Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Mencintainya atau harus mencintainya?


__ADS_3

Kana mematut wajahnya di cermin, membayangkan betapa aneh dirinya. Selama ini, dirinya selalu tidak percaya diri. Kata-kata Sisil sebelum pergi darinya ada kalanya masih terngiang jelas.


"Kamu orang teraneh yang pernah aku temui, selama ini sejak dari kita pacaran sampai kita menikah, apa pernah hati kamu bertaut buat aku?"


"Sekali saja, sekali saja bahkan saat kamu tidak menyadarinya!"


"Apa gue memang seaneh itu?"


"Apa gue memang nggak pernah ngerasain apapun tentang Sisil?"


"Tapi bukannya gue cemburu saat dia lebih memilih tua bangka itu, gue marah karena dia berkhianat, ngeliat dia begitu bahagia tadi, kenapa gue marah?"


"Gue cinta sama dia?"


"Bukan bukan, tepatnya gue harus cinta sama dia!"


Kana memejamkan matanya, ingatan tentang Sisil memang sudah sedikit berkurang, atau memang tidak begitu banyak kenangan di antara mereka berdua.


Kana membandingkan perasaannya saat bersama Sisil dahulu, lalu saat sekarang bersama Kim. Mengapa terlihat sekali perbedaannya?


"Gue bahkan ngelakuin itu dengan Sisil, orang bilang meskipun tidak adanya cinta, namun seiring berjalannya waktu cinta itu bisa datang dengan sendirinya, apa lagi dengan banyaknya pasangan menghabiskan waktu bersama!"


"Cinta... Kamu tidak mencintaiku, cara matamu menatapku tidak pernah hangat seperti saat dia menatapku!"


"Kenapa Kim nerima gue? Maksudnya bisa nerima gue gitu aja?"


Ting tong!


Bel Apartemen Kana berbunyi, orang yang mungkin bertamu sepagi ini tidak lain tentu saja Ayahnya. Dengan malas Kana mengenakan pakaian santai untuk menyambut orang tua yang telah di cap menyebalkan olehnya itu.


"Ceklek!"


Benar sekali, Tuan Akara langsung masuk tanpa permisi, dia sudah bertindak layaknya pemilik rumah, duduk tanpa dipersilahkan bahkan mengambil cemilan dari toples.


"Aku sungguh tidak berharap Ayah akan mengetahui keberadaanku!" ujar Kana, dia meninggalkan ayahnya itu menuju dapur. Namun karena apartemen yang dibelinya ini tidak begitu luas jadi jika berbincang dari ruang tamu ke dapur saja masih bisa dilakukan.


"Brandal!" umpat Tuan Akara.


"Jika Ayah ke sini hanya untuk menanyakan perkembangan hubunganku dan Kim, maka aku tidak bisa menjawabnya!" Kana meracik kopi di mesin kopi, menambahkan sedikit krim di atasnya.


"Kau hanya buat satu?" tanya Tuan Akara yang sudah menyusul ke dapur.

__ADS_1


"Ayah bisa membuatnya sendiri, lagi pula kopi bukanlah minuman yang bagus untuk pria usia lanjut seperti Ayah!" sahut Kana gampang.


"Dasar anak durhaka!" Tuan Akara memukul tubuh anaknya itu kesal, punya anak satu-satunya namun sudah sekali rasanya untuk diajak berbicara serius.


Sementara Kana, dia tidak peduli, dia menghindari pukulan itu seraya membawa kopinya ke ruang tamu, menyetel televisi kemudian duduk.


"Kana!" seru Tuan Akara.


"Kau tau..."


"Usia Ayah dan Bunda sudah tidak lagi muda, kami bukannya ingin memaksamu untuk segera mencari pasangan hidup, namun ketahuilah bagaimana jika waktu kami tidak lagi banyak di dunia ini? Sampai kapan kau akan bermain-main, berdekatan dengan brandal itu seolah tak terpisahkan, kau juga harus menyelesaikan masa depanmu, jangan pernah menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk kau terpuruk!" Kana langsung memotong perkataan Ayahnya, seolah dia sudah tau perkataan semacam apa yang akan keluar dari mulut sang penguasa itu. "Aku bahkan sudah hafal dengan itu, Ayah tidak usah mengulanginya lagi!"


Tuan Akara mendengus kesal, entahlah karena benar Kana mengetahui isi pikirannya, atau karena hubungan antara anaknya dan gadis bernama Kim itu sama sekali tidak terlihat perkembangan.


"Tidak usah khawatirkan aku, rawatlah diri Ayah dan Bunda, jika ada keluhan segera konsultasikan padaku, aku bisa mengurus urusanku sendiri!" lanjut Kana.


"Tapi Nak..."


"Gadis itu akan takut jika tiba-tiba aku mengajaknya menikah! Kami baru saja pacaran dan sedang berada di tahap saling mengenal, menurutku terlalu terburu-buru jika akan melamarnya!"


Haahhhh!


Tuan Akara menghela napas berat, memang benar apa yang dikatakan putranya, tapi sungguh dia benar-benar juga tidak memiliki kesabaran.


Kana mengangkat kedua bahunya, "Entahlah!"


"KANAKA!"


"Hati orang sungguh sulit untuk ditebak, aku adalah pria yang pernikahannya pernah gagal, meski aku terlihat sempurna dari luaran tapi belum tentu dia akan mengabaikan itu."


Kana merasa, penekanan kedua orang tuanya sudah diluar batas, mungkin sudah saatnya dia bersikap tegas, ini adalah hidupnya, perkara menikah bukanlah hal yang bisa diputuskan dengan cepat, perlu banyak pertimbangan untuknya sampai di titik itu, terlebih dia adalah pria yang pernah gagal.


Tuan Akara menatap langit di apartemen, "Kami hanya ingin melihat putra kami bahagia, tidak lebih!"


"Bersabarlah sedikit, aku sedang mengusahakan itu, Ayah dan Bunda hanya perlu memastikan untuk tetap sehat!"


"Kau..."


"Ya?"


"Kenapa malah berbicara begitu?" tanya Tuan Akara panik, biasanya Kana akan menanggapi perkataannya dengan candaan, namun kali ini, entah mengapa yang dilihatnya putranya itu terlihat sangat serius. Bukankah situasinya agak aneh?

__ADS_1


"Ayah selalu mengeluh tentang usia dan hidup yang tidak lagi lama, bukankah tidak ada salahnya jika aku khawatir dan berusaha menenangkan?"


"Ekhmm... Ya tapi rasanya, itu... Itu agak aneh!"


"Aneh?"


"Kau sudah terbiasa bersikap durhaka, jadi saat kau menjadi baik, aku merasa seperti sedang berbicara dengan orang lain!"


"Apa?"


Tuan Akara mengangguk, "Dari mana kau belajar cara berbicara yang bijak seperti itu?"


"Aku... Aku seorang dokter, tentu saja aku pandai memilah kata seperti apa yang harus aku katakan!"


"Tapi, kau selama ini tidak seperti itu?"


"Ayah saja yang tidak pernah melihatku berbicara dengan tenang seperti tadi, jadi Ayah terkejut, lain kali datanglah ke rumah sakit, Ayah akan mengetahui betapa mempesonanya putra Ayah ini!"


"Apa... Si Brandal itu juga bisa bersikap bijak sepertimu ini?"


"Brandal?" Kana tampak berpikir, "Aahhh, Raka?"


Tuan Akara mengangguk, Ayahnya ini memang selalu mengumpati sahabatnya itu, tapi tidak pernah juga bersikap tidak menyukai.


"Dia pun akan melakukannya, tergantung pada siapa kita berbicara, biasanya aku berbicara santai pada Ayah, tapi aku merasa ada kalanya aku harus menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang tenang, Ayah tidak usah khawatir, doakan saja yang terbaik untuk hubunganku dan Kim, aku pasti akan mengusahakannya juga!"


"Hemmm..."


"Kana!" seru Tuan Akara lagi, dia tiba-tiba memikirkan sesuatu.


"Ya Ayah!"


"Apa kau... Sungguh mencintai Kim?"


Kana terdiam, untuk pertanyaan itu tentu saja dia tidak bisa menjawabnya sekarang, dia saja masih bingung bagaimana perasaannya yang sebenarnya untuk Kim.


"Kau... Mencintainya kan?"


"Aku..."


"Jika kau merasa harus mencintainya seperti yang kau lakukan pada Sisil, maka ubahlah pandanganmu, Ayah benar-benar menginginkan anak Ayah bahagia, jadi jangan membiarkan perasan antara kau dan Kim tumbuh seperti perasaanmu pada Sisil dulunya."

__ADS_1


Kana terdiam, Tidka begitu banyak perbedaan antara mencintainya dan harus mencintainya, namun perbedaan yang sedikit itu sungguh mengandung arti yang sangat berbeda.


Bersambung...


__ADS_2