Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Protes Raka.


__ADS_3

"Sialan lo!" Raka mengumpat saat bertemu Kana pagi ini, bagaimana tidak, dia benar-benar marah, apa pertemanan mereka selama belasan tahun ini tidak ada artinya. Dengan gampangnya Kana mengatakan tidak begitu dekat dengannya saat Kim dan Dian bertanya, dia tersinggung.


"Lo kenapa sih?"


Kana sama sekali tidak merasa bersalah, dia masih laju mengemas barang-barangnya, waktu pulang memang sebentar lagi.


"Ka! Jujur sama gue, apa arti gue buat lo selama ini?" selidik Raka. Jika sampai Kana tidak menganggapnya teman dekat, maka dia akan melayangkan putus hubungan. Biarkan saja si penyendiri ini berkawan dengan sepi lagi, dia juga sebenarnya agak lelah mengimbangi pertemanan yang pernah dianggapnya tidak begitu memihak padanya ini.


"Hah? Apa maksud lo?" Kana menghentikan kinerja tangannya, matanya menyelidik perubahan wajah Raka yang memang baru dirinya sadari, tidak biasanya, ada apa dengan sahabat satu-satunya ini, pikirnya.


"Lo bilang apa sama cewek lo?"


"Hah? Bilang apa?" bingung Kana. Namun, otaknya tetap dia paksa untuk berpikir, hemmm sepertinya ada yang sedang sakit hati karena sandiwaranya kemarin. Yah, mungkinkah karena itu? Kana sejurus menerbitkan senyum, dia tertawa dan tanpa rasa bersalah melakukan itu di hadapan Raka.


"Lo!" geram Raka. Astagah, sahabatnya ini, bukannya menjelaskan malah ketawa nggak jelas, bisa aja yaaa... Nggak tau apa kalau orang lagi marah, benar-benar marah ini padahal.

__ADS_1


"Kenapa? Emangnya si Kim ngomong apa? Ah ya, gimana, gimana ketemuan lo sama Dian? Sukses?" tanya Kana setelah berhasil menyudahi tawanya.


"Lo udah tau yaaa kalau Dian sama Kim itu temenan?"


"Hemmm!" angguk Kana.


"Lo bilang kita nggak sedekat itu buat punya hubungan pertemanan!"


"Lo juga jelek-jelekin gue di depan Dian, maksud lo apa, setan!" suara Raka sudah meninggi, kalau saja Kana tidak memberikan jawaban yang mengenakkan hatinya nanti, bisa perang saudara keknya.


Kana mengangguk lagi, "Kalau iya kenapa? Dan digaris bawahi, gue nggak pernah jelekin lo kok, Dian nanya lo itu orangnya kek gimana? Ya gue jelasin dong, lo itu suka ngaret, korupsi waktu suka nggak kira-kira, masuk sesuai jam cuma kalau ada maunya, ya kayak gini nih! Suka minta gantiin tiba-tiba, bukan cuma gue korbannya, dan khusus gue adalah korban paling parah!"


"KANA..."


"Gue juga nggak maksud jelekin lo, kalau gue ngomong lo seringnya ke klub malam, bukannya emang iya yaaa, gue kan cuma bicara fakta!"

__ADS_1


"Beberapa perawat juga pernah lo pacaran kan, dan gue juga nggak bohong tentang ini!" jelas Kana dengan gampangnya, mode jahat banget keknya.


"Tapi kan bisa lo saring meskipun lo nggak bisa muji gue, sakit jiwa lo ya temen sendiri bukannya didukung mau lamaran!" protes Raka, dia tau hanya ada keburukan yang tersisa pada dirinya selama ini, tapi kan tidak mesti dijabarkan sejujur-jujurnya juga kan, apa tidak bisa Kana bilang saja tidak tau, bukannya Kana waktu itu mengatakan mereka tidak dekat menurut penuturan Kim dan Dian kemarin.


"Gue nggak mau ada kebohongan Ka, gue waktu itu emang mempersentasikan apa adanya lo, jangan sampai si Dian kelak kaget pas tau kelakukan minim lo! Gue baik kan sebagai temen!" sahut Kana beralasan.


"Sialan lo! Teman tersial emang, gue jagain lo udah kayak Malika si kedelai hitam, nah lo... Sakit hati gue tau nggak lo!" sesal Raka.


"Udah udah, santai aja... Gimana ketemuan lo kemaren, lancar?" Kana menepuk santai pundak Raka. Tiba-tiba mendengar itu, Raka mempunyai ide brilian untuk menyerang teman gilanya ini. Tidak tau saja Kana kemarin kalau hampir saja dia menemui Kim yang menyamar sebagai Dian.


"Lancar, malah gue hampir dapet dua!" jawabnya santai dengan seringai.


"Hah?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2