
Whoaaa, apa ini Kim? Dia bahkan lebih ganteng dari Ryan, benar! Pak Dokter benar-benar sempurna!
Kim memperhatikan lamat Kana yang sedang berkutat dengan masakan, bak chef profesiona Kana mengerjakan semua itu dengan mudah, sama sekali tidak berantakan yang ada malah terlihat se*y di mata Kim.
Gue rasa, Dian ada benernya! Saatnya untuk move on! Bahkan Ryan nggak pernah hubungin gue, dia memang nganggep hubungan ini benar-benar berakhir, cuma gue yang nungguin dia, ngarepin dia, oke! Bakal gue lupain, seenggaknya hidup gue harus tetap waras.
Kim membatin tentang masalah percintaannya sembari terus menatap Kana yang sedang memasak. Kana adalah salah satu cowok keren, meskipun terlihat sudah sedikit berumur, yah harus Kim akui.
“Ada apa?” tanya Kana seraya meletakkan hasil makanannya di piring saji.
Kim langsung menggeleng, “Pak Dokter ganteng banget!” jujur Kim, tapi sayangnya kata-kata itu sama sekali tidak berencana keluar dari mulutnya, setelah sadar dia menutup mulutnya karena keceplosan.
Kana tersenyum mendapat pujian seperti itu, lalu tanpa ia sadari tangannya sudah terulur mengacak gemas puncak kepala Kim.
Makanan sudah tersaji di meja, kentang panggang dengan isian seadanya, keju yang meleleh di atasnya membuat Kim benar-benar ingin merasainya, sepertinya makanan yang dibuat Kana benar-benar enak.
“Waaahhh enak sekali! Ini untukku?” tanya Kim antusias.
“Hemmm!” Kana duduk untuk menunggui Kim makan, terlihat wanita itu langsung saja mulai menikmati makanan buatannya.
“Astagah! Ini benar-benar enak! Pak Dokter benar-benar serba bisa!” puji Kim dengan mulut yang sedikit penuh, saat berbicara begitu kedua pipinya menggembung, Kana semakin gemas melihatnya, gadis keturunan Korea di hadapannya ini benar-benar tidak melewatkan pesonanya begitu saja, tanpa sadar Kana tersenyum.
“Kamu suka?” tanya Kana.
“He’em! Aku tidak bisa memasak padahal aku perempuan, Pak Dokter yang laki-laki saja bisa, aku kagum!” lanjut Kim lagi, mulutnya masih terisi namun dia tetap bicara memuji Kana lagi dan lagi, memberikan jempolnya untuk apresiasi.
“Makanlah dulu, habiskan! Nanti baru bicara!” ujar Kana. Ingin mengacak gemas puncak kepala Kim lagi, namun urung dirinya lakukan, ia takut Kim menyalah artikan perhatiannya.
Dua porsi kentang panggang buatan Kana itu benar-benar habis tidak bersisa, Kim memang tidak menyia-nyiakan kebaikan Kana.
“Pak Dokter, sebenarnya aku lupa siapa nama Pak Dokter?” tanya Kim setelah menghabiskan minumnya, yah dia memang lupa. Merasa harus bertanya karena sudah memutuskan untuk mendekatkan diri pada pria itu.
Sudut bibir Kana tertarik, ia memandangi wajah Kim yang bersih, apa Tuhan memang menakdirkan mereka, mengapa saat dia sudah mau menghindar malah dipertemukan lagi dan lagi.
__ADS_1
“Kana, kamu bisa panggil aku...”
“Dokter Kana!” jawab langsung Kim. "Apa dokter benar masih ingat kita pernah bertemu sebelum di rumah sakit? Waktu itu dokter belum menjawabnya!" Kim mulai menjadi banyak bicara dan manja.
"Emmhhh, itu..."
"Aahhh lupakan, pertanyaan itu juga tidak begitu penting, begini... Apa Dokter sudah memiliki kekasih?” tanya Kim lagi, dia mulai mensensus Kana, kalau Kana jomblo berarti rencananya tepat! Dia akan mendekati Dokter itu, tidak buruk, malahan Kana lebih-lebih segalanya dari Ryan.
Tampan, seorang dokter pula. Bisa masak, bisa membenarkan saluran air yang bocor, lalu apa lagi yaaa? Pikir Kim sesederhana itu.
“Ekhmm!” Kana tidak nyaman, tiba-tiba saja ruangan yang cukup luas itu serasa sesak, dia gugup.
“Ada apa? Sudah punya ya?” terka Kim menyayangkan.
“Belum!” jawab Kana cepat.
Kim memandang wajah Kana lagi, benarkah? Apa itu artinya mereka sama-sama jomblo. Waahhh, bukankah ini kesempatan bagus!
Kana mengangguk, “Ada apa memangnya?” Kana memundurkan kursinya, saat ini dirinya sungguh kesulitan mengatur napas.
Gue nggak bau kan? Datang ke sini karena terbangun, lalu membereskan saluran air yang bocor, memasak, moga aja nggak! Dia ini kenapa sih?
“Nggak papa, Cuma aku nggak percaya aja, sekeren Dokter masa nggak punya pacar!” ungkap Kim. Dia menegakkan posisinya, tadi dia sudah mengamati, dan sama sekali tidak menemukan kebohongan di wajah Kana, sepertinya memang benar dokter tampan itu tidak punya pacar.
"Aahhh, itu..."
"Apa Pak Dokter pernah pacaran?"
“Hah?"
"Iya pacaran!" Kim tampak berpikir, "Eh tapi pasti pernah sih, apaan sih gue?" gerutunya kemudian merasa salah bicara.
"Ekhmm, aku duda!” jujur Kana. Dia tidak pernah menyembunyikan statusnya yang gagal dalam pernikahan, jika ada pasien yang bertanya tentangnya saja dia dengan ramah menjawab kalau dia adalah seorang duda. Mengapa harus ditutupi, duda dan gagalnya pernikahan bukanlah suatu aib menurutnya.
__ADS_1
“Hah? Duda?” keget Kim. Seketika nyalinya menciut, saat dia sudah memutuskan untuk move on dari Ryan, dan menemukan gebetan baru, kenapa yang ada di hadapannya kali ini malah duda? Dia kan... Duh pokoknya kenapa harus duda sih? gerutunya membatin.
“Ya, aku sudah pernah menikah dan lalu bercerai!” jelas Kana lebih detilnya.
“Aahhh begitu ya..." Kim mulai canggung, tidak sesemangat tadi, duda saja sudah bikin nyalinya ciut, apa lagi duda cerai hidup, cerainya itu karena apa?
Tapi jika dilihat-lihat sepertinya Dokter Kana orang baik, mengapa bisa bercerai? Apakah istrinya dulu selingkuh? Atau, jangan-jangan malah duda ini yang selingkuh, tapi tampangnya nggak meyakinkan untuk jadi cowok bejat, kalau Ryan sih iya sudah keciri dari muka.
“Apa kamu kecewa? Tidak mungkin kan?” tanya Kana hati-hati.
“Eh?”
“Kim, sebenarnya aku mau tanya sesuatu?” ujar Kana lagi memberanikan diri. Entah mengapa dia merasa harus menjelaskannya, tidak mau Kim merasa kecewa padanya tanpa tau yang sebenarnya.
“Tanya? Tanya apa?”
“Kalau aku bilang menyukaimu, kamu percaya?” tanya Kana langsung. Kalimat itu meluncur lancar saja dari mulutnya, bukan gentle lagi itu namanya, tidak akan ada yang seberani dia.
“Hah?” kaget Kim, apa-apaan ini, apa dia baru saja ditembak? Baru saja dia mau menjalin hubungan, berada di tahap tanya-tanya sebelum deal, sempat kecewa karena statusnya, tapi tidak ini orang udah nembak duluan, benar-benar rejeki nomplok, eh salah maksudnya benar-benar tidak disangka.
Kana menunduk, dia mulai menyadari ini terlalu cepat, malu sekali rasanya, ini yang kedua kalinya dia berada di situasi tidak mengenakkan berhadapan dengan Kim.
“Tidak apa, maaf ya mungkin saya kelepasan!” ujar Kana, dia bahkan berbicara secara formal, benar-benar malu.
Kim yang masih terkejut tidak sadar kalau Kana sudah bangkit dan ingin berlalu.
Dia duda, tapi dia cukup sempurna, perhatian banget malahan Ryan aja nggak semenyenangkan dia pas diawal-awal, lagian gue kan nggak tau dia dudanya gimana, cere karena apa? Gue harus gimana? Benar-benar nggak tau kalau malam ini bakalan ditembak, gue belum siap kan.
Gue harus tanya, yah pacaran aja dulu, setelah itu gue bakalan tau gimana hidup dia, yah bener Kim, kesempatan nggak bakalan datang dua kali!
“Aku mau!” ucap Kim cepat setelah sadar, bahkan Kana sudah sampai di ambang pintu.
Bersambung...
__ADS_1