
"Gan-teng..." fokus itu tertuju pada wajah tampan pria yang baru saja mengejutkannya, apa tadi yang pria ini bilang? Raka? Jadi ini, yang namanya Raka? Serius? Ganteng banget...
"Jadi, apa temen saya sudah bisa pulang Dok?"
"Belum, kita lihat di beberapa hari ke depan? Jika perkembangannya terus membaik seperti ini, tentunya akan semakin cepat dia untuk pulang!"
Dian mengingat, dia pernah menjumpai pria itu di rumah sakit, saat Kim dirawat inap, dokter yang memeriksa Kim waktu itu ternyata adalah Raka. Kebetulan macam apa ini? Itu berarti jika ini adalah Raka yang akan dijodohkan dengannya, mereka sebenarnya pernah bertemu. Dan... Di lift, waktu itu... "Selamat malam..." Raka dan Kim bahkan ternyata satu apartemen. Dan juga, Kana... Dokter itu apa iya tidak mengetahui hal ini? Satu rumah sakit, satu apartemen, apa iya keduanya tidak dekat?
"Hallo..." tangan Raka melambai tepat di wajah Dian, senyum merekah itu semakin menambah kadar buaya daratnya. Yah, begitulah caranya memikat wanita selama ini, hal yang bisa dibanggakan oleh Raka dengan penuh percaya diri adalah senyumnya. Senyum yang bisa membuat wanita yang dirayunya terngiang-ngiang.
"Ah iya!" gugup Dian.
"Kamu Dian?" tanya Raka seolah memastikan, lirikan matanya bertemu dengan Kim, terlihat gadis itu juga sama, tidak percaya.
Heh, kalian pikir bisa ngibulin gue? Belajar dulu yang bener sono!
Dian mengangguk, dia tidak sedang bermimpi kan, kalau modelan yang namanya Raka seperti ini, dia mah rela-rela aja dijodohin.
"Aku Raka! Calon suami kamu!" ujarnya gentle memperkenalkan diri. Sungguh, hal ini jualah yang membuat daya tarik Raka menjadi lebih ketimbang Kana.
Kim hanya bisa melirik keduanya, sepertinya sahabatnya itu bisa mati kejang karena shock, seseorang baru saja memperkenalkan diri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Memang terlihat gentle tapi cukup ekstrim untuk mereka yang tidak terbiasa diperlakukan begitu.
__ADS_1
"Di... Diiian..."
"Dan ini?" tatapan Raka beralih pada Kim.
"Ahh, dia temen aku, Kim!"
"Hemmm, pernah denger nama itu kayaknya!"
Kim nyengir kuda, "Aku pernah menjadi pasiennya Pak Dokter!" aku Kim, dia tersenyum malu-malu, belakangan ini sering banget dia ketemunya cowok ganteng, sadar sudah punya pacar Kim mencoba untuk memantapkan hatinya hanya untuk Kana, yang ini biar menjadi bagian Dian saja, lagipula keduanya memang sudah dijodohkan.
Raka mengangguk, "Ahhh ya ya, pacarnya Kana?" tebak Raka santai. Dia bersandiwara.
"Hah?"
"Iiiya, kok tau?" tanya Kim meragu.
Raka tersenyum, "Kana sering cerita!" jawab Raka apa adanya.
"Sering cerita?"
"Iya!"
__ADS_1
Kim dan Dian saling pandang, bukannya baru pagi tadi Dokter Kana bersikap seolah tidak adanya kedekatan, tapi apa ini? Sering cerita itu hanya berlaku untuk pertemanan yang cukup dekat.
"Lho kenapa?"
"Emangnya Dokter Kana sama Dokter Raka deket yaaa?"
Raka memicing, "Cukup dekat, bahkan aku cukup mengetahui banyak rahasianya!" bisiknya.
"Benarkah?"
"Hemmm," angguk Raka.
"Tapi sepertinya, aku melihat ada yang lain dari kalian berdua!" Raka menatap keduanya bergantian, dan berhasil membuat yang ditatap nyengir kuda karena tak nyaman.
"Ide dia!"
"Ide Kim!"
Kim dan Dian saling tunjuk, "Namun, melihat ekspresi wajah Raka, mereka tertunduk, itu berarti pria ini sudah tau kalau mereka berniat mengerjai.
"Maaf!" sesal keduanya.
__ADS_1
Raka menghela napas berat, "Jadi, Nona Dian Ariska, masih ingin membatalkan perjodohan?" tanya Raka dengan seringainya.
Bersambung...