Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Mr. KRA.


__ADS_3

“Shuuttt!” Dian mengisyaratkan Kim untuk diam, karena ada yang mengetuk pintu ruang rawat Kim. Mereka tertawa keras karena sesuatu yang sangat lucu, meski tau ini di rumah sakit, tapi mereka benar tidak bisa menahannya.


Kana datang untuk memeriksa gadis yang dengan gilanya telah dirinya targetkan untuk menjadi calon istri, ah tidak bukankah itu terlalu jauh? Sebagai gadis yang akan diperkenalkan pada kedua orang tuanya saja, itu lebih tepat karena sebutan semacam itu saja sayangnya belum tentu berhasil.


Kim, tidak tau apapun, wajah dan juga tingkah yang sama polosnya, membuat Kana sedikit berat untuk membawa Kim ke dalam masalahnya.


Sementara Kim, matanya membulat sempurna kala melihat Kana, dia seperti pernah melihat pria itu, dan alangkah terkejutnya saat menyadari bahwa Kana adalah pria yang dipilihnya secara acak untuk membuat Ryan cemburu di taman waktu itu.


“Om!” ujar Kim tanpa sadar.


Kana menyergit heran? Perasaan meskipun dia sudah berusia hampir kepala tiga, tidak seharusnya Kim memanggilnya setua itu? Dan juga, ini adalah rumah sakit, Pak Dokter saja itu lebih baik menurut Kana.


“Ya?” bingung Kana, menatap ke arah Kim, kemudian matanya tidak sengaja tertuju pada bunga dan sepucuk surat cinta dengan kertas merah hati di atas nakas, tiba-tiba jantungnya berdebar tidak karuan, apa Kim mau membahas tentang surat itu pikirnya. Mengapa cepat sekali, jika seperti itu rasanya dia benar-benar akan canggung.


“Whoaaa, benarkah ini? Kita pernah bertemu sebelumnya!” ucap Kim antusias. Dia memang baru saja mengetahui kalau Kana bekerja di sini sebagai dokter, karena beberapa hari ini dia tidak pernah melihat Kana memeriksanya.


Alis Kana bertemu, lalu dengan berusaha menetralkan gugupnya ia lanjut memeriksa kesehatan Kim.


“Hei, Om! Eh Pak Dokter, anda dengar tidak? Eh, aku benar yakin kalau hari itu...”


“Lo pernah ketemu dokter ini?” tanya Dian, dia juga berusaha mengingat, dan sepertinya yah... Dokter ini memang adalah pilihan acak Kim waktu di taman.


“Apa ada yang kamu perlukan?” tanya Kana santun, percayalah dia sedang berusaha menghilangkan rasa gugup, tidak pernah dadanya berdebar saat berdekatan dengan seorang gadis, bahkan Sisil pun tidak dirasainya seperti ini.

__ADS_1


Mungkinkah, dia benar-benar jatuh cinta dengan gadis keturunan Korea ini pikirnya? Aahhh lagi-lagi itu terlalu jauh.


"Pak Dokter mengenalku tidak? Kita pernah bertemu, hari itu... Aahhh, jadi yang menjadi pilihan acakku waktu itu adalah seorang dokter, Di benar kan gue nggak pernah salah kalau tentang selera!" ujar Kim percaya diri, meminta persetujuan Dian pula.


"Hemmm!" sahut Kana seadanya.


"Pak Dokter, jutek amat sih! Ah yaaa, aku mau bertanya boleh?"


Kana menoleh? Apa lagi yang akan ditanyakan gadis ini, pikirnya. Jangan tentang surat cinta, jangan dia benar-benar tidak siap.


“Apa Kim?” tanya Dian lembut. Melihat Kim yang tanpa malu berbicara sesantai itu pada seorang dokter yang sangat tampan, padahal Dian sedang mati-matian menahan gugup.


“Silakan!” ucap Kana.


“Ekhmmm!" Kim mengawali pertanyaannya dengan menahan senyum, "Kira-kira, apa ada seorang dokter di rumah sakit ini dengan inisial nama K.R.A, anda mau melihatnya?” tanya Kim, entah kenapa dia bisa merasa dekat saja saat dengan Kana, padahal mereka sama sekali belum berkenalan. Hanya kejadian waktu itu saja yang mengawali pertemuan mereka. Kim dengan antusias mengambil bunga dan surat cinta di atas nakas, memperlihatkan pada Kana.


“Dia mengaku namanya Mr. KRA, menurutku ini bukan namanya tapi lebih ke inisal, eh atau apa ada nama dokter di sini yang bernama Kra?” tanya Kim lagi, dia benar-benar menyelidiki.


“Hah, itu...” gugup Kana.


“Lihatlah, dia mengirimiku surat cinta!" Kim membuka lembar kertas berwarna merah hati itu, "Dia benar-benar menghiburku!” Kim berucap seraya tersenyum.


“Benarkah?” mendengar Kim tampak senang, akhirnya Kana bisa sedikit berlega hati, “Apa kamu menyukainya?” tanyanya tanpa bisa dicegah, Kana terlalu ingin mendengar jawaban Kim tentang surat cinta yang dirinya buat. Terlalu percaya diri karena melihat seutas senyum yang Kim terbitkan dari bibir indah gadis itu.

__ADS_1


“Hahahahaha!” Kim tertawa keras, saat melihat raksi Kim yang seperti itu jujur saja perasaan Kana mulai tidak enak.


Kemudian tertawa Kim itu langsung saja menular pada Dian, sehingga Kana harus mencoba juga untuk tertawa sedikit meski tidak mengerti.


“Pak Dokter, aku benar-benar ingin menemuinya, bagaimana bisa dia membuat surat cinta dari lirik lagu semacam ini!” ujar Kim sembari menahan tawa.


“Apa?” spontan Kana tidak percaya.


“Kenapa?” tanya Kim, ia memandang Kana karena pria itu seperti terkejut.


Kana terpaksa menggeleng, lalu ikut menyimak apa lagi yang akan dikatakan Kim selanjutnya.


“Iya, lihatlah benar-benar, dia sama sekali tidak kreatif, tapi aku suka... Dia berhasil menghiburku, setidaknya aku jadi tertawa karena kirimannya ini!” jelas Kim dengan sedikit gelak tawanya yang tersisa.


“Kim...” Dian merasa Kim sudah terlalu banyak bicara, Dian juga tidak mengerti mengapa Kim bisa seakrab itu dengan orang yang baru saja dirinya kenal. Tidak biasanya Kim seperti ini.


“Dian, nggak papa juga kali! Pak Dokter ini cukup ramah kok! Ah ya Pak Dokter, by the way kita belum kenalan kan, nama Bapak siapa? Maaf ya waktu itu kalau aku bikin Bapak terkejut, hihi... Dan juga terimakasih udah mau nolongin aku, yaaahh meski rencana aku nggak berhasil sih!” ujar Kim panjang lebar lagi, tersirat kesedihan saat ia mengatakan tidak berhasil, ia masih juga teringat tentang Ryan, dan gara-gara kedatangan surat cinta tiba-tiba itulah dirinya bisa tersenyum bebas lalu tertawa lepas, meskipun si perayu yang katanya adalah seorang dokter di rumah sakit ini, pria yang menamai dirinya Mr. KRA itu memberikan surat cinta yang sama sekali tidak kreatif karena menuliskan sebuah lirik lagu, tapi hal itu sungguh bukan apa-apa bagi Kim, yang paling penting dirinya bisa terhibur dan Kim malahan ingin bertemu langsung dengan dokter itu supaya bisa mengucapkan terimakasih secara pribadi.


“Ahh... Ya!” Kana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ya Tuhan keadaan macam apa ini? Si Raka sialan itu, benar-benar tak berguna! Maki Kana membatin.


“Jadi, nama Pak Dokter siapa?” Kim mengulurkan tangannya ramah.


“Kana!” sahut Kana datar, ia menyambut tanda perkenalan itu sedikit canggung. Biasanya dia adalah dokter yang paling berwibawa di hadapan pasiennya, namun kali ini tidak, dirinya benar-benar takluk akan pesona seorang Kim Obelia, apa lagi keadaan saat ini dikarenakan drama surat cinta juga mampu membuat bentrok di hatinya.

__ADS_1


Dosa nggak sih kalau gue rontokin itu gigi si Raka, benar-benar setan sialan!


Bersambung...


__ADS_2