Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Merasa bukan dirinya.


__ADS_3

“Dia nggak datang? WA lo juga nggak dibales?” tanya Dian, sudah mau larut malah dirinya berada di apartemen Kim, namun sosok Kana juga tidak nampak batang hidungnya.


Kim memberengut kesal, dia mulai tidak suka seperti ini, kalau begini ceritanya tidak ada bedanya Kana dengan Ryan. Padahal kan Kana kerja dinas pagi hari ini, pastilah sudah pulang kalau jam segini, pikirnya.


“Gue pulang ya Kim!” ujar Dian, dia lelah menunggu hanya untuk melihat bagaimana pacar sahabatnya itu.


“Yah, Di... Lo nggak nginep?” tanya Kim.


“Besok kan kuliah pagi, gue nggak bawa persiapan nginep buat langsung ngampus besok!” jawab Dian beralasan.


Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam, Kim berinisiatif untuk mengantar Dian sampai ke loby. “Ya udah ayok gue anter sampai bawah!”


Keduanya menuju loby, Kim menawari Dian untuk memakai saja mobilnya, namun Dian mengatakan itu tidak perlu, dia akan memesan taksi online saja.


"Kira-kira kenapa ya Di, Pak Dokter nggak bales WA gue, telpon gue nggak diangkat?" tanyanya saat keduanya sedang berada di lift, tidak ada orang lain di sana, jadi mereka bebas untuk mengobrol.


"Sibuk kali Kim... Lo tau lah gimana kerjaannya dokter!" jawab Dian, hanya itu menurutnya jawaban yang mungkin, dia tidak tau Kana itu pria seperti apa, tapi mencoba untuk yakin saja, lagi pula baru satu hari sahabatnya ini pacaran dengan si dokter tampan itu.


"Tapi kan dia udah kerja dari pagi Di!" kekeh Kim, dia merasa Kana menghindarinya.


"Hemmm, Kim mulai deh, coba aja buat saling percaya, beri dia ruang untuk bergerak, lo pikir hidup dia cuma tentang lo, jangan sampai yaaa Pak Dokter malah jenuh duluan kerena sifat lo yang kenakak-kanakan kek gini, gue emang nggak pernah ngendukung lo sama Ryan waktu itu, tapi dengan sikap lo yang kayak gini, alasan Ryan mutusin lo itu mungkin emang ada benernya!" ujar Dian, meskipun dia tau kata-katanya akan bikin Kim sakit hati, tapi dia merasa harus mengatakannya, dia ingin Kim benar-benar menggapai cinta bersama Kana, jadi dengan sepenuh hati dia memberikan nasihat.

__ADS_1


Kim terperangah, dia memelototi Dian yang telah berbicara sungguh mengena. "Di lo kok jahat banget sih?" keluhnya. "Temen lagi galau gelisah bukannya didukung malah marah-marah!"


"Gue nggak marah-marah Kim, gue cuma ngasih tau!" sangkal Dian.


"Ngasih tau tapi nadanya kasar amat!" protes Kim.


"Haaahhh," Dian menghela napasnya berat, gini nih kalau temenan sama anak manja, ngomong tinggi dikit udah dikata marah-marah, padahal nggak ada maksud apa-apa selain ngingetin, ngasih nasihat kali aja bisa didenger dan diamalkan.


"Kim Obelia yang paling baik hati dan cantik, gue cuma takutnya lo ditinggalin lagi, ini baru sehari lho Kim Obelia ini pacaran sama Pak Dokter Kana, masa iya udah berpikiran buruk aja, mengerti dia, kasih dia ruang buat gerak, dia kan seseorang yang berprofesi, dan pekerjaannya itu kadang tidak mengenal waktu, dia mungkin sibuk, mungkin sedang berkutat dengan pekerjaan yang nggak ada habisnya, be positif okay..." sahut Kim lembut sekali menjelaskan, dia sabar sekali benar kan...


Kim cemberut sebal, namun mulai merasa ucapan Dian ada benarnya juga.


"Ting!"


Raka tersenyum canggung, jadi Kim tinggal di sini, mengapa dia bisa tidak tau pikirnya, yah yang bertemu dengan Kim dan Dian adalah Raka.


Itu berarti, gue satu tempat sama dia, dan juga Kana... Ahhhh, Kana tapi nggak bilang, eh apa dia juga belum tau yaaa?


"Selamat malam..." sapa Raka, dia juga sedang menetralkan rasa gugupnya.


...***

__ADS_1


...


Sementara itu di rumah sakit, yang sedang ditunggu kehadirannya malah masih berkutat dengan pekerjaan, hari ini Kana kembali menggantikan Raka yang hanya mengambil setengah hari jam kerja. Kana memang seperti itu jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, dia akan melampiaskan kegundahannya dengan fokus bekerja hingga dirinya lupa kalau hatinya sedang kacau.


Dia tipe orang yang mencari kesibukan untuk melupakan beban pikirannya, dan hal itu telah dirinya lakukan semasa kuliah dulu, tidak heran jika Sisil merasa kurang dirinya perhatikan. Dan sayangnya Sisil memilih jalan yang salah, meski begitu mencintai Kana saat itu namun dirinya yang merasa tak puas harus terjerumus dalam kekacauan yang dirinya buat sendiri. Sisil memilih mementingkan egoisnya karena merasa Kana telah mengecewakan.


Jam sebelas lewat dua puluh lima menit Kana baru bisa bernapas lega, operasi pasien kecelakaan yang mengalami patah tulang parah itu baru saja dirinya selesaikan dan berjalan lancar. Sama sekali tidak sempat memegang ponsel, Kana bahkan lupa kalau dirinya kini mempunyai Kim sebagai pacarnya.


Kana membuka air mineral kemasan yang sudah tersedia di meja, menenggaknya hampir tandas lalu membuka laci untuk memeriksa ponselnya.


“Dua puluh tujuh panggilan tak terjawab?” bingungnya, mengapa sebanyak ini dan itu dari Kim semua, apa mempunyai pacar memang seperti itu. Kana mengklik nomor Kim untuk menghubungi gadis itu, namun tidak diangkat dan entah kenapa Kana bisa merasa bersalah karena tidak mengabari Kim terlebih dahulu.


Dilihatnya Kim juga memenuhi pesan lewat aplikasi chat-nya, menanyakan kabar dan sedikit mengancam untuk marah, menggemaskan sekali membayangkan wajah cemberut kekasihnya itu Kana tanpa saat tersenyum. Apakah Kana juga harus membalas panggilan tak terjawab ini?


Kana mencoba menghubungi lagi Kim, dan masih sama tidak diangkat.


Lalu, entah mengapa langkah kakinya sudah bertindak duluan, Kana melangkah menuju ruang ganti, segera mengganti cepat pakaian untuknya keluar.


Tak lama raganya sudah berada menemui para asisten, mengatakan dia akan pulang sebentar karena ada yang harus dirinya lihat. Tanpa curiga dan karena memang tidak ada pasien darurat mereka mengangguk paham, ada juga dokter umum jika terjadi sesuatu nantinya, dan mereka juga yakin Dokter Kana akan bertindak cepat jika memang dibutuhkan.


Kana merutuki perasaanya yang tidak bisa berhenti memikirkan Kim, jika dulu dia tidak pernah merasa bersalah telah meninggalkan Sisil, meski Sisil memakinya karena marah sekalipun namun Kana tidak begitu peduli, dia akan meminta maaf jika situasi sudah memungkinan, dia berpikir Sisil akan memaafkannya dan masalah selesai, sama sekali tidak ada niatan untuk membujuk istrinya waktu itu dengan segera. Namun situasi berbeda saat yang dihadapinya adalah Kim, entah kenapa Kana bahkan tidak bisa memahami dirinya sendiri, tidak bisa bersikap tega jika menyangkut Kim, dan itu sama sekali bukan dirinya.

__ADS_1


“Ini sama sekali bukan gue!” gumamnya saat sudah berada di mobil, siap untuk pulang ke apartemen.


Bersambung...


__ADS_2