
setelah mendengar nabila menyutujui lamaran zidan beberapa harinya abi sembuh dan bisa pulang, nabila masih menginap dirumah ka daffa untuk menjaga abi
"alhamdulillah abi udah sembuh...nabila bahagia banget bisa kumpul lagi sama abi.."
"abi juga, abi kangen banget canda tawa, bahagia bersama, pokoknya kangen kamu..tapi kebahagiaan ini sebentar" ucap abi.
"ko gitu sih bi...abi ngak boleh ngomong kaya gitu... jangan buat nabila takut dong bi..." ucap nabila yang berpikiran negatif.
" lah kan kamu, sebentar lagi mau jadi istri zidankan..jadi yang akan jadi imammu nanti bukan abi lagi tapi zidan"jelas abi
"abi....tapi aku ingin merawat abi" ucap nabila sedih mengingat kemarin zidan melamarnya.
"kamu harus jadi istri yang sholehan, dan nurut sama suamimu"tegas.
"tapi aku ingin jaga abi...kalau gitu mah mending nabila ngak usah nikah aja" geram nabila.
"eh...ko ngomong kaya gitu..ngak boleh, ucapan adalah doa"
"ya lagian abinya bilang gitu... nabila baru sebentar jaga abi" jelas nabila.
"maaf..." ucap abi singkat
"maafin nabila juga yah, ngak bisa jadi anak yang sepenuhnya buat abi"
"ngak ko nak..kamu, anak yang paling berbakti buat abi" ucap abi.
*****
"assalamualaikum "ucap seseorang dibalik pintu.
" waalaikumsalam.... "ucap nabila yang membukakan pintu.
" eh mas zidan...., bu pak masuk" keluarga zidan bertamu kekediaman abi.
"abi..ini ada keluarga mas zidan.
silahkan duduk, saya kebelakang dulu" nabila menyiapkan minum dan cemilan.
"assalamualaikum... pak sofyan...,bu halim" ucap abi.
"waalaikumsalam"
"ngak terasayah sekarang sudah dewasa dan akan jadi mantu ku, dulu saat dia sekolah, ngak ngerasa bahwa dia akan jadi suami anak kesayanganku ini"
"profesor...." ucap zidan malu
"ko profesor sih..abi dong bilangnya" doga abi.
mereka berbincang bincang dengan segala hal dan membuat nabila serasa begitu malu karena keluarga maz zidan begitu dekat dengan abi.
__ADS_1
"assalamualaikum, bu pak mas ini diminum seadanya, pastikan haus, dari jakarta kesini!!" ucap nabila.
"ya makasih nak" ucap bapak zidan.
"nak, kamu lagi sibuk ngak" ucap ibu zidan.
"ngak bu"
"ikut ibu sebentar mau ngak??"
"kemana bu??"
"jalan-jalan"
******
ditaman kota semarang.
"disini sepi dari tadi jalan ngak nemu tempat yang sepi" ucap ibu zidan yang lelah karena dari tadi berjalan terus.
"ya begini bu..., bayak cewe, cowo nongkrong" ucap nabila.
"ouh ya nak, ibu mau tanya apa kamu serius dengan zidan" tanya umi ingin meminta kepastian yang lebih jelas.
"ingsaallah"
"semoga kalian bisa jadi suami istri yang diridoi allah" doa ibu.
" ouh ya bu..ibu kesini sama keluarga mau bicaraain apa yah kalau ibu berkenan menceritakan pada nabila"ucap nabila.
"ouh...kamu penasaran yah, kami sekeluarga kesini ingin membicarakan hari pernikahan kamu..kami sekeluarga ingin mempercepat pernikahan ya keinginan kami satu minggu lagi" ucap ibu.
"apa...satu minggu....mak..maksud ibu aku nikahnya satu minggu lagi??" tanya nabila yang kaget dengan ucapan ibu.
"ya"
"jadi keluarga mas zidan kesini mau bicarain tentang hari pernikahan dimajukan" batin nabila.
"kamu kaget yah...ya ibu ingin banget zidan cepet-cepet punya istri agar bisa cepet punya cucu....kan kamu tahu, zidan anak satu-satunya ibu" jelas ibu.
"gitu ternyata....kalau aku ngak mau punya anak dulu gimana yah"
"ya itu terserah kalian..tapi ibu sarankan cepet punya momongan. karena dengan adanya anak keluarga pasti tambah harmonis".
mereka sangatlah akrab seperti ibu dan anak kandung, tak pernah terbayangkan bahwa orang tua zidan sangatlah baik dan pengertian dengan nabila, kelihatan dari rupa sangatlah sederhana, tapi saat belanja dia sangatlah tahu selera yang bagus mana yang baik mana.
"bu..., ini bagus buat ibu??" ucap nabila menyodorkan baju kepada ibu.
"bagus juga yah selera mu??" pujian ibu kepada nabila.
__ADS_1
"makasih ibu...." ucap nabila.
"aku kesana dulu yah ibu.... aku mau liat yang lain"
mereka berdua belanja, makan dengan senang seperti tak ada jarak diantara mereka dan seperti layaknya seorang anak dan mamah.
hari pun sudah mulai petang. tak terasa lelah ataupun letih, hanya ada bahagia yang ada di hidup nabila saat ini.
diperjalanan pulang mereka selalu bercanda tawa, kadang gosip, kadang ceramah, pokoknya banyak hal yang tak diduga.
"assalamualaikum"ucap nabila dan ibu masuk ke rumah
"waalaikumsalam" ucap semuanya yang menunggu mereka berdua pulang.
"habis kemana aja bu??" ucap pak fosyam kepada bu halim.
"habis jalan-jalanlah masa kemana" ucap ibu.
"ibu ngak tahu ini jam berapa!. dari pagi sampai malam ngak pulang-pulang, aku sama zidan dari tadi nunggu loh" ucap pak sofyan yang tak suka dengan sifat ibu.
"ya maaf.. masa belanja ngak boleh sih" ucap ibu yang marah dengan omongan pak sofyan.
"ya bukan gitu, boleh ko belanja tapi jangan sampai sore gini" ucap bapak lagi.
"pak..jangan marahin ibu..semuanya salah nabila yang lama bukan ibu ko" nabila yang menghentikan cekcok antara ibu dan bapak.
"ini bukan salah kamu nak , jangan merasa ngak enak memang ayah mu ini kaya gitu orangnya" ucap ibu langsung memeluk nabila.
"tapi bu"
"ngak yang salah ibu bukan kamu"sambil memegak wajah nabila meyakinkan bahwa dia tak salah.
sebenarnya nabila memang tak salah yang salah itu ibu, karena setiap ibu belanja itu ngak inget waktu sampai pulang saja harus petang baru inget pulang.
" sudahlah...kesini mau silaturahmi malah berantem"ucap zidan yang menghentikan perdebatan yang biasa di buat ibu saat dirumah.
"ouh ya nak sini sama abi" ucap abi yang menyuruh nabila duduk disebelah abi.
"ya abi.." nabila langsung dusuk disebelah abi.
"nak tadi abi, ayah, mas Zidan membicarakan tentang mempercepat pernikahanmu dan umi setuju, abi dan sekeluarga mas zidan akan mempercepat pernikahan lima hari lagi..semuanya sudah disiapkan". ucap abi menjelaskan kepada nabila.
" ngak kecepetan bi"tanya nabila belum sisp
"lebih cepatkan lebih baik" ucap abi.
"baiklah yang penting semuanya bisa lancar" ucap nabila.
akhirnya pernikahan nabila akan diadakan lima hari lagi dan nabila harus pulang kejakarta karena pesta pernikahan diadakan di jakarta rumah umi.
__ADS_1
keluarga zidan pulang kerumah mereka dan juga nabila harus berpamitan dengan abi dan keluarga ka daffa dan sikecil alim yang selalu dia rawat dan manjakan.