
Kim mengelus manja pundak Dian, memberikan semangat untuk sahabatnya itu. Setelah mendengar pernyataan dari Kana tentang bagaimana sikap dari seorang Raka yang dianggapnya tercela sekali, Dian mulai putus asa.
"Tuh kan Kim, aku udah nyangka, makanya itu cowok jadi bujangan tua, pasti nggak bakalan ada yang mau sama cowok modelan gitu, apa jadinya kalau dia emang jadi suami gue, dih amit-amit... Tega bener Papa jodohin gue sama dia, Kim... Huwaaa..." Dian mulai menangis lagi, sebentar lagi dia akan melangsungkan pertunangan, harapannya pupus sudah untuk mendapatkan suami sesuai dengan kriterianya.
"Sabar Di, sabar..."
"Sabar-sabar, lo mah enak, kalaupun lo sampai nikah sama Pak Dokter, kalau gue jadi lo juga nggak bakalan nolak, udah jelas bibit unggul, nah si Raka? Apes banget dah idup gue!" Dian lagi-lagi mencela Raka di setiap kesempatan.
"Lo yakin nggak mau ketemu sama orangnya?"
"Hemmm!" angguk Dian.
"Menurut gue nih yaaa, mending lo ngajak Raka ketemuan, lo bisa nilai dia dengan pandangan lo sendiri..."
"Jadi maksud lo, kali aja Pak Dokter salah nilai?" sergah Dian. Dia sebenarnya meragukan penilaian Kana, tapi mengingat cara Kana menjelaskan padanya yang terlihat tampak sempurna dia juga tidak bisa mengabaikan.
"Ya bukan gitu sih Di..."
"Kim, lo harus bantuin gue!" tiba-tiba saja Dian punya suatu rencana.
"Bantuin apa?"
"Sini gue bisikin!"
Dian mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Kim, Kim terperangah tidak percaya, setelahnya menoleh pada Dian dengan tatapan sinis.
"NGGAK MAU!" tolak Kim cepat.
"Yah Kim... Ayo dong, selama ini gue selalu bantuin lo, jadi apa salahnya lo berkorban buat gue!"
"Tapi kan..."
"Kim, please..."
Kim membuang muka, namun matanya masih juga bisa melirik tatapan memelas Dian, nah kan dia jadi mulai tidak tega. Karena selama ini Dian tidak pernah mengatakan tidak padanya.
__ADS_1
Lalu, jika dia ingin membalas, haruskah dia juga menuruti kemauan Dian? Tapi, ini sungguh berat bagi Kim, lagi pula dia sudah punya pacar, bagaimana bisa.
"Kim, mau yaaa..."
Dian menggoncang lengan Kim pasrah, mau tidak mau rasanya dia harus melakukan ini.
Kim menarik napasnya perlahan sebelum bersuara, membantu Dian, haruskah? Kalau mengingat jasa sahabatnya itu terhadap kelangsungan hidupnya tentu saja Kim tidak bisa menutup mata, apa lagi Dian adalah satu-satunya yang dia punya, sahabat yang sudah bagai saudara baginya, lebih dekat dari pada kedua orang tuanya. "Haaahhh..."
"Oke!" angguk Kim pada akhirnya.
...***...
"Ngapain sih lo?" selidik Kana. Dari tadi dilihatnya Raka berjalan mondar mandir, melirik ke arah ponselnya dan kemudian mengumpat.
"Sejak kapan lo datang?"
Raka duduk, dia memperhatikan wajah Kana yang baginya lumayan cerah, pasti suasana hati sahabatnya itu sedang baik, tidak sepertinya yang uring-uringan.
"Mikir apaan sih lo, sampe gue dateng aja nggak nyadar?" selidik Kana.
"Apa?"
"Gue gugup!"
"Kenapa? Bakalan di PHK?"
"Setan lo, nggak ada yang bagusan dikit apa kalau nebak?" berang Raka.
"Ya abis, selama ini keknya nggak ada deh yang bisa bikin lo ketar-ketir selain hubungan lo sama Dirut?"
"Ya itu salah satunya, masih ada lagi yang bikin gue kek gini?" bantah Kana.
"Apa?"
"Masalahnya cewek itu... Maksud gue, calon istri, mau ngajak ketemuan!" ungkap Raka. Dia memang uring-uringan karena gugup calon istrinya tiba-tiba saja mengajaknya bertemu, tidak biasanya dia seperti itu, tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda.
__ADS_1
"Hah? Serius?"
Sementaranya Kana, dia menyergit heran, bukannya tadi jelas-jelas sahabat dari pacarnya itu mengatakan tidak mau bertemu, lalu apa ini? Ah cewek memang seringnya plin plan, mau heran tapi cewek, pikirnya.
"Iya, dan gue sama dia nggak bisa ketemuan sebelum tunangan? Itu udah hukum keluarga gue!" lanjut Raka lagi.
"Yaaa... Kalau menurut gue temuin aja sih udah, masalah hukum keluarga mah bisa dilanggar, nggak ada undang-undangnya juga ye kan!"
Raka mengangguk, "Iya juga sih, tapi... Gimana kalau sampe ketahuan bokap gue?"
"Ya diusahain jangan sampe ketahuan beg*, lo beneran cowok apa b*nci sih ah?" geram Kana, sahabatnya ini udah kelakuan minus, mana kadang rada telmi, seringnya bikin rusuh, entah kenapa dia bisa bertahan betah sahabatan sama Raka sampe bertahun-tahun.
"Bener juga sih!" angguk Raka.
"Terus kapan lo mau ketemuan?"
"Sore ini?"
"Sore? Sekarang dong, kan ini juga udah sore!"
"Lah iya, lo udah dateng juga kan, timenya pas banget, apa gue udah ganteng?" tanya Raka, dia meraba-raba wajahnya, gue udah cukuran kan?
"Emang lo pernah ganteng?" ejek Kana.
"Dari dulu kali?"
"Hilih!"
Raka bersiap, dia mengganti jasnya di ruang ganti, meski jantungnya masih sulit dikondisikan, ahhh tidak tidak setidaknya dia harus tetap tenang.
Kana memperhatikan tingkah sahabatnya itu, sepertinya Raka tidak main-main dengan perjodohannya, tidak seperti wanita-wanita yang sudah lewat.
"Andai aja gue sama Kim yang dijodohin... Simpel banget si Raka dapet jodohnya!" gumamnya tentang Raka dan Dian.
Bersambung...
__ADS_1