
"Itu kan..."
Raka mengedarkan pandangannya, lalu menjumpai sahabat Kim yang waktu itu dia lihat. Kedua gadis yang selalu bersama, namun kali ini mengapa keduanya duduk berjauhan.
Wajah Dian memang tidak dirinya ketahui, satu-satunya petunjuk untuk mengenali gadis itu, tidak lain adalah dengan menghubunginya.
Raka mendial nomor yang menelponnya tadi, lalu meneliti setiap gadis yang duduk sendirian di warung bakso itu, dan... Astagah! Raka membelalak tidak percaya, mengapa terdengar jelas sekali kalau ponsel yang berada di meja itu berbunyi, gadis itu mengangkat telpon dan, Raka tidak berani melanjutkan kecurigaannya.
"Hallo!"
Kini, tepat di hadapannya, meski berjarak namun Raka masih bisa mendengar dengan jelas. Kim, wanita itu adalah Kim, tidak mungkin, gumamnya rancu.
"Hallo!"
Sapaan itu kembali terdengar, Raka tidak berani bersuara, namun suara bising yang menjelaskan kalau dia sudah berada di tempat yang sama tentu saja membuat Kim mengedar mencarinya.
"Raka... Apa kamu sudah sampai?"
Raka berbalik badan, dengan langkah pasti ia keluar, jantungnya berdegup kencang, dia tidak mengerti mengapa wanita itu adalah Kim. Apakah kini dia sedang terlibat cinta segitiga antaranya, Kim dan Kana.
Tidak tidak, Raka menggeleng cepat, Kim dan Dian pasti berbeda, lalu apa maksudnya ini, apakah gadis bernama Dian itu mengenal pacar sahabatnya itu? Apa Kim dan Dian adalah dua orang yang memiliki kedekatan, yang cukup bisa membuat keadaan menjadi rumit seperti ini.
Kembali, atau meninggalkan, jika dia kembali tentunya akan bertanya, siap tidak siap dia harus mengetahui jawabannya, sementara jika dia memilih pergi, perjodohan ini juga akan tetap berjalan, dengan perasaan yang terus saja diselimuti oleh rasa penasaran sampai hari itu tiba.
"Raka, apa kamu mendengarku?"
__ADS_1
Raka menunduk, panggilan di ponselnya belum dimatikan, suara Kim masih bertanya tentangnya. Dengan ragu Raka menjawab. "Ya..."
"Kamu di mana? Apa sudah sampai? Kau melihatku?"
"Hemmm..."
"Kau tampak tidak bersemangat? Apa kau kecewa karena aku tidak sesuai dugaanmu?"
"Aahhh, bukan begitu... Hanya..."
"Lalu? Jika sudah lihat mengapa tidak menyapa? Duduklah sebentar, kita saling mengenal, jangan sampai nanti saat perjodohan kau menyesal karena tidak tau bagaimana aku!"
"Ahhhh..." Raka tersenyum canggung. Menemui pacar sahabatnya untuk kencan buta, tidak... Dia tidak pernah berpikir akan melakukan itu.
"Ya ya, ah iya Dian, tiba-tiba saja mendadak ada panggilan dari rumah sakit, kurasa kita tidak bisa melanjutkan kencan ini!" ujarnya, dia ketakutan.
"Aahhh begitu? Tapi biarkan kita bertemu sebentar, aku rasa lima menit saja cukup!"
"Maaf Dian, aku harus..."
"Kau kecewa? Pasti kecewa!" suara di seberang sana terdengar lirih, "Haruskah aku bersedih untuk ini?"
"Dian..."
"Ya sudah lah! Aku harus mengerti, kau adalah seorang dokter, kalau tiba-tiba ada panggilan begitu, aku bisa apa kan?"
__ADS_1
"Dian... Maafkan aku, bukan maksudku begitu, tapi..."
"Sudahlah, tidak apa! Kita masih bisa bertemu lain kali, besok atau lusa!"
Raka mengusap dadanya perlahan, akhirnya dia bisa melewati ini.
"Maafkan aku..."
"Aahhh sudah sudah, bukan apa!"
Raka kembali melangkah ke dalam, dia benar-benar ingin melihat bagaimana reaksi Kim, namun pandangannya malah tidak sengaja menangkap sesuatu. Sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi pada kedua gadis itu.
"Lo liat kan Di, dia bahkan nggak berani nemuin gue! Sakti kan cara gue!" Kim berkata sangat puas, terdengar songong.
Dian pun tak henti-hentinya mengusap punggung tangan Kim sebagai tanda terimakasih. "Gue janji... Gue janji bakalan traktir lo sebulan kalau benaran dengan cara ini si Raka bisa batalin perjodohan, gue berharap banget Kim... Ya ampun, nggak nyangka gue, jitu banget ya ternyata cara lo!" sanjung dan puji yang terdengar tulus itu malah membuat geram seseorang yang berada di balik pintu.
Sialan! Berani-beraninya dua cewek ini ngerjain gue, jadi itu yang namanya Dian, sialan banget mau nolak dia cantik juga!
Raka menggerutu, dia geram sekali.
Saat kedua gadis itu sedang terlihat sangat bahagia, karena rencana yang dianggap mereka sukses besar, Raka berjalan mendekat, lalu dengan pasti tangannya terulur memegang pundak gadis bernama Dian.
"Dian ya... Kenalin, gue Raka!" sapanya terdengar sangat santai.
Bersambung...
__ADS_1