Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Menulis surat cinta.


__ADS_3

"Matamu bagaikan sebuah intan! Hahahaha!" Raka tergelak keras saat mengintip apa yang sedang Kana tulis di notenya.


"Bagus! Ketawain aja, puas banget keknya, bukannya bantuin temen!" gerutu Kana.


"Lo bikin apaan sih? Surat cinta?"


"Bukan! Bon utang! Ya iyalah beg*, bukannya di artikel itu udah tertulis kalau pendekatan itu harus memberikan sesuatu yang romantis!" setelah berpikir cukup lama dan membutuhkan banyak pertimbangan, akhirnya Kana mencoba sesuatu yang dianggapnya romantis, dulu semasa sekolah hampir tiap hari lokernya penuh karena kiriman surat cinta, apa seseorang yang sedang melakukan pendekatan memang melakukan hal demikian? Untuk itulah dia tertarik mencoba.


Tapi itu sudah lama sekali, zaman dulu, dan sekarang dia hidup di zaman serba tinggal klik! Agak ketinggalan zaman sih emang. Kana saja yang tidak menyadari.


"Hahahaha, tapi nggak pake surat cinta segala juga kali, emang masih jaman ya, lo gombalin aja lewat WA gampangnya sih!" saran Raka.


"Ini itu ntar mau gue kirim sekalian ngirimin bunga, asik nggak cara gue?" tanya Kana minta pendapat. Dulu dia bahkan tidak pernah menanggapi kiriman-kiriman dari para fansnya, namun untuk pertama kalinya Kana berpikir hal itu cukup membantu.


"Enggak! Jadul, norak!" jawab Raka terlampau jujur.


"Ya gue kan belum dapet nomornya beg*, lagian kalaupun ada nomornya gue juga nggak yakin bisa mulai duluan!" kalau kali ini memang benar, selain karena sesuatu yang dianggapnya romantis, Kana juga tidak punya keberanian untuk mengirimkan chat duluan. Kalah banget sama anak SMP sekarang yang seringnya baperin anak orang.


"Ah iya ya!" Raka mangut-mangut sepertinya dia setuju kali ini, surat cinta... Bukan ide yang buruk!


"Serahin ke gue!" ucap Raka percaya diri.


"Emangnya lo bisa?" Kana menilik keseriusan di wajah Raka, sungguh dia tidak yakin, dan kali ini perasaannya mulai tidak nyaman. Sahabatnya ini sungguh tidak bisa diandalkan, sudah banyak buktinya yang malah membawa petaka saat meminta bantuan Raka.


"Beeeh, belum tau lo! Biar gue kasih tau, yang ada di hadapan lo ini, adalah ahli cinta paling terkenal!" Raka menunjuk dirinya sendiri, seketika membuat Kana menyergit heran, pasalnya sejak SMA Kana bahkan menjadi teman curhatnya Raka perihal cinta sahabatnya itu yang selalu gagal.


"Dulu nih ya, gue bahkan sering banget nerima surat cinta sampe nggak kehitung jumlahnya!" lanjut Raka.


"Hemmm!" Kana mangut-mangut, "Gaya lo... Tapi sih yang gue tau dulu lo itu emang sering banget sih dapet surat cinta, tapi sayangnya bukan dari cewek, tapi dari Pak Sofyan, pemanggilan orang tua karena lo kelewat bandel!" ucapnya mengingatkan.


"Aiishhh, nggak percayaan, gini-gini gue playboy berkelas kali!"

__ADS_1


"Kelas apa? Kelas teri? Mana ada playboy diputusin malah curhat mau bunuh diri lompat dari gedung, pas gue seriusin eh malah kaki lo yang gemeteran duluan! Hahahaha!" ledek Kana, yah dirinya masih ingat kala waktu itu Raka pernah sampai ingin bunuh diri karena tidak terima putus dari Inggrid.


"Hahahahaha!" keduanya tergelak bersama, untung kali ini mereka sedang berada di ruangan Kana yang kedap suara, jadi tidak ada siapapun yang mendengar aib mereka.


"Gampang sih, gue kan pernah pacaran, ya tau lah seenggaknya kalau cuma nulis yang beginian!" ujar Raka terlihat mulai sedikit meyakinkan. Hanya sedikit, banyaknya ya meragukan.


Mengingat soal pacaran, ya emang! Raka menang beberapa poin untuk itu, bahkan pria itu seringnya gonta-ganti pacar, lain halnya Kana yang hanya pernah berpacaran dengan Sisil, tiga tahun kemudian langsung ngelamar. Itupun menurut Raka, gaya pacarannya sungguh sangat membosankan. Kana terlampau tidak peka, waktu itu malah terlihat Sisil yang berjuang mati-matian.


"Hemmm, oke oke, coba gue mau liat gimana lo bikinnya!"


Kana memberikan buku notenya, menyuruh Raka untuk menyelesaikan tugasnya, dalam hati juga mencoba berdoa untuk menyertai langkah Raka supaya lancar jaya, nasibnya benar-benar bergantung pada Raka.


"Nggak afdol dong kalau tulisan gue, ya lo harus tulis sendiri dong, gue kan cuma bantuin mikir!" tolak Raka.


"Oh iya bener!" Kana mengambil kembali buku notenya, lalu ia memposisikan diri dalam posisi benar-benar siap menyimak dan menulis.


"Baiklah kalau begitu kita bisa mulai dengan kalimat pertama!" ujar Raka.


Dia memikirkan sesuatu, kata-kata romantis yang bisa bikin baper anak orang. Udah lama banget kali nggak ngerjain yang beginian, jadi agak sulit juga menurutnya.


"Kalimat pertama haruslah, dapat memikat pembaca untuk terus membaca suratnya!" lanjut Raka.


Kana mengangguk, "Hemmm! Kalau begitu... Seperti, yang terhormat cintaku..." sambung Kana.


"Benar!" jawab Raka cepat, tidak bisa menyangka mengapa mereka masih bisa bersahabat sampai kini.


"Oke, gue bakalan tulis! Yang terhormat..."


"Benar-benar tidak tertolong!" lanjutnya, tersenyum kecut, gila kali Kana mau bikin surat cinta semacam itu, dikira mau bikin lamaran pekerjaan.


"Lo, Aaasshhh!" dengus Raka kesal seraya menggebrak meja. "Braaakkk!" sungguh emosi jiwa menghadapi manusia sejenis Kana ini pikirnya.

__ADS_1


"Gimana ceritanya lo bisa biarin awalan semacam itu dalam surat cinta? Terlalu semangat saat menulis skripsi nyatanya juga tidak bagus, si gila ini contohnya, sampai terbawa-bawa!" lanjutnya menggerutu.


Kana membaca lagi yang baru saja sempat dirinya tulis, apa ada yang salah?


"Jadi gimana?" tanyanya masih berani menanyakan, padahal yang ditanya malah sudah hampir gondok.


Ya salam Kana... Sekarang gue percaya kalau nggak ada manusia yang sempurna, sungguh si gila ini contohnya, benar-benar yang terburuk dalam masalah percintaan.


"Seenggaknya lo harus punya awalan yang kuat, panas dan penuh hasrat! Kayak..." Raka berpikir,


"Matamu melemahkanku!"


"Cukup bagus!" sahut Kana.


"Saat pertama kali ku melihatmu..."


"Dan jujur, ku tak pernah merasa begini."


"Oh, mungkin inikah cinta pandangan yang pertama?"


"Karena apa yang kurasa ini tak biasa!"


"Gilaaakkk keren banget lo!" Kana tampak kagum, bahkan memberikan dua jempolnya karena tidak menyangka kalau Raka akan bisa menciptakan kata-kata puitis sekeren itu, romantis tapi nggak norak. Sungguh membuat semangat saat membacanya.


"Nggak nyangka gue lo bisa bikin puisi sekeren ini, gue pecaya gue pecaya!" Kana tersenyum senang menepuk-nepuk pundak Raka, karena kata-kata cinta yang disampaikan oleh Raka benar-benar terdengar sempurna menurutnya, mengambil pena lalu Kana dengan semangat menuliskannya.


Raka menyelesaikan kata-kata puitisnya, sudah seperti pembaca puisi profesional saja begitu sangat menjiwai.


"Makasih Ka! Gilak, lo emang sahabat terbaik gue dah pokoknya!" Kana menyalami Raka sebagai tanda terimakasih.


"Gue jamin sukses ntar lo!" ujar Raka percaya diri. Sebenarnya dia juga tidak yakin, dia pernah mendengar kata-kata itu, tapi di mana ya kira-kira? Aaahhh kelamaan mikir, yang penting pedekate harus sukses pikirnya murni hanya untuk membantu Kana.

__ADS_1


"Hahahaha, bisa aje lo! Semua berkat lo, makasih udah ngasih gue ide berharga!" ujar Kana.


Bersambung...


__ADS_2