ya. Dan masalah duduk tidak seperti anak SMK. Kalian mau duduk di mana ini terserah kalian," jelas Bu Widia.
"Ya kami faham lah bu, Ibu jelasin itu bukan untuk kami kan bu?" tanya Dea yang melirik ke arah Alisha, sontak semua juga ikut melirik dan tersenyum sinis ke pada Alisha.
"Anak Mamih," cetus salah satu murid lainnya.
__ADS_1
"Sudah-sudah, jangan ribut oke! buat semuanya lah. Ini kan kita terbang tidak pakai bus tapi pakai pesawat, jadi siapa tau ada yang tanya, ya Ibu jelasin dulu," jelas Ibu Widia
Bu Widia memang sangat baik pada Alisha, karena Widya adalah sahabat papa Alisha. Namun Alisha curiga terhadap Widya karena kebaikannya yang berlebih.
°°°
Setelah semua mengumpulkan formulir akhirnya kelas di bubarkan dan hari Jum'at adalah dua hari lagi. Alisha bersiap-siap akan apa saja yang akan di bawanya.
"Selamat ya kamu akhirnya di izinin," Lisa memeluk Alisha dari belakang dan Alisha pun membalikan badan dan mereka saling berpelukan, "Ia makasih ya Sa, kamu teman aku satu-satunya di sini," ucap Alisha terharu.
Mereka pun bergegas menuju asrama masing-masing, Alisha masuk ke asrama khusus untuk orang yang jenius. Dalam asrama tersebut hanya di tempati satu orang dalam satu ruangan, sudah ada ruang tamu dan dapur juga kamar mandi.
Sedangkan Lisa berada di asrama wanita, dan dalam satu kamar ada 5 kamar tidur.
Malam pun tiba, kini Alisha sedang merapikan pakaiannya, dan tiba-tiba terdengar suara dering ponsel miliknya.
Alisha bergerak mengambil benda pipih miliknya, yang berada di atas meja. Lalu ia melihat nama yang tertera, dan ternyata dari Papanya.
"Hallo Pah? Assalamu'alaikum," sapa Alisha.
"𝘞𝘢𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘯𝘪𝘩?"
"𝘕𝘢𝘬, 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨, 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘫𝘰𝘨𝘫𝘢. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘸𝘢," jelas Papa Alisha.
"Loh, kenapa? kan di situ bagus Pah, dan lagian di Jawa kan jauh. Harus pakai motor ke sekolahnya?" ujar Alisha
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝙅𝙖𝙬𝙖, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙖𝙥𝙖 𝙈𝙖𝙢𝙖. 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙠𝙪 𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙖𝙥𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙟𝙖𝙪𝙝, 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙟𝙖𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙚 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝, 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙡𝙞𝙝𝙖𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙜𝙜𝙪𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙙𝙖 𝙢𝙤𝙩𝙤𝙧." 𝙗𝙖𝙩𝙞𝙣 𝘼𝙡𝙞𝙨𝙝𝙖.
"𝘐𝘢 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘋𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘮𝘶𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘢𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱, 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘢𝘭-𝘲𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘢𝘴𝘪𝘴𝘸𝘢 𝘧𝘶𝘭𝘭. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘮𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶, 𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩," jelas Papa 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢
"Huh ... ya sudah jika Dimas maunya begitu. Ngomong-ngomong mamah lagi ngapain?" tanya Alisha, "𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙖, 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙝𝙖𝙡 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖, 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖" 𝙗𝙖𝙩𝙞𝙣 𝘼𝙡𝙞𝙨𝙝𝙖.
"𝘔𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬, 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘵𝘳𝘪𝘯𝘨. 𝘑𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘯 𝘬𝘶𝘦 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘢 𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘬𝘶𝘯𝘪𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘪𝘴𝘩 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘦 𝘣𝘰𝘭𝘶," jawab Papa Alisha.
"Oh gitu, ya sudah."
__ADS_1
"𝘌𝘮 ... 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘔𝘢𝘮𝘢𝘩?" tanya Papa.
"Tak usah lah Pah, Alisha takut nanti mengganggu mama. Mama juga mesti lagi sibuk ngadonin kue," jawab Alisha dengan nada sedikit kecewa.
"𝘖𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩, 𝘰𝘩 𝘺𝘢 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨-𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘬𝘰𝘳𝘦𝘢𝘯𝘺𝘢?" Papa 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tau betul Alisha saat ini kecewa. Ia benar-benar ingin bicara dengan mamanya tapi apa daya Nur Khalisa saat ini benar-benar sibuk, jika tidak. Papa Alisha tak mungkin bertanya "𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘢mau?" pasti langsung di kasih 𝘴𝘢𝘫𝘢.
"Besok Pah," jawab Alisha.
"𝘏𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬?! 𝘠𝘢𝘩 ... 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘩 𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘦𝘳
𝘒𝘢𝘮𝘶 ...." ucap Papa.
"Loh kenapa?" tanya Alisha terkejut.
"𝘠𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘣𝘢𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘬, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘭," 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘱𝘢𝘱𝘢.
Alisha semakin kecewa dan tanpa ia sadari air matanya mengalir, Alisha menangis dalam diam, ia mencoba tak mengeluarkan suara isaknya. Takutnya nanti papa berubah pikiran dan tak mengizinkan Alisha ke Korea.
"𝘏𝘢𝘭𝘰 𝘯𝘢𝘬?" 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩.
Ia tau saat ini Alisha pasti kecewa dan mungkin saja menangis. "Ya sudah Pah ... Nggak apa-apa kok, nggak di anterin asal uangnya tambahin yah hehehe," ucap Alisha menahan tangis.
"𝘐𝘢 𝘥𝘦𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘪𝘩? 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘩? 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘣𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢, 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩-𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘐𝘣𝘶 𝘞𝘪𝘥𝘺𝘢." pesan 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢
"Hmmm ... makasih ya Pah, uang sudah masuk nih, ya sudah ya Pah Alisha mau lanjutkan beres-beres dulu, assalamu'alaikum," dalih Alisha yang kini tak tahan dengan tangisnya, Alisha menjauhkan HP-nya, Alisha tak pernah mematikan telpon lebih dulu ia merasa gak jika ia yang mematikan telponnya lebih dulu.
Alisha melanjutkan beberes, Alisha hanya akan membawa pakaian enam steel dan dua lainnya baju tidur, juga tak lupa membawa boneka dan juga foto keluarga.
"Huft sudah ku masukan semua, cukuplah bawa pakaian segitu. Nanti juga mesti di sana beli pakaian lagi," gumam Alisha seraya melihat ke koper miliknya.
°°°
Pagi pun telah tiba ....
Alisha bergegas ke kamar mandi , seperti biasanya Alisha akan terbangun ketika jam telah menunjukkan pukul 5, karena memang sudah di biasakan oleh neneknya pas masih di Jawa, Alisha masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu di lanjutkan solat subuh, setelah selesai Alisha melanjutkan dengan Joging.
__ADS_1
°°°
Setelah selesai melakukan kegiatan paginya, Alisha pun mandi dan bergegas ke kampus, Alisha simpel orangnya. Tak pernah neko-neko ia hanya cukup memakai sabun yang membuat tubuhnya wangi, dan ia tak suka menggunakan make-up cukup dengan sabun cuci muka, bahkan lipgloss pun ia tak punya. Karena bibir Alisha memang sudah merah merona.