
“Lo beneran mau pulang ke apartemen?” tanya Dian, Kim memang sudah diizinkan untuk pulang hari ini karena kondisinya memang sudah cukup baik. Namun Dian benar-benar bingung karena Kim mengatakan ingin pulang ke apartemen saja, tidak mau pulang ke rumah utama.
“Ya, seenggaknya di apartemen gue bener-bener sendiri, nggak kayak di rumah, ada orang tapi kayak nggak ada orang!” sahut Kim. Dan memang benar sih, itulah alasannya dia ingin pulang ke apartemen dari pada rumah utama.
Papa dan Mamanya memang ada, kabarnya memang sedang tidak bepergian kemanapun melakukan pekerjaan bisnis, namun Kim sangat menyayangkan karena Papa dan Mamanya benar-benar tidak pernah memperhatikannya.
"Mereka perhatian kok sama lo Kim, kemaren mereka langsung ke sini saat tau lo kecelakaan!" bela Dian tentang kedua orang tua Kim, selama ini Dian adalah anak yang selalu mendapatkan kasih sayang penuh, jadi bukan dirinya tidak mengerti akan perasaan Kim, namun bagi Dian tentunya tidak akan sanggup untuk membuat jarak antara anak dan orang tua.
Sementara Kim, dia lebih ke merasa begitu kecewa, apa lagi, sudah dua tahun ini perayaan ulang tahunnya dirayakan tanpa dihadiri kedua orang tuanya, hal itu tentu membuatnya begitu sakit hati. Dia bisa memaafkan hari-hari lainnya, tapi tidak untuk hari yang dianggapnya sangat spesial itu.
Padahal menurut Kim, selama ini dia sudah selalu berusaha untuk menjadi anak yang penurut, bahkan dia memegang teguh amanah yang ditegaskan oleh Papa dan Mamanya, untuk tidak pacaran sebelum lulus SMA, mentaati jam malam, padahal di rumah utama dulunya dia juga hanya bertemakan maid dan pekerja lainnya, sebisa mungkin Kim berusaha untuk jangan pernah mengecewakan kedua orang tuanya, namun belakangan ini, apapun yang dilakukannya selama ini sepertinya juga tidak akan berbalas.
Hal yang sangat diinginkan oleh Kim hanyalah sedikit perhatian, untuk membuatnya tersenyum, untuk membuatnya lebih merasa berarti sebagai anak mereka, padahal kan dirinya ini anak tunggal.
“Tapi kan lo abis operasi, siapa nanti yang bakalan jagain lo coba?” tanya Kim, dia meragu.
“Kan ada lo!” yakin Kim.
“Mulai!” keluh Dian, “Kim apartemen lo sama rumah gue itu berlawanan arah, gimana ceritanya lo mau mempekerjakan gue jadi babu lagi?”
"Atau lo telpon deh orang rumah lo, suruh kasih satu maid!" usul Dian, sepanjang jalan tadi dia terus saja memikirkan bagaimana baiknya untuk kelangsungan hidup Kim.
“Lo nginep aja sih Di! Gampang kan!” bujuk Kim.
“Nggak!” yakin Dian.
“Ayolah Di!”
“No way!”
__ADS_1
“Please Di!”
“Enggak Kim!” tolak Dian mentah.
Kim hanya bisa menghela napasnya kala Dian tidak sepihak padanya kali ini, “Gue traktir deh sebulan!” rayu Kim lagi.
“Nggak mempan!”
“Di, lo jahat banget sih, siapa coba yang bakalan ngurusin gue nanti?”
“Ya lo balik dong ke rumah utama!” jawab Dian pasti, dan sayangnya itu bukan solusi bagi Kim.
“Hiks hiks, huwaaaa...” Kim melayangkan jurus terakhir, biasanya kalau sudah seperti ini Dian tentunya akan luluh.
“Terserah lo, berlawanan arah Kim gue beneran nggak bisa!” tegas Dian lagi.
“Hiks hiks!”
“Beneran?” selidik Kim, dia sungguh senang Dian anak menginap hari ini.
“Iyaaa!” sahut Dian sedikit kesal.
Sementara itu,
“Lo beneran mau minggat?” tanya Raka memastikan sekali lagi.
“Iya, gue bahkan udah deal!” jawab Kana.
“Pusing gue, di rumah kalau balik pasti ditanyain mulu sama Bonyok, gimana Kim? Kapan Kim mau di bawa? Gimana hubungan kalian?”
__ADS_1
“Hubungan apanya? Gatot kek gini gara-gara temen laknat!” Kana menoyor kepala Raka sebagai bentuk kekesalannya. Karena Raka yang membuat malu dirinya di hadapan Kim, Kana jadi memutuskan untuk menyerah saja, sepertinya Kim memang bukan jodohnya. Perkara umur juga, seharusnya kan dia memang lebih tau diri, bisa-bisanya menyukai daun muda. Yah meskipun dia juga masih busa dikatakan tidak tua-tua amat.
“Ya mon maap Ka! Lagian gue kan udah bilang, gue juga nggak ingat kalau itu lirik lagu. Lo gue suruh cara lain lagi lo nggak mau, nah jadi bukan gara-gara gue kali, coba aja lo bisa lebih gentle dikit aja!” ujar Raka, dia sedikit tidak terima saat Kana menyalahkannya, bukannya dia juga sudah memberikan saran untuk Kana mendekati Kim lagi, tapi emang dasar Kananya aja yang nggak mau dan lebih memilih menyerah.
“Tapi bukannya lo sendiri yang bilang nyerah, apa salah dan dosaku sayang?” tambahnya menekankan kata menyerah, fiks yaaa berarti ini bukan salahnya.
Kana tersenyum miris, memang benar sih apa yang dikatakan Raka, ini semua juga karena tidak adanya keberanian dari dirinya.
“Jadi lo pindah deketan sama gue, di apartemen yang kemaren gue tawarin?” tanya Raka memastikan.
Kana mengangguk, “Cukup bagus kok tempatnya, wajar aja lo betah di sana!”
“Wuiihh, dapet tetangga baru dong gue!”
“Ka, lo nggak ada niatan buat deketin Kim lagi, hari ini dia balik lho!” tanya Raka lagi.
“Enggak, keknya sendiri emang udah serasian sama gue!” sahut Kana pasti, yaah dia akan menganggap Kim sebagai pengalaman berharganya. Tapi untuk bersama, kayaknya keadaan juga tidak begitu memungkinkan.
Untuk perihal kedua orang tuanya, nanti saja lah dia akan memikirkan cara untuk menghadapinya, dusta apa lagi yang akan dirinya katakan, tapi yang jelas dia akan memperjelas hubungannya dengan Kim, sudah selesai.
“Emang lo nggak lelah main solo?” celutuk Raka, dia menatap kasihan pada Kana, membuat Kana mendelik tajam.
“Sialan lo! Gue nggak pernah main solo ya, kalau gue mau ya tinggal milih!” ujarnya, padahal setelah bercerai dengan Sisil, Kana bahkan tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Tapi, seringnya terlihat mengunjungi klub malam membuat Raka terang mempercayai itu.
“Halah... Nggak enak banget ngelakuinnya nggak pake perasaan, beda banget tau kalau lo ngelakuin itu sama orang yang bener-bener lo cinta, kek ada manis-manisnya nggak bikin enek malah nagih!” ungkap Raka, barang kali saja Kana bisa berubah pikiran, sejak kemarin padahal Raka sudah melihat kemajuan pada diri Kana saat berdekatan dengan Kim. Tidak bisa dipungkiri, meski sedikit Raka bisa melihat sinyal ketertarikan saat Kana menatap Kim.
“Peduli amat, penting keluar!” jawab Kana, dia merapikan berkasnya kemudian berjalan meninggalkan Raka.
“Woy, lo belum ngerasain sih, gue sumpain lo bucin sama Kim ntar!” teriak Raka menggema di ruangan Kana.
__ADS_1
Bersambung...